SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
LELAH BERHARAP


__ADS_3

Vina memandangi Tanu yang semakin menjauh darinya. Hati rasanya seperti mati. Dia tidak bisa berkata kata lagi. Pikirannya kosong. lalu Vina melangkah menuju motornya. Dia memandangi seikat bunga yang dia taruh di atas jok motornya, dan kemudian mengambilnya. Berkali - kali dia mencium aroma bunga itu sambil melihat ke arah jauh dimana Tanu menghilang dari pandangannya.


" Pak Tanu... " Vina bersuara lirih lalu pergi membuang bunga itu ke tempat sampah.


Dia pun kembali menuju motornya dan melajukannya dengan cepat. Sampai di gerbang sekolah, dia bertemu dengan Bagus. Namun Vina tak mempedulikannya. Dia kesal padanya karena telah membuat dia dan Tanu berselisih. Setelah keluar dari area sekolah , dia kembali melajukan motornya semakin kencang.


" Huuu... Dasar bocah semprul.. " Nggak ada akhlaknya sama orang yang lebih tua. Mudah-mudahan enggak terjadi apa-apa ya, di jalan.. " ucap Bagus, mendoakan yang baik buat vina namun berharap kebalikannya.


Tak lama kemudian Tanu menyusul keluar dari parkiran Guru, menuju pintu gerbang keluar.


Bagus membuang muka, pura - pura tidak tahu kalau Tanu mau keluar.


" Pak Bagus, saya izin pulang dulu ya.


Bagus tak menjawab kata Tanu. Dia pura - pura sibuk mendengarkan Radio di hpnya.


Tanu menghentikan motornya dan memarkirkannya di samping pos Satpam.


" Pak Bagus kenapa tidak menjawab pangilan saya? "


Bagus pura pura kaget dan berkata, "Owh pak Tanu.. Ada apa Pak? "


" Enggak ada apa-apa, saya hanya izin pamit pulang."


" Ow,h ya silahkan.. Pulang ya pulang saja. Saya bukan bapakmu, tak perlu lagi meminta izin." Ujar Bagus dengan suara lantang.


" Ada apa dengan Pak Bagus? kenapa bicaranya seperti itu?"


" Tidak usah berpura-pura, Kamu sudah mendapatkan yang enak kan dari Vina? Kalau sudah, ya silahkan pulang Pak. Vina juga sudah pulang. kebetulan pintu gerbangnya sudah mau saya kunci." Bagus berbicara dengan nada mengusir.

__ADS_1


Tanu tidak ingin terprovokasi, Dia meninggalkan Bagus dan segera melajukan motornya. Tetapi sebelum Tanu pergi , dia berkata pada Bagus. " Saya sudah bilang kalau saya tidak ada apa-apa dan tidak melakukan apa-apa dengan Vina Pak , Kalau Pak Bagus tidak suka dengan saya silahkan. "


Bagus terdiam dan memalingkan wajahnya. Dia sama sekali tidak memperdulikan kata-kata Tanu. Dan membiarkannya pergi begitu saja.


...Di tengah perjalanan, Vina masih membawa perasaan sedihnya. Air matanya membanjiri pipi indahnya. Kala itu hujan deras sedang mengguyur di seluruh kota. Namun Vina tetap melajukan motornya dengan kencang, tanpa mengenakan jas hujan untuk dirinya...


......................


...Sementara itu di rumah Tanu,...


" Tok tok tok.... " suara pintu di ketuk.


" Bu... Ayah pulang... " Sapa Tanu dari luar rumah.


" Sebentar.." Rani berjalan membukakan pintu.


" Eh Ayah sudah pulang.. kok tumben jam segini sudah pulang? Baru jam berapa ini?"


" Iya tadi ada rapat dengan para Guru, Bu.. Tapi Ayah enggak ikut. Ada janji sama murid Ayah di kelas. Katanya sepulang sekolah ingin bertemu dengan Ayah. "


" Eh kenapa Ayah enggak mengikuti rapat dan malah memilih untuk bertemu dengan murid Ayah? Kata Ayah, para Guru yang mengikuti rapat ? " tanya Rani keheranan.


" Tadi Ayah ada janji sama siswi Ayah di kelas, sepulang sekolah. Awalnya Ayah lebih memilih mengikuti rapat, namun kata kepala sekolah, rapat ini hanya untuk silaturahmi saja. Tidak membahas hal yang penting. Yang tidak bisa ikut, boleh meminta izin pada kepala sekolah." Tanu menjawab dengan perasaan was was.


