SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
MULAI WASPADA


__ADS_3

Sore hari ketika hujan turun dengan lebatnya, Rani menyempatkan diri untuk membicarakan tentang kejadian yang dialaminya tadi pagi kepada suaminya.


" Ayah, tahu tidak tadi pagi ada orang asing datang ke rumah ini hendak merebut semuanya dari kita."


" Maksud Ibu?" Tanya Tanu sembari meminum kopi buatan istrinya.


" Tadi ada orang bertubuh kekar datang kemari. Dia menanyakan rumah dan lahan di puncak bukit sini itu, milik siapa."


" Siapa Bu? Apa Ibu mengenalnya? Merebut apa? Kenapa berani sekali main rebut saja."


" Beruntung tadi ada mas Wira yang datang menyelamatkan Ibu. Ibu tidak mengenalnya. Tapi kata mas Wira orang itu Wijaya teman sekelas kita."


" Apa?" Ucap Tanu lalu tiba-tiba tubuhnya gemetaran lalu keringat dingin mengalir di sekujur tubuhnya.


" Kenapa dia bisa tahu rumah kita Bu? Dan apa yang dia inginkan disini? Apa dia mengganggu Ibu?"


" Ayah, tadi dia bilang mau membeli tanah kita dengan harga berapapun yang kita inginkan. Namun Ibu menolak, Ibu bilang tak akan pernah menjualnya kepada siapapun dan sampai kapanpun. Tapi dia tetap bersikeras untuk memiliki tempat ini. Yang membuat Ibu syok ketika dia mencoba melompati pagar rumah kita.Lalu berniat ingin memaksa Ibu melayaninya. Ibu nggak tahu harus berbuat apa jika dia benar-benar melakukannya pada Ibu. Untung mas Wira datang menyelamatkan Ibu." Ucap Rani sembari menangis dan memeluk suaminya.


" Apa?? Wijaya! Jadi kelakuanmu sebejat itu. Ayah tak akan membiarkan ini terjadi lagi Bu. Ayah harus melakukan sesuatu."


Meskipun dilanda ketakutan, namun Tanu masih bisa merasakan emosinya yang memuncak. Dia berniat untuk membalas perbuatan Wijaya agar Wijaya tak mengganggu keluarganya lagi. Tetapi dia tak tahu apa yang harus dia lakukan.


" Ibu, tenanglah. Besok jika dia kembali kesini lagi, Ayah akan memberi pelajaran kepadanya."


" Tapi bagaimana kalau dia datang disaat Ayah nggak dirumah? Ibu takut Ayah. Berikan Ibu ilmu agar Ibu bisa melawannya. Ibu juga harus bisa membela diri Ayah."


" Sudah terlambat Ibu. Tak mungkin Ibu akan menguasainya dalam waktu yang singkat. Wijaya bukanlah Wijaya yang kita kenal dulu. Semenjak patah hati kepada kita, dia pergi dari kota ke kota lain untuk menimba ilmu. Berguru pada orang yang kuat di daerah-daerah yang dia singgahi. Setelah mendapatkan semuanya, lalu dia bergabung dengan mafia mafia kejahatan. Dan pada akhirnya, setelah apa yang dia inginkan sudah dia dapat, Wijaya membunuh Bos mafia itu Bu. Sekarang dia adalah Bos mafia nomer satu di negeri ini."


" Lalu bagaimana kalau dia kembali dan mencoba menculik anak-anak kita."


" Itu yang Ayah khawatirkan Ibu. Mudah-mudahan ini bukan awal dari apa yang terjadi di mimpi kita Bu."


" Apa jangan-jangan mimpi yang kita alami ada kaitannya dengan Wijaya? Jika benar, Ibu semakin takut Ayah. Lebih baik kita berjaga-jaga. Atau kita pindah rumah saja. Disini sudah tak aman bagi Ibu."


" Ibu, kita mau pindah kemana? Dimanapun kita berada, Jika benar Wijaya mengincar keluarga kita, pasti dia akan dengan mudah menemukan kita. Ibu tak perlu terlalu cemas. Yang penting kita sudah mendapatkan jawaban dari teka teki mimpi kita. Yang terpenting sekarang kita hanya perlu menghindari Wijaya saja."


