
malam berlalu begitu saja hingga matahari kembali menampakkan wujudnya, suara kicauan burung menjadi penanda pagi itu.
penghuni istana Cang'an sudah sibuk melakukan persiapan pemberangkatan Aqila sejak dini hari.
tidak banyak orang yang tau sebab gadis itu ingin perjalanannya kali ini di rahasiakan untuk meminimalisir segala kemungkinan yang bisa saja terjadi ketika dia pergi.
karena dia punya banyak musuh ini adalah kesempatan bagus untuk menyerang kerajaan saat pilar kokoh sudah tidak ada lagi di tempat.
"Nona apa anda sudah bangun"
Lila masuk ke dalam kamar gadis itu sambil membawa satu set pakai berwarna hitam legam sesuai dengan keinginan-nya.
"hm"
sahut Aqila dari dalam sanah, gadis itu sedang berdiri di dekat jendela sambil menikmati suasana pagi yang cerah.
"boleh saya mendandani anda hari ini"
Aqila hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban-nya kemudian dia melangkah pergi menuju pemandian untuk membersihkan diri.
melihat hal itu Lila langsung mengikuti-nya, setelah menghabisi waktu hampir tiga puluh menit Aqila akhirnya menyelesaikan ritual mandi tersebut.
"nona"
ucap Lila sambil menyisir rambut panjang Aqila dengan hati-hati.
"ada apa"
Aqila menjawab perkataan gadis itu tanpa melihat wajah lawan bicaranya.
"apa nona akan berangkat hari ini juga"
tanya Lila ragu-ragu, ekspresinya kembali berubah sendu mengingat perpisahan mereka Yang sebentar lagi akan terjadi.
"kenapa"
saat melihat wajah murung Lila dari pantulan cermin yang ada di hadapannya Aqila langsung membalik badan melihat ke arah gadis itu.
"sejujurnya saya ingin ikut agar bisa selalu bersama nona, tapi mau bagaimana lagi, rasanya akan aneh jika nona tidak ada di samping saya"
meski ragu dan takut Lila tetep mengemukakan apa yang dia rasakan saat ini.
"aku tau perasaan mu Lila maaf karena tidak bisa membawa mu pergi"
Lila terkejut saat mendengar permintaan maaf temannya itu.
"tidak apa saya mengerti, tolong jaga diri anda dengan baik selama di sanah"
tidak ingin membuat suasana menjadi canggung Lila mencoba menerima kenyataan yang ada dan mengikhlaskan kepergian gadis itu kali ini.
"tentu"
jawab Aqila, dia menggenggam tangan Lila dengan penuh kasih sayang mencoba memberinya kekuatan untuk melewati masalah ini.
"anda sangat cantik sekaligus tampan secara bersamaan"
tidak ingin air matanya jatuh Lila mencoba mengalihkan pembicaraan dengan memuji dandanan Aqila saat ini.
"kau memuji atau bagaimana"
__ADS_1
Aqila membuang muka ke arah lain karena merasa malu hanya saja ekspresinya masih tetap terlihat datar.
"saya berkata jujur nona, bagaimana jika ada gadis yang menyukai anda karena wajah tampan ini"
Lila terkekeh geli saat membayangkan adegan-adegan aneh yang terus melintas di kepalanya tentang gadis itu bersama wanita cantik.
"maka aku akan menutup wajah ku"
"hahaha"
"kenapa kau tertawa"
"itu akan terasa sangat lucu jika saya dapat melihatnya sendiri"
"menyebalkan"
"nona tersenyum-lah"
"tidak"
"mengapa, anda terlihat sangat cantik saat tersenyum"
"aku tidak bisa"
"hah, sepertinya urat wajah anda sudah mengeras seperti bongkahan es"
"kau mengejek ku"
"eh tidak tidak, sebaiknya kita cepat keluar karena yang lain pasti sudah menunggu dari tadi"
"hm"
Han Zain ingin mengantar sendiri kepergian putri tercintanya, sambil menikmati saat-saat terakhir mereka bersama.
perlahan tapi pasti Aqila dan Lila mulai sampai di pintu gerbang utama istana kerajaan Cang'an.
