SANG DEWI PENAKLUK

SANG DEWI PENAKLUK
Kepergian Aqila


__ADS_3

waktu terus bergulir hingga siang hari Aqila meminta keluarga Lin dan teman-temannya untuk berkumpul di salah satu ruangan yang sudah di hadiri oleh para mentri.


setelah semua orang berkumpul Aqila memulai pembicaraan untuk pertama kali.


"aku akan kembali ke kerajaan Cang'an hari ini, dan aku berharap selama kepergian ku tidak ada pemberontakan jika tidak maka kalian harus menanggung konsekuensinya"


Gadis itu mengucapkannya dengan tegas tatapan tajam tidak luput dari mata indahnya meski selalu menampilkan ekspresi datar tapi hatinya tak sedingin yang orang lain katakan.


"baik nona besar"


mereka menjawab dengan serempak, keadaan istana kali ini sudah lebih tenang dari sebelumnya Aqila percaya bahwa Lin zhang bisa memimpin kerajaan bingjie dengan baik.


"kau tau kita akan kembali hari ini"


Lila bertanya dengan ekspresi heran atas apa yang aqila ucapkan barusan.


"tidak"


Lin Shan sendiri juga merasa kebingungan karena akhir-akhir ini Aqila jarang terbuka pada mereka.


"ada apa dengan nona"


Bai Lu yang memiliki kontrak dengan Aqila bisa merasakan kecemasan gadis itu yang tidak semua orang tau.


"tidak tau"


ucap Lila di sela rasa kebingungannya, dia menatap Aqila untuk meminta penjelasan tapi sepertinya gadis itu tidak mau membuka menjelaskannya.


"ibu ingin pergi lagi"


Lin Bao yang awalnya ingin bertemu dengan Aqila karena merindukannya harus mendengar hal menyakitkan lagi.


orang yang di sayangi-nya akan meninggalkannya kembali, bocah itu membeku di tempat.


posisinya saat ini sedang berdiri di ambang pintu bersama beberapa pelayan wanita.


"kemarilah"


seperti biasa Aqila akan berubah lembut jika berbicara dengan putra angkatnya.


"katakan pada Lin itu tidak benar"


ucap Lin Bao sambil menatap sendu ke arah gadis itu.


"itu benar Lin, mungkin ini adalah pertemuan terakhir kita karena aku tidak tau kapan kita bertemu lagi"


karena Lin Bao masih diam di tempat akhirnya Aqila sendiri yang menghampiri bocah laki-laki tersebut.


"kenapa ibu meninggal Lin lagi, Lin sangat menyayangi ibu dan Lin tidak ingin ibu pergi hiks hiks hiks"

__ADS_1


untuk kesekian kali hati bocah itu harus merasakan sakitnya di tinggal seorang ibu yang selama ini selalu dia harapkan kehadirannya.


"dengar Lin, banyak orang sedang membutuhkan bantuan ibu kau sudah dewasa jadi biasakan dirimu tanpa aku"


Aqila sebenarnya juga tidak mau berjauhan dengan Lin Bao karena ia sudah sangat menyayanginya tapi Apalah daya ketika kewajiban yang menjadi penghalang.


dia juga tidak mungkin membawa Lin Bao bersamanya karena itu terlalu beresiko untuk keselamatan bocah menggemaskan tersebut.


"tapi bu"


Lin Bao menunduk karena tak kuasa menahan air mata yang sejak tadi terus keluar tanpa dirinya minta.


"ini untuk mu, jadilah kuat jika kau ingin bertemu dengan ku lagi, aku menunggu kedatangan mu sayang"


Aqila memberikan belati perak yang memiliki ukiran sepasang naga pada Lin Bao, belati itu bukanlah senjata biasa ada sesuatu di dalamnya yang berguna untuk melindungi bocah tersebut di saat situasi genting.


"hiks hiks ibu hiks"


Lin Bao mendongak dengan wajah penuh air mata setelahnya dia langsung memeluk tubuh Aqila dengan erat, Gadis itu hanya membiarkannya saja.


sedangkan mereka yang melihat menatap iba sepanjang manusia itu.


"biarkan ibu mu pergi Lin"


nyonya besar Wang mencoba memberi pengertian pada cucunya untuk mengikhlaskan kepergian Aqila.


"selamat tinggal"


ucap Aqila datar sambil melepaskan pelukan Lin Bao dari tubuhnya, gadis itu sedang mencoba bersikap tegas pada putranya itu.


"tapi kami belum menyiapkan apa pun untuk mengiring kepergian anda nona"


ucap tuan besar Lin yang secara tidak langsung telah mewakili kekhawatiran mereka semua.


"tidak perlu cukup jaga kerajaan ini dengan baik aku sudah cukup senang"


jawab Aqila datar karena memang itu yang dia rasakan, gadis tersebut tidak membutuhkan sambutan atau hal lainnya yang dia inginkan hanyalah ketenangan kerajaannya.


"sesuai perintah anda nona"


mereka semua merasa salut dengan pemikiran Aqila saat ini, gadis yang di kira kejam sebenarnya tak seburuk yang di pikirkan.


"baiklah, selamat tinggal Lin"


setelah mengatakan hal itu aqila membalik badan untuk pergi dari sanah tanpa menengok kebelakang lagi.


jika tidak mungkin aqila akan mengurungkan niatnya kembali setelah melihat kesedihan putranya saat ini.


"selamat tinggal ibu hati-hati dan jangan lupakan Lin"

__ADS_1


Lin Bao meneriakkan hal itu sambil mengejar kepergian Aqila dengan kaki kecilnya.


"tidak akan"


Aqila menjawab tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.


kepergian Aqila kali ini menjadi kesedihan terberat bagi keluarga Lin, mereka berjanji tidak akan pernah melupakan kebaikan gadis itu sampai kapanpun.


dalam sekejap Aqila sudah hilang dari pandangan satu persatu dari mereka mulai membubarkan diri.


tapi Lin Bao masih berdiri menatap kosong ke arah yang di lewati Aqila, hujan tiba-tiba turun seolah langit juga ikut merasakan kesedihan bocah tersebut.


nyonya besar Wang yang khawatir dengan kondisi cucunya langsung meminta Lin zhang untuk membawa Lin Bao ke kamarnya.


kali ini bocah laki-laki itu tidak melawan seperti biasa saat dia di bawa secara paksa oleh sang ayah.


sedangkan rombongan aqila saat ini tengah berteduh di salah satu penginapan ibu kota yang masih dekat dengan istana.


hujan turun begitu lebat hingga malam hari keadaan ibu kota yang semulanya ramai menjadi hening hanya gemercik air yang terdengar.


saat Aqila melihat ke arah langit sekelebat bayangan berputar jelas di kepala gadis itu.


dia melihat pemandangan mengerikan yang dulu pernah Hadir di mimpinya.


entah itu suatu pertanda buruk yang akan terjadi atau seseorang memang sengaja menciptakannya untuk melemahkan keyakinan dirinya.


tapi yang jelas aqila tidak akan menyerah semudah itu dengan susah payah dia berada di posisi sekarang dimana ia sudah tidak punya jalan untuk kembali ke awal.


setelah berdiam diri cukup lama Aqila memutuskan untuk tidur tapi sayang rasa kantuknya tidak kunjung datang.


karena merasa kesal Aqila mendudukkan diri sambil mengingat pertemuan terakhirnya bersama sang ibu.


seolah ada angin menghampiri Aqila mengingat pesan yang di sampaikan oleh meilin sebelumnya untuk segera membuka segel dantian.


"hei lang, hei long keluar lah"


ucap Aqila dengan nada pelan, setelah beberapa detik dua orang pria tampan bertubuh kekar muncul di hadapan gadis itu sambil menunduk hormat.


"salam nona besar Aqila"


ucap keduanya dengan serempak, sebelum menjawab Aqila menelisik perubahan keduanya Secara menyeluruh.


kini baik hei Lang maupun hei long lebih sering muncul dengan bentuk manusia timbangan bentuk sebenarnya saat Aqila memanggil mereka


hey ketemu lagi sama author maaf yh hari ini author cuma bisa up satu bab aja, karena kesibukan author di dunia nyata sedang menumpuk..


hehehe mohon di maklumi maaf kalo masih ada kata yang salah author masih belajar untuk memperbaikinya.


terimakasih sudah berkunjung dan selamat membaca 😊 🙏

__ADS_1


__ADS_2