
" Sekali lagi maafkan aku Bon, semua ini gara-gara aku. Aku lah yang menebarkan kejahatan dimana-mana. Kini waktuku telah habis. Aku harus pergi, Bon."
" Bos, aku telah memaafkanmu. Pergilah dengan tenang. Aku berjanji akan merawat tempat peristirahatanmu dengan baik. Aku berjanji Bos Rendra."
" Terima kasih, Bon.." Ucap Rendra untuk yang terakhir kali. Sebelum dia menghembuskan nafas yang terakhir kalinya.
Bono memeluk tubuh Rendra, dia menangis karena teringat dengan kebaikkan yang Rendra lakukan dahulu, sebelum dia dekat dan menjadi pengawal Wijaya. Dia sangat menyesal terlalu dekat dengan Wijaya, dia menjadi membenci Rendra.
" Hahaha.. Si ba****an itu sudah mati rupanya. Aku bahkan sempat kehabisan cara untuk membalaskan dendam atas kematian putriku. Tetapi Tuhan memudahkanku. Hahaha.. Terima kasih Tuhan." Ucap Rendra sambil tertawa puas merayakan kemenangannya.
" Wijaya! Kau pembohong! Aku sudah bersumpah akan membunuh siapa pemerkosa dan pembunuh Ibuku! Sekarang aku akan menghabisimu, Wijaya!" Mendengar tawa dan teriakan kemenangan Wijaya, Bono murka. Lalu berdiri dan berjalan ke arah Wijaya dengan tatapan sadis.
" Kenapa kamu Bon? Aku heran denganmu. Kita harus merayakan kemenangan kita. Kenapa kamu bersedih? Hahaha.."
" Keparat! Tak perlu kamu berpura-pura! Aku sudah bersumpah akan membunuh siapa yang memperkosa Ibuku dan membunuhnya! Aku harus segera membunuhmu Wijaya!" Bono mengepalkan tangannya. Nafasnya terengah-engah, jantungnya berdetak cepat ketika amarahnya kembali meluap.
" Heh, tunggu dulu Bon. Apa yang kamu katakan? Apa yang ingin kau lakukan?" Ucap Wijaya sambil berjalan ke belakang karena Bono terus berjalan maju ke arahnya.
" Diam Kau Wijay! Aku akan membunuhmu! Akan ku lampiaskan semua kemarahanku padamu! Bersiaplah kamu, Wijaya! Hyaattt!" Tiba-tiba Bono meninju ke arah Wijaya.
Serangannya tak satupun mengenai Wijaya meskipun ia melakukannya berkali-kali. Bono semakin menyerang dengan cepat dan membabi buta ketika serangannya tak satupun menenai Wijaya.
" Bon.. Hentikan! Apa yang ingin kau lakukan pada Bosmu?"
" Diam! Kau bukan Bosku, Rendra lah Bosku. Kau hanya Ba****an yang telah memfitnahnya! Kau biadab Wijaya! Selama ini aku percaya padamu, aku telah banyak membantumu dan bersedia menjadi pengikut setiamu meskipun Rendra sebenarnya tidak mengizinkanku. Tapi apa balasanmu? Kau menipuku Wijaya! Aku takkan memaafkanmu!"
" Menipu apa Bon? Jangan membuatku bingung."
" Kau yang memperkosa dan membunuh Ibuku kan? Jawab dengan jujur!"
" Bon, darimana kamu tahu berita itu? Apa kamu bertanya pada Rendra? Apa kamu tidak percaya padaku?"
" Dia sudah membuktikan kejujurannya dengan tidak melawanku saat aku menyerangnya. Aku tahu dia berkata jujur. Kaulah yang berbohong Wijaya! Jangan lari, serahkan nyawamu, Wijaya!
" Hahaha, Bon.. Aku tidak pernah menipumu. Kapan aku pernah menipumu apalagi sampai membuatmu susah? Kapan Bon!"
" Semua sudah jelas! Kaulah yang melakukannya Wijaya! Katakan apa alasamu! Rendra telah memberitahuku sebuah kebenaran sebelum dia mati. Sekarang giliranmu, katakan yang sebenarnya apa kamu yang melakukannya pada Ibuku, Wijaya?"
