SANG DEWI PENAKLUK

SANG DEWI PENAKLUK
Penyerangan 1


__ADS_3

setelah melaju dengan kecepatan tinggi akhirnya rombongan jendral tiba di istana lebih dulu, kedatangan mereka sudah di tunggu oleh sang raja dan petinggi istana lainnya.


begitu turun dari atas kuda, suara langkah penuh ketegasan menggema di lorong yang panjang, tiga orang dari mereka akan pergi ke aula utama sedangkan sisanya kembali berjaga.


beberapa pelayan dan prajurit yang berpapasan membungkuk hormat saat pria itu melewatinya.


tidak ada senyum atau ucapan sepatah katapun dari mulut pria tersebut hanya ada wajah datar dan sorot mata tidak bersahabat yang dia tampilkan.


begitu sampai di pintu masuk aula utama dia menghentikan langkah sambil mendengar suara ramai yang memenuhi ruangan tersebut.


"jendral chao yang telah tiba"


salah satu penjaga berteriak mengumumkan kedatangan pria itu, mendadak suara bising berubah menjadi hening.


pintu besar langsung terbuka lebar saat raja Bingwen mengijinkan mereka bertiga untuk masuk.


perlahan jendral chao yang melangkah masuk penampilan pria itu terlihat sangat gagah berani para menteri dan tamu penting lainnya harus menunduk sebagai bentuk apresiasi dan penghormatan atas jasanya.


"salam yang mulia semoga anda di berkati umur panjang"


ucap jendral chao yang dan dua panglima lainnya sambil membungkuk hormat.


"raja terima salam kalian, bagaimana keadaan perbatasan"


balas raja Bingwen dengan tegas, dia langsung menanyakan keadaan di perbatasan tanpa berbasa-basi lagi.


"semuanya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya"


jawab jendral chao yang itulah sebabnya dia bisa kembali ke ibu kota dengan tenang setelah memastikan semuanya sudah baik-baik saja.


"baiklah, apa kalian memiliki permintaan sebagai hadiah atas keberhasilan kali ini raja akan memenuhinya"


terlihat raut senang di wajah sang raja saat mendapat laporan itu.


"terimakasih yang mulia kami akan memintanya nanti jika di perlukan"


jawab jendral chao yang mewakili teman-temannya karena saat ini mereka hanya ingin pulang mengunjungi keluarga yang sudah lama mereka tinggalkan


"baiklah, silahkan duduk dan nikmati jamuan pestanya"


ucap sang raja yang tidak mempermasalahkan hal tersebut.


"terimakasih yang mulia"


setelah mendapat ijin mereka bertiga mulai duduk di tempat yang telah di sediakan.


tidak berselang lama penjaga kembali mengumumkan kedatangan seseorang yang sudah di tunggu-tunggu oleh sang raja.

__ADS_1


"nona Aqila sudah tiba"


pintu besar itu kembali di buka lebar-lebar dengan anggun Aqila melangkahkan kakinya memasuki ruangan tersebut


penampilan gadis itu mulai menyita perhatian banyak orang termasuk jendral chao yang, dan para pria menatap Aqila tanpa berkedip takut jika keindahan yang ada di depan mata akan hilang dalam sekejap.


bagaimana tidak karena kali ini Aqila berpenampilan layaknya seorang gadis sungguhan, dia mengenakan hanfu biru laut dengan beberapa hiasan perak yang menghiasi rambut panjangnya.


jengah mendapat tatapan seperti itu Aqila langsung mengatakan sesuatu yang membuat mereka tersadar kembali dari kekagumannya.


"salam raja"


ucap Aqila tanpa embel-embel yang lain, beberapa orang sudah terbiasa dengan sikap gadis itu tapi tidak dengan yang lain.


seperti jendral chao yang saat ini menaikan sebelah alisnya kerena merasa sedikit terkejut dengan sikap berani gadis di hadapannya.


"cukup berani mencari masalah"


guma chao yang, dia berpikir Aqila pasti mendapat masalah dengan bersikap demikian pada sang raja yang terkenal kejam dan gila hormat.


