SANG DEWI PENAKLUK

SANG DEWI PENAKLUK
kerajaan Emerald 2


__ADS_3

karena selama dia hidup tidak ada yang pernah melakukan hal itu padanya apa lagi yang berbicara adalah seorang gadis.


karena merasa penasaran dia menyibak sedikit jendela tandu untuk melihat sosok Aqila namun sayang gadis itu sudah berlalu menjauh hingga hanya punggungnya saja yang terlihat.


"Aron"


begitu namanya di sebut pria yang sempat bersitegang dengan Aqila menghadap pria di dalam tandu.


"apa ada yang anda butuhkan pangeran"


tanya Aron, mereka masih melakukan perjalanan namun dengan lambat karena jalanan cukup ramai.


"siapa dia"


orang yang di dalam tandu berharap bahwa Aron tau siapa gadis yang berbicara dengannya.


"saya tidak tau pangeran"


meski merasa heran Aron tetap mengatakan-nya dengan jujur.


"kau tidak bertanya siapa namanya"


ada sedikit rasa kecewa yang pria itu rasakan namun detik berikutnya dia semakin di buat penasaran dengan sosok Aqila yang sebenarnya seperti apa.


"tidak pangeran karena menurut saya itu bukan hal yang penting"


jawab Aron jujur, dia jadi penasaran dengan perubahan sikap tuannya itu.


"hah"


"apa anda ingin saya mengejarnya tuan"


"tidak perlu, jika kita berjodoh maka kita akan bertemu dengan-nya lagi"


setelah pembicaraan itu selesai mereka kembali ke fokus masing-masing, rombongan tersebut akan menuju ke istana kerajaan emerald.


sedangkan Aqila dan Lin Shan menyempatkan diri mengunjungi salah satu restoran yang ada di sanah.


"ada yang bisa saya bantu"


seorang pelayan wanita datang menghampiri mereka berdua setelah tadi diam memperhatikan dari jauh.


"kami ingin memesan tempat"


jawab Lin Shan datar sambil meneliti ke segala arah.


"maaf kami hanya menerima tamu dari kelas atas kalian bisa mencari tempat lain"


pelayan itu menjelaskan dengan nada sinis, dari sorot matanya seolah sedang merendahkan mereka berdua.


"apa kau berfikir kami tidak mampu membayar"


Lin Shan mendengus kesal saat seorang pelayan berani merendahkan Aqila dan dirinya hanya karena mereka berpakaian sederhana.

__ADS_1


tapi jika dia orang pintar pasti bisa menyadari meski pakaian yang Aqila kenakan seperti biasa saja tapi bahan dan kualitas serta harganya mampu membeli dua hektar tanah pada masa itu.


ini kali pertama mereka mendapat sambutan tidak baik dari sebuah restoran yang terbilang cukup terkenal dengan hidangan dan pelayanannya.


namun apa yang saat ini di alami nyatanya berbanding terbalik dari yang di rumorkan oleh para penduduk ibu kota.


"lebih baik sekarang kalian pergi dari sini masih banyak tamu kelas atas yang harus kami layani"


pelayan wanita itu berbicara dengan sedikit meninggi, hal tersebut berhasil menarik perhatian para pengunjung lain.


"nona apa kita perlu memotong lidah-nya"


geram melihat kesombongan pelayan wanita itu Lin Shan hendak memberinya pelajaran jika Aqila mengijinkannya.


"jangan membuat masalah tuan dan nona silahkan pergi atau perlu saya panggil para penjaga untuk mengusir kalian dari sinih"


mendengar perkataan Lin Shan barusan pelayan wanita itu terkejut bukan main dia takut tapi egonya terlalu tinggi untuk hanya sekedar meminta maaf.


sedangkan di sudut lain pemilik restoran memperhatikan perdebatan tersebut namun malah memilih diam tidak menegur tindakan bawahannya itu.


andai saja dia tau bahwa orang yang dia singgung memiliki kesabaran setipis tisu mungkin kata menyesal-pun tidak akan lagi berguna.


tidak ingin memperkeruh suasana Aqila meminta Lin Shan untuk meninggalkan tempat itu dan mencari restoran yang lebih baik lagi.


saat mereka berbalik badan dan baru saja melangkah suara pelayan wanita itu kembali terdengar yang mana menguji kesabaran Aqila.


