SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
PEMBAKARAN RUMAH TANU


__ADS_3

Pukul Dua malam, hawa dingin mulai seperti menusuk kedalam tulang. Arti merasa tubuhnya kedinginan. Ia pun terbangun dan melihat kondisi anaknya.


Khalid tertidur dengan pulas. Sepertinya dia merasakan kelelahan yang berat karena seharian berjalan dari terminal menuju ke rumah Rani sebelum mobil Polisi membawanya.


Tak lama kemudian, terdengar suara mobil dan sorot lampu mobil yang berjalan pelan dari kejauhan. Arti merasa hatinya tak nyaman. Ia lalu membangunkan Khalid dan mengajaknya bersembunyi di rerumputan di samping rumah Tanu.


" Ayo cepat bakar rumah itu! Sebelum orang-orang kembali datang ke rumah ini lagi. Cepat!!!" teriak salah satu orang yang pertama kali keluar dari mobil.


Empat orang laki-laki bertubuh kekar-kekar keluar dari mobil sembari menenteng jirigen berisi bensin. Mereka lalu berbagi tugas menyirami rumah Tanu dengan bensin.


Rasanya Arti ingin menjerit dan berteriak minta tolong, namun ia tak ingin teriakkannya mengundang perhatian ke empat orang tak dikenal itu.


Setelah seluruh rumah Tanu dihujani dengan bensin, Salah satu pimpinan rombongan mobil itu menyalakan korek api lalu melemparkannya ke atas genangan bensin.


" Boooommm!!!"


Terdengar suara ledakan keras dari rumah Tanu. Dan seketika itu, api merambat ke seluruh rumah Tanu. Lalu sekelompok orang yang membakar rumah Tanu, bergegas pergi dan melajukan mobil mereka dengan sangat cepat.


Arti keluar dari persembunyiannya dan berteriak menangis dengan keras.


" Tama!!! Tama!!!"


Air matanya tumpah seperti air hujan yang deras membanjiri pipinya. Ia bersujud sembari mendekap Khalid yang kebingungan karena tak tahu apa yang harus ia lakukan.


" Ibu.. barang-barang kita ikut mereka bakar?" tanya Khalid.


" Iya, Nak.. semua yang kita punya habis. Kita tidak punya apa-apa lagi sekarang." jawab Arti sembari mengusap air matanya yang terus mengalir.


" Lalu bagaimana dengan kita. Besok kita mau makan apa, Bu?"


" Khalid, Ibu tahu kamu khawatir kita akan makan apa besok pagi. Tapi Ibu.. Ibu.." Arti berkata dengan tersendat-sendat.


Dadanya terasa sangat sesak. Ia tak dapat melanjutkan kata-katanya. Peristiwa yang dialami sebelumnya sangat berat bagi dirinya. Kini ia kembali dengan hal yang sama, dan lebih berat lagi. Arti tak sanggup menahan itu semua. Perlahan tubunya lemas dan jatuh pingsan.


Khalid kebingungan melihat Ibunya pingsan. Ia menggoyang-goyangkan tubuhnya berkali-kali. Namun Arti tetap tak sadarkan diri.


...----------------...


Kebakaran di rumah Tanu membuat bumbungan asap melambung tinggi. Angin membawa asap itu melayang dan berhamburan ke arah barat.

__ADS_1


Sebagian warga Lereng Bukit Barat yang saat itu berada di luar untuk meronda, melihat kepulan asap tiba-tiba datang dari arah timur. Mereka lalu membunyikan kentongan dan berteriak membangunkan Para Warga.


Semua warga terbangun dan melihat ke luar rumah. Bono pun segera keluar dari rumahnya.


" Akhhh.. asap dari mana ini. Kenapa pekat sekali?" Bono bertanya-tanya. Ia lalu segera masuk ke dalam rumahnya dan membangunkan Rika yang sedang menemani tidur Putranya.


" Bu, ayo bangun.. diluar sedang kacau. Ayo bangun, cepat.."


Rika membuka matanya perlahan. Ia lalu duduk dan memeluk suaminya itu dengan lembut.


" Ada apa, Ayah.. kenapa membangunkanku?" tanya Rika sembari mencium Bono.


" Lihatlah.. rumah kita penuh dengan asap. Desa kita terkepung asap."


" Apa? asap darimana?"


" Aku juga tidak tahu. Ayo segera bawa Putra kita masuk ke dalam mobil. Lalu nyalakan AC nya. Tutup mobil rapat-rapat. Aku akan keluar untuk mencari tahu apa penyebabnya."


" Baik, Ayah.. cepat cari tahu siapa yang bakar-bakar hingga asapnya sampai kemari."


" Iya, aku akan segera mencari tahu."


" Ah, sepertinya asap ini berasal dari arah timur. Apa jangan-jangan..."


