
pagi hari, di cuaca yang cerah tidur seorang gadis terusik oleh tangan mungil yang terus bergerak liar di atas wajahnya.
"ibu"
Lin Bao masih dengan usil memainkan hidung mancung gadis itu sambil tertawa cekikikan.
ughh
Aqila melenguh pelan saat merasakan tangan dingin menyentuh kulit wajahnya.
"Lin Bao"
Aqila terkejut melihat keberadaan Lin Bao di samping tempat tidurnya, tapi wajah gadis itu masih tetap datar.
Lin Bao tersenyum hangat secerah mentari pagi hati aqila juga ikut menghangat karenanya.
"ibu sudah bangun, ayo kita sarapan bersama yang lain"
Lin Bao dengan penuh semangat mengajak Aqila untuk sarapan pagi bersama keluarganya.
"aku bukan ibu mu"
Aqila mengatakannya dengan sangat pelan dia seolah tidak tega menghancurkan kebahagiaan anak kecil yang tepat ada di hadapannya.
"ibu bilang apa"
Lin Bao bertanya dengan ekspresi bingung wajahnya benar-benar terlihat sangat menggemaskan.
Aqila ingin sekali mencubit pipi chubby itu namun dia berusaha menahan karena tidak ingin melihat Lin Bao menangis karena ulahnya.
"bisa kau tidak memanggil ku dengan sebutan ibu panggil saja aku kakak"
Aqila mencoba memberi pengertian namun sayangnya Lin Bao tidak menyukai hal itu.
"tidak mau hiks apa ibu tidak menyukai ku hiks semua orang tidak suka pada ku hiks hiks aku tidak nakal"
Lin Bao menangis dengan sangat keras Aqila di buat kelabakan karenanya.
"syutt jangan menangis, baiklah kau boleh memanggil ku ibu"
akhirnya Aqila hanya bisa pasrah dia tidak bisa melihat anak tersebut menangis.
"sungguh"
Lin bao langsung terdiam dia menatap dalam wajah Aqila dengan bola mata indahnya yang terlihat bulat.
"hm"
"asik aku punya ibu, boleh minta peluk"
Lin bao bertanya dengan raut wajah yang terlihat ragu dia takut Aqila akan menolaknya.
"kemari"
Aqila menjawab dengan lembut membuat bocah kecil itu kegirangan bukan main dia langsung mendekap erat tubuh Aqila.
"rasanya nyaman"
"kau menyukainya"
"tentu saja"
"kalau begitu jangan sedih lagi, bukankah kau mengajak ku sarapan"
Aqila mengalihkan pembicaraan tersebut setelah melihat Lin bao sudah tersenyum manis lagi ke arahnya.
"hm"
Lin Bao mengangguk patuh, Tampa memprotes lagi.
"baiklah kau bisa kembali lebih dulu aku akan menyusul nanti"
"janji"
"janji"
mereka saling menautkan jari kelingking sebagai bentuk kesepakatan.
cup
satu kecupan mendarat mulus di pipi kanan Aqila pelakunya tentu saja anak kecil itu.
Lin Bao turun dari atas ranjang dengan perasaan bahagia bocah laki-laki itu tidak berhenti tersenyum sambil melompat ria di koridor kediaman Lin.
"akhirnya aku punya ibu yey"
__ADS_1
dia terus menggumakan kata-kata itu berulang kali, para pelayan yang melihatnya juga ikut senang karena akhirnya Lin Bao bisa tertawa tidak seperti biasanya yang selalu berwajah murung.
sepeninggalan Lin Bao Lila masuk kedalam kamar Aqila untuk membantu gadis itu bersiap.
"nona"
"hm"
"apa ini tidak terlalu berlebihan"
lila mengutarakan keresahan hatinya yang sudah sejak kemarin dia tahan, sambil terus menyisir rambut panjang Aqila.
"aku tau Lila tapi aku tidak bisa menolaknya"
nada gadis itu terdengar sendu, Lila yang melihat perubahan ekspresi wajah aqila baru menyadari karakter lain dalam diri gadis itu.
"kenapa"
"Karena aku..."
belum sempat perkataan itu selesai, dua orang pelayan wanita masuk kedalam kamarnya dengan membungkuk hormat.
"maaf mengganggu waktu anda nona tuan muda sudah tidak sabar menunggu kedatangan anda di meja makan"
salah satu dari mereka mulai menjelaskan maksud kedatangannya kemari.
"hm"
Aqila melangkah keluar di ikuti oleh Lila, secara kebetulan Lin Shan juga berjalan mendekat ke arah keduanya.
tanpa mengatakan apapun mereka bertiga terus memacu langkah menuju ruangan makan kediaman Lin.
di ruang makan Lin Bao menggerutu tidak sabar menanti kedatangan Aqila sejak beberapa menit lalu.
"ibu"
Lin Bao langsung berlari menuju Aqila saat gadis itu sudah tiba di depan pintu, dia menarik tangannya untuk mengajak Aqila makan bersama yang lain.
sepasang manusia menatap pemandangan itu dengan nanar, hati kecilnya terasa nyeri, tapi mereka hanya bisa diam.
"ayah lihat ibu sangat cantik bukan"
Lin Bao mencoba mencari perhatian ayahnya dengan memuji kecantikan Aqila.
"hm"
"silahkan duduk nona Aqila"
nyonya Wang yang tidak ingin ada perdebatan antara anak dan ayah membuka suara untuk mengalihkan perhatian cucunya.
"terimakasih"
Aqila menjawab sopan bin datar kemudian mendudukkan tubuhnya di samping Lin Bao tepat berhadapan langsung dengan jendral zhang.
