SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
Berjuang Melewati Masa Kritis


__ADS_3

Setelah menerima uang dari Bono, Bejo berlalu begitu saja meninggalkan Bono tanpa sepatah katapun. Malah, ia seperti mengomel sendiri sembari berjalan.


Bono hanya bisa menggelengkan kepalanya berkali-kali melihat kelakuan Bejo. Lalu seorang Ibu-ibu tua berkata kepadanya.


" Mas, jangan hiraukan orang itu. Dia itu menderita gangguan jiwa. Jadi, jangan kaget jika sikapnya seperti itu." ucap Ibu tua itu.


" Oh.. dia itu orang gila, Bu? Pantas saja. Sebelumnya, saya juga merasa apakah orang itu waras atau tidak. Saya tadi merasa kesal kepadanya. Untung saja saya bisa meredam amarah saya. Jika saya melakukan sesuatu kepadanya, saya akan sangat menyesal." ucap Bono.


" Dia itu tetangga saya, Mas. Namanya Bejo. Dia juga belum lama mengalami gangguan jiwa. Petugas-petugas sini sudah hapal padanya. Namun walaupun dia gila, tapi dia punya perilaku yang cukup baik."


" Oh, begitu ya Bu. Kalau boleh saya tahu, apa penyebab Pak Bejo itu mengalami gangguan jiwa?"


" Oh, maaf Mas.. Saya tidak bisa mengatakannya. Ceritanya terlalu panjang. Saya malas untuk mengatakannya."


" Kalau begitu saya minta maaf, Bu. Mungkin ada sesuatu yang memang harus ditutup-tutupi."


" Bukannya saya tak ingin bicara dan menutup-nutupi, Mas. Tapi karena ceritanya susah untuk dijelaskan dengan kata-kata."


" Iya sudah kalau begitu, Bu. Jangan ceritakan lagi. Nanti Ibu malah pusing." ucap Bono sembari tersenyum tipis.


" Hehe.. Baik, Mas. Kalau begitu saya permisi dulu. Saya mau pulang. Saya juga ingin menanyakan sesuatu pada Bejo.


" Silahkan, Bu. Hati-hati di jalan ya. Oh, mau menanyakan apa Bu. Sepertinya penting sekali. Apa orang itu masih bisa menanggapi ucapan kita dengan baik?"


" Terima kasih, Mas. Masih kok, Mas. Dia masih bisa diajak bicara. Tapi terkadang omongannya ngelantur."


" Ya sudah Bu, kalau begitu silahkan. Sebelum dia pergi jauh."


" Ia, Mas. Saya itu hanya penasaran. Siapa bocah yang dia bawa tadi. Sepertinya bocah itu mengalami kritis."


" Apa Ibu bilang? Bocah, kritis? Apakah anaknya Pak Bejo, Bu?"


" Bukan, Mas. Dia belum berkeluarga. Saya juga tidak tahu bocah itu siapa. Dan saya juga tidak tahu dimana dia menemukan bocah itu. Kasihan sekali bocah itu, untung ada Bejo yang membawanya kemari."


" Bocah.. Kira-kira usia berapa, Bu? Laki-laki atau perempuan?" tanya Bono karena penasaran.

__ADS_1


" Laki-laki, Mas. Kira- kira usianya dua setengah tahun lebih."


" Eh, lalu dimana bocah itu sekarang, Bu?"


" Dokter sedang menanganinya, Mas. Coba saja Anda cari tahu pada Ibu petugas disana. Barang kali mereka mempunyai data-data tentang bocah itu."


" Baik, Bu. Saya akan bertanya padanya. Terima kasih Bu, Saya permisi dulu. Saya penasaran ingin melihat bocah itu."


" Baik, Mas. Saya juga mau pergi dulu." ucap Ibu tua itu.


Bono dengan segera menghampiri petugas jaga di rumah sakit, lalu menanyakan tentang keadaan bocah yang di bawa Bejo itu, kepada suster penjaga.


" Maaf, Sus.. Kalau boleh saya tahu. Tadi ada orang gila kemari membawa seorang bocah kecil. Apa Ibu tahu identitasnya? Katanya Orang itu menemukannya di jalan dalam keadaan lemas?"


" Benar, Mas. Sekarang anak itu sedang di rawat dan di beri penjagaan ketat oleh beberapa dokter ahli."


" Beberapa Dokter ahli? Memangnya dia sakit apa, Suster?"


" Saya tidak tahu, Mas. Sepertinya dia sangat kelelahan. Dia juga kedinginan. Kata Dokter, dia juga mengalami gisi buruk. Lambungnya mengempis dan mengecil karena kurang asupan makanan dan minuman."


" Ya Tuhan.. anak siapa dia, Suster? Kenapa dan dimana orang tuanya. Apakah dia dibuang oleh orang tuanya?"


" Apa?! Tama.. Oh, dimana anak itu sekarang, Bu? Saya harus segera bertemu dengannya. Saya harus melihat kondisinya sekarang."


