
Tiba di depan pintu gerbang rumah Tanu, Wijaya mendapatkan telpon dari pengasuh anaknya. Ia menelpon lantaran Xena berulang kali menangis dan tak mau berhenti. Ia merindukan Papanya karena sudah lebih dari sebulan ia tidak bertemu Papanya.
" Halo, Tuan Wijaya.. maaf saya mengganggu Anda." Ucap Ratri, pengasuh Xena sejak istri Wijaya meninggal.
" Ada apa Ratri? Kenapa tiba-tiba kau menelponku?"
" Maaf, Tuan.. saya mau bilang kalau Xena hari ini terus menangis dan tak mau berhenti. Saya sudah mencoba segala cara agar dia berhenti menangis, namun ia tetap tak mau tenang. Sepertinya dia merindukan Anda, karena sudah sebulan ini Anda tidak menjenguknya."
" Ah.. iya ternyata aku sudah sebulan lebih tidak menemuinya. Dimana dia, Ratri? aku mau bicara dengannya."
" Baik, Tuan. Tunggu sebentar. Xena, Papamu mau bicara denganmu." Bujuk Ratri.
" Papa.. kenapa sudah lama tidak melihat Xena? Papa tidak rindu kepadaku?" ucap Xena sambil menangis.
" Maafkan Papa, Xena. Papa sibuk sekali. Sabar ya, Nak. Besok papa akan pulang."
" Xena nggak mau. Papa harus pulang sekarang, kalau tidak Xena nggak mau makan."
" Xena, jangan begitu. Kalau tak makan, nanti kamu akan sakit. Tunggu Papa.. besok pasti, akan pulang."
" Aku nggak mau, Papa. Pokoknya Papa harus pulang hari ini. Jika nanti Papa nggak pulang, Xena tak akan pernah makan untuk selamanya."
" Baiklah, Xena.. Papa akan pulang. Bocah baru lahir saja sudah pintar ngoceh. Apalagi membujuk Papanya. Aduh.."
" Maaf, Tuan.. Xena itu pintar. Saya juga tidak tahu, dia pintar berbicara asalnya dari siapa. Tapi, dia tidak pernah bertemu siapapun selain saya."
" Dia memang menuruni sifat Mamanya. Dia sama dengan Kakaknya. Seandainya dia masih hidup, lengkap sudah hidupku."
" Tuan, mungkin saja Vina telah menjelma menjadi Xena. Sifat dan kecantikkannya menyatu dengan Xena. Kelak jika dia sudah besar, pasti takkan kalah menariknya dengan Vina."
" Aku berharap begitu, Ratri. Setidaknya Xena bisa mengobati rasa rinduku pada Mama dan kakaknya."
" Kalau begitu, lebih baik Tuan segera pulang. Kasihan Putri Tuan. Saya juga tidak bisa berbuat apa-apa jika dia sudah memanggil-manggil Papanya."
" Baiklah, Ratri. Aku akan pulang sekarang. Katakan pada Xena, Papa akan segera pulang."
Wijaya menutup telponnya. Sebentar, ia melihat ke arah rumah Tanu sebelum ia pergi meninggalkan tempat itu.
" Tanu.. tunggu pembalasanku! Kematian Putriku, harus kau ganti dengan nyawamu!" Teriak Wijaya dari luar Gerbang rumah Tanu. Lalu pergi melompat dengan sangat cepat, lalu berlari secepat angin.
Teriakan Wijaya membuat seisi rumah berhamburan keluar, melihat siapa yang berteriak di luar pagar.
Raka berlari keluar dan membawa sebatang kayu balok lalu membuka pintu pagar dan bersiap memukul.
Bukan mengenai orang yang berteriak, tetapi Raka malah memukul tempat kosong.
" Brakkk..." Tak ada siapapun yang dipukul, Raka hanya mengenai tanah.
Raka terkejut setengah mati, karena tak ada siapapun disana. Ia malah terperosok dan jatuh di tempat yang becek.
" Aduhh..." teriak Raka.
Riko dan Bulan berlarian mendatangi Raka. Bukannya menolong, mereka malah mentertawakan Raka yang sekujur tubuhnya penuh dengan lumpur.
" Hahaha.. kamu kenapa, Raka? Siapa yang membuatmu menjadi seperti ini?" Ledek Riko sambil tertawa terkekeh.
" Kalian memang tak punya hati. Bisa-bisanya aku terjatuh, kalian malah mentertawakanku. Memangnya aku pemain opera. Aku tidak sedang melucu. Huhh.."
__ADS_1
" Hahaha.. makanya jadi orang jangan sok pemberani. Begini jadinya, kalau kebanyakan tingkah." Bulan ikut-ikutan meledek kakaknya.
