
mereka saling menatap tajam tidak ada yang mau mengalah, di balik pepohonan tinggi di sudut hutan seorang pria misterius tersenyum licik dari balik topeng yang menutupi separuh wajahnya.
"kita akan bertemu lagi nanti Aqila"
setelah mengatakan hal tersebut sosok misterius itu menghilang bak di telan bumi tidak ada jejak sama sekali.
Aqila menyadari bahwa sejak tadi ada yang mengawasinya aqila ingin tau siapa orang tersebut tapi aura sosok itu begitu kuat dan tidak mudah di tembus menggunakan mata batin.
yah semakin kesinih kemampuan Aqila semakin tidak masuk akal, gadis itu bisa melihat sesuatu yang tidak biasa orang lain lihat tapi dia bukan cenayang.
Aqila sendiri bingung apa yang sedang terjadi dalam dirinya seolah ada sesuatu yang ingin keluar tapi entah itu apa.
macan kumbang bersuara mengalihkan perhatian gadis itu kembali ke arahnya.
"katakan"
ucap Aqila datar setelah perhatiannya kembali ke macan kumbang yang ada di hadapannya.
"apa"
macan kumbang menjawab bingung pertanyaan tersebut.
"yang tadi ku tanyakan"
Aqila tidak ingin terlalu lama berbasa-basi dia harus cepat menuju tempat tujuan.
"aku tidak tau siapa dia, yang jelas dia sangat kuat"
macan kumbang menjawab malas pertanyaan yang Aqila ajukan padanya.
hening tidak ada lagi jawaban dari gadis itu, Aqila hanya bungkam dengan segala pemikirannya sendiri.
"apa yang kau inginkan"
hewan buas itu kembali menatap tajam ke arah sekumpulan orang yang berani memasuki wilayahnya.
"kau"
jawab Aqila tanpa beban, sebenarnya sejak tadi gadis itu merasa tertarik dengan bintang tersebut.
karena dia berbeda dari macan kumbang pada umumnya, hewan itu memiliki bola mata berwarna violet, Bentuk tubuh yang besar serta bulu halus berwarna putih keperakan dia juga memiliki tanda kristal biru di dahinya.
"aku"
"hm"
"kurang ajar kau pikir aku kucing peliharaan yang akan patuh pada perintah seorang gadis lemah seperti mu"
macan kumbang menggeram marah dan hendak menyerang Aqila, namun pergerakannya kalah cepat dari gadis itu.
"jangan menyesal"
bug
belum juga menjawab, Aqila sudah lebih dulu melayangkan tinjunya.
pukulan itu terlihat tidak main-main hewan buas tersebut terpental jauh sampai menabrak dahan pohon besar.
__ADS_1
dia mengaung kemudian memberikan serangan balasan, akhirnya pertempuran kembali terjadi.
Lila, Lin Shan, To Mu dan Annchi saling menatap satu sama lain mereka bingung dengan apa yang terjadi saat ini.
beberapa menit lalu keduanya terlihat sangat harmonis tapi sekarang mereka kembali saling menyerang bahkan pertempuran terlihat sangat menegangkan.
keduanya sama-sama kuat dan tidak ada yang mau mengalah, keadaan mu hutan benar benar kacau oleh ulah mereka.
setelah satu jam bertarung macan kumbang kini kewalahan menghadapi serangan Aqila karena tenaganya sudah terkuras banyak.
sejak awal pertempuran Aqila hanya menghindar menunggu kesempatan yang tepat, detik berikutnya gadis itu menyerang secara acak bahkan pergerakannya sangat cepat dan sulit di perkirakan.
bug
masih dengan tangan kosong Aqila memberikan pukulan terakhirnya dan itu berdampak buruk bagi hewan buas tersebut
macan kumbang terkulai tak berdaya karena serangan tadi, Aqila berjalan mendekat dengan santai ke arahnya.
"aku menyerah kau hebat gadis muda"
macan itu akhirnya mengakui bahwa Aqila bukanlah gadis lemah seperti Yang dia pikirkan sebelumnya.
"lain kali jangan pernah meremehkan lawan mu, kau tidak pernah tau sekuat apa dia"
Aqila memberi wejangan meski dengan nada dingin dan terkesan acuh.
"terimakasih atas nasehatnya apa kau bersedia menjadi tuan ku"
hewan buas itu menatap Aqila penuh harapan, sebenarnya dia sudah lama menginginkan seorang tuan yang memiliki kekuatan hebat melebihi dirinya dan hari ini adalah kesempatan itu.