" Owh jadi begitu, terus kalau Ayah enggak ikut rapat, walaupun hanya silaturahmi, kalau tiba-tiba ada hal yang penting yang di bahas bagaimana Yah? "


" Besok biar Ayah minta info sama Guru yang ikut saja Bu. Ibu tidak usah khawatir."


" Ya sudah kalau begitu Yah. Sebentar, Ibu ambilkan minum untuk Ayah dulu ya. Sepertinya Ayah kecapekan. "

__ADS_1


" Boleh Bu, hari ini Ayah memang terasa capek banget." Tanu sedikit lega Rani tidak menanyakan hal yang macam-macam padanya, tentang murid yang membuat janji dengannya.


" Ini Yah , diminum dulu. Mumpung masih hangat. Kalau sudah dingin, rasanya sudah beda." Ucap Rani,lalu memberikan minuman teh manis kesukaan Tanu.


" Terima kasih Bu, Pas sekali ini. Di luar hujan deras, minum yang hangat- hangat bisa membuat tubuh Ayah segar kembali. Hehe..." Tanu mencoba mengalihkan perhatian agar Rani tidak menanyakan lagi tentang siswi yang janjian dengan Tanu.


" Iya Yah.. pas banget. Untung hujannya tidak disertai angin besar, dan Ayah pulang sampai rumah lebih cepat. Jadi Ibu tidak terlalu khawatir kalau Ayah sudah di rumah.


" Iya Bu, Ibu tak usah mengkhawatirkan Ayah. Tak ada yang kurang kan dari Ayah. Malah Ayah sendiri yang khawatir pada Ibu."


" Khawatir kenapa Ayah? Ibu di rumah juga baik- baik saja. Tama juga tidak rewel kok." Ucap Rani.


" Syukurlah kalau begitu ibu. Oh iya , Tama dimana bu?"


" Tama lagi tidur Yah. Dari tadi rewel, nangis terus.. tak tahunya cuma mau BAB. "


" Katanya tadi enggak rewel, Hemhh. Kenapa tiba- tiba Ayah kangen sama Tama ya .. "


" Hehe.. Rewelnya masih bisa Ibu atasi Yah, jadi bagi Ibu itu bukan rewel.


Owh kalau begitu sebaiknya Ayah mandi dulu sebelum menemui Tama, Dia pastinya juga merindukan Ayahnya. Ya sudah sekarang saja Ayah mandi, biar seger Yah. "


" Baik lah Bu, Ayah mau mandi dulu."


Tanu pergi ke kamar mandi dengan perasaan lega. syukurlah Rani tidak menanyakan lebih jauh tentang siswi itu.


......................


Sementara itu, Vina yang masih dengan perasaan sedih, tiba sampai di rumahnya. Dia merebahkan tubuhnya ke sofa.Tidak mempedulikan bajunya yang basah, dia terus menangis. Mengingat kejadian saat di sekolah. Perasaan sedih karena Tanu memarahinya, juga perasaan benci karena Bagus membuat Tanu marah padanya. Hingga sore, hujan sudah reda, Vina masih belum juga berganti pakaian. wajahnya yang cantik kelihatan memucat. Kulit tangannya yang putih bersih menjadi mengeriput,karena terlalu lama memakai pakaian basah. Vina memandangi luar jendela, berharap Tanu datang untuknya. Menghangatkan badannya yang kedinginan. Sampai hujan turun lagi Tanu juga tak datang. Vina lelah berharap sampai dia tertidur pulas.

__ADS_1


Kesunyian menyelimuti rumah Vina. Di dalam rumah besar dan megah hanya ada satu penghuni. Vina selalu merasa kesepian. Tak jarang dia pergi keluar meskipun malam hari untuk mengusir rasa sepi. Tetapi dia tidak berani macam-macam. Ayahnya yang keras akan membunuhnya jika dia berbuat yang tidak - tidak.


Vina termasuk anak yang patuh pada orang tuanya.Meskipun dia anak nakal pada jamannya. Sekarang, Vina sudah berubah. Banyak hal positif yang dia lakukan. Meskipun banyak cobaan menghalangi hidupnya. Dia berusaha untuk kuat meskipun harus berkorban dan memaksakan dirinya.


__ADS_2