"ayah"
panggil gadis itu sambil terus melangkah menuju posisi Han Zain dan Lin Shan berada saat ini.
"Aqila"
Han Zain langsung merentangkan tangan saat Aqila tiba berharap gadis itu akan memeluknya dengan erat.
tidak ingin mengecewakan sang ayah Aqila langsung menghamburkan diri masuk kedalam pelukan pria paruh baya tersebut.
"jaga kesehatan ayah selama aku tidak ada"
"ayah berjanji jadi kau tidak perlu khawatir"
"baiklah"
"jangan terlalu lama beranda di sanah nak ayah akan sangat merindukan mu nantinya"
"aku berjanji akan cepat kembali"
"kalau begitu jaga diri mu dengan baik, kami selalu menunggu kepulangan mu Aqila"
"selamat tinggal ayah"
__ADS_1
"nona"
"Lila tolong jaga ayah dan kerajaan ini untuk ku, aku yakin kau bisa melakukan"
"nona hiks hiks cepat kembali hiks"
"hm"
"Lin Shan saya titip Aqila pada mu jaga dia dengan baik"
"tentu saja yang mulia"
"kami pamit ayah, Lila selamat tinggal"
"hati-hati"
setelah melakukan perpisahan Aqila dan Lin Shan mulai menaiki kuda mereka masing-masing kemudian menarik kekang kuda dan melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan istana.
melihat kepergian keduanya tidak membuat Han Zain dan Lila bergeming dari tempatnya, mereka masih menatap lurus ke depan dengan perasaan campur aduk.
tapi karena cuaca semakin panas akhirnya mereka berdua memutuskan untuk kembali masuk ke dalam istana.
sedangkan Aqila dan Lin Shan terus memacu kuda melewati setiap wilayah kerajaan menuju hutan barat.
karena menurut sejarah yang Aqila baca dari sebuah buku yang ada di ruang dimensi-nya mengatakan bahwa dimensi lain akan terbuka malam ini di suatu tempat.
buku itu juga mengatakan bahwa akses membuka gerbang menuju dunia lain membutuhkan pantulan cahaya gerhana bulan sabit di atas sebuah Kubangan air yang mata airnya sejernih kristal.
dan itu hanya bisa di temukan di bukit teratas hutan barat karena dulu dia pernah menyusuri kedalaman hutan saat mencari sesuatu dan di sana jugalah awal pertemuan-nya dengan hei lang.
kecepatan kuda terus di tambah karena Aqila ingin segera tiba di hutan tersebut sebelum malam tiba.
malam ini adalah malam paling penting bagi gadis itu karena gerhana bulan sabit hanya terjadi setiap lima ratus tahun sekali.
jika kesempatan ini terlewatkan maka pupus sudah harapan-nya untuk pergi ke dunia atas, karena menunggu lima ratus tahun lagi bukan lah waktu yang sebentar.
waktu terus berputar dengan cepat hingga kini sudah menunjukan pukul tujuh malam untungnya Aqila dan Lin Shan tiba tepat waktu di depan perbatasan hutan.
karena pukul dua belas malam gerhana bulan sabit total akan berlangsung dalam kurun waktu satu jam.
"nona apa anda ingin beristirahat terlebih dulu"
"tidak aku harus segera sampai di tepi bukit itu"
"tapi nona saya lihat anda sudah sangat kelelahan jadi membahayakan diri anda sendiri"
"kau tau ini adalah kesempatan terakhir ku karena gerhana bulan sabit hanya terjadi setiap lima ratus tahun sekali, aku tidak ingin menyia-nyiakannya"
"baiklah tapi minum air ini dulu untuk menghilangkan dahaga"
dengan patuh Aqila mengambil wadah air tersebut dan langsung meminumnya dia menyisakan sedikit untuk pemuda itu.
setelah selesai membasahi tenggorokan Aqila dan Lin Shan kembali melanjutkan perjalanan.
hey ketemu lagi sama author maaf yh kalo masih ada typo author lagi kurang fokus mohon di maklum🙏
semoga kalian masih suka dengan ceritanya dan terimakasih sudah berkunjung 😊
selamat membaca dan see you next time di episode berikutnya 👋😊🥰
__ADS_1