" Baiklah, aku akan mengatakannya kepadamu. Aku memang telah memperkosa Ibumu dan membunuhnya. Aku tak bisa menahan hasratku saat Ibumu memakai daster pendek yang transparan. Awal kejadiannya, saat aku mencoba masuk ke kamar, yang ternyata itu kamar Ibumu. Aku melihat Ibumu berbaring menemani adik-adikmu tidur. Aku tak sengaja melihat dasternya naik ke atas, hingga terlihat pakaian dalamnya. Aku langsung seperti kehilangan akal, lalu aku mencoba masuk dan melepas daster Ibumu dan menyetubuhinya."
" Ba****an! Keparat kau Wijaya!! Biadab!" Bono memaki Wijaya sesuka hatinya.
" Tapi aku melakukannya karena aku sedang mabuk berat Bon. Aku tak bisa mengendalikan keinginanku. Hingga adik-adikmu menggigit tanganku hingga robek, aku memukuli mereka. Ibumu tak terima lalu aku mencekik lehernya hingga mati. Tapi, aku tak membunuh Ayah dan adik-adikmu, Bon."
" Terkutuk Kamu Wijaya! Kamu sungguh kejam! Aku akan membunuhmu!"
" Bon, tenangkan dulu hatimu. Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Kita sudah berjanji akan menguasai dunia hitam bersama. Inilah saatnya kita harus segera memulainya."
" Persetan dengan semua itu Wijay! Aku menuntut atas kekejamanmu pada Ibuku! Hyaaaat!!!"
__ADS_1
Bono mengamuk tiada henti. Dia mampu mengimbangi kekuatan Wijaya. Bono memang orang misterius. Kemampuannya bertambah saat dia sedang dikuasai amarahnya.
" Matilah kamu Wijaya! Akan ku kirim kau ke neraka! Hyyyaat.."
" Bon! Aku minta maaf atas kesalahanku. Tapi aku menebus dosa-dosaku dengan membesarkanmu. Kau tumbuh bersamaku bon! Apa kau tak melihat jasa-jasaku?"
" Aku tidak peduli! Aku akan membunuhmu jay?" Ayo serang aku!" Bono terus menyerang maju, mendesak Wijaya hingga menyerangnya secara bertubi-tubi.
" Bon! Sadarlah! Kita ini sesama tim. Lupakan masa lalu! Kau sudah ku anggap anakku. Hapus rasa dendam itu!"
" Hahaha.. Anak katamu? Kau membunuh ibu dan semua keluargaku lalu kau menyebut diriku anak? Orang tua mana yang melakukan kejahatan yang kejam seperti itu? Katakan!"
" Untuk menebus kesalahan yang ku lakukan, aku merawatmu Bon. Aku memberimu makan, aku melatihmu menjadi sehebat ini. Aku sudah berharap banyak padamu Bon, apa kamu tak menghargaiku?"
Tiba-tiba Bono berhenti menyerang Wijaya. Dia kebingungan ingin melakukan apa. Ingin membunuh Wijaya tapi dia telah membesarkan dan memberinya ilmu yang sangat besar. Bahkan dia bisa mendapatkan apa yang dia mau karena Wijaya.
" Bon, percayalah.. Semua yang kulakukan pada masa lalu adalah khilafku. Dan karena kesalahanku, aku mengambilmu. Merawatmu, mengajarkan ilmu bela diri padamu. Itu semua ku berikan sebagai ganti atas dosa-dosaku atas kepergian Ibumu. Sekarang, kalau kau mau jadi orang baik, silahkan. Aku tak melarangmu. Silahkan beli tanah, rumah, mobil, menikah dengan orang yang kamu suka. Itu hak kamu. Aku akan bayar semua yang kau butuhkan."
" Aku tak butuh uang darimu! Aku masih punya uang untuk mencukupi kebutuhanku! Tapi masalahnya, kau! Kenapa kamu yang telah memperkosa dan membunuh Ibuku! Padahal selama ini aku hormat kepadamu, aku menyayangimu! Kenapa sekarang kenyataan pahit yang harus ku dengar! Kenapa!"
