
waktu terus bergulir hingga sore hari tepat pukul lima, selesai beristirahat dan membersihkan diri para budak berbondong-bondong keluar pergi ke lapangan untuk memenuhi tugas yang Aqila berikan beberapa saat yang lalu.
untungnya ketika mereka semua sampai Aqila belum menampakkan batang hidungnya hingga mereka bisa sedikit bernafas lega.
selang beberapa menit setelahnya gadis itu nampak berjalan santai mendekati mereka bersama seorang pria yang tidak lain adalah Lin Shan.
"kalian sudah siap"
ucap Aqila setelah dirinya sampai di hadapan Mereka semua.
"siap nona"
mereka menjawab dengan serempak sambil memberikan salam penghormatan.
setelah itu Aqila memulai pelatihan dari yang dasar hingga bagaimana cara menggunakan senjata.
awal pelatihan tidak berjalan dengan baik ada beberapa orang yang pingsan karena tak kuat menjalani pelatihan keras yang gadis itu berikan.
Aqila melatih para budak sama seperti dulu dia melatih pasukan khusu miliknya, tidak ada yang di bedakan sama sekali.
sedangkan di istana Lila tengah merasa cemas dengan kepergian gadis itu yang tidak memberitahunya sama sekali.
di tambah lagi sang raja terus menanyakan keberadaan putrinya yang sejak pagi tidak terlihat batang hidungnya.
terpaksa demi menutupi ke tidak adaan gadis itu Lila terpaksa berbohong dengan mengatakan Aqila tidak enak badan dan ingin istirahat lebih.
"nona sebenarnya anda kemana"
Lila terus mondar mandir di depan kamar gadis itu berharap orang tersebut akan segera kembali.
namun hingga pukul tujuh malam Aqila dan Lin Shan tidak juga datang membuatnya semakin khawatir dan hampir saja hendak melaporkannya pada Han Zain.
Kemabli ke markas, dirasa cukup untuk latihan kali ini Aqila menyudahinya dan menyuruh mereka semua untuk beristirahat sedangkan dirinya akan kembali ke istana bersama Lin Shan.
tidak membuang waktu lagi keduanya langsung bergegas pergi menuju istana.
setelah tiga puluh menit menempuh perjalanan akhir mereka tiba di pintu gerbang istana.
para prajurit yang melihat ke datangan keduanya langsung membukakan pintu dengan penuh hormat.
Aqila dan Lin Shan memasuki istana setelah meminta prajurit penjaga pintu gerbang untuk tidak memberitahukan kepergian sebelumnya.
meski para prajurit setuju tapi belum tentu Han Zain tidak akan tau sebab banyak orang yang melihat keduanya Keluar istana, tidak mungkin juga dia menutup mulut mereka satu persatu.
setelah menitipkan kuda kesayangannya pada pelayan terpercaya, Aqila dan Lin Shan melangkah pergi menuju istana putri.
"nona akhirnya Anda kembali, anda dari mana saja kenapa tidak mengajak saya, setidaknya beritahu saya terlebih dulu jika anda ingin pergi, saya sangat khawatir"
ucap Lila, yang terus menerus mengajukan pertanyaan tanpa henti, dan itu membuat Aqila jengah sekaligus heran, bagaimana gadis itu bisa mengucapkan-nya dengan sangat cepat.
"hm"
__ADS_1
begitu banyak pertanyaan yang Lila ajukan tapi Aqila hanya menjawab singkat dan padat itu membuat gadis tersebut mendengus kesal.
bagaimana tidak seharian merasa panik tapi orang yang di khawatirkan malah memberikan respon yang sangat menjengkelkan.
tidak ingin memperkeruh suasana Aqila berjalan mendekat dan langsung memeluk tubuh Lila dengan erat.
"maaf"
satu kata tak terduga keluar dari mulut gadis itu Lila membeku di tempat tidak tau harus merespon apa
meski di luar Aqila tampak dingin namun sikapnya kali membuktikan seberapa dia sangat penyayang bagi orang yang menurutnya spesial.
"nona apa yang terjadi maaf jika saya melakukan kesalahan"
ucap Lila terbata, tapi tak bisa di pungkiri hatinya sangat senang bagai ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik hatinya.
"tidak ada, tetap lah menjadi Lila yang ku kenal"
Aqila masih memeluk Lila dengan erat, pemandangan tersebut di saksikan oleh beberapa pelayan yang tidak sengaja melewati kediaman putri.
mereka menatap iri ke arah Lila, seorang pelayan pribadi yang di perlakukan baik layaknya saudara sendiri oleh majikannya yang memiliki kedudukan tinggi bukanlah sesuatu yang bisa di dapat oleh semua orang.
