SANG DEWI PENAKLUK

SANG DEWI PENAKLUK
Mengobati Pangeran Jing sheng


__ADS_3

Saat pertama kali memasuki ruangan tersebut banyak para pelayan tengah bersujud dengan ekspresi ketakutan, ada juga seorang tabib yang sedang memeriksa keadaan pemuda itu.


di sampingnya seorang wanita cantik tengah menangis tersedu-sedu, bisa di pastikan dia adalah ibu dari pangeran Jing sheng.


"bagaimana keadaan putra ku tabib"


tanya wanita itu dengan perasaan tidak karuan antara sedih dan takut kehilangan.


"maaf yang mulia ratu, kondisi pangeran semakin memburuk dan denyut nadinya mulai melemah saya takut pangeran tidak akan bertahan"


dengan takut dan terbata-bata tabib tersebut mulai menjelaskan kondisi pangeran Jing sheng saat ini.


"tutup mulut busuk mu itu putra ku pasti akan baik-baik saja dia tidak akan meninggalkan ibunya".


wanita itu berteriak marah dia menatap tajam sang tabib.


"mohon ampun yang mulia"


tabib langsung menjatuhkan diri memohon ampun atas nyawanya.


"bawa dia dan penggal kepala-nya"


ucap wanita itu lagi tanpa belas kasihan sedikit pun pada mereka yang telah membantu mengobati putranya selama ini.


"tidak, saya mohon tolong ampuni nyawa saya yang mulia ratu"


tabib tersebut sangat ketakutan dia sudah berusaha sebaik mungkin tapi wanita itu tidak mau mengampuni nyawanya.


"hiks hiks Jing sheng bangunlah ini ibu hiks"


setelah tabib itu di bawa keluar wanita itu semakin mendekatkan dirinya pada pangeran Jing sheng dia menangis sambil terus mengajaknya berbicara.


sedangkan orang yang di ajak bicara tidak menampakkan tanda-tanda sedikitpun.


mereka belum juga menyadari kedatangan Aqila dan untuk gadis itu sendiri hanya memilih diam memperhatikan.


sampai beberapa saat orang yang mengantarnya datang kembali dan memberitahukan tentang dirinya.


"salam yang mulia ratu tabib misterius sudah tiba"


ucap salah satu pelayan yang membawa Aqila ke ruangan itu.


"bawa dia ke sinih"


tanpa menoleh wanita itu meminta Aqila untuk mendekat padanya.


perlahan Aqila berjalan melewati mereka semua, penampilannya menjadi pusat perhatian para pelayan karena mengenakan penutup wajah.


"salam ratu"


Aqila memberi salam hanya dengan dua kata dan sedikit menundukkan kepala setelah tiba di hadapan wanita itu.

__ADS_1


melihat sikap aqila yang seperti itu wanita tersebut merasa tersinggung dia tidak suka dengan cara Aqila memberi salam.


"hm, jadi anda tabib misterius"


dengan dingin wanita itu bertanya tetapi pandangan-nya terus meneliti penampilan Aqila saat ini.


"benar"


jawab Aqila singkat, mendapat tatapan seperti itu dia merasa tidak nyaman dan ingin segera pergi dari sanah.


"kalau begitu tunjukkan pada saya kemampuan anda"


dengan angkuh wanita itu menantang kemampuan Aqila yang seharusnya tidak perlu di pertanyakan lagi.


"silahkan minggir terlebih dulu"


jawab Aqila datar membuat wanita itu semakin kesal bukan main.


"kau"


pelayan pribadi wanita itu hendak memarahi Aqila sambil menunjuk wajahnya membuat gadis itu menatap tajam pelayan tersebut.


"diam"


meski kesal dengan Aqila wanita itu menegur sikap tidak sopan pelayan pribadinya karena dia ingin tau apakah Aqila mampu mengobati putra kesayangannya atau tidak.


