SANG DEWI PENAKLUK

SANG DEWI PENAKLUK
Hutan Perbatasan Utara


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan hampir tiga hari Aqila dan yang lain akhirnya mencapai wilayah Utara hanya tinggal melewati satu hutan lagi untuk tiba di perbatasan.


kini mereka sedang singgah di salah satu desa terdekat sebelum memasuki hutan tersebut.


"kita istirahat sebentar di sinih"


ucap Aqila yang kemudian turun dari atas kuda hitamnya.


"tapi nona jika kita berhenti sekarang kemungkinan besar kita akan tiba di hutan tengah malam"


To Mu menjawab perkataan Aqila setelah dia memperkirakan keadaan waktu saat ini


"memangnya kenapa"


Aqila menatap datar pria yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.


"saya dengar hutan perbatasan Utara tidak aman saat malam hari"


Annchi yang tidak sengaja mendengar rumor di kalangan masyarakat bergidik ngeri ketika membayangkan apa yang akan terjadi nanti pada mereka.


"kenapa"


tanya Lila merasa penasaran setelah melihat ekspresi gadis itu.


"menurut kabar yang beredar hutan itu mempunyai penunggu siapa pun yang melintasi hutan tersebut di tengah malam tidak pernah kembali lagi bahkan banyak perkiraan warga bahwa mereka sudah mati"


Annchi mulai menjelaskan rumor tersebut meski dengan buluk kuduk yang meremang.


"oh"


jawab Aqila acuh membuat dua bersaudara itu menjatuhkan rahang apalagi Annchi yang sudah tidak bisa berkata-kata saking terkejutnya dengan tanggapan yang Aqila berikan.


"jadi bagaimana nona"


Lin Shan akhirnya bersuara setelah tadi hanya diam dan menyimak pembicaraan itu.


hening tidak ada jawaban Aqila hanya menutup mata sambil bersandar di tubuh kuda hitamnya.


"bagaimana Jika malam ini kita menginap di desa ini saja baru besok kita melanjutkan kembali perjalanan terlalu beresiko jika kita memaksa untuk memasuki hutan"


To Mu mengusulkan pendapatnya memikirkan situasi yang akan terjadi nanti.


"hm"


setelah negosiasi selesai mereka berlima langsung mencari tempat penginapan untuk mengistirahatkan tubuh yang sudah kelelahan selama melakukan perjalanan kemari.


untungnya desa tersebut menyediakan penginapan bagi para pendatang yang ingin pergi ke wilayah Utara.


meskipun hanya satu penginapan dengan fasilitas seadanya, tapi itu sudah cukup bagi mereka berlima.


akhirnya malam itu mereka tidak jadi memasuki hutan dan memilih tidur di penginapan.

__ADS_1


pagi harinya, kelima orang tersebut terbangun kembali oleh suara ayam berkokok, mereka langsung bergegas membersihkan diri sebelum turun kebawah untuk sarapan.


setelah melakukan ritual pembersihan ke empat orang turun lebih dulu meninggal aqila yang masih sibuk dengan kegiatannya sendiri.


Aqila terlihat santai tidak perduli bahwa teman-temannya sedang menunggunya, mereka tidak berani makan lebih dulu tanpa gadis itu.


begitu dirasa siapa Aqila langsung turun kebawah menyusul yang lain, kehadirannya kembali menjadi pusat perhatian bagi mereka yang sudah hadir lebih dulu di sanah.


Aqila Hanya bersikap acuh seperti biasanya tidak memperdulikan semua pujian-pujian itu, dia terus melangkah menuju Lila, Lin Shan, To Mu dan Annchi.


setelah sampai dia langsung mendudukkan diri di sebelah Lin Shan tanpa mengucapkan sepatah katapun Aqila persis seperti kulkas berjalan dingin dan mematikan.


setelahnya mereka langsung menikmati makanan yang sejak tadi sudah di sediakan oleh pelayan.


tiga puluh menit berlalu kini mereka berlima kembali melanjutkan perjalanan menuju lokasi hutan.


"hutan ini terlihat biasa saja tidak ada hal mengerikan apa pun seperti yang para penduduk bilang"


ucap Lila di sela perjalanan, mereka sudah tiba di hutan tersebut dan sedang memasuki jantung hutan.