" Bon, kau tahu diriku dimasa lalu bagaimana, bahkan saat aku memukuli istriku, merampas hartanya, kau pun tahu. Saat aku menyelingkuhi istriku, kau pun mengetahuinya. Aku ini Ba****an Bon! Inilah hidupku! Kamu bergaul denganku sudah berapa lama? Apa aku pernah terlihat baik? Tidak pernah kan, aku selalu berbuat jahat!"
" Kau memang Ba****an! Dan aku benci padamu Bos! Kali ini aku takkan membunuhmu. Tapi aku tidak sudi bertemu denganmu lagi! Terima kasih untuk semuanya!" Bono melangkah pergi meninggalkan Wijaya dengan langkah tergopoh-gopoh membawa jasad Rendra. Sambil berjalan, dia terus mengusap air matanya yang telah mengalir.
Hati Wijaya bergetar, dia pun menangis menatap kepergian Bono. Bono bagaikan anak kandung baginya. Kerja bersama dengannya selalu berjalan rapi. Tak ada kesalahan yang membuat pekerjaanya berantakan. Wijaya dan Bono adalah pengawal kebanggaan Rendra. Namun sikap Rendra yang Mencurangi Wijaya dan Bono, membuat hubungan mereka terganggu hingga terjadi pertarungan yang mengakibatkan Rendra harus kehilangan nyawanya dan kekasihnya.
" Bon..." Teriak Wijaya.
" Kembali! Aku membutuhkanmu! Bagiku, kamu anak lelakiku yang ku banggakan. Jangan tinggalkan aku! Kembalilah!" Wijaya kembali berteriak meminta Bono kembali padanya.
Bono berhenti dan dia membalikkan badannya.
" Aku benci pembohong! Sekali berbohong, aku akan menjauhinya. Aku tak sudi kembali padamu!"
" Bon! Aku minta maaf, apa kamu tak mau memaafkanku?"
" Aku akan memaafkanmu, tapi aku butuh waktu. Tapi aku tak mau lagi bertemu denganmu!"
" Bon! Bunuhlah aku kalau memang kamu tak bisa memaafkanku! Kembali dan bunuh aku!"
" Sudahlah! Lupakan itu! Aku akan pergi! Jangan pernah sekalipun mencariku!"
Bono kembali melanjutkan langkahnya. Dia sudah tak lagi bisa menerima Wijaya lagi sebagai rekan kerja, maupun sebagai keluarganya. Dengan kemantapan hati Bono berlari dan pergi menjauh dari kehidupan Wijaya.
" Bon! Bono! Sial! Dia tidak mau mendengarkanku. Bagaimana aku bisa membujuknya, agar mau kembali. Haahh!!" Wijaya menghela nafas dalam-dalam.
Akhirnya rahasia Wijaya terbongkar. Rahasia yang selama ini ia sembunyikan, namun ada orang yang membocorkan dan memberitahukannya pada orang yang sangat dekat dengan dirinya.
" Kenapa ini terjadi! Aku memang bodoh! Bono!!! Kembalilah..." Teriak Wijaya di tengah malam bulan purnama.
__ADS_1
Tiba di markas Rendra, Bono meletakkan jasad Rendra bersamaan dengan Dini dan Karin. Awalnya Bono berniat hanya mengantarkan jasadnya saja, namun kemudian ia berpikir untuk memandikan jasad Rendra lalu meletakkan kembali di sisi Dini.
" Bos, kamu memang kejam. Kamu telah membunuh Ayah dan adik-adikku. Tapi aku telah memaafkanmu. Akibat kesalahanmu, kau harus rela kehilangan nyawamu. Dan sesuatu yang sangat besar bagimu, kau kehilangan Dini dan Karin. Aku sengaja menyatukan kalian agar kalian di kubur bersamaan. Haahh.. Dini, Karin, maafkan atas kelakuanku. Kalian harus kehilangan nyawa gara-gara aku. Dini.. Karin.."
Bono menangis melihat jasad Dini dan Karin. Dia memegang tangan kanan Dini dan tangan kiri Karin, lalu mencium keduanya. Bono sangat menyesal melakukan perbuatan bejat kepada mereka.