"cih tidak punya uang bisa-bisanya ingin makan di sini, dasar rendahan tidak tau malu hanya jadi sampah masyarakat"


pelayan wanita itu menggerutu dengan nada keras dia hanya seorang pelayan namun memiliki kesombongan seperti pemilik tempat tersebut.


tidak taukah dia bahwa orang yang dia hina jauh lebih dari segalanya, Aqila pemilik tiga kerajaan besar di dunia bawah pemilik gedung baihe yang terkenal serta tuan dari dua pasukan besar.


jangankan hanya untuk membayar makanan di tempat itu bahkan bangunan dengan segala isinya mampu dia beli.


mendengar ucapan pelayan wanita itu beberapa pengunjung mulai bersorak dan tertawa dengan sangat keras.


ada juga dari mereka yang ikut mengejek dan menggumakan sumpah serapahnya ke arah Aqila dan Lin Shan.


Lin Shan sudah mengepalkan tangan menahan amarah yang memuncak dalam dirinya sedangkan Aqila menghela nafas kasar.


niat hati tidak ingin memperpanjang masalah namun pelayan wanita itu malah membangunkan sosok iblis dalam dirinya.


srakk


tanpa banyak bicara Aqila melesat dengan sangat cepat ke arah pelayan tadi dan langsung memotong salah satu tangannya.


aaaa


pelayan wanita itu berteriak kesakitan saat tangan kanannya di pisah secara paksa dari anggota tubuh lainnya.


para pengunjung yang melihat tangan tersebut serta darah yang masih bercucuran dari pedang hitam milik Aqila terdiam membisu.


mereka syok tidak percaya dengan kejadian tak terduga itu apalagi gerakan yang Aqila lakukan terlampau cepat hanya sepersekian detik.

__ADS_1


Aqila masih menghadap ke arah luar namun sorot matanya terlihat begitu tajam dan aura yang di keluarkan oleh gadis itu mampu mengintimidasi mereka semua.


bukan hanya mereka Lin juga di buat terkejut untuk beberapa saat namun setelahnya dia kembali seperti semula.


karena ini bukalah hal yang langka gadis itu sudah sering melakukannya pada mereka yang telah berani menguji kesabarannya.


"sialan atas dasar apa kau memotong lengan ku ja**ng"


pelayan wanita itu berteriak memaki Aqila dengan air mata yang masih bercucuran, dia tidak menyangka bahwa ia akan kehilangan salah satu lengannya.


perasaan cemas menggerogoti hati dia khawatir akan di pecat dari pekerjaan-nya saat ini karena sudah tidak bisa lagi bekerja dengan baik.


"tutup mulut mu jika kau masih sayang dengan lidah mu itu"


teriak Lin Shan tidak kalah tinggi, pemuda itu tidak akan terima jika ada yang berani menghina gadis yang di cintai-nya.


seketika pelayan wanita itu terdiam karena merasa takut, dia sudah kehilangan tangan kanan-nya jangan sampai ia juga harus kehilangan lidah-nya.


bisa di bayangkan akan semengerikan apa kehidupan-nya nanti saat dia tidak bisa lagi berbicara.


pemilik restoran yang sempat ikut terkejut datang menghampiri mereka bertiga dengan perasaan takut.


"maaf atas kelancangan pekerjaan saya tuan dan nona"


pria itu langsung mengucapkan permintaan maaf namun nada bicaranya terdengar terpaksa tidak tulus sama sekali.


"ajari bawahan mu dengan benar jika kau masih ingin melihat tempat ini terus berdiri"


Aqila membuka suara setelah sejak awal hanya bungkam.


"baik terimakasih atas nasehatnya nona, kalau begitu silahkan duduk kalian berdua boleh memesan hidangan apa pun dan tidak perlu membayarnya"


pria itu mencoba menyudahi pertengkaran mereka meski dengan pemikiran masih mengganggap Keduanya kaum rendahan


"kau pikir kami tidak mampu membayar"


Lin Shan kembali tersulut emosi mendengar kata-kata pria itu barusan.


"ah tidak tidak bukan seperti itu tuan"


pria itu mencoba mengelak agar tidak lagi terjadi kekacauan yang bisa saja merugikan dirinya.


"sebaiknya kita pergi dari sini saja nona, tempat ini tidak layak untuk anda singgahi"


ucap Lin Shan sambil memandang ke arah gadis itu.


"kenapa anda berbicara seperti itu tuan"


kali ini pria pemilik restoran yang merasa tidak terima dengan ucapan Lin Shan barusa.


"perlu kau tau orang yang sejak tadi kalian rendahkan adalah tuan putri dari kerajaan besar"


karena tidak tahan orang yang di cintai-nya di rendahan pemuda itu sedikit memberi bocoran tentang identitas Aqila yang sebenarnya.

__ADS_1


...kalo merasa tidak nyambung wajib baca chapter kemarin yah karena udah author tambahin di bab terakhir....


...terimakasih sudah berkunjung, see you next time di episode berikutnya 👋😊...


__ADS_2