" Tapi bagaimana kalau dia kembali kesini lagi dan membawa anak buahnya. Apa Ayah sanggup menghadapinya. Kita harus meminta bantuan polisi, Ayah."


" Ibu ada benarnya juga. Tetapi apa kita harus menaruh Polisi disini setiap hari untuk berjaga? Itu tidak mungking Bu. Kita tidak tahu kapan Wijaya akan datang lagi kemari."

__ADS_1


" Tapi Ibu takut sekali Ayah, jika ingin merebut tanah kita itu masih mending karena dia akan membayarnya dengan harga berapapun. Lalu bagaimana jika dia meminta Ibu menjadi pelayan nafsunya Ayah? Kita tahu, dahulu dia juga berkeinginan untuk memiliki Ibu."


" Ini sungguh gila. Kenapa semakin tua, Wijaya semakin tidak waras. Ini sangat berbahaya sekali Bu. Kita harus segera meminta pertolongan pada Mas Wira secepatnya agar menjaga tempat kita."


" Iya, tadi juga Ibu sudah memintanya Ayah. Namun dia tidak bisa meninggalkan istrinya sendirian. Tapi dia akan terusmengamati pergerakan Wijaya. Mas Wira juga meminta bantuan bekas anak buah Wijaya yang bertolak belakang dengan Wijaya."


" Anak buah? Maksud Ibu Bono?" Tanya Tanu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan berharap dugaanya benar.


" Iya Ayah, namanya Bono. Apa Ayah mengenalnya?"


" Ayah pernah bertemu sekali dengannya, Ibu. Mas Wira juga pernah bercerita tentangnya ketika masih menjadi anak buah Wijaya. Dia juga yang dulu membantu Wijaya menggulingkan kekuasaan Rendra. Mafia kejahatan terkuat di negeri ini."


" Mafia terkuat berhasil dia gulingkan? Berarti Wijaya dan Bono itu sangat kuat Ayah. Ibu jadi merasa bingung. Membandingkan kekuatan Bono dan Wijaya."


" Ibu, kata Mas Wira Bono dan Wijaya sama-sama memiliki kekuatan yang sangat besar. Namun Wijaya lebih unggul. Tetapi seharusnya Bono bisa lebih kuat dari Wijaya, kalau dia sering melatih ilmu bela dirinya."


" Lalu, apakah Bono sampai saat ini masih berlatih Ayah."


" Ayah tidak tahu Bu, Ayah juga belum bertemu dengannya. Tapi saat ini istrinya sedang hamil dan dia tinggal di lereng puncak bukit barat milik mas Wira."


" Oh dia tinggal disana ya. Kenapa Ibu nggak pernah dengar tentang dia?"


" Dia menikahi anak gadis warga di situ Bu. Orangnya cantik, dan dia sedang hamil. Usia kandungannya hampir sama dengan Mas Wira."


" Ibu benar, tak ada salahnya kita berikhtiar. Mudah-mudahan ini jalan yang terbaik. Orang itu mau membantu kita."


" Ya sudah kalau begitu kita segera saja pergi ke sana Ayah. Ibu takut kalau kelamaan, keburu Wijaya datang kemari lagi."


" Besok saja Bu, sekarang sedang hujan lebat. Lagipula Wijaya takkan kembali secepat itu Ibu. Untuk sementara ini kita aman."


" Baiklah kalau begitu. Ibu mau lihat Rama dahulu, tadi dia sedang tidur. Hujan petir begini biasanya dia terbangun. Tapi Ibu belum mendengar suara tangisannya. Ibu lihat ke kamar dulu, Ayah."


" Iya Bu.."


Hingga malam hari, hujan belum juga berhenti. Di rumah Rika, Bono dan Wira sedang berbicara di teras ditemani dua cangkir kopi hitam dan sepiring pisang goreng hangat buatan Rika.


Meskipun masih dalam satu wilayah, Wira jarang sekali bertemu dengan Bono. Kali ini dia menyempatkan diri untuk menemuinya membahas tentang kedatangan Wijaya di rumah adiknya.