"nona mari masuk tidak baik jika di lihat banyak orang"
Lila melepaskan pelukan aqila secara perlahan agar tidak menyinggung perasaan gadis itu.
tanpa membantah ketiganya mulai memasuki kamar gadis itu.
waktu berlalu begitu saja hari demi hari ketiganya lalui dengan memperkuat diri, Aqila juga sudah memberitahu tentang pasukan barunya pada sang sahabat, tapi gadis itu belum memberitahukan maksud sebenarnya pada Lila.
Aqila berencana akan memberitahukannya nanti di saat dia dan Lin Shan akan pergi ke dunia atas.
yah perjalanan kali ini hanya mereka berdua meski Aqila sedikit bingung mengapa Lin Shan memiliki akar sihir sedangkan Lila tidak.
namun bagaimana lagi dunia atas bukanlah tempat yang mudah untuk di datangi oleh semua orang.
meski dia bisa membawa Lila pergi ke sanah tapi keselamatan gadis itu akan di pertaruhan nantinya, walaupun di dunia bawah juga tidak seratus persen menjamin keselamatannya tapi itu lebih baik dari pada setiap saat harus merasakan bahaya.
sedangkan untuk Lin Shan pemuda itu sudah di beritahu lebih dulu tentang perjalanan kali ini.
segala persiapan sudah di lakukan tinggal memberitahukan keputusan tersebut pada sang ayah.
walau sebenarnya Aqila sudah menebak jawaban apa yang akan dia terima namun dia tidak bisa mundur dari tanggung jawabnya saat ini.
terima atau tidak Aqila harus menjalani takdir yang sudah di tetapkan untuknya.
"apa semuanya sudah siap"
ucap Aqila pada Lin Shan di sela waktu santainya, mereka berdua sedang berada di gazebo taman samping kediaman istana putri.
"sudah nona"
__ADS_1
jawab Lin Shan sambil menuangkan teh hangat ke cangkir gadis itu.
"boleh aku bertanya"
ucap Aqila, sudah lama dia memendam rasa penasaran tentang identitas asli pemuda tersebut namun selalu saja tak sempat mencari tau kebenarannya.
"silahkan"
jawab Lin Shan tidak merasa keberatan sama sekali dia malah terlihat senang saat Aqila mau berbicara banyak dengannya.
"kau yakin tidak mengingat apa pun tentang masa lalu mu"
tanya aqila lagi dengan rasa penasaran tinggi, sedangkan Lin Shan langsung terdiam begitu mendengarnya.
"tidak ada nona, saya juga penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya pada saya"
meski mencoba sangat keras untuk mengingat masa lalu tapi tetap saja tidak ada bayangan apa pun yang melintas di kepalanya
yang ada dia merasakan sakit di bagian belakang kepala.
"bersabarlah kita akan tau semuanya nanti"
"nona kapan anda akan memberitahukan pada mereka"
tidak ingin lagi mengingat masa lalu Lin Shan mencoba mengalihkan perhatian ke topik lain.
"malam ini"
"apa mereka akan setuju dan membiarkan anda pergi lagi"
"mau tidak mau mereka harus mengikhlaskan ku pergi, ini sudah tanggung jawab ku Lin Shan"
"baiklah saya akan selalu ikut kemanapun anda pergi"
"kau yakin bagaimana jika nyawa mu.."
biasanya Aqila yang selalu memotong perkataan orang lain dan kali ini malah perkataannya yang di potong.
ada rasa tidak suka tapi langsung hilang seketika saat melihat wajah tampan Lin Shan yang terlihat serius saat mengatakan sesuatu tentang melindungi nyawanya.
"saya siap jika harus kehilangan nyawa demi anda nona"
"tapi aku yang tidak ingin kehilangan mu"
Lin Shan terdiam mendengar penuturan gadis itu dia tidak menyangka bahwa ia memiliki tempat tersendiri di hati gadis yang di cintainya.
...hey ketemu lagi sama author maaf yh kalo masih ada kata yang salah author masih belajar untuk memperbaikinya dan maaf jika tidak sesuai dengan harapan kalian๐...
...semoga kalian tidak bosan dengan ceritanya dan terimakasih untuk yang sudah mampir...
...see you next time di episode berikutnya ๐๐...
__ADS_1