
Dalam perjalanan pulang kembali ke markas untuk menghindari Bono, langkah Wijaya terhenti karena Reza tersadar, dan memintanya berhenti.
" Bos, turunkan aku. Berhenti dulu.. kita mau kemana?"
" Tentu saja kita akan kembali ke markas, Reza. Lalu mau kemana lagi? Apa kau punya tempat lain untuk kembali?"
" Bos, apa Anda melupakan sesuatu?" tanya Reza.
" Apa? sesuatu apa, Za? jangan membuatku bingung."
" Satya, Bos. Anda meninggalkannya sendirian di tempat tadi. Kenapa Anda tak membawanya saja."
" Reza, dia sudah mati. Biarkan dia terkubur disana. Lalu apa yang ingin kau lakukan?"
" Bos! apa Anda tak mempunyai hati? Dia mati dalam melaksanakan tugas dari Bos. Dia menyelamatkan nyawa saya. Kenapa Anda membiarkannya begitu saja? Saya harus kembali kesana. Ada hal yang harus saya lakukan. Saya juga harus menguburkannya dengan baik, walaupun dia seorang penjahat."
" Reza! apa kau tak melihat kondisimu? Kedua kakimu patah. Apa yang bisa kau lakukan?"
" Saya tak peduli, yang penting saya harus membawanya. Dia berpesan pada saya, sebelum dia meninggal. Saya harus menyampaikan pesannya."
" Pesan apa, Za?" tanya Wijaya.
" Saya tidak bisa menceritakannya disini. Terlalu panjang untuk diceritakan. Yang penting saya harus kembali mengambil jasad Satya."
" Baiklah, Reza.. jika kau bersikeras untuk membawanya. Aku akan membawanya kemari untukmu. Kita akan membawanya pulang ke markas."
" Tidak, Bos. Dia harus dibawa ke tempat kakek saya. Pasti Kakek tahu tentang rahasia rajah di dada kanannya seperti yang saya miliki."
" Rajah? Kalian memiliki rajah yang sama?"
" Benar, kami adalah satu keluarga. Siapapun yang mempunyai rajah seperti yang kami miliki, dialah saudara kami yang terpisah."
" Lalu untuk apa Kau membawanya ke rumah kakekmu? Sudah jelas kan, kalau dia saudaramu. Apa lagi yang akan kau lakukan?"
" Bos, saya mohon bawa jasad Satya ke rumah kakek. Cepat.."
" Bocah sialan! Bisa-bisanya kau menyuruh Bosmu!"
" Maafkan saya, Bos. Sekali ini saja saya mengajukan permintaan pada Anda."
" Baiklah, Reza. Aku akan membawa Satya ke rumah Kakekmu. Tapi kau akan kubawa terlebih dahulu, kesana."
" Terima kasih, Bos. Terima kasih atas pengertiannya. Saya berjanji, akan selalu setia pada Bos. Apapun yang Bos suruh, saya akan kerjakan. Tapi, kaki saya.."
" Kau tak perlu cemas, Reza. Kau akan sembuh seperti sedia kala. Aku akan mencari obat untukmu. Tapi untuk sementara, kau biar dirawat dirumah sakit dahulu."
" Terima kasih Bos. Saya sangat senang. Saya tak menyesal mengikuti Anda."
" Diamlah, Reza.. aku akan membawamu ke tempat kakekmu."
Usai berkata, Wijaya dengan cepat berlari menuju rumah Harjo. Tak membutuhkan waktu lama, dalam lima menit mereka sudah tiba di rumah Harjo."
" Reza, ketuklah pintu rumah Kakekmu. Aku akan membawa Satya kemari."
" Baik, Bos. Saya akan mencobanya."
__ADS_1
Setelah Wijaya pergi, Reza mengetok pintu rumah kakeknya dengan keras. Sebenarnya, dia sudah tak pernah sudi untuk mendatangi Harjo. Namun karena menyangkut Satya, ia terpaksa mendatangi rumah Harjo untuk menyampaikan pesan Satya.
" Brakkk... brakkk... brakkk.." Beberapa kali Reza mengetok pintu rumah Harjo dengan cukup keras. Namun tak ada siapapun yang membukakan pintu.