" Pak Wira, saya sangat senang Anda datang kemari. Disini sepi tak ada orang yang bertamu selain Anda. Saya juga kadang merasa suntuk sekali jika Rika sudah tidur. Padahal saya susah sekali untuk tidur lebih awal."

__ADS_1


" Haha, kamu bisa saja Bono. Oiya aku kemari karena ada sesuatu yang ingin ku bicarakan denganmu. Ini masalah yang sangat penting, sangat berbahaya dan ini sangat mengancam."


" Eh, maaf Pak Wira. Ini soal apa? Saya kurang paham. Apa yang sebenarnya terjadi. Apa saya terlibat dalam masalah ini Pak Wira?"


" Bukan begitu. Ini sebenarnya tak ada hubungannya denganmu.Tetapi ini juga wajib melibatkanmu dalam persoalan ini."


" Pak Wira, sebaiknya langsung saja. Saya malah menjadi bingung karena Anda tidak segera berbicara ke inti permasalahannya."


" Baiklah Bono, aku akan berbicara. Tadi pagi di rumah adikku, kedatangan tamu seorang laki-laki bertubuh kekar dan mencoba masuk ke rumah Adikku dan mencoba untuk memperkosanya. Kau tahu siapa dia?"


" Eh, bukan saya Pak Wira. Saya tak tahu apa-apa. Saya tidak kemana-kemana seharian ini. Anda boleh menanyakannya pada Rika, jika tidak percaya."


" Aku tidak menuduhmu Bono. Aku hanya ingin kamu menebak siapa dia."


" Pak Wira, Saya tidak tahu karena saya tidk berada disana. Maaf Pak Wira, saya sudah berterus terang."


" Aduh, kamu sangat lugu Bono. Baiklah, aku takkan bertanya lagi. Aku akan memberitahumu langsung. Orang yang ju sebutkan tadi, dia adalah Wijaya."


" Apa? Wijaya? Kurang ajar! Berani sekali dia mengganggu ketentraman di daerah sini. Aku harus memberi perhitungan dengannya."


" Sabar dulu Bon, sekarang ini tak mungkin dia masih ada disini. Aku yakin dia sudah kembali ke markasnya untuk memulihkan tenaganya. Mereka pasti juga sedang menyusun rencana untuk balas dendam dan mempertahankan keinginannya untuk merebut tempat dan adikku."


" Baik Pak Wira, tapi sebelum itu saya harus mengasah kemampuan saya. Saya sudah lama tak berlatih ilmu tenaga dalam. Tetapi takkan butuh waktu lama untuk mengasahnya."


" Jadi apa kamu akan membantu kami Bono?"


" Saya siap membantu kapanpun Pak Wira. Apalagi ada kaitannya dengan keluarga Anda. Saya takkan membiarkannya lolos."


" Terima kasih Bono, pasti adikku senang mendengar berita ini. Aku akan pergi ke rumah adikku untuk memberitahukan kepadanya kalau kau bersedia membantu."


" Jangan malam ini Pak Wira. Ini sudah malam dan juga masih turun hujan. Sebaiknya besok pagi saja jika ingin kesana. Saya yakin mereka juga sudah pada tidur."


" Baiklah Bono, aku akan kesana besok. Kalau begitu kita nikmati dulu kopi hitam buatan istrimu in"


" Oh silahkan Pak. Maaf saya malah lupa menawarkan. Ayo buruan dimimum sebelum menjadi dingin."


" Iya Bono. Mari kita minum bersama. Rasanya lebih nikmat jika makan dan minum bersama-sama seperti ini. "


" Hehe memang benar Pak Wira. Dari dulu saya memimpikan hal seperti ini."

__ADS_1


Malam semakin meninggi, hujan pun belum juga reda. Wira dan Bono masih terlihat asyik bercerita dan bercanda, tentang kenangan masa lalu mereka. Namun dibalik itu semua ada sesuatu yang sedang mengancam jiwa salah satu diantara mereka.


......................


__ADS_2