
pagi hari di ruang kerja istana Aqila, dan Lin shan menghadap Han Zain untuk membicarakan sesuatu.
"ada apa Aqila"
tanya pria itu setelah mempersilahkan putrinya untuk duduk, kemudian dia berjalan mendekati keduanya dan ikut bergabung di sanah setelah menyelesaikan beberapa dokumen penting.
"ayah aku dan Lin Shan akan pergi ke dunia atas"
jawab Aqila tanpa ada yang di tutup-tutupi lagi.
"kau bercanda"
Han Zain syok saat mendengar penuturan tersebut dia menatap tak percaya mata gadis itu, putri yang baru saja kembali kini harus pergi lagi.
"tidak aku serius"
Aqila berbicara dengan nada penuh keyakinan dan hal itu membuat hati Han Zain terluka.
dia sudah cukup senang bisa berkumpul dengan sang sang putri, ia juga berfikir bahwa mereka tidak akan terpisahkan lagi, namun kenyataan malah menamparnya dengan begitu keras.
"kau baru saja kembali dan ingin pergi lagi meninggalkan ayah"
ekspresi Han Zain berubah sendu hatinya menolak kenyataan ini, dia merasa tak rela jika harus berpisah lagi dengan putrinya.
"maaf ayah tapi aku harus tetap pergi"
sejujurnya Aqila juga merasakan hal yang sama, dia tidak tega harus meninggalkan sang ayah seorang diri.
namun mau bagaimana lagi tanggung jawab tetaplah harus di penuhi, dia tidak bisa egois hanya memikirkan kepentingannya sendiri.
"kenapa"
bingung, sedih, marah, kecewa itu yang sedang di alami Han Zain saat ini
"karena ini tanggung jawab yang ibu berikan pada ku"
Aqila kembali mencoba memberi pengertian agar Han Zain mengijinkannya pergi
"tidak, ayah tidak menerima alasan apa pun Aqila"
han Zain memutuskan untuk tidak memberikan ijin, meski dia tau aqila akan kecewa karenanya.
"tapi ayah"
Aqila berusaha terus membujuk namun penolakan yang di dapat.
"Aqila tolong mengertilah ayah hanya punya kau seorang jika kau meninggalkan ayah lantas untuk apa ayah memiliki semua ini"
Han Zain bangkit dari tempat duduk kemudian melangkah pergi dari sanah dengan ekspresi murung.
melihat kepergian sang ayah Aqila merasa bersalah, sekarang dia dilema harus melakukan apa.
"nona anda baik-baik saja"
Lin Shan yang melihat raut kecewa di wajah Aqila berusaha untuk menghiburnya.
"hm"
setelahnya Aqila juga ikut bangkit dan pergi dari sanah di ikuti Lin Shan yang mengekor di belakang.
....
mengingat kejadian pagi tadi Aqila mengurung diri di dalam kamar hingga siang hari, gadis itu juga tidak membiarkan siapapun masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Lila dan Lin Shan menjadi khawatir mereka tidak bisa melakukan apa pun karena keduanya sama-sama keras kepala.
"sebenarnya apa yang terjadi"
tanya Lila dengan rasa penasaran tinggi atas alasan di balik sikap Aqila saat ini, gadis itu belum di beritahu tentang perjalanan ke dunia atas oleh keduanya.
"kau akan tau nanti"
jawab Lin Shan, penuh teka teki dan itu membuat rasa penasaran Lila semakin bertambah.
"jangan membuat ku penasaran"
Lila mendengus kesal saat Lin Shan mengabaikannya
"bukan urusan ku"
"yak sialan"
setelah mengatakan hal itu Lin shan melangkah pergi meninggalkan Lila dengan segudang kekesalan.
"huh sabar"
Lila berusaha menormalkan kembali tekanan emosinya yang hampir saja meledak-ledak.
....
sedangkan di sebuah ruangan bernuansa gold, Han Zain duduk termenung sambil melihat lukisan gadis cantik yang tadi sempat terpampang di sudut dinding kamarnya.
lukisan gadis cantik itu adalah meilin ibu dari Aqila, pria itu menatap dalam potret sang istri tercinta.
"Kenapa kau meninggalkan ku sendiri meilin lihatlah putri kita sudah tubuh dewasa menjadi gadis yang sangat cantik seperti diri mu, dia juga sangat hebat, terkadang aku selalu merasa gagal menjadi sosok ayah baginya"
tak terasa bulir-bulir bening berjatuhan tanpa henti, pria yang terlihat kuat di luar ternyata memiliki hati yang sangat rapuh, dia hanya pandai menutupinya saja.
di sanah tidak ada apapun hanya ruang kosong yang nampak luas dengan nuansa putih di setiap sudutnya.