" Sial.. dimana kakek brengsek itu. Kenapa tak keluar-keluar juga! Hei.. Orang tua, keluar! Ada yang ingin ku tanyakan kepadamu. Keluar!" Teriak Reza sembari menggebrak-gebrak pintunya.
" Andai saja tubuhku masih mampu, aku bisa saja mendobraknya. Kurang ajar! membuatku marah saja.. Dasar tua bangka!"
Beberapa menit kemudian, Wijaya telah sampai di depan rumah Harjo dengan membawa jasad Satya.
" Reza.. dimana kakekmu? apa kau sudah mengetok pintunya?" tanya Wijaya sembari meletakkan jasad Satya di lantai teras rumah Harjo.
" Saya tidak tahu Bos.. semoga saja dia sudah mati membeku didalam. Hahaha.."
" Jika dia mati, maka teka-teki rajah yang ada pada Satya, tak akan bisa terpecahkan. Coba, ketok sekali lagi yang lebih keras. Mungkin saja telinganya sudah berkurang pendengarannya."
" Baik, Bos.. saya akan coba ketok sekali lagi."
" Tok... tok.. tokk..." Reza kembali mengetok rumah Kakeknya.
" Kakek Tua! buka pintunya! Aku mau bicara sama kamu! Ini tentang rajah di dada kananku! Keluar kakek Tua!"
Tak ada suara apapun dari dalam rumah Harjo. Yang terdengar hanya suara jam dinding yang terus berdetak tak henti-hentinya.
" Bos, kalau Bos mau Bos dobrak saja pintunya. Kakek brengsek itu tak akan pernah membuka pintunya. Ia pasti tertidur pulas. Saya sudah hapal betul kebiasaan buruknya."
" Jangan, Reza. Kakekmu itu orang tua. Kau tidak boleh semena-mena padanya. Kasihan dia. Jangan hanya berani melawan yang lemah, Reza."
" Tapi dia itu menyebalkan, Bos. Dia sama saja dengan Wira. Menyetujui hubungan Rika dan Bono. Terus terang saya masih sakit hati padanya."
" Singkirkan sakit hatimu itu, Reza. Kau ku didik untuk menjadi hebat. Kau harus tegar. Makanya, kau ku pilih menjadi orang pilihanku. Jangan mengecewakanku, Reza."
" Tak apa, Reza. Yang penting kau jangan sampai keterlaluan pada kakekmu sendiri. Jangan sampai kelak kau menyesali perbuatanmu kepadanya."
Tak lama kemudian, terdengar suara batuk-batuk dari dalam. Reza lalu kembali mengetok pintu dan memanggil Kakeknya lagi.
" Siapa orang yang tengah malam begini mengetok pintu. Apa dia tidak tahu jam bertamu?" gumam Harjo lalu bangkit dari tidurnya dan berjalan keluar kamar untuk membuka pintu rumahnya.
" Tunggu sebentar.. " Ucap Harjo, katena takut tamunya keburu pergi lagi.
" Ceklekk... " pintu dibuka oleh Harjo.
" Kakek.." Sapa Reza.
" Reza, ada apa kau malam-malam datang kemari. Siapa dia? dan itu mayat, kan? Kenapa kau membawa mayat kemari?"
" Aku tak akan menjawabnya, Kek. Sekarang kau lebih baik diam dan katakan apa yang kau ketahui. Beritahu aku makna rajah yang ada pada dada kananku?"
" Rajah? ada apa dengan rajahmu? aku tak mengerti maksudmu.
" Kau pura-pura bodoh atau memang tak mengerti tentang rajah ini?"
" Baiklah, apa yang ingin kau ketahui tentang rajah itu, Za?"
" Aku ingin tahu, siapa yang memberikan rajah ini kepadaku. Katakan yang sebenarnya, Kek. Aku mohon kepadamu."
__ADS_1
" Aku lah yang memberi rajah itu, Reza. Anak-anakku dan semua cucuku, aku yang memberinya."
