
" Pak Wira, lepaskan saya." Novi meronta ingin melepaskan pelukan Wira.
" Tidak Nov, aku tak akan melepaskanmu jika kamu masih ingin pergi dari sini."
" Tapi keputusan saya sudah bulat. Setelah dengan berbagai pertimbangan, saya memutuskan untuk mengundurkan diri saja."
" Novi, kamu sudah ku anggap sebagai keluargaku sendiri. Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Hanya kamu yang selama ini ada, membantuku."
" Maafkan saya Pak, saya benar-benar ingin keluar dari restoran ini. Saya akan mencoba hidup mandiri tanpa bantuan Anda."
" Kenapa kamu keras kepala? Aku tak ingin kamu pergi."
" Lepaskan Pak, Pak Wira!" Novi terus meronta melakukan perlawanan.
Wira yang tak kuasa menahan amukan Novi, menjauh dan melepaskan dekapannya.
" Pak Wira! Anda pikir, saya wanita apa? Tidak pernah ada, laki-laki di dunia ini yang berani menyentuh saya, apalagi memeluk saya. Jangan samakan saya dengannya!" Novi menunjuk ke arah Fitri.
" Maafkan aku Nov, aku tak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin menenangkanmu, dan tak ingin kamu pergi dari sini, meninggalkanku dan semua yang berkaitan denganku. Adanya dirimu mampu mengubah hidupku Nov. Bahkan keberuntunganku selalu ada, karena kamu. Aku merasa kamu malaikat, yang diutus Tuhan, untuk menemani hidupku. Membantuku menjalani hidup, yang entah sampai kapan aku masih diberikan waktu di dunia ini."
" Sayang sekali Pak, saya merasa bukan siapa-siapa. Saya tak mempunyai apa-apa, yang mampu membuat Anda sukses seperti sekarang ini. Mungkin saja itu karena hoki Pak Wira, dan mungkin karena istri Anda sebelum wafat, berdoa kepada Tuhan agar Anda dimudahkan jalan hidupnya."
Ketika Wira dan Novi saling berdebat, Fitri memberanikan diri untuk bertanya.
" Pak Wira, Bu Novi, bolehkah saya izin ganti pakaian? Saya sudah siap untuk bekerja."
Mendengar kata Fitri, Novi merasa tersinggung.
" Fit, kalau mau ganti pakaian ya sana ganti. Tak perlu meminta izin segala. Apalagi bilang sudah siap untuk bekerja. Aku tahu kamu mencari perhatian Pak Wira kan?"
" Eh, maafkan saya Bu, saya tidak bermaksud begitu." Fitri terkejut dengan ucapan Novi yang secara tiba-tiba muncul. Padahal Fitri tak berharap Novi ikut berbicara.
" Halahh.. alasan saja kamu itu. Aku yakin, kamu hanya mencari perhatian Pak Wira, kan?"
" Serius Bu, saya tidak punya pemikiran seperti itu."
" Apa aku harus membongkar hatimu agar dia berbicara yang sejujurnya kepadaku?"
" Tidak Bu, saya minta maaf jika menyinggung perasaan Bu Novi. Jujur saya tidak bermaksud lain."
" Fitri! mau sampai kapan kamu akan menyembunyikannya dariku!"
Fitri hanya tertunduk lemas, dia tak bisa berbuat apa-apa, dan tak mampu berkata apapun.
Wira tak tahan mendengar dan melihat sendiri Novi dan Fitri saling berdebat, Ia segera menenangkan mereka berdua.
" Cukup! Hentikan! Novi, Fitri, kita itu satu tim. Jangan sampai persatuan kita terpecah. Saat ini restoran baru kita, sedang berkembang pesat. Aku tak ingin, perselisihan diantara kita membuat Restoran kita ambruk lagi. Ayolah, kita jaga silaturahmi kita. Berfikirlah ke depan."
" Maafkan saya Pak Wira. Saya terbawa emosi. Lebih baik saya segera pergi dari sini, agar tidak menimbulkan masalah lagi, yang lebih besar."
