SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
DUA GADIS YANG MALANG


__ADS_3

Wijaya dengan cepat menarik tubuh Rendra dan melemparnya keluar jendela kaca yang berada di samping Wijaya.


Seketika Tubuh Rendra jatuh dari lantai tujuh. Namun Rendra bukan lawan yang bisa diremehkan. Dia mampu menjaga keseimbangan tubuhnya agar tak jatuh ke tanah dengan cepat.


" Huuppzz... Kurang ajar! Beraninya kamu menjatuhkanku Jay. Aku sungguh sangat marah kepadamu!" Tiba di bawah, Rendra memaki Wijaya.


Wijaya mengikuti Rendra terjun dari lantai tujuh. Dan mendarat tepat di depan Rendra.


" Keparat kamu Wijaya! Beraninya kamu menjatuhkanku!"


" Aku tak ingin mengganggu kesenangan anak buahku. Makanya aku ingin kita meninggalkan mereka. Hahaha.."


" Brengsek! Jika Dia berani menyentuh apalagi sampai menodai mereka, aku tak segan akan memotong tubuhnya menjadi berkeping-keping!"


" Ndra.. Bagaimana kamu bisa memotongnya, sementara aku disini takkan membiarkanmu mengganggu kesenangan anak buahku. Aku pastikan hari ini, kamu mati ditanganku."


" Biadab..Kalian berani melawan orang yang selama ini berjasa pada kalian? Dasar pengkhianat! Apa ini balasan untukku dari kalian yang selama ini memberi kalian umur panjang?"


" Berjasa katamu? Hahaha.. Justru kami yang telah berjasa padamu Ndra. Kami bekerja untukmu. Membuatmu mendapatkan pundi-pundi uang yang sangat besar. Upah yang kamu bayarkan pada kami tidak lebih dari setengah persen pendapatanmu Ndra! Kau jadikan kami bawahanmu, kau jadikan kami umpan dan kau jadikan kami seperti anjing yang selalu kau suruh kapanpun dan dimanapun. Hingga aku kehilangan Putriku. Kau yang pertama kali bertanggung jawab Ndra!"


" Hahaha.. Kamu menyesal menjadi pengikutku Jay? Kau pikir dirimu siapa, dahulu? Kau hanya tukang mabuk dan berjudi. Kau dijauhi wanita manapun karena kau hanyalah laki-laki kere yang sakunya selalu tipis. Kau memeras istrimu. Untuk berjudi dan mabuk saja kau minta-minta padanya. Lalu di saat istrimu tiada, kamu bisa apa Jay? Hidupmu hanya seperti orang gila yang pergi kesana kemari, tanpa arah dan tujuan. Sekarang kau berani melawanku, apa kamu pikir dirimu sudah hebat Ha!"


" Persetan dengan masa lalu. Yang jelas aku ingin membalaskan kematian Putriku. Kau harus bertanggung jawab Ndra!"


" Jay, Jay.. Kamu mau meminta pertanggungjawabanku atas apa? Bangunlah dari mimpimu. Sadarlah Jay. Hahaha..


" Brengsek! Aku mau kamu menjawab jujur, sebelum aku membunuhmu. Katakan, apa kamu menghapus pesan-pesan penting yang dikirim teman anakku? Apa kamu menolak panggilan anakku ketika dia memanggilku? Cepat jawab!" Amarah Wijaya mulai meluap, dia hendak ingin membunuh Rendra secepatnya, namun dia ingin tahu jawaban Rendra tentang pertanyaan yang ada di benaknya.


" Oh, jadi kamu menghiraukan itu? Kupikir


kamu akan melupakannya dan tak peduli tentang itu. Hemm..


Ya, ku akui aku memang menghapus beberapa pesan penting yang dikirim seseorang yang mengaku bernama Tasya. Dia berkali-kali menelpon dan aku menolak panggilannya. Hingga aku merasa terusik, lalu ku matikan saja Hpmu.


Kalau tentang Putrimu, dia pernah telpon. Dia mengharapmu pulang. Dia meminta izin padaku agar mengizinkanmu pulang. Tapi aku bilang padanya, aku mengizinkanmu pulang. Tapi kamu menolaknya. Aku bilang padanya, kalau dia hanya pengganggu kerjamu saja. Makanya kamu menolak untuk pulang. Dan aku bilang padanya, kalau kamu masih membencinya dan tak menganggapnya sebagai anak lagi, setelah dia membuat Mamanya mati.

__ADS_1


Sebelumnya dia tidak percaya dengan kata-kataku, tapi akhirnya dia percaya dan menangis setelah aku memberitahu dia, kalau selama ini kamu dekat dengan anakmu hanya pura-pura saja. Lalu aku menutup telponnya dan mematikan Hpmu. Haha.."


" Ba***an!! Jadi itu yang kamu katakan kepada Putriku!" Wijaya tertunduk lemas, rasanya ingin kembali pulang dan berharap dia masih hidup, untuk meluruskan kebenaran, dari berita bohong Rendra.


" Vina, dengarlah Papa Nak. Apa yang dikatakan Ba****an busuk Rendra sama sekali tidak benar. Papa tidak seperti itu, Nak. Percayalah pada Papa. Papa sudah melupakan kejadian buruk, yang menimpa Mamamu. Dan karena itulah Papa sadar, tak ingin menyakitimu, dan berusaha untuk melindungimu. Kamu Putri Papa yang sangat mirip dengan Mamamu. Saat aku merindukanya, saat ku lihat dirimu, sungguh Rindu Papa terobati Nak. Papa sangat sayang padamu. Papa selalu merindukanmu. Si brengsek itu mengatakan kebenaran yang palsu kepadamu Vin. Tolonglah percaya pada Papa. Jangan kamu meninggal, membawa dendam kepada Papa. Jangan kamu meninggal membawa kecewa pada Papa Vin. Vinaa..." Wajah Wijaya seketika memerah. Air mata mengalir deras dan jatuh membasahi pipinya.


" Hahaha.. Jay, Jay.. Kelemahanmu adalah karena kamu terlalu sayang keluargamu. Itu yang membuatku tak senang kepadamu. Putrimu memang pengganggu. Saat ku beri tugas, kamu selalu melimpahkan tugasmu pada Bono atau pada yang lainnya. Jika bukan kamu, Sudah ku bunuh dari dulu kamu, Jay. Mana mungkin aku mempunyai anak buah pembangkang, sepertimu."


Wijaya terus mengeluarkan air matanya. dia memukul-mukulkan tangannya ke tanah berulang kali.


" Tuhan, kenapa ini terjadi padaku. Kenapa disaat aku mencoba menjadi orang tua yang baik, Engkau memberikan cobaan ini! Tuhan, Vina adalah cermin untuk diriku. Setiap aku melihatnya, melihat kebaikkannya, aku