....
hari ini sarapan pagi di kediaman Lin terasa lebih hangat dengan banyaknya obrolan dan candaan.
sepasang mata mencuri pandang ke aqila dengan wajah datar sedangkan aqila hanya bersikap seperti biasanya tenang dan acuh.
gadis itu hanya akan berbicara saat dirinya di tanya selebihnya dia tetap diam, nyonya besar Wang dan tuan besar Lin menatap dengan pandangan yang tidak biasa.
Lila dan Lin Shan saling menatap seolah sedang berkomunikasi lewat batin.
"aku akan pergi hari ini"
ucap Aqila setelah mereka semua selesai menikmati sarapan pagi.
"kenapa ibu ingin pergi ibu sudah janji pada ku untuk tetap tinggal di sini"
Lin Bao berbicara dengan menatap sendu ke arah Aqila pelupuk matanya sudah banjir oleh cairan bening yang siap tumpah kapan saja.
"Lin Bao sayang kakak harus menyelesaikan urusan kakak di luaran sanah"
aqila mencoba memberi pengertian dengan lembut karena waktunya tidak banyak lagi dia harus segera menemukan lokasi bunga anggrek hitam secepatnya.
"aku ikut dengan ibu"
Lin Bao yang tidak ingin kehilangan Aqila terus mencegah gadis itu untuk tidak pergi dari kediamannya.
"tidak itu berbahaya"
Aqila menolak keinginan tersebut membuat bocah laki-laki itu semakin sedih, dia mencoba mencari pembelaan dari sang ayah tapi responnya malah di luar dugaan.
"Ayah tolong cegah ibu aku tidak ingin dia pergi meninggalkan ku lagi Hua hiks hiks hiks"
__ADS_1
Lin Bao merengek seperti anak kecil pada umunya saat tidak mendapatkan apa yang dia mau.
"jangan manja"
jendral zhang menjawab dengan dingin bahkan tatapannya terlihat tajam.
"kalian jahat aku benci ayah"
Lin Bao langsung berlari keluar dari ruang makan wajah anak itu sudah di banjiri air mata dan terus terisak di setiap langkah kecilnya.
Aqila menatap tajam ke arah jendral zhang tapi kaki-laki itu terlihat tidak perduli sama sekali.
Aqila bangkit dari tempat duduknya untuk menyusul Lin Bao Lila dan Lin Shan masih terus mengekor kemanapun gadis itu pergi.
"cari"
di sela pencarian Aqila meminta Lila dan Lin Shan untuk membantunya mencari keberadaan Lin Bao.
"baik nona"
mereka berpencar untuk mempermudah pencarian Aqila merasa bersalah telah menyakiti hati anak itu.
dia teringat kata-kata Lila tadi pagi seharusnya ia tidak perlu terlibat terlalu jauh dengan keluarga Lin.
Aqila memang berdarah dingin tapi sebenarnya dia sangat penyayang apalagi terhadap anak kecil seusia Lin Bao.
gadis itu masih terus mencari Lin Bao tidak jarang juga dia memanggil namanya.
Lin Bao sediri sedang bersembunyi di dalam gudang kayu dia menangis keras sendirian.
nyonya besar Wang dan suaminya juga ikut membantu mencari cucu satu-satunya, mereka berdua terlihat sangat cemas meskipun ini bukan pertama kali Lin Bao kabur dari rumah.
ketika tiba di persimpangan jalan ketiganya bertemu lagi.
"apa nona sudah menemukannya"
Aqila menggelengkan kepala sebagai jawaban bahwa dia belum menemukan keberadaan Lin Bao.
"apa Lin Bao sering kabur dari rumah"
"benar, kasihan cucu ku yang malang"
"biasanya kalian menemukan dia dimana"
Aqila berpikir keras untuk mencari petunjuk tentang keberadaan bocah menggemaskan itu.
"nona sepertinya ada orang di dalam gudang kayu, saya mendengar seseorang menangis di sanah"
suara Lin Shan memecahkan keheningan pemuda itu terlihat bergerak buru buru ke arah Aqila dengan peluh keringat yang membasahi wajahnya.
Aqila berlari menuju lokasi ekspresinya masih terlihat datar namun tidak dengan hatinya.
"Lin Bao"
Aqila mendobrak paksa pintu gudang tersebut pandangannya terus menelisik ke segala sudut ruangan untuk mencari keberadaan lin Bao.
"tidak jangan mendekat kalian jahat"
Lin Bao terus mundur kebelakang dia mengangkat tangan mungilnya untuk menghentikan pergerakan aqila.
"tenanglah sayang"
"tidak aku tidak ingin bertemu kalian semua"
Lin Bao masih berteriak di sela tangisannya keadaan anak itu sudah tidak baik-baik saja Aqila meringis tidak tega melihatnyam
Aqila terus berjalan tanpa menghiraukan larangan tersebut dia perlahan meraih tubuh bocah laki-laki itu masuk ke dalam pelukannya.
hening tidak lagi terdengar tangisan tapi Aqila merasa ada yang aneh dia menunduk untuk melihat wajah Lin Bao.
"dia demam"
tanpa menunggu lama Aqila langsung menggendongnya membawa tubuh kaku itu ke luar dari sanah.
"cepat panggil tabib"
nyonya Wang menangis mencemaskan keadaan Lin Bao sedangkan jendral zhang menyaksikan hal itu dari sudut tersembunyi.
hati pria itu juga terasa sakit melihat keadaan putra kesayangannya, meskipun dia terlihat dingin tapi tidak menutup kemungkinan bawah dia sangat menyayangi Lin Bao.
hey ketemu lagi sama author maaf yh author up-nya sedikit karena author masih sibuk kerja.🥰
mohon di maklumi semuanya sehat selalu untuk kalian semua 😊
dan terimakasih sudah berkunjung ke karya author, see you next time 👋ðŸ¤ðŸ˜‚
__ADS_1