" Nov, tidak bisakah kamu mengerti perkataanku? Aku ingin kamu tetap disini. Membantuku, aku tak bisa melakukan apa-apa tanpa kamu. Kamu yang selama ini memberiku gagasan yang menarik. Kalau kamu pergi, siapa lagi yang bisa memberiku Nov?"
__ADS_1
Tak tahan melihat Perdebatan antara Wira dan Novi, Fitri berniat meninggalkan mereka berdua. Dia mulai berpamitan dengan Wira dan Novi.
" Pak Wira, Bu Novi. sepertinya disini bukan tempat saya. Saya tak ingin mengganggu kalian berdua. Saya mau ganti pakaian dulu."
Wira mempersilahkan Fitri untuk ganti pakaian, namun berbeda dengan Novi. Dia membusungkan dadanya dan membelakangi Fitri sambil melihat ke arah lain.
Fitri meninggalkan mereka berdua, tanpa menghiraukan Novi yang mengacuhkannya.
" Nov, bagaimana?" Wira menarik pundak Novi, dan berusaha membalikkan badan Novi, menghadap kepadanya.
Novi melipatkan kedua tanganya di atas perutnya lalu menggelengkan kepalanya.
" Saya tetap tak bisa berada disini. Saya tetap akan pergi. Saya sudah lama hidup bergantung pada orang, mungkin sekarang inilah waktu yang tepat untuk memulainya."
" Novi! Kenapa kamu keras kepala sekali? Apa yang membuatmu seperti itu? Apa kamu sudah lupa dengan keberadaanku, sejak kamu ditinggal orang tuamu?"
" Pak, Anda sangat berjasa sekali dalam hidup saya. Saya berjanji, suatu saat jika saya bisa hidup mandiri, saya akan membalas kebaikan-kebaikan Pak Wira."
" Haaah.." Wira menghela nafas panjang dan terdengar keras.
Wira terduduk lemas di lantai, dan bersandar pada kaki kursi, ia menggelengkan kepalanya berulang-ulang, lalu mengusap-usap rambutnya.
Novi terkejut, dia mulai khawatir dengan Wira.
" Pak Wira, Anda kenapa?"
Wira hanya menggelengkan kepalanya berulang kali, dan *******-***** rambutnya hingga menjadi berantakan.
" Pak, Pak Wira kenapa?" Ucap Novi karena merasa khawatir.
Wirapun tetap hanya menggelengkan kepalanya. Sekujur tubuhnya panas. Dia tak mampu lagi untuk berdiri.
" Pak Wira, jangan membuat saya cemas. Katakan, Pak Wira kenapa?" Novi memegang pundak Wira dan berusaha mengangkatnya duduk di kursi.
Wira menolak untuk diangkat. Dia menepis tangan Novi, lalu berdiri sendiri dan berlari ke dapur.
" Pak Wira!" Teriak Novi, namun dia tak mengikuti kemana Wira berlari. Dia memilih untuk menunggunya keluar lagi.
Fitri yang saat itu selesai berganti pakaian terkejut mendengar suara orang berlari.
" Ha? Pak Wira, kenapa berlarian?" Ucap Fitri dalam Hati.
Fitri mencoba melihat ke depan, apa ada masalah yang dibuat Novi. Namun disana, dia hanya menemukan Novi yang hanya duduk di kursi pengunjung tanpa melakukan sesuatu apapun.
Tak berapa lama, Fitri dikagetkan lagi dengan ulah Wira yang berlarian dari dapur menuju ke arah Novi. Dia memegang pisau di tangan kanannya.
Fitri menjadi takut, apa yang akan di lakukan Wira. Lalu dia sembunyi dan mengintip dibalik pintu ruang admin keuangan.
" Novi!" Teriak Wira sambil mengarahkan pisau tepat di dada sebelah kirinya.
Novi terperanjat dari duduknya hingga dia melompat ke arah samping hingga tiga meter.
__ADS_1
" Pak Wira! Apa yang anda lakukan? Lepaskan pisau itu Pak, kumohon jangan main-main dengan pisau itu."
" Novi, pilihlah salah satu. Kalau kau ingin pergi dariku, kau pilih aku membunuh diriku sendiri atau kamu yang membunuhku?" Ucap Wira putus asa.