Tak terima dengan hinaan saudara-saudaranya, Raka mengambil segenggam lumpur lalu melemparkannya ke arah Bulan dan Riko.
" Kakak! Itu lumpurnya jorok.. Awas ya, aku balas lagi." teriak Bulan, lalu dia ikut mengambil lumpur lalu menempelkannya di muka Raka.
" Bulan! aku cuma mengenai bajumu, bukan muka. Akhhh, mataku jadi pedih."
" Salah sendiri.. Kakak yang mulai duluan."
" Bulan.. awas..." teriak Raka lalu mendorong tubuh Bulan hingga terjatuh. Sekarang, tubuh Bulan juga penuh dengan lumpur.
Riko tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan adik-adiknya. Ia tak tahu harus melakukan apa, karena Raka dan Bulan sama-sama meminta tolong padanya untuk membantu membalaskan kekesalan mereka.
Tanu, Rani dan Tama ikut keluar, melihat apa yang terjadi. Ketika Tama tiba didepan gerbang, Ia tiba-tiba tertawa keras. Melihat kakaknya yang penuh lumpur seperti makhluk aneh.
" Tama.. kenapa kau ikut-ikutan menertawakan kami?" ucap Bulan jengkel.
Tama malah semakin tertawa terbahak-bahak melihat kakaknya memarahinya. Ia pun mulai merasa tenang kembali karena kakak-kakaknya sudah tidak berdebat lagi seperti tadi.
...----------------...
Menunggu kedatangan Papanya, Xena tampak terlihat senang. Ia merasa rindunya akan terobati jika Wijaya pulang. Sebenarnya Vina dan Xena mempunyai sifat yang sama. Mereka berdua sangat menyayangi Wijaya. Menjadikan mereka menjadi anak yang manja. Namun karena Vina terbiasa ditinggal oleh Wijaya, ia menjadi orang yang mandiri. Hingga akhir hayatnya ia meninggalkan banyak uang di tabungannya.
Seharian menunggu Wijaya yang belum juga tiba, tubuh Xena sudah terlihat lemas, namun ia belum juga mau makan. Ratri merasa kewalahan dengan sikap Xena.
"Xena, Papamu akan segera pulang. Sekarang, ayo kita makan. Nanti kamu sakit."
Xena menggeleng-gelengkan kepalanya, ia lalu berkata pada Ratri, " Aku tidak mau makan sebelum Papa pulang."
" Aduh.. Xena, lihatlah dirimu.. kamu itu terlihat pucat. Bibi mohon, jangan bandel. Ayo kita makan, aku akan menemanimu."
" Kalau tidak mau makan, Bibi akan pergi. Silahkan kamu cari Bibi yang lain."
" Nggak mau.. aku cuma mau sama Bibi Ratri."
" Ya sudah.. kalau mau sama Bibi, ayo makan. Kasihan perutmu.. dari tadi bibi dengar, perutmu bunyi terus."
" Biarkan saja perutku bunyi. Aku mau makan ditemani Papa."
" Misalnya Papamu nggak datang, apa kamu akan terus seperti ini?"
" Dia pasti datang.. Papaku pasti datang. Bibi nggak perlu menakut-nakutiku."
" Bibi itu bukan menakut-nakuti. Malahan, sebenarnya Bibi itu yang takut kamu kenapa-kenapa, Xena. Semenjak Bibi menjadi pengasuhmu, Bibi sangat senang sekali ketika pertama kali melihatmu. Rasanya, Bibi seperti menemukan sebongkah berlian yang berkilauan. Kamu itu sangat luar biasa, Xena.
Hingga sekarang kamu berumur dua tahun, Bibi merasa dekat sekali denganmu. Berat rasanya, jika suatu saat kita akan berpisah."
"Memangnya Bibi mau kemana?"
" Bibi nggak kemana-mana.. Maksud Bibi, kelak jika kau sudah besar, dan pastinya.. Papamu sudah tak membutuhkan Bibi lagi. Mau tak mau Bibi harus meninggalkan rumah ini. Meninggalkan kamu. Bibi akan merasa sangat bersedih jika kita sudah tak bertemu lagi, Xena."
" Bibi jangan bersedih, Xena akan meminta Papa untuk terus mempekerjakan Bibi disini."
" Terima kasih, Xena. Sekarang bibi merasa lega."
" Bi, Xena sayang sama Bibi." ucap Xena lalu memeluk Ratri dan menangis.
__ADS_1
" Bibi juga sayang sama kamu, Xena. Sudah, jangan menangis. Kalau begitu ayo kita makan. Nanti kalau Papamu datang, kamu tidak lemas. Papamu juga tidak sedih melihatmu."
" Baiklah, Bi.. Xena mau makan sekarang."