" Maafkan aku!" Ucap Bono lalu tersentak karena mendengar telpon dari Hp Rendra.
Bono mengambil Hp Rendra yang dia taruh di atas meja. Seseorang telah menghubungi ke nomer Rendra. Bono lalu mengangkat telponnya.
" Halo.."
" Halo, selamat malam Bapak Rendra, kami dari petugas ambulans, kami sudah tiba di rumah besar Anda. Maafkan kami, terlambat tiba dikarenakan mobil kami mogok. Syukur setelah satu jam lebih kami bisa memperbaikinya. Sekarang ini kami sudah tiba di depan. Pak Rendra dimana ya?" Ucap supir ambulans.
" Silahkan masuk Pak, pintu gerbangnya tidak dikunci. Buka saja." Jawab Bono lalu berdiri keluar untuk menjemput petugas ambulans.
Petugas ambulans membuka gerbang markas Rendra, ia memasukkan mobilnya. Saat ia mencoba masuk, Petugas ambulans yang ditemani satu orang temannya terkejut setengah mati karena melihat banyak potongan tubuh manusia yang hangus berserakkan dimana-mana.
" Hii.. itu manusia atau bukan Pak?" Tanya supir ambulans pada temannya sembari mengusap leher belakangnya karena merinding.
" Itu potongan tubuh manusia Pak. Itu sungguhan Pak, wah bagaimana ini. Jangan-jangan ini korban pembantaian?"
Supir menghentikan mobilnya ditwngah halaman markas Rendra. Dia ragu untuk meneruskan laju mobilnya.
" Pak, saya kok jadi takut ya. Bisa jadi kita masuk perangkap penjahat. Dan kita akan jadi korban selanjutnya, seperti orang-orang yang tubuhnya hangus terpotong-potong, seperti mereka." Ucap supir pada temannya.
" Jangan takut. Kita sedang mengemban tugas Pak, siapa tahu Pak Rendra ini selamat dari pembantaian dan meminta kita datang, untuk membawa gadis yang katanya tadi, adalah kekasihnya."
" Lalu bagaimana dengan potongan tubuh manusia diluar sana Pak?" Tanya supir ambulans Lalu melajukan mobilnya pelan-pelan menuju pintu masuk gedung utama markas Rendra.
" Biarkan saja Pak, itu akan menjadi urusan Polisi. Kita hanya menjalankan tugas seperti yang diminta Bapak Rendra saja."
Tiba didepan gedung utama markas, Petugas ambulans, sudah disambut oleh Bono yang bajunya robek-robek dan banyak bercak darah segar di bajunya.
" Maaf, apa Anda Pak Rendra? Tanya supir ambulans pada Bono dengan ketakutan.
" Bukan, saya temannya Pak." Jawab Bono.
" Kalau begitu Pak Rendranya dimana ya pak. Kami mendapat telpon dari Pak Rendra, untuk meminta kami membawa jasad gadis, yang meninggal beberapa jam yang lalu."
" Dia sudah mati."
" Mati? Lalu siapa yang telpon tadi Pak?" Tanya supir ambulans sambil memegang tangan temannya bersiap berlari setelah mendengar jawaban Bono.
" Rendra, tapi dia sudah mati." Jawab Bono.
Mendengar jawaban Bono, kedua petugas ambulans berlari lalu masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kencang. Mereka tak sempat berkata sedikitpun pada Bono. Ketakutan yang mereka alami membuat mereka kabur dan meninggalkan Bono tanpa membawa satupun mayat Dini atau Karin.
" Bodoh! Kembali! Mau kemana kalian? Hei! Ahhh.. Sial! Apa kata-kataku membuat mereka ketakutan? Dasar penakut! Pulang sana sekalian ganti, pakai Rok!" Bono terduduk lemas, dia merasakan tubuhnya lemas sekali. Energi yang terkuras habis saat pertarungan membuat dirinya terasa haus dan sangat lapar.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Bono yang badannya besar tersungkur ke lantai dan kemudian pingsan tak sadarkan diri.
......................