" Saya tidak memilih dua-duanya Pak, saya tak ingin Anda kenapa-kenapa. Sadarlah Pak, Anda mempunyai beberapa karyawan yang menggantungkan hidupnya pada Anda. Jika Anda sakit, atau meninggal, bagaimana mereka akan memberi makan keluarganya Pak? Berpikirlah yang jernih."
" Aku tidak akan melakukannya jika kamu tetap disini Nov. Tapi jika kamu tetap ingin pergi, aku akan melakukannya dengan tanganku sendiri."
" Hemhh.." Novi menghela nafas. Dia terduduk lemas. Sepertinya keputusannya untuk meninggalkan Wira dan restorannya akan terganggu.
" Sekali lagi Nov, katakan apa keputusanmu?"
" Baiklah Pak, saya akan tetap disini. Tapi aku mohon, hari ini aku izin cuti. Aku lagi kurang enak badan."
" Jadi, kamu akan tetap disini Nov? Wira mulai sedikit tersenyum.
Novi menganggukkan kepalanya. Dalam hatinya dia merasa malu, baru pertama kali ini, Novi membatalkan keputusan yang sudah sangat ia perhitungkan.
" Syukurlah kalau begitu Nov! Aku senang sekali." Air mata Wira menetes jatuh ke lantai.
Novi memeluk Wira dengan erat. Dia merasakan kehangatan dari seorang Wira. Bos, Orang tua pengganti, dan mungkin juga akan menjadi kekasih, bahkan suaminya suatu saat nanti.
Wira balas memeluk erat Novi. Untuk kali ini, dia tak canggung untuk memeluk Novi, karena Novi lah yang pertama kali memeluknya.
Fitri yang masih mengintip Wira dan Novi dari balik pintu, merasa dirinya berada di posisi Novi. Dia memeluk daun pintu di depannya.
" Duh, betapa enaknya Bu Novi mendapat pelukan dari Pak Wira. Kapan aku akan mendapatkan pelukkanmu Pak Wira." Ucap Fitri lirih.
Keringat mengalir deras membasahi sekita wajahnya,lalu bagian tubuh yang lain, hingga ke bawah. Baju gantinya basah hingga kelihatan pakaian dalamnya. Bentuk dan lekuk tubuhnya menjadi lebih jelas.
Beberapa menit berlalu, Fitri tersadar dari lamunannya. Dia terkejut melihat Wira dan Novi sudah tak ada di tempatnya.
Fitri mencoba keluar untuk melihat keadaan. Dia melihat ke kanan dan kiri untuk memastikan keberadaan Wira dan Novi.
" Plaakk.." Satu tabokan tangan yang lembut mendarat di pundak Fitri dari belakang.
Fitri terkejut dan menoleh ke belakang,
"Pak Wira, Bu Novi?"
" Apa yang kamu lakukan Fit? Bukankah tadi kamu mau ganti pakaian dan siap bekerja? Kenapa pakaianmu basah seperti itu?" Tanya Wira dengan santai.
" Fitri, kamu habis nyebur ke dalam bak mandi ya?" Tanya Novi, sambil tertawa lebar.
" Eh, saya.. Maaf Pak Wira, Bu Novi. Tampaknya hari ini saya izin pulang dahulu. Saya lagi kurang enak badan." Ucap Fitri, lalu tanpa mempedulikan Wira dan Novi, Fitri berlari mengambil pakaiannya dan menuju tempat parkir untuk mengambil motornya.
Kemelut di otaknya, membuat Fitri tak bisa memasukkan kunci, ke dalam lubang kunci motornya dengan benar. Ia gugup bercampur malu. Berulang kali dia mencoba, namun kunci motornya berulang kali meleset, bahkan sampai terjatuh.
Saat hendak mengambil kunci motornya, Fitri terperanjat hingga terjatuh, saat ada tangan manusia yang dengan cepat mengambil kunci motornya dan menyerahkannya pada Fitri. Saat dia menoleh, dia hampir jatuh pingsan.
......................
__ADS_1