Ratri bernafas lega. Akhirnya Xena terbujuk olehnya. Dia sangat beruntung mendapatkan asuhan yang tidak membuatnya pusing. Semakin hari benih keibuannya telah tumbuh. Ia semakin bisa mengendalikan Xena. Meskipun Wijaya seorang penjahat, tetapi Ratri tak ingin anak asuhnya berperilaku sama seperti Wijaya.
Ia selalu mengajarkan hal-hal yang baik kepada Xena. Ia juga mengajarkan hal yang dilarang oleh negara ataupun agama. Dengan kesabarannya dalam mendidik Xena, kini Ratri menemui hasilnya. Xena menjadi anak yang cerdas, dan pandai. Xena juga tahu mana yang dilarang dan mana yang diperbolehkan meskipun ia baru menginjak usia dua tahunan.
...----------------...
Menjelang tengah malam, terdengar suara orang mengetuk pintu di rumah Ratri. Xena mencoba membangunkan Ratri, namun usahanya tak berhasil. Suara ketokan pintu tak kunjung berhenti hingga membuat Xena merasa terusik. Ia pun bangkit dari tempat tidurnya lalu keluar kamar untuk melihat siapa yang tengah malam mengetok pintu.
" Papa..." ucap Xena ketika ia tahu, Wijaya sudah berada di depan pintu.
" Xena... kamu belum tidur?" ucap Wijaya sembari mengusap-usap rambut Xena.
" Belum.. Xena kangen sama Papa." Ucap Xena lalu dengan cepat memeluk Wijaya.
" Maafkan Papa, sayang. Papa baru bisa pulang. Kerjaan Papa banyak, dan tidak bisa ditinggal. Makanya, Papa baru bisa pulang malam ini."
" Papa, uang kita banyak. Kenapa Papa masih bekerja hingga tak pulang. Xena kesepian."
" Lho, kan sudah ada Bibi Ratri. Kenapa kamu masih merasa kesepian?"
" Tapi jika ada Papa, rasanya lengkap hidup Xena."
" Lengkap bagaimana maksudmu?" Tanya Wijaya sembari memegang kedua pundak Xena dan menatap mata Xena dengan hangat.
" Maksudnya.. kalau ada Papa dan Bibi, rasanya Xena seperti mempunyai orang tua yang masih utuh. Pa.. kenapa Papa tak menikahi Bibi Ratri saja? Dia sangat baik kepadaku. Dia sudah seperti Ibu kandungku sendiri."
" Xena, maafkan Papa. Kalau soal itu Papa tak bisa." Ucap Wijaya sembari menundukkan kepalanya.
Tanpa disadari, Ratri telah terbangun dan mendengar pembicaraan Wijaya dengan Xena. Sejenak hati Ratri menjadi sesak. Dari awal, dia sudah menyukai Wijaya. Mendekatinya, dan menjadi pengasuh Xena adalah upaya dirinya agar bisa lebih dekat dengan Wijaya, dan berharap bisa merubah sifat Wijaya. Namun ia tersadar, Ia takkan pernah mendapatkan hati Wijaya.
" Kenapa, Papa? Bibi Ratri itu orang yang baik, pintar, cerdas. Bibi juga cantik, berpendidikan tinggi. Apa Papa nggak mau mempunyai istri seperti dia?"
" Xena, kamu tak tahu apa-apa. Sebaiknya jangan mengurus urusan Papa. Kau masih kecil, tidak perlu memikirkan masalah orang dewasa."
" Tapi ini demi kebaikan kita, Papa kesepian kan, jika tak ada seorang wanita disamping Papa. Xena juga sama. Jika tak ada seorang Ibu disamping Xena, bakal merasa kesepian juga. Apalagi Papa sering pergi jauh dan tak pulang-pulang."
" Xena, kamu itu baru usia dua tahun tapi kenapa kau pandai mengoceh. Sudah, jangan memikirkan itu. Sekarang Papa mau tanya."
" Tanya apa, Pa?"
" Apa kamu sudah mengantuk?"
Xena menggelengkan kepalanya lalu bertanya pada Wijaya. " Memangnya kenapa kalau Xena belum mengantuk?"
" Kalau belum mengantuk, Papa akan bawa kamu jalan-jalan. Mau tidak?"
" Mau, Pa.. Jalan-jalan kemana?"
" Pokoknya ke tempat yang sangat indah. Nanti kau akan tahu sendiri. Ayo.."
" Baik, Papa.. ayo.."
Wijaya pun membawa Xena keluar dari rumah Ratri. Tanpa berpamitan pada Ratri, Wijaya bergegas membawa Xena berjalan kaki melalui jalan setapak.
__ADS_1
Perlahan Ratri keluar dari kamarnya lalu melihat ke arah luar. Dia melihat Wijaya berjalan di keheningan malam membawa Xena pergi ke suatu tempat.
......................