
Setelah dirasa aman, teman Reza masuk ke dalam gubuk dan menemani Bulan. Nafsunya bergejolak ketika dia mendapati Bulan yang sedang berbaring. Dengan bantuan senter Hpnya, Bulan terlihat sangat cantik. Teman Reza pun mencoba melancarkan aksinya.
Ia mendekati Bulan. Namun dia tak ingin membuat Bulan terpaksa melakukannya. Ia mencoba merayunya.
" Hei, namamu Bulan, kan?" tanya teman Reza.
" Iya, Kak.. namaku Bulan."
" Bulan, apa kau kedinginan?" tanya teman Reza.
Bulan mengangguk, dia memang merasakan kedinginan. Apalagi dia hanya memakai celana pendek dan kaos pendek yang kalau dia menaikkan tangannya, terlihat pakaian dalamnya.
" Kemarilah, mendekat kepadaku. Jika kita berdekatan, akan terasa hangat."
Bulan pun menuruti ucapan teman Reza. Dia bangun dan mendekati teman Reza.
" Bagaimana, apa terasa hangat?"
Bulan kembali menganggukkan kepalanya. Namun ia tak berkata sedikitpun.
Hasrat dalam diri teman Reza semakin bergejolak saat Bulan dekat dengannya. Ingin sekali rasanya dia mencumbunya dan langsung bermain dengannya. Namun ia berusaha menahannya. Ia tak ingin usahanya gagal dan malah membuat Bulan merasa risih dan menolak keinginannya.
" Bulan, kau sangat cantik. Kau pasti orang yang baik. Aku berjanji, saat kita berhasil lolos dari mereka, aku akan merawatmu. Menyekolahkanmu sampai selesai. Apa kau mau?"
" Kak, bukanya aku menolak tapi aku masih bisa mencari uang sendiri. Maafkan aku, Kak."
" Baiklah, tak apa. Tapi aku ingin kau tinggal bersamaku. Kita pergi keluar negeri agar aman dari Wijaya."
" Keluar negeri?" tanya Bulan, kaget.
" Iya, jika kau masih tetap di negara ini, Wijaya masih bisa menemukanmu. Aku yakin mereka akan terus mencarimu. Bagaimana jika mereka menemukanmu dan membunuhmu? Apa kau mau mencari mati?"
" Aku tak ingin mati, aku takut mati." ucap Bulan sambil menangis.
" Kalau begitu, ikutlah denganku dan jangan pernah kembali ke rumahmu. Aku yakin, Wijaya dan Reza telah menghabisi semua anggota keluargamu. Mungkin mereka saat ini sedang dalam perjalanan mencari kita. Aku juga tak mau mati, Bulan. Aku juga ingin mencari kebebasan."
" Lalu apa yang harus kita lakukan, Kak?" tanya Bulan lirih, dengan suara serak basahnya.
" Sementara kita bermalam disini dulu, setelah pagi, kita akan meneruskan perjalanan kita."
" Tapi aku takut. Disini tak ada siapa-siapa, kan?"
" Iya, disini hanya kita berdua. Tenanglah. Kau aman bersamaku. Aku akan melindungimu, meskipun harus bertaruh nyawa."
" Terima kasih, Kak. Kau sudah baik, kepadaku."
" Hehe.. sama-sama Bulan. Oh iya, ada yang ingin kutanyakan kepadamu. Apa kau tak keberatan?"
" Kakak mau tanya apa?" tanya Bulan sembari memejamkan matanya karena sudah merasa sangat mengantuk.
__ADS_1
" Apa kau sudah punya kekasih?" tanya teman Reza sembari tersenyum.
" Aku belum memikirkan tentang itu, Kak. Aku mau fokus sekolah."
" Oh, jadi begitu. Tapi,apa kau pernah menyukai seseorang?"
Bulan menggelengkan kepalanya. Pertanyaan teman Reza yang bertubi-tubi membuatnya malas untuk menjawab.
" Bulan, kau sangat cantik. Sayang kalau hari-harimu selalu sendiri. Dan kau belum pernah merasakan mencintai seseorang. Apa hidupmu tak terasa hampa?"
" Kak, aku menikmati kesendirianku. Meskipun aku tak mempunyai kekasih, tapi aku bahagia."
" Mungkin itu karena kau masih mempunyai keluarga. Sekarang kau sudah tak punya siapa-siapa lagi."
" Tapi, aku masih punya teman di sekolah. Aku bisa saja minta bantuan mereka."
" Apa kau yakin? Bulan, temanmu di sekolah itu hanya sekedar teman saat kalian satu kelas. Kalau kamu sudah lulus, teman-temanmu itu akan pergi dan melupakanmu."
" Tapi pasti ada satu atau dua orang yang akan tetap ingat kepadaku. Lagipula masih ada banyak orang baik di dunia ini. Aku nggak mengkhawatirkan itu."
" Bulan, aku takut jika ada orang baik yang mendekatimu, mereka hanya ingin memanfaatkanmu. Aku tak ingin hal itu terjadi kepadamu."
" Kakak tak usah khawatir kepadaku. Sudahlah, aku mau tidur. Aku sangat lelah." ucap Bulan lalu ia membaringkan tubuhnya.
" Bulan, aku menyukaimu. Malam ini hanya ada kita berdua. Aku ingin kau menjadi milikku."
Dia menatap ke arah teman Reza dengan berhati-hati.
" Bulan, aku mohon. Aku ingin engkau mengabulkan keinginanku. Sekali saja, dan apapun yang kau minta setelah itu aku akan mengabulkannya untukmu."
" Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku, Kak? Apa kau mau menjebakku?" tanya Bulan lalu mencoba menjauhi teman Reza.