" Apakah ada orang lain selain keluargamu , yang memiliki rajah seperti itu"
" Tidak ada, Za.. percayalah padaku. Aku bicara apa adanya."
" Baiklah, kalau begitu aku mau tanya kepadamu."
" Tanya apa? Silahkan.."
" Apa kamu pernah kehilangan seorang anak pada empat puluh tahun silam? Seorang anak laki-laki yang terpisah dari orang tuanya, saat terjadi kerusuhan di kota."
" Apa? darimana kau tahu peristiwa itu? Siapa yang memberitahumu? Apa kau pernah bertemu dengannya? Katakan, Reza.."
" Kek, katakan padaku yang sebenarnya. Apa kamu pernah kehilangan anak?"
Harjo tak bisa menahan air matanya, apalagi ketika ia terus ditekan dengan pertanyaan Reza.
" Iya.. aku pernah kehilangan seorang anak laki-laki. Dia bernama Satya. Aku terpisah dengannya karena aku teledor tak menjaganya dengan baik. Aku sudah mencarinya kemana-mana, namun aku tak menemukannya. Aku sudah kesana kemari meminta bantuan polisi, tapi hasilnya, nol.
Istriku meninggal gara-gara memikirkan nasib Satya yang hilang. Dia terus menangis setiap malam dan tak mau makan. Akhirnya dia meninggal setelah dia gantung diri di atas pohon di belakang rumahnya."
" Jadi, Satya itu anakmu? Berarti dia itu Pamanku.."
" Iya, Reza.. kau benar.. Lalu apa kau bertemu dengannya? dimana dia?"
" Kek, lihatlah mayat itu." Reza menunjuk ke jasad Satya.
" Siapa dia, Reza?" ucap Harjo penuh keheranan.
" Lihat dan periksa saja tubuhnya. Mungkin kau bisa mengenalinya."
Harjo pun memeriksa tubuh Satya. dia mulai membuka bajunya yang penuh dengan darah. Lalu tiba-tiba dia terkejut setengah mati. Dia melihat Rajah yang tertera di dada kanan Satya. Ia pun bertanya pada Reza.
" Reza, siapa orang ini? Kenapa dia mempunyai rajah di dadanya? Apa jangan-jangan dia.."
" Dia Satya, Kek.. Dia anakmu dan dia pamanku.." Ucap Reza, lalu menangis dengan keras memeluk Satya.
" Jadi, dia anakku Satya? Satya... Maafkan Bapak, Nak.. Selama ini Bapak juga masih memikirkan kamu. Aku selalu berdoa suatu saat sebelum aku mati, aku bisa bertemu denganmu, Satya. Tetapi kenapa aku harus mengalami nasib seperti ini? Satya....."
Harjo pun berteriak memanggil Satya. ia pun menangis dan memeluk Satya. Diusianya yang senja, Harjo sebenarnya tak ingin hidup terlalu lama. Apalagi melihat cucunya yang sekarang menjadi penjahat. Namun, Tuhan tak kunjung mengambil nyawanya.
Kini Harjo sadar, mungkin Tuhan masih memberinya umur panjang agar bisa bertemu Satya. Tapi, disaat doanya terkabul, ada sesuatu yang sangat mengiris jiwanya. Ia bertemu Satya sudah dalam keadaan tak bernyawa."
" Kek, sebaiknya kita segera menguburkan jasad Satya. Kasihan dia. Kakek harus memandikannya terlebih dahulu."
" Baiklah, aku akan memandikannya Reza. Ayo bantu aku membawanya."
" Apa kau tak melihat? Kedua kakiku patah. Bisa-bisanya kamu menyuruhku!"
" Patah kenapa?"
" Tak perlu banyak bicara, cepat mandikan dia."
Sembari menangis meratapi nasib Satya, Harjo memikul tubuh Reza yang penuh dengan darah. Dengan susah payah ia membawa tubuh Satya masuk ke dalam rumahnya, lalu membawanya ke belakang rumah untuk di mandikan.
__ADS_1
Perasaan sedih bercampur senang, karena Harjo telah menemukan anaknya yang hilang. Beruntung Harjo telah memberikan rajah pada Satya, sehingga ia bisa mengenalinya.
......................