"air yang tenang tidak menjamin bahwa tidak ada bahaya di dalamnya"


aqila menjawab datar perkataan Lila mata gadis itu Masih terus mengawasi keadaan di sekelilingnya.


"yang nona katakan benar, tetap waspada kita tidak tau apa yang ada di depan sanah"


ucap Lin Shan membenarkan perkataan Aqila pemuda itu juga merasa ada yang aneh Dengan hutan ini.


baru saja Lin Shan menyelesaikan ucapannya seekor macan kumbang putih berjalan mendekat ke arah mereka.


macan itu mengaung marah karena wilayahnya di masuki orang asing, matanya menatap tajam ke arah kelima orang yang ada di hadapannya.


Annchi ketakutan melihat hewan buas tersebut apalagi taringnya yang terlihat sangat tajam seolah mampu mengoyak tubuh seseorang hanya dalam satu gigitan.


To Mu juga terlihat gelisah sedangkan Aqila Lila dan Lin Shan masih bersikap tenang mereka bertiga menatap datar ke arah hewan buas tersebut.


aksi saling tatap tidak berlangsung lama karena macan kumbang itu mulai menyerang dengan gerakan acak.


yang lain sedikit kewalahan dalam mengatasi keganasan hewan buas tersebut sedangkan Aqila hanya diam menonton.


tidak berniat membantu sama sekali tapi sebenarnya yang terjadi adalah Aqila sedang mengamati macan kumbang itu


Aqila merasa ada yang berbeda dari hewan itu seperti dia sedang di kendalikan oleh seseorang.


dan benar saja tebakan Aqila sangat akurat saat gadis itu melihat sebuah tanda aneh di bagian belakang kepala hewan tersebut.


"mundur"


Aqila berseru memecah konsentrasi yang lain termasuk sang predator dia berjalan santai ke arah macan kumbang itu.


ke empat orang yang menyaksikan merasa cemas dan khawatir, mereka ingin bersuara tapi Aqila lebih dulu memberikan kode agar mereka tetap diam.

__ADS_1


hening, suasana benar-benar senyap hanya hembusan angin dan daun berjatuhan yang terdengar kala itu.


macan kumbang tersebut diam seakan terhipnotis oleh pergerakan aqila padahal jika di lihat oleh mata telanjang gadis itu hanya berjalan santai seperti biasanya.


begitu sudah dekat Aqila mengusap pelan kepala hewan buas tersebut membuatnya merasa nyaman di perlukan demikian.


yang lain menatap cengo aksi tersebut mereka terus berpikir dan menebak apa yang terjadi sebenarnya sehingga hewan buas itu nampak lebih menurut.


"kau baik-baik saja"


Aqila bertanya melalui telepati dengan tangan yang masih membelai lembut bulu halus itu.


"siapa"


macan kumbang kebingungan dengan suara yang dia dengar saat ini.


"aku gadis yang ada di hadapan mu"


"kau bisa berbicara dan mengerti bahasa kami"


macan kumbang menatap tidak percaya ke arah Aqila, dia menggelengkan kepala berulang kali untuk memastikan pendengarnya.


"hm"


"bagaimana mungkin"


macan kumbang di buat terkejut dengan pembenaran yang Aqila berikan.


"tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini"


jawab Aqila datar, interaksi keduanya masih menjadi pusat perhatian ke empat manusia lainnya.


"hah"


macan kumbang menghela nafas kasar yang lebih terdengar seperti sebuah erangan kemarahan.


"apa yang terjadi"


Aqila langsung bertanya ke inti permasalahan karena dia masih merasa penasaran dengan sosok misterius yang ada di balik layar.


"apa yang kau inginkan"


bukannya menjawab pertanyaan Aqila macan kumbang itu malah balik bertanya, dia juga merasa penasaran sama seperti gadis itu.


"jawab Dulu pertanyaan ku"


Aqila berucap dingin, dia tidak suka saat pertanyaannya di jawab dengan pertanyaan lagi.


hy ketemu lagi sama author maaf yh kalo masih ada kata yang salah author masih belajar untuk memperbaikinya 🙏


terimakasih sudah mampir ke karya author dan selamat membaca 🙏🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2