"dimana ini, apa ada orang"
Han Zain berjalan kecil sambil melihat ke segala arah berharap ada orang yang menjawab kebingungannya.
setelah lelah mencari namun tak juga menemukan tanda-tanda kehidupan pria itu terduduk lemas sambil menundukkan kepala.
samar-samar sebuah bayangan nampak mendekatinya, karena merasa penasaran Han Zain mendongakkan kepala untuk melihat apa itu.
betapa terkejutnya saat atensinya tepat menatap ke arah wajah sosok tersebut.
"meilin kau kah itu"
seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat Han Zain menggosok matanya berulang kali untuk memastikan pemandangan yang ada.
"benar ini aku"
jawab meilin, pandangan wanita cantik itu masih sama, penuh cinta dan kerinduan terhadapku sang suami.
tanpa ba-bi-bu Han Zain langsung bangkit dan memeluk erat tubuhnya.
"aku sangat merindukan mu meilin"
ucap pria itu terharu setelah sekian lama akhirnya sang istri hadir di mimpinya.
"aku juga begitu"
meilin membalas pelukan tersebut dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"lalu kenapa kau tak pernah hadir dalam mimpi ku"
satu pertanyaan tak terduga berhasil lolos begitu saja membuat tubuh meilin melemas.
"aku tak bisa melakukannya"
bukan tidak ingin tapi memang meilin tidak bisa melakukannya.
"mengapa"
ada begitu banyak pertanyaan di benak Han Zain namun hanya satu pertanyaan yang mampu dia ucapkan.
"itu sulit di jelaskan, dengar waktu ku tak banyak tolong izinkan putri kita pergi dia terlahir istimewa"
meilin melepaskan pelukan itu kemudian menatap lekat wajah sang suami.
"tidak untuk kali ini meilin, aku tak ingin kehilangannya cukup sudah aku kehilangan mu jangan lagi"
saat mendengarnya Han Zain langsung menolak permintaan tersebut, keputusannya sudah bulat dan tidak ingin di ganggu gugat.
"aku mengerti perasaan mu suami ku tapi Aqila di lahirkan dengan tujuan besar apa kau akan menjadi penghalang masa depan putri mu sendiri"
meilin menarik pelan wajah pria itu kemudian menangkupnya dengan penuh cinta.
"tentu saja tidak tapi.."
belum juga menyesalkan ucapnya meilin sudah lebih dulu memotong perkataan tersebut.
"percayalah padanya"
"hah"
Han Zain menghela nafas kasar tidak tau harus menjawab apa, hatinya masih belum bisa mengikhlaskan kepergian Aqila saat ini.
"dia buka Aqila yang lemah, apa kau lupa ingat karena kelalaian mu putri kedua kita kehilangan nyawa di tangan selir mu sendiri"
kesal dengan sikap keras kepala sang suami meilin tanpa sadar mengeluarkan seluruh unek-uneknya
"jangan ingatkan aku tentang itu, rasa bersalah setiap hari selalu aku rasakan, tidakkah ada maaf untuk ku meilin"
mendengar kata-kata itu Han Zain merasa bersalah kembali atas kejadian yang menimpa kedua putrinya.
"baiklah biarkan Aqila pergi"
hening tidak ada jawaban dari mulut pria yang di cintainya, meilin menghela nafas kasar dalam hati berharap pria itu dapat merubah keputusannya.
perlahan wanita itu merasakan roh-nya seperti sedang di tarik kembali dia buru-buru memeluk erat tubuh sang suami.
"ada apa meilin"
"sepertinya waktu ku sudah habis, selamat tinggal jaga putri kita dengan baik, aku mencintaimu"
"aku juga mencintai mu"
setelah mengucapkan perpisahan perlahan tubuh meilin menghilang dari pandangan, Han Zain menatap hampa arah perginya sang istri.
tak berselang lama pria itu terbangun kembali di tempat semula dan masih memegang potret istrinya.
...hey ketemu lagi sama author ada yang kangen gak nih hehehehe canda wkwkwkšš...
...makasih sudah mau mampir ke karya author sehat selalu untuk kalian semua š„°...
...selamat membaca dan see you next time di episode berikutnya šš...
__ADS_1