
mereka sampai ketika hari sudah menjelang malam Aqila memutuskan untuk beristirahat sebentar memulihkan tenaga sebelum nantinya melanjutkan kembali perjalanan.
"nona semuanya sudah siap anda bisa langsung beristirahat"
ucap Lin Shan yang berjalan mendekat ke arah Aqila, setelah pemuda itu membuat perapian untuk menghangatkan suhu tubuh mereka karena udara malam ini terasa begitu dingin.
akhirnya malam itu mereka kembali tidur di luar perbatasan hutan untungnya tidak ada bintang buas yang mengganggu waktu istirahat mereka.
hingga pagi harinya mereka kembali di bangunkan oleh terpaan sinar matahari yang hampir menjunjung tinggi ke atas langit.
"Lila bangunlah"
Aqila langsung membangunkan Lila ketika dirinya terbangun lebih dulu.
"Hua, apa sudah pagi"
gadis itu mengatakannya dengan mata yang masih terpejam.
"hm"
ucap aqila, setelah itu dia melangkah pergi menuju sumber mata air untuk membersihkan diri karena gadis itu menyukai kebersihan.
Lila langsung bangkit dari tidurnya melihat ke sekeliling untuk menetralkan pandangannya yang sedikit kabur, kemudian ikut menyusul Aqila.
setelah selesai membersihkan diri keduanya kembali ke tempat semula.
"Lin Shan dimana nona"
tanya Lila karena sejak tadi gadis itu tidak menemukan keberadaan pemuda tersebut.
"entah"
Aqila menjawab dengan jujur karena dia juga tidak tau kemana Lin Shan pergi ketika ia terbang pemuda itu sudah tidak ada sanah.
"dia tidak memberi tau anda sebelum pergi"
Lila merasa heran karena Lin Shan pergi tanpa berpamitan pada mereka.
"tidak"
"kemana pemuda itu pergi sepagi ini apa dia pergi ke kerajaan xingsheng lebih dulu dan meninggalkan kita berdua di sinih"
ucap Lila sedikit menerka alasan kepergian Lin Shan sepagi ini.
"mungkin"
jawab Aqila datar, membuat Lila semakin berpikiran buruk.
"jika itu benar awas saja jika saya menemukannya"
ucap Lila ketus belum selesai berbicara seseorang sudah memotong perkataan tersebut.
"apa yang akan kau lakukan gadis gila"
ucap Lin Shan dingin, pemuda itu terus berjalan mendekat ke arah mereka berdua.
"yak, sialan kau"
Lila merasa kesal karena Lin Shan mengatainya gila dia merasa tidak terima dan hendak memukul pemuda tersebut.
"sudah diam"
Aqila Merasa jengah dengan perdebatan tidak bermutu itu hingga memilih untuk menegurnya, jika tidak mereka berdua akan terus bertengkar.
"kau darimana"
setelah melihat keduanya kembali tenang Aqila menanyakan alasan kepergian pemuda tersebut.
"saya habis mencari makanan, bukankah bekal kita sudah habis kemarin"
__ADS_1
Lin Shan menjawab yang sebenarnya dia hanya berinisiatif untuk membawakan mereka makanan.
"hm"
"mari makan"
"apa yang kau bawa"
Aqila bertanya ketika melihat bungkusan yang sedang pemuda itu pegang.
"ini buah-buahan, saya mendapatkannya di hutan, apa nona tidak menyukainya"
tanya Lin Shan sedikit khawatir ia merasa takut aqila tidak menyukai makanan yang ia bawakan.
"tidak juga"
Aqila bukanlah tipe orang yang pemilih dia bisa makan apa saja yang menurutnya enak.
"benarkah"
Lin Shan merasa lega dengan jawaban yang aqila berikan, perlahan kekhawatiran itu mulai menghilang.
"hm"
jawab Aqila dengan deheman kecil sambil menatap ke arah Lin Shan.
"nona buah ini sangat manis"
Lila yang sudah merasa lapar tidak perduli dengan obrolan mereka ia mengambil salah satu buah dan langsung memakannya.
buah yang Lila makan adalah buah pir, buah tersebut memiliki rasa yang manis dan mengandung banyak air.
"hey kenapa kau memakannya lebih dulu saya mencarinya untuk nona bukan untuk mu gadis gila"
Lin Shan kesal dengan kelakuan Lila yang memakan buahnya tanpa menunggu mereka lebih dulu.
"nona"
"sudah hentikan, cepat makan kita harus melanjutkan perjalanan kembali"
"maaf nona"
Lila memanyunkan sedikit bibirnya karena mendapat Omelan dari Aqila, kemudian gadis itu balik menatap tajam ke arah Lin Shan.
Lin Shan yang di tatap seperti itu tidak memperdulikannya sama sekali pemuda tersebut malah asik memandangi wajah Aqila dari samping yang terlihat begitu cantik meski tidak berdandan.
Lila sedikit tidak suka ketika Lin Shan terus mencuri pandang ka arah Aqila, gadis itu tidak sadar bahwa dia sedang cemburu.
benih cinta mulai tumbuh di hati Lin Shan dan Lila tapi tidak ada yang tau dengan hati Aqila gadis itu begitu dingin dan tertutup sehingga orang akan kesulitan dalam mengartikan perasaannya.