Bono behenti bergumam. Ia lalu dengan secepat angin berlari menuju ke arah sumber asap. Dengan hanya hitungan detik, Bono telah sampai di depan halaman rumah Tanu.


Ia terkejut, keringat dingin mengalir di sekujur tubuh. Tubuhnya lemas, dan seperti tak bertenaga.


" Ya Tuhan! siapa yang tega melakukan ini? Ini sungguh biadab! Tama.. bukankah Tama ada di dalam? Tama!!!" ucap Bono sambil berteriak memanggil Tama.


Ia hampir saja menerobos masuk ke dalam kobaran api rumah Tanu, namun ia mengurungkan niatnya karena ia mendengar suara tangisan anak-anak dari samping rumah Tanu.


Ia lalu mencari tahu asal suara tangisan itu. Betapa terkejutnya dia, ketika melihat Khalid yang duduk dan menangis di depan Ibunya yang terbaring.


" Khalid... ada apa dengan Ibumu?" tanya Bono ketika ia telah sampai di depan Khalid dan Ibunya.


" Aku tidak tahu, Paman. Ibu tiba-tiba jatuh dan tak mau bangun." jawab Khalid sambil menangis.


" Biar, Paman periksa dulu."

__ADS_1


Bono mencoba melihat keadaan Arti. Ia lalu mengeluarkan tenaga dalamnya untuk membantu menyadarkan Arti. Namun usahanya gagal. Arti sepertinya sudah sangat lemah. Ia pun lalu menelpon Bara untuk memberitahu keadaan yang sebenarnya.


" Khalid, Paman harus membawa Ibumu ke rumah sakit. Ibumu sangat lemah. Paman tidak bisa mengobatinya."


" Lalu bagaimana denganku, Paman. Apa Ibu sakit parah?"


" Paman tidak tahu, Khalid. Yang Paman tahu, Ibu kamu sedang mengalami depresi yang sangat berat. Mudah-mudahan tidak mengganggu kesehatannya."


" Lalu apa yang harus aku lakukan, Paman?"


" Tenanglah.. Ibumu akan baik-baik saja. Paman sedang menelpon Paman Bara untuk datang kemari dan menjemputmu. Dan Paman akan membawa Ibumu ke rumah sakit."


" Ibu akan baik-baik saja kan, Paman? Aku khawatir ditinggal Ibu sedirian."


" Tak perlu cemas, Khalid. Paman akan membantumu. Sebentar lagi Paman Bara akan datang dan menjemputmu. Kau juga akan bisa melihat kondisi Ibumu, nanti."


" Baik paman, terima kasih banyak.."


" Sama-sama Khalid. Nah itu mobil paman Bara datang. Dan ada juga mobil memadam kebakaran. Ayo, kamu lekas naik ke mobilnya. Paman akan segera membawa Ibumu lewat jalan lain."


" Baik, Paman." ucap Khalid lalu menghampiri mobil yang baru saja datang di halaman.


" Bara, aku tidak tahu bagaimana keadaan di dalam rumah. Dan bagaimana dengan Tama, aku juga tidak tahu. Bi Arti harus segera diberikan pertolongan. Jika kau sanggup, masuk ke dalam dan cari Tama sampai ketemu. Aku sangat mengkhawatirkannya. Tapi Bi Arti saat ini juga butuh bantuan. Kita bagi tugas, kau cari Tama dan aku akan bawa Bi Arti ke rumah sakit." Ucap Bono pada Bara sebelum akhirnya dia pergi dengan cepat di jalan setapak di kegelapan malam.


Bara menganggukan kepalanya dan bergegas masuk dalam kobaran api yang membara.


Pintu utama rumah Tanu telah terlebih dahulu rusak akibat kebakar, tak ada halangan berarti untuk masuk ke dalam rumah Tanu. Bara segera berlari menyusuri ruang-ruang di rumah Tanu yang terbakar.


" Dimana dia, Kenapa aku tak menemukannya? Di semua kamar pun tak ada. Apa dia di kamar mandi?" gumam Bara lalu mencoba berlari menuju bagian ruang belakang.


Disaat dia melangkahkan kakinya, balokan kayu dan rusuk yang terbakar jatuh dan hampir mengenai tubuhnya. Lalu ia dengan hati-hati mencari celah untuk bisa melewati kobaran api di depannya.


Ia lalu menyingkirkan balokan kayu di depannya dengan perlahan. Hampir saja dia mampu membuat jalan untuk dirinya , Petugas pemadam kebakaran berteriak dan langsung menyeret Bara dari dalam rumah.


" Mas!! jangan gegabah.. cepat keluar dari sini! Ini sanga berbahaya!"


Bara terkejut, ia ingin melepaskan tarikan tangan petugas pemadam kebakaran itu. Namun usahanya gagal. Ia terlebih dulu merasa tubuhnya lemas. Dan dia pun seketika pasrah dibawa keluar oleh dua orang petugas pemadam kebakaran.


......................

__ADS_1


__ADS_2