SANG DEWI PENAKLUK

SANG DEWI PENAKLUK
Kerajaan Emerald 1


__ADS_3

setelah pintu gerbang di bukan Lin Shan dan aqila langsung masuk begitu saja tanpa menghiraukan raut ketidak sukaan para penjaga terhadap mereka.


jika bukan karena kepentingan kerajaan para penjaga tidak akan Sudi membiarkan salah satu penduduk kerajaan bulan menginjakan kakinya di wilayah ini.


sepertinya dua kerajaan besar itu sedang bersitegang untuk alasan di balik permusuhan mereka akan segera di ketahui.


sepanjang melewati jalanan menuju wilayah ibu kota banyak hal yang mereka jumpai, mulai dari sifat para penduduk yang kurang ramah dan masih banyak lagi.


"Nona"


"aku tau apa yang ingin kau katakan Lin"


Lin Shan menatap Aqila dengan bingung sekaligus penasaran, dia jadi berfikir apakah gadis itu bisa membaca pikiran orang lain.


sebenarnya tidak, hanya saja Aqila memiliki kepekaan yang sangat tinggi hingga tebakannya selalu saja benar dan tepat sasaran.


kebohongan yang Aqila lakukan kali ini entah akan membawa dampak seperti apa nantinya padahal dia bisa saja menggunakan identitas aslinya dari pada harus berbohong.


namun itu terlalu beresiko dia juga belum bertemu dengan keluarga ibunya dan seperti apa tanggapan mereka tentang kedatangan-nya kali ini.


dengan kecepatan penuh mereka akhirnya tiba di depan pintu masuk ibu kota kerajaan emerald.


seperti biasa pendatang baru akan di minta menunjukkan token identitas terlebih dulu, sebagai bukti sekaligus jaminan atas kedatangan mereka ke kerajaan itu.


"nona apa kita akan..."


belum selesai Lin Shan berbicara Aqila sudah lebih dulu memotong perkataan tersebut.


"hm"


Aqila menoleh sebentar kemudian kembali fokus ke depan, gadis itu sedang berpikir bagaimana caranya masuk ke dalam sanah tanpa harus menunjukkan token identitas.


ingin berbohong kembali juga terlalu beresiko karena bisa saja pihak istana memintanya untuk datang menghadap ke istana.


jika dia pergi ke istana maka besar kemungkinan kebohongan itu akan terbongkar karena bisa saja mereka melakukan penyelidikan.


sedangkan Aqila tidak ingin membuang waktu untuk hal tidak berguna itu, tujuannya kali ini adalah menemukan keberadaan keluarga ibu-nya, yang sejak lama tidak pernah saling bertatap muka.


melihat rombongan aqila hanya diam di tempat seorang pemuda menghampiri mereka dengan rasa penasaran tinggi.


"mengapa kalian hanya diam di sinih"


ucap pemuda itu yang berhasil mengalihkan perhatian Aqila dan Lin Shan, mereka terkejut saat menyadari ada rombongan lain di belakang mereka mungkin karena terlalu fokus memikirkan cara masuk ke dalam sanah.


"apa kau pendatang"


bukannya menjawab Aqila malah mengajukan pertanyaan yang semakin membuat pemuda itu kebingungan.

__ADS_1


"yah"


meski sedikit enggan pemuda itu tetep mengatakan kebenarannya.


"dari wilayah mana kalian berasal"


Aqila yang biasanya pendiam kini malah banyak bicara Lin Shan terkejut melihat itu semua.


"hei nona kenapa anda banyak bertanya dan apa urusannya dengan anda"


pemuda itu mengernyit tidak suka karena Aqila terlalu banyak ingin tau.


"jawab saja pertanyaan ku"


melihat itu semua aqila mengubah nada bicaranya menjadi dingin dan tak bersahabat


"kami dari kerajaan bulan"


jawab pemuda tersebut dengan ketus, dia terlihat lebih satu tahun lebih muda dari usia Aqila saat ini.


"jadi kalian perwakilan yang akan menghadap ke istana"


kali ini bukan Aqila yang berbicara melainkan Lin Shan.