"bukankah tadi kau yang menolak"
"itu karena aku berpikir kau hanya gadis lemah yang tidak bisa melakukan apa pun"
macan kumbang menjawab jujur apa yang sebelumnya dia pikirkan tentang Aqila
hening Aqila diam tidak lagi menjawab, macan kumbang menatap nanar sikap acuh gadis yang ada di hadapannya.
"apa kau setuju"
macan kumbang kembali bertanya untuk memastikan apakah gadis itu tertarik menjadi tuannya atau tidak.
"hm"
"kalau begitu kita bisa membuat kontrak"
begitu mendapat respon walau hanya deheman kecil dia sudah merasa cukup puas
"caranya"
Aqila memiringkan kepala karena bingung meskipun dia sudah lama tinggal di zaman ini tetap saja beberapa hal masih tetap asing baginya.
"teteskan darah mu di kening ku dan setelahnya kau resmi menjadi tuan ku"
macan kumbang memaklumi hal itu karena tidak semua orang bisa membuat kontrak dengan hewan spirit bist sepertinya.
setelah paham Aqila langsung menggigit salah satu jari tangannya kemudian meneteskan darah tersebut ke kening macan kumbang itu.
__ADS_1
dan ajaibnya tubuh yang tadinya terluka parah kini sembuh tanpa bekas sedikit pun.
Aqila terkejut begitu pun dengan yang lain meski Wajahnya masih tetap datar tapi tidak dengan pikiran gadis itu.
ada banyak hal yang ingin Aqila ketahui tentang dirinya sendiri tapi tidak ada satupun yang mampu menjawabnya termasuk sang ibu.
karena tidak ingin membuang banyak waktu mengurusi hal sepele Aqila memutar tubuh untuk kembali menaiki kuda hitamnya.
"masuklah"
guma Aqila pelan dan secara ajaib lagi macan kumbang hilang dari pandangan semua orang.
kini mereka hanya menatap cengo keadaan yang kembali sunyi seperti sebelumnya ingin bertanya tapi mereka tidak berani, juga merasa ragu apakah Aqila mengetahui kepergian hewan buas itu atau tidak.
lamunan itu buyar ketika suara ringkikan kuda kembali terdengar saat mereka menoleh ke sumber suara, kuda itu sudah melaju cepat bersama penunggangnya.
mereka buru-buru menyusul karena tidak ingin ketinggalan jejak aqila.
....
waktu bergulir begitu cepat kini kelimanya sudah tiba di gerbang perbatasan Utara, udara di sanah terasa berbeda jauh lebih dingin dari tempat tinggal mereka.
Lila dan yang lain mengeluarkan mantel untuk menghangatkan tubuh sedangkan Aqila tidak bergeming dari posisinya.
"nona pakailah anda bisa kedinginan nanti"
ucap Lin Shan khawatir dia melepas mantelnya dan memberikannya pada Aqila.
"tidak perlu"
Aqila menolak niat baik Lin Shan dengan datar tapi Lin tidak marah sama sekali karena dia sudah terbiasa dengan sikap acuh Aqila.
"nona, anda bisa jatuh sakit udara di sinih sangat dingin tidak bagus untuk kesehatan"
Lin Shan mencoba membujuk gadis itu, pemuda tersebut benar benar terlihat sangat khawatir.
"tidak akan"
"nona yang Lin Shan katakan benar kami tidak ingin anda sakit"
Lila ikut menimpali pembicaraan tersebut meski sebenarnya hati gadis itu sedikit terasa nyeri melihat Lin Shan begitu perhatian terhadap Aqila.
"berikan"
Aqila yang tidak ingin telinganya panas mendengar ocehan mereka semua terpaksa mengalah.
Lin Shan langsung mengulurkan kembali mantelnya dia tersenyum manis ke arah Aqila.
Lila dan Annchi yang melihat senyuman itu terpesona ini adalah hal langka yang bisa mereka berdua saksikan dari seorang Lin Shan.
karena biasanya Lin Shan selalu menampilkan ekspresi datar di hadapan siapa pun terkecuali Aqila.
gadis itu adalah orang pertama yang selalu mampu membuat Lin shan tersenyum manis walau hanya untuk beberapa menit.
hey ketemu lagi sama author maaf yh kalo masih ada kata yang salah author masih belajar untuk memperbaikinya 🙏🙏😊
terimakasih sudah mampir ke karya author semoga kalian suka dengan ceritanya 😊
__ADS_1
sehat selalu untuk kalian semua see you next time 👋🤭