SANG DEWI PENAKLUK

SANG DEWI PENAKLUK
Masa Kecil Yang Buruk


__ADS_3

Aqila dan yang lain masih terus memacu langkah dengan cepat menuju kamar bocah laki-laki tersebut.


setelah sampai Aqila meletakkan tubuh Lin Bao Secara hati-hati ke atas ranjang.


"ibu jangan pergi"


Lin Bao mengigau dengan wajah yang terlihat gelisah.


"tenanglah sayang ibu disini"


ini untuk pertama kalinya Aqila memanggil dirinya dengan sebutan ibu di depan banyak orang.


Lila dan Lin Shan menatap iba ke arah Lin Bao seolah teringat kembali dengan kehidupan kecil mereka dulu.


Lamunan mereka buyar ketika suara langkah kaki menggema memasuki ruangan tersebut.


"tabib tolong sembuhkan cucu ku"


ucap nyonya besar Wang di sela tangisannya dia terlihat begitu cemas dengan keadaan Lin Bao yang masih terus mengigau.


setelah menunggu untuk beberapa waktu tabib selesai mengobati bocah laki-laki tersebut, kini keadaan Lin Bao jauh lebih baik dari sebelumnya.


"apa yang terjadi pada cucu ku tabib"


tuan besar Lin langsung bertanya begitu tabib selesai mengobati Lin bao.


"tuan muda mengalami demam tinggi akibat tekanan batin yang selama ini di pendamnya, tuan ini tidak baik untuk anak sekecil tuan muda yang baru berusia empat tahun, maaf jika saya lancang apa yang terjadi sebenarnya sampai tuan muda menjadi seperti ini, jika terus dibiarkan maka kesehatan mental tuan muda akan terganggu"


"tabib lakukan apa pun untuk menyembuhkan cucu ku"


ucap nyonya besar Wang menyela pembicaraan tersebut.


"nyonya saya hanya bisa mengobati tubuh tuan muda selebihnya saya tidak bisa berbuat apa-apa, tolong lebih perhatikan tuan muda lagi kedepannya"


tergurat perasaan bersalah dalam diri tabib tersebut karena tidak bisa berbuat banyak untuk menyembuhkan bocah kecil yang ada di sampingnya.


"baik, terimakasih tabib"


jawab tuan besar Lin setelah membuang nafas kasar, raut wajah pria tua itu juga terlihat tidak baik-baik saja.


"sama-sama, ini resep untuk memulihkan kondisi tubuh tuan muda"


pelayan pribadi Lin bao berjalan mendekat mengambil resep tersebut.


"kalau begitu saya permisi"


"mari saya antar"


ucap tuan besar Lin, setelahnya mereka berdua melangkah pergi meninggalkan ruangan.


keadaan menjadi senyap Aqila masih bungkam sambil terus membelai lembut kepala Lin Bao.


melihat Aqila yang begitu perhatian terhadap cucunya nyonya besar Wang sedikit tersentuh, dalam hati kecilnya berharap gadis itu bersedia menjadi ibu sambung Lin bao


perlahan nyonya besar Wang menginterupsi yang lain untuk meninggalkan keduanya.


kini hanya tersisa Aqila dan Lin bao di sanah, perlahan gadis itu membaringkan tubuhnya di samping bocah kecil tersebut dia membawa Lin Bao dalam dekapannya.

__ADS_1


pemandangan itu tidak sengaja di saksikan oleh sepasang mata tajam yang mampu menghipnotis para gadis di luaran sanah saat menatap ke arahnya.


dia adalah jendral Lin zhang, yang saat ini berdiri di depan pintu kamar yang entah sengaja atau tidak di biarkan terbuka begitu saja.


perlahan sudut wajah datar itu menampilkan sebuah senyuman penuh arti. Aqila menyadari siapa sosok yang sedang memperhatikannya tapi dia enggan membuka mata.


tidak ingin mengganggu waktu kebersamaan mereka berdua jendral Lin zhang melangkah pergi dari sanah dan kembali ke tempatnya.


....


sore hari, Aqila terbangun oleh pergerakan seseorang yang sedang melangkah masuk ke kamar tersebut.


"maaf nona membuat Anda terbangun"


ucap wanita muda yang mengenakan pakaian pelayan, bisa di tebak bahwa dia adalah pelayan pribadi Lin bao.


"tidak masalah"


Aqila menjawab datar permintaan maaf tersebut, dia bangkit dari atas ranjang untuk membersihkan diri.


"nona boleh saya meminta waktu anda"


pelayan itu kembali membuka suara saat Aqila hendak meninggalkan kamar tersebut.


"hm"


Aqila memutar tubuh melihat ke arah pelayan itu yang ingin berbicara dengannya.