"tapi yang mulia ratu dia sangat tidak sopan pada anda"


"aku tau dan sedang menunggu kesempatan untuk memberinya pelajaran"


meski mereka berbicara sangat pelan tapi Aqila masih bisa mendengarnya, sudut bibir gadis itu tersenyum licik dengan sangat tipis.


tidak ada seorang pun yang menyadari perubahan ekspresi-nya saat ini.


setelah itu aqila duduk di sebelah pangeran Jing sheng kemudian meraih pergelangan tangan-nya.


beberapa saat mengamati Aqila sedikit terkejut dengan apa yang terjadi pada pemuda itu.


pangeran Jing sheng tidak terkena racun mematikan atau terkena penyakit sejenisnya, dia hanya berada dalam dunia lain.


jiwa pemuda itu terjebak di sebuah tempat bersama wanita cantik, dari Aura-nya dia adalah seorang siluman yang jatuh cinta pada pangeran Jing sheng tetapi mendapat penolakan dari pemuda itu.


hingga siluman tersebut memilih jalan seperti ini yaitu membawa jiwa-nya secara paksa membuat daya hidup pemuda itu menurun.


"bagaimana apa kau bisa menyembuhkan-nya"


tanya wanita itu penuh harap dia adalah jinjin ratu kerajaan Emerald.


"tentu, bawakan aku bunga peri, gingseng emas seribu tahun, air embun dan bunga anggrek hitam"


pinta Aqila, meski sebenarnya bahan-bahan itu hanyalah sebuah alasan dia sengaja membuat mereka berfikir pangeran Jing sheng terkena penyakit mematikan.

__ADS_1


"semua bahan sudah tersedia hanya air embun yang tidak ada"


jawab ratu jinjin sambil mengingat kembali persediaan obat yang pihak istana miliki.


"bahan ini adalah yang paling penting untuk mengobati penyakit-nya jika tidak ada maka bahan lain tidak akan berguna"


terang Aqila lagi membuat wanita itu yang semulanya senang berubah murung lagi.


"dimana kami bisa mendapatkan-nya"


Tanya ratu jinjin dia akan mengusahakan apapun untuk kesembuhan putranya meski harus mencari ke ujung dunia sekalipun.


"ada di setiap tempat kalian hanya perlu menunggu matahari terbit biasanya air embun akan menempel di berbagai tanaman"


jelas Aqila, mendengar itu ratu jinjin sedikit bisa bernafas lega.


"apa pangeran Jing sheng bisa bertahan hingga hari esok"


tanya wanita itu, ekspektasi wajahnya penuh kekhawatiran.


"tentu asal kalian tidak mengganggu waktu pengobatan, minta juga raja untuk melepaskan ke dua orang yang datang bersama ku karena hanya mereka yang akan membantu"


ucap Aqila, mendengar permintaan kali Ini semua orang di buat kesal mereka merasa tidak berguna di hadapan gadis itu


"apa kami tidak di butuhkan"


tanya salah satu pelayan sambil menatap mata Aqila


"tidak karena kalian tidak tau apa pun"


dengan tegas Aqila menolak bantuan mereka dia tidak mungkin membiarkan mereka bergabung bisa saja mereka membocorkan semuanya pada ratu dan raja.


"kau"


pelayan pribadi ratu jinjin kembali terbakar emosi dia sudah berniat ingin membantu tapi Aqila sudah lebih dulu menjegal kesempatan tersebut.


"keluar, aku akan memulai pengobatannya setelah mereka di bebaskan"


dengan berani aqila meminta mereka semua keluar termasuk ratu jinjin


"anda terlalu arogan nona"


ucap ratu jinjin tidak di sangka-sangka, meski begitu Aqila tidak perduli sama sekali dengan kekesalannya.


"kalau begitu aku pergi dan bersiaplah untuk melakukan kremasi"


Aqila hendak pergi dari sanah membuat mereka terkejut bukan main atas tindakan berani itu.


"huh, baiklah aku akan membawa mereka ke hadapan anda"


ratu jinjin akhirnya mengalah dia hanya berharap putranya bisa sembuh dan segera bangun dari tidur panjangnya.

__ADS_1


see you next time di episode berikutnya 👋😊


__ADS_2