" Anak itu sedang di tangani oleh Para Dokter, Pak. Sebaiknya jika ingin bertemu dengannya, menunggu ada perwakilan Dokter yang keluar kemari memberitahu kondisi Tama seperti apa."


" Tama itu anak majikan saya, Suster. Saya ingin sekali bertemu dengannya. Kasihan dia, Suster. Orang tuanya sudah tidak ada. Kini dia hidup sendiri."


" Jadi, Pak Tanu dan Bu Rani sudah meninggal, Pak? Sejak kapan?" Suster terkejut mendengar kata dari Bono.


" Baru beberapa hari kemarin, Suster. Seluruh keluarganya dibunuh oleh orang jahat yang kejam!"


" Ya, Tuhan.. Siapa yang tega melakukan itu pada keluarga Pak Tanu? Kasihan anak itu. Kondisinya benar-benar sangat mengkhawatirkan."


"Saya juga sangat mengkhawatirkannya, Suster. Dia sama seperti saya. Ditinggalkan pergi oleh kedua orang tua saya. Mereka meninggalkan saya untuk selama-lamanya. Bukan karena sakit, tapi juga karena dibunuh oleh kelompok orang jahat."

__ADS_1


" Saya ikut berduka cita, Pak. Maaf telah membuat Anda mengingat masa lalu. Lalu bagaimana jika ada apa-apa dengan anak itu? Apa tak ada sanak saudara yang bisa dihubungi?"


" Tidak ada, Sus.. Pak Tanu terlahir sebagai anak tunggal. Bu Rani memiliki saudara, namun juga sudah meninggal. Tak ada yang bisa dihubungi lagi. Soal anak itu, saya yang akan bertanggung jawab."


" Terima kasih, Pak. Saya senang sekali. Awalnya saya sangat merasa sedih, kenapa ada anak yang kondisinya sangat kritis, tetapi ada orang gila datang kemari membawa anak itu. Saya tidak tahu, dimana orang gila itu menemukan bocah itu. Saya sangat syok ketika pertama melihatnya. Otang mana yang setega itu membiarkannya sendirian dan dalam keadaan yag sangat lemah. Saya sempat mengutuk orang tua anak itu."


" Suster tak perlu mengutuk orang. Apalagi Suster tak tahu kejadian yang sebenarnya. Sekarang Suster sudah tahu, kan kejadian yang sesungguhnya."


" Iya, Pak. Saya sudah mengerti sekarang. Maafkan atas sikap saya, Pak."


" Tak apa, Sus.. Kalau begitu saya akan memberi tahu teman saya dulu. Ada yang ingin saya bicarakan dengannya. Pernisi, Sus.."


" Oh.. ya silahkan, Pak."


Bono kemudian meninggalkan Suster itu lalu bergegas berlari menuju ruang tunggu di depan kamar tempat merawat Arti. Ia menemui Bara yang saat itu sedang menelpon istrinya.


" Bara.. Bar.." panggi Bono dengan nafas terengah-engah.


" Ada apa, Bon. Kenapa ngos-ngosan begitu?"


" Tama.. Sekarang keadaanya kritis dan sedang di rawat diruangan khusus di rumah sakit ini."


" Apa? Darimana kamu tahu Tama berada disini? Dimana dia sekarang?"


" Dia sedang dirawat di ruangan khusus di sebelah sana."


" Kalau begitu, ayo kita kesana. Aku juga sangat mengkhawatirkannya."


" Dokter sedang menanganinya. Jadi ku belum bisa melihatnya."


" Tak apa-apa, setidaknya aku sudah bertemu dengannya untuk menghilangkan rasa rinduku. Beberapa kali aku memimpikannya. Dia terus berteriak dan memanggil keluarganya. Aku sangat sedih. Aku ingin menolongnya tapi dia berlari jauh tapi aku tak bisa mengejarnya." ucap Bara sembari berjalan setengah berlari mengikuti Bono.


Sementara itu, Tama yang sedang berjuang melewati masa kritisnya masih dalam penanganan dokter. Kondisinya sudah sangat lemah. Tulang-tulang di kaki dan tangannya agak membiru karena kelelahan. Ia juga mengalami sesak nafas sehingga ia harus bernafas dibantu dengan oksigen.


Tubuhnya yang kecil kini terbaring di ranjang besar di rumah sakit dan di tunggu oleh beberapa Dokter ahli. Menurut mereka Tama mengalami banyak sekali permasalahan dalam tubuhnya. Selain sesak nafas, lambung tama juga mengempis karena tak terisi asupan makanan. Beberapa Dokter sempat frustasi dalam menangani Tama. Beruntung salah satu Dokter senior memberikan mereka semangat agar jangan sampai menyerah.

__ADS_1


Hingga satu jam berlalu, Dokter yang menangani Tama belum juga keluar dari ruangannya. Bono dan Bara sudah sangat gelisah menunggu kabar dari Dokter, tentang kondisi Tama saat ini.


......................


__ADS_2