Duk


dengan gerakan cepat pelayan wanita tersebut berlutut di hadapan aqila, gadis itu mengernyit bingung melihat tindakannya barusan.


ucap pelayan wanita itu mencoba memberanikan diri saat berbicara dengan Aqila.


"kenapa harus saya"


jawab Aqila dingin, ekspresinya masih tetap datar


"karena ini untuk pertama kalinya tuan muda merasa bahagia saat bersama anda, nona saya sudah mengasuh tuan muda sejak kecil, ibunya meninggal ketika melahirkannya sikap jendral Lin zhang juga sangat dingin terhadap tuan muda Lin, meskipun tuan muda tidak mengatakan apa yang dirasakannya tapi saya tau bahwa tuan muda tidak baik-baik saja, semua teman-temannya terus mengejek dia sebagai anak pembawa sial padahal itu bukan kesalahan tuan muda, saya selalu melihat tuan muda diam-diam menangis tapi ketika saya bertanya dia selalu menghindar dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja"


jelas pelayan itu dengan panjang lebar ekspresinya berubah sendu saat mengorek kembali kehidupan Lin Bao.


"nona saya tau mungkin permintaan saya terlalu besar tapi saya melakukannya demi tuan muda, nona tolong pertimbangkan ini sekali lagi"


pelayan tersebut kembali bersuara dia memohon sambil bersujud agar Aqila bisa sedikit tersentuh dengan permintaannya barusan.


Aqila Masih tetap diam setelah mendengar penjelasan tersebut pikiran melayang mengingat kembali masa kecilnya.


masa kecil yang begitu buruk di usia Aqila yang baru berusia enam tahun.


Flashback,,,


di sebuah kediaman mewah milik keluarga Elloise, dua orang manusia berbeda jenis kelamin menatap tajam ke arah seorang gadis berusia enam tahun.


"apa ini balasan mu atas kebaikan kami dasar anak tidak tau di untung"


salah satu di antara mereka berteriak marah sambil memegang cambuk yang siap di layangkan kapan pun.

__ADS_1


"maafkan aku mah"


gadis kecil itu berlutut dengan tubuh bergetar hebat menatap takut ke arah sepasang manusia yang di sudah di anggapnya keluarga.


"maaf kau bilang"


ucap wanita itu tanpa belas kasih dia mengangkat cambuknya dengan tinggi dan


syuttt tarr


satu pukulan berhasil mendarat mulus di tubuh gadis kecil tersebut.


"ampun mah hiks tolong jangan pukul lagi"


gadis kecil itu menangis saat merasakan sakit di seluruh tubuhnya, dia memohon dengan air mata yang terus berjatuhan.


"sudah aku bilang habisi dia kenapa kau membiarkannya kabur hah, karena kebodohan mu perusahaan ku mengalami kerugian"


orang yang di anggapnya ayah dengan tega menendang tubuh kecilnya yang sudah terluka parah akibat cambukan tadi.


"aku tidak bisa membunuhnya ayah"


dengan suara parau gadis kecil itu menjawab dia masih terus berlutut tidak berani melawan mereka berdua.


"kalau begitu kau saja yang aku habisi dasar tidak berguna"


syuttt tarr


cambuk terus di layangkan hingga beberapa kali, kini keadaan gadis kecil itu sudah tampak memprihatinkan dengan punggung yang penuh luka


"ampun pah hiks hiks"


dengan sisa tenaga gadis kecil tersebut terus memohon agar tidak lagi mendapat penyiksaan.


"apa sekarang kau akan membantah lagi axela"


"tidak pah"


"bagus, besok malam habisi pria ini"


pria itu melemparkan selembar foto ke hadapan axela kemudian mereka berdua pergi meninggalkannya sendirian di ruangan yang gelap dan sunyi.


dan dari sanalah Axela tumbuh menjadi gadis tak berperasaan dia memasuki organisasi pembunuh bayaran atas perintah dari Elloise ayah dari sila Elloise.


flashback off,,,,


perlahan lamunan itu buyar tanpa sadar Aqila hampir saja menitihkan air matanya.


"bangunlah"


pelayan wanita tersebut bangkit saat Aqila memintanya, dia masih setia menunggu jawaban gadis itu.


tanpa mengatakan apa pun lagi Aqila berjalan mendekat ke arah Lin Bao.


cup


satu kecupan dia berikan di kening bocah laki-laki itu setelahnya Aqila berjalan keluar tanpa menghiraukan pelayan tersebut.

__ADS_1


hey ketemu lagi sama author maaf yh kemaren author GK up karena author lagi sakit mohon doanya supaya author cepat sembuh supaya bisa lanjutin lgi ceritanya.


terimakasih sudah mampir dan selamat membaca 🙏🥰


__ADS_2