"salam anda saya terima nona Aqila silahkan duduk dan nikmati jamuan pestanya"


saat mendengar itu chao yang menatap sang raja tidak percaya bahkan lebih mengejutkan lagi kala pria tersebut menyunggingkan senyuman manis-nya.


terlihat jelas bahwa pria tersebut sangat bahagia atas kedatangan gadis itu, yang kerap di panggil dengan sebutan nona Aqila.


setelah mendapat jawaban Aqila menganggukkan kepala sebentar kemudian melangkah pergi, gadis itu duduk tepat di samping kanan jendral chao yang.


waktu terus berjalan hingga tiba saatnya penyerangan akan segera di mulai.


pertama pasukan yang di pimpin oleh shen huan menyerang ibu kota setelah mendapat sinyal bahwa seluruh penduduk telah di amankan.


sedangkan pihak Lin Shan dan Shen xiaojian menyerang tempat militer, untuk mencegah bantuan datang ke istana.


keadaan luar istana begitu kacau banyak mayat prajurit berserakan darah mengenang di mana-mana, sedikit pasukan Aqila juga menjadi korban.


tetapi Aula utama masih sangat ramai, mereka tidak menyadari bahwa kehancuran semakin mendekat.


di tengah semaraknya pesta seorang prajurit menerobos masuk ke dalam aula dalam keadaan terluka.


"mohon maaf atas kelancangan hamba yang mulia tapi keadaan ibu kota sedang sangat kacau"


ucap prajurit itu dengan tergesa-gesa dia bahkan hampir kehabisan nafas saat mengatakannya.


"apa maksud mu katakan dengan jelas"


raja Bingwen bangkit dari posisi wajahnya sudah menggelap dengan tangan terkepal kuat, kemarahan nampak jelas di mata pria tersebut.

__ADS_1


"kita sedang di serang yang mulia kemungkinan sebentar lagi mereka sudah tiba di gerbang masuk istana"


ucap prajurit itu lagi, semua orang nampak panik saat mendengar hal tersebut.


"sialan siapa yang berani menyerang kerajaan ku, jendral siapkan pasukan"


ucap raja Bingwen baru saja dirinya merasa tenang kini masalah baru datang lagi, lebih parahnya tidak ada seorang pun yang tau tentang pemberontakan kali ini.


"baik yang mulia"


Chao yang langsung bangkit dari posisi dan hendak meninggalkan ruangan.


"gawat yang mulia"


seorang prajurit kembali masuk dengan sedikit berlari.


"ada apa lagi"


murka raja Bingwen dia bisa menebak bahwa berita kali ini lebih serius dari yang awal di sampaikan.


"mereka juga menyerang barak militer dan menara sihir, bantuan tidak bisa datang yang mulia"


prajurit tersebut langsung menceritakan inti permasalah yang terjadi di tempat latihan para prajurit istana dan penyihir.


"kurang ajar, segera kumpulkan pasukan yang tersisa aku sendiri yang akan memimpin untuk menghabisi mereka semua"


teriak pria tersebut, dengan langkah tegas dan aura membunuh raja Bingwen melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut di ikuti oleh jendral chao yang dan para kesatria.


"baik yang mulia"


ketika semua orang hanyut dalam ketegangan, Aqila dengan santai malah memejamkan mata.


gadis itu duduk tenang sambil menyangga kepalanya dengan satu tangan.


tidak ada yang menyadari tingkah gadis tersebut karena mereka sibuk adu bicara, kecuali ratu jinjin yang terus menatapnya tajam.


"kenapa ja***Ng itu terlihat sangat tenang apa yang sedang dia rencanakan"


guma wanita itu, meski suara tersebut terdengar sangat kecil tapi Aqila masih dapat merasakannya.


Aqila juga menyadari bahwa sejak tadi ratu jinjin terus mengawasinya, namun begitu dia tetap bersikap acuh.


brak


duar


bom

__ADS_1


suara ledakan tiba-tiba terdengar dengan sangat nyaring, semua orang semakin di buat panik mereka berbondong-bondong keluar dari dalam aula, ada yang untuk bertarung atau hanya menyelamatkan diri sendiri.


__ADS_2