" Selama aku hidup, aku tak pernah merasakan berhubungan dengan seorang wanita. Kali ini ada kau didekatku. Apa kau mau melakukannya denganku, Bulan?"
" Kak, jadi Kakak membawaku kemari hanya untuk itu? Kau sama saja dengan Para penjahat itu!"
" Bulan, ayolah.. sekali saja. Masih mendingan aku daripada si Reza. Malam ini sangat dingin, kemarilah Bulan. Peluk aku.."
" Aku tidak mau, Kak. Menjauhlah dariku."
" Bulan, jangan menjauh dariku. Kemari.. buka bajumu."
" Aku tidak mau, Kak. Aku mohon jangan lakukan itu kepadaku." ucap Bulan lalu menangis.
Nafas teman Reza semakin terengah-engah. Ia tak kuasa menahan gejolak nafsunya. Ia terus mendekati Bulan dan mencoba memeluk Bulan dan berniat ingin mencumbunya.
...----------------...
Sementara itu dari pukul sembilan malam, Bagus berniat mendatangi rumah Tanu. Ia merasa pikirannya tak tenang. Ia pun langsung melajukan motornya dengan kencang.
__ADS_1
Tiba di jalan memasuki hutan belantara, motor Bagus mogok. Ia lalu berhenti lalu memarkirkan motornya ke tepi jalan.
Ia bertanya-tanya dalam hati, kenapa motornya terhenti. Ia lalu mencoba memeriksa tangki bahan bakarnya.
" Hemhh.. bensinnya masih penuh, kenapa motorku bisa mogok. Apa businya yang sudah aus, ya." gumam Bagus dalam hati.
Meskipun di tengah hutan, Bagus tak merasa sedikitpun takut dengan hal-hal ghaib. Namun tiba-tiba saja bulu kuduknya berdiri ketika ia mendengar suara anak perempuan yang terdengar samar-samar di sebelah kanan jalan.
Ia mendengarkan dengan teliti suara itu. Ia lalu mencari sumber suara itu. Ia berjalan melewati jalan setapak. setelah ia melangkah beberapa puluh meter dari jalan, ia menemukan sebuah gubuk kecil yang memancarkan cahaya kecil.
Perlahan ia mendekati gubuk itu. Suara gadis itu semakin terdengar jelas. Dan disana dia mendengar seorang laki-laki berusaha memaksa gadis itu, untuk berhubungan badan dengannya.
Perlahan Bagus mengintip dari lubang kecil dari luar. Dan benar saja, dia melihat seorang gadis mungil yang sedang berusaha menghindari pelukan laki-laki bejat. Jiwa Bagus bergejolak, tanpa berpikir panjang dia mendobrak pintu gubuk itu dan roboh.
Seketika teman Reza dan Bulan merasa terkejut. Keduanya merasa was-was jika yang datang adalah Wijaya dan Reza. Namun setelah Bagus masuk gubuk itu, Bulan merasa lega ada orang lain yang mengetahui dirinya sedang dipaksa.
"Siapa kamu?! beraninya mengganggu kesenanganku!" bentak teman Reza dengan keras.
" Kau tak perlu tahu siapa aku. Sekarang, menyingkirlah dari gadis itu. Apa kau tak berkaca, dirimu itu terlalu tua untuknya. Dia seharusnya masih SMP, apa kau mau merusak harga dirinya?"
" Itu bukan urusanmu! pergi dari sini, jika kau tak ingin mati!"
" Aku akan pergi bersama gadis itu. Kalau kau masih ingin disini, silahkan. Tapi gadis itu akan pergi bersamaku."
" Kau menginginkan gadis ini? Kalau begitu kau memang mau mencari mati!"
Perkelahian tak bisa dihindari. Teman Reza mengamuk ingin menghajar Bagus hingga babak belur. Namun serangannya tak ada satupun yang mengenai Bagus. Ia semakin kesal dengan sikap Bagus yang sepertinya menghindari serangannya dengan mudah.
" Lumayan juga kemampuanmu. Tapi aku belum menyerah. Aku akan membunuhmu!"
" Silahkan saja kalau kau bisa!" ucap Bagus seolah meremehkan kemampuan teman Reza.
" Kurang ajar! kau tak tahu sedang berhadapan dengan siapa! Kau akan menyesal pernah bertemu denganku!"
" Aku tahu kau hanya penjahat kecil yang bergabung dengan seorang mafia besar. Aku tahu kemanpuanmu. Ayo.. majulah. Serang aku."
" Kau meremehkanku? Baiklah aku akan menyerangmu!"
Teman Reza tersulut emosinya. Ia menyerang Reza dengan membabi buta. Segala pukulan dan tendangan ia layangkan ke arah Bagus.
Bagus hanya bisa menahan serangan teman Reza tanpa bisa melakukan serangan balik. Tempat yang kecil membuatnya tak bisa leluasa menyerang teman Reza. Ia pun memancing teman Reza keluar dari gubuk itu.
Setelah keluar, Bagus lebih leluasa menyerang teman Reza. Tak butuh waktu lama untuk membuat lawannya tak berdaya. Ia bermaksud membiarkan teman Reza menyerah dan menyuruhnya untuk pergi. Namun bukannya lari, teman Reza malah menyerang lagi ke arah Bagus.
Namun gerakkannya yang tak seimbang mampu dihindari oleh Bagus. Alhasil serangan teman Reza meleset. Ia malah terperosok jatuh ke jurang sedalam dua puluh meter karena tak mampu mengendalikan laju kakinya saat menyerang.
Bagus tak tahu teman Reza sudah mati atau belum. Ia tak bisa melihat ke dalam jurang karena terlalu gelap. Tanpa berpikir panjang, ia mendatangi Bulan yang masih duduk meringkuk di pojokan gubuk sambil menangis.
......................
__ADS_1