"benar bagaimana kau tau"


"itu tidak penting"


jawab Lin Shan dengan ekspresi datar yang semakin membuat pemuda tadi kesal bukan main.


"lalu apa maksud anda bertanya seperti itu, jangan membuang waktu pangeran kami"


ucap pemuda tadi dengan Nada keras karena sudah tidak bisa lagi menahan emosi yang saat ini sedang meluap-luap dalam dirinya


"bisa kami ikut dengan rombongan kalian"


sebenarnya Lin Shan enggan mengatakan hal ini namun melihat Aqila diam membuat ia terpaksa harus mengatakannya.


"siapa anda ingin bergabung bersama rombongan pangeran"


mendengar permintaan Lin Shan pemuda itu langsung menunjukkan penolakan-nya dengan ekspresi angkuh.


"kau tidak perlu tau, ingat ini aku datang kemari menggunakan identitas kerajan kalian, jika kalian tidak bisa di ajak kerjasama maka jangan salahkan aku bila membuat kekacauan dan kalian pasti tau apa resiko yang akan kalian tanggung nantinya"


Lin Shan hendak menjawab tapi Aqila sudah lebih dulu memberikan acaman.


"sialan apa mau mu"

__ADS_1


teriak pemuda itu dengan Wajah yang nampak mengelap menahan amarah.


"aku hanya ingin masuk ke dalam sanah karena ada urusan penting setelah itu kita berpisah aku tidak akan menghambat perjalanan kalian lagi"


Aqila kembali memberikan penawaran yang lebih terkesan memaksa.


"bagaimana jika kau membuat kekacauan yang merugikan kami nantinya"


ucap pemuda itu tidak ingin ambil resiko karena mereka baru saja bertemu.


"selama tidak ada yang mengusik ku maka kalian bisa tenang"


jawaban yang Aqila berikan terkesan antara meyakinkan atau tidak, membuat pemuda itu bimbang.


"kau benar-benar gadis berbahaya"


"aku tidak perduli, mau tidak mau kalian harus menuruti keinginan ku"


pemuda itu tidak lagi menjawab dia hanya melangkah pergi dengan perasaan kesal menuju tandu mewah yang berada di tengah-tengah rombongan.


"salam pangeran"


"ada apa"


pemuda itu langsung menjelaskan semua percakapan-nya dengan Aqila tanpa ada sedikit pun yang di tutupi.


hening untuk sesat tidak ada jawaban lagi yang terdengar dari dalam tandu, namun setelahnya orang itu mengijinkan Aqila ikut bersama mereka.


begitu mendapat izin pemuda itu kembali ke arah Aqila untuk memberitahukannya, baru setelah itu mereka mulai memasuki ibu kota secara bersamaan.


meski sempat terjadi perdebatan karena para penjaga kekeh ingin Aqila dan Lin Shan menunjukkan token identitas mereka sedangkan Keduanya tidak memiliki token identitas tersebut.


dengan sedikit gertakan dari orang di dalam tandu para prajurit penjaga pintu gerbang ibu kota akhirnya mengalah dan mengijinkan aqila juga Lin Shan masuk ke dalam sanah.


begitu memasuki kedalaman ibu kota suasana terasa tidak jauh berbeda dari ibu kota pada umumnya, di mana banyak orang berlalu lalang melakukan kegiatan-nya masing-masing


Aqila memacu kuda dengan santai mendekati tandu mewah milik pangeran kerajaan bulan di ikuti oleh Lin Shan yang tidak ingin berjauhan dari gadis itu, karena tempat tersebut sangat ramai.


Lin Shan harus selalu waspada dimana dan kapan-pun mereka berada karena bahaya bisa saja terjadi di luar perkiraan manusia.


"terimakasih, selamat tinggal"


setelah mengatakan dua kalimat tersebut Aqila menjauh kembali tanpa mendengar jawaban dari lawan bicaranya.


sedangkan orang yang ada di dalam tandu merasa terheran-heran mendengar dua kalimat itu.


...maaf yah author belum bisa crezy up 🙏 terimakasih sudah berkunjung 😊...

__ADS_1


__ADS_2