....
di sisi lain, di kerajaan xingsheng semua orang sedang mempersiapkan diri untuk menyambut perayaan festival tahunan dalam memperingati hari berdirinya kerajaan yang akan terjadi beberapa Minggu lagi.
festival tahunan terjadi setiap satu tahun sekali di wilayah barat, mereka juga mengundang seluruh kerajaan dari berbagai wilayah termasuk kerajaan Cang'an.
Aqila tidak tau akan hal itu tapi bukankah ini adalah suatu kebetulan, karena mereka bertiga akan tiba di kerajaan xingsheng beberapa hari lagi sebelum festival di mulai.
setelah selesai menikmati sarapan ketiganya kembali melanjutkan perjalanan, dan di siang hari mereka tiba di pintu gerbang perbatasan kerajaan xingsheng.
"maaf mengganggu perjalanan anda, jika kalian ingin masuk tolong tunjukkan token identitas terlebih dulu"
ucap prajurit penjaga gerbang perbatasan dengan ketus, mereka tidak tau saja siapa orang yang sedang mereka ajak bicara, hanya karena Aqila dan yang lain memakai pakaian sederhana.
Lila yang melihat tindakan tidak sopan prajurit tersebut ingin memberinya pelajaran namun Aqila melarangnya.
Aqila memperlihatkan token khusus sebagai tanda kepemilikan atas wilayah kerajaan Cang'an, membuat dua prajurit tersebut terkejut bukan main.
mereka begitu syok menatap tidak percaya ke arah Aqila mereka berpikir aqila sedang menipu dengan menunjukkan token identitas palsu.
__ADS_1
"apa anda ingin mengelabui kami dengan menunjukkan token identitas palsu ini"
mereka tertawa sinis sambil memandang remeh ke arah aqila
"apa kalian buta tidak bisa membedakan mana yang asli dan palsu hah"
Lila yang sejak tadi menahan emosi langsung memaki dua orang tersebut dengan sangat keras.
"sialan, tentu saja kami tidak akan percaya bagaimana mungkin gadis lemah sepertinya adalah pemilik kerajaan Cang'an, aku mendengar sendiri bahwa kerajaan Cang'an sudah menjadi milik nona aqila yang kuat"
salah satu prajurit membalas perkataan Lila tidak kalah keras, dia menatap tajam ke arah gadis itu saat mengatakannya.
"apa kau tau seperti apa rupa orang yang kau maksud"
Lila merasa lucu dan ingin sekali tertawa terbahak bahak melihat kebodohan dua prajurit tersebut.
"saya memang tidak tau wajahnya seperti apa yang pasti dia adalah orang yang sangat kuat dan kejam, nona Aqila akan langsung membunuh orang yang berani mengusik ketenangan hidupnya tanpa ampun"
Lin Shan dan Lila menatap ke arah Aqila secara bersamaan, Aqila masih terlihat tenang dan tidak terusik sama sekali dengan perkataan prajurit tadi.
"wah, lihatlah nona Aqila anda sangat terkenal"
Lila terkekeh kecil sambil terus menggelengkan kepalanya menatap kasihan ke arah dua prajurit tersebut.
"apa maksud mu dengan memanggil wanita lemah ini dengan sebutan nona Aqila"
dua prajurit itu kebingungan dengan apa yang Lila katakan mereka masih tidak sadar bahwa gadis yang mereka anggap lemah adalah orang yang mereka takuti selama ini.
"dia memang nona Aqila"
kali ini Lin Shan Ikut menimpali membenarkan ucapan Lila.
hahahahhahah
dua prajurit tersebut malah tertawa terbahak bahak dan masih memandang remeh Aqila
"kalian pasti sedang membuat lelucon, lebih baik kalian bertiga pergi dari sini kerajaan xingsheng tidak menerima orang seperti kalian"
ucap salah satu prajurit yang berhasil mengusik ketenangan Aqila dan itu bukanlah pertanda baik.
"berani kau menghalangi jalan kami"
Lin Shan benar benar di buat emosi oleh dua prajurit itu, membuatnya ingin menghabisi mereka sekarang juga.
"itu terserah kami, kau tidak memiliki hak disini kalian bukanlah siapa-siapa jadi silahkan pergi sekarang juga"
"apa kalian tidak takut kami akan melaporkan perilaku kalian berdua pada yang mulia raja Liu yaoshan"
Aqila mulai membuka suaranya dia berbicara dengan nada dingin dan sorot mata tajam.
"kau mengancam kami hah, yang mulia raja tidak akan percaya dengan ucapan kalian yang hanya seorang pendatang"
meskipun sedikit takut dengan tatapan yang Aqila berikan salah satu prajurit masih tetap bersikap angkuh.
"berisik"
ucap Aqila datar gadis itu sudah kehilangan kesabarannya dan langsung mengambil pedang hitam kesayangannya dan hanya satu kali ayunan pedang sebuah kepala terpisah dari badannya.
srek
bruk
kepala itu menggelinding ke bawah, memuncratkan banyak darah, kepala tersebut milik salah satu prajurit yang sejak tadi meremehkan Aqila.
gerakan gadis itu begitu cepat membuat prajurit yang lain terhuyung kebelakang saking merasa terkejutnya.
hey ketemu lagi sama author ada yang kangen gak nih hehehehe 😊
sehat selalu untuk kalian semua dan terimakasih sudah mampir ke karya author 🙏😊
__ADS_1
selamat membaca 😊 🙏