SANG DEWI PENAKLUK

SANG DEWI PENAKLUK
Pesta Perayaan Kesembuhan pangeran Jing sheng


__ADS_3

setelah menunggu sekitar satu jam perlahan tubuh kaku itu mulai menampakkan sedikit gerakan.


di mulai dari jari-jari tangan kemudian di susul oleh kedua kelopak matanya yang terbuka.


senyum cerah terpancar di wajah mereka semua kecuali Aqila, Shen xiaojian dan Lin Shan karena setiap saat mereka hanya menampakkan ekspresi datar.


"putra ku akhirnya kau bangun, ibu sangat senang"


dengan penuh kebahagiaan ratu jinjin mendekati putranya dia membelai lembut kepala pemuda itu.


sedangkan orang yang di ajak bicara masih terdiam namun sorot matanya menyimpan kerinduan terhadap wanita di hadapannya.


"syukurlah aku ikut bahagia, umumkan pada semua orang bahwa pangeran terakhir sudah bangun dan buat pesta untuk merayakan kesembuhannya"


saking senangnya raja Bingwen membuat perintah, tapi pemuda itu masih tetap diam.


"baik yang mulia"


ajudan pria itu mulai meninggalkan tempat untuk menjalankan perintah.


"tugas ku sudah selesai aku permisi"


setelah mengatakan hal itu Aqila, Shen xiaojian dan Lin Shan melangkah pergi mereka tidak ingin menonton drama keluarga kerajaan.


tapi sebelum benar-benar pergi Aqila kembali mengingatkan raja Bingwen tentang bayaran yang harus pria itu berikan padanya.


"ingat raja kau harus menepati janji mu, jika kau tidak ingin kemalangan menimpa keluarga mu lagi"


ucap gadis itu tanpa membalikkan tubuh, tapi dari sorot matanya terdapat sebuah kebencian terhadap mereka.


itu terjadi karena kerajaan emerald sebenarnya adalah milik keluarganya tetapi orang asing merampas semua hak tersebut dan menjadikan keluarganya sebagai buronan.


"tentu saja kau tidak perlu khawatir, datang-lah ke pesta aku akan memberikannya di sanah"


dengan tegas raja Bingwen menjawab keinginan Aqila tersebut sekaligus mengundang mereka untuk menghadiri pesta yang akan di adakan besok malam.


"terimakasih atas undangannya selamat tinggal"


setelah mengucapkan terima kasih ketiganya kembali melanjutkan langkah tanpa memberi salam penghormatan.


"antar mereka sampai ke tempat tujuan"


meskipun kesal dengan tingkah ketiganya raja Bingwen tidak bisa berbuat banyak sebab mereka sudah menyelamatkan nyawa putranya.


"baik yang mulia"


dengan patuh dua orang bawahan pria itu mengantarkan rombongan aqila hingga ke pintu gerbang masuk istana.


di sepanjang menarik kekang kuda Aqila terlihat seperti sedang melamun, seseorang menyadari hal itu karena meski wajahnya terlihat datar bukan berarti tidak bisa membedakan perubahan apa yang terjadi pada gadis itu.


"nona apa yang kau pikirkan"


ucap helma, yaitu kuda hitam yang saat ini di tunggangi oleh Aqila.


"tidak ada"

__ADS_1


elak gadis itu, dia sedikit terkejut saat tiba-tiba helma mengajaknya bicara.


"apa anda baik-baik saja"


tanya helma lagi, binatang itu terlihat sangat mengkhawatirkan keadaan Aqila saat ini.


"aku baik"


jawab Aqila mencoba meyakinkan teman-nya tersebut.


"baiklah"


meskipun tidak percaya helma memilih tidak lagi bertanya, karena dia berfikir itu akan mengganggu ketenangan tuan-nya.


di saat helma memilih diam beberapa menit kemudian Shen xiaojian dan Lin Shan bertanya pada gadis itu secara serentak.


"apa kau baik-baik saja adik"


"apa kau baik-baik saja nona"


keduanya saling menatap kemudian membuang muka ke arah berlawanan karena merasa kesal.


melihat tingkah kedua orang terdekat aqila geleng kepala tidak habis pikir mereka terlihat seperti seorang musuh bebuyutan yang kembali di pertemukan oleh takdir.


"aku baik-baik saja"


jawab Aqila mencoba menenangkan mereka tapi tentu saja Keduanya tidak langsung percaya begitu saja.


setelah menempuh perjalanan beberapa waktu mereka akhirnya tiba di kediaman masing-masing karena hari sudah menjelang sore.


malam hari di istana, acara pesta begitu meriah beberapa petinggi ikut hadir kerajaan tetangga juga ikut di undang.


seluruh penghuni istana nampak senang dengan kesembuhan pangeran mereka.


di saat semua orang sudah hadir Aqila dan yang lain belum juga menampakkan batang hidungnya, itu membuat raja Bingwen dan ratu jinjin kesal bukan main.


mereka berdua menganggap Aqila terlalu terlalu berani dengan tidak menghormati mereka.


"apa tabib misterius sudah tiba"


tanya raja Bingwen pada Kasim kepercayaannya.


"belum yang mulia sepertinya masih dalam perjalanan"


jawab Kasim asal menebak, dia tidak ingin membuat raja murka pada tabib misterius walau sebenarnya dia juga ikut kesal pada Aqila.


"dimana dia tinggal"


raja Bingwen ingin tahu Dimana Aqila menetap karena dia ingin memastikan berapa lama jarak yang di tempuh untuk sampai ke istana.


"di luar ibu kota dekat bantaran sungai"


raja tidak lagi menjawab dia berfikir jarak yang di tempuh tidak terlalu jauh tapi mengapa rombongan aqila belum juga sampai.


banyak dugaan-dugaan yang terlintas di kepala pria tersebut, hingga lamunan itu buyar saat orang yang di tunggu akhirnya tiba.

__ADS_1


"tabib misterius bersama rombongannya sudah tiba dan akan memasuki aula"


teriak salah satu prajurit penjaga pintu sedangkan prajurit yang lain membuka pintu besar tersebut secara menyeluruh.


Aqila, Shen xiaojian dan Lin Shan masuk dengan penuh percaya diri.


gadis itu mengenakan hanfu hita legam dengan tusuk rambut emas berbentuk burung pionik, sedangkan Lin Shan mengenakan hanfu biru malam berpadu warna putih dan Shen xiaojian mengenakan hanfu putih dengan beberapa motif burung merak.


mereka menjadi pusat perhatian saat ketiganya melewati mereka, namun perhatian permaisuri jinjin haya tertuju pada tusuk rambut yang Aqila kenakan.


dia sangat marah pada gadis itu karena telah berani mengenakan tusuk rambut yang hanya bisa di pakai oleh permaisuri atau ratu sebuah kerajaan pada masa itu.


dia tidak tau saja bahwa aqila tidaklah salah dalam berdandan karena memang sejatinya dia adalah seorang ratu sekaligus pemilik dari tiga kerajaan besar yang ada di dunia bawah.


apa jadinya jika wanita itu tau identitas Aqila yang sebenarnya.


"salam yang mulia raja dan ratu"


ucap ketiganya secara serempak, mereka memberi salam seperti biasa.


beberapa orang sudah tidak lagi terkejut tapi bagi utusan kerajaan lain mereka cukup syok dengan pemandangan ini.


haya karena salah satu dari mereka adalah tabib misterius Aqila dan dua temanya bisa bersikap demikian.


"raja terima salam kalian silahkan duduk dan nikmati jamuan ini"


"terimakasih"


setelah mengatakan hal itu mereka bertiga duduk dengan posisi berdekatan, acara kembali di mulai dengan beberapa tarian dan musik sebagai hiburan.


satu jam berlangsung membuat Aqila bosan dia hendak pergi dari sanah namun ratu jinjin malah menjegalnya.


"saya penasaran dengan wajah anda tabib, jika tidak keberatan biasakan anda menunjukkannya pada kami, suatu kehormatan bagi kami jika bisa melihat dapat melihat wajah asli anda"


ratu jinjin membuka suara dimana dia berniat mempermalukan Aqila sebagai balasan atas ketidak kesopanannya.


"tidak ada yang spesial dengan wajah ku ratu"


jawab Aqila datar, jika wajahnya terekspos itu akan menjadi masalah bagi para gadis yang hadir saat ini.


"apa wajah anda buruk rupa hingga anda menutupinya"


ucap seseorang gadis yang tidak lain adalah salah satu Putri dari raja Bingwen.


"mengapa anda yang terhormat mau repot-repot mengurusi hal ini"


jawab Aqila dingin dari sorot matanya menampakkan ketidak sukaan atas ucapan gadis itu.


"kurang ajar kau...


ratu jinjin hendak marah karena putrinya hampir saja di permalukan.


"hentikan"


raja Bingwen nampak marah pada ketiganya wajah pria itu sudah menggelap dan siap kapanpun menjatuhkan hukuman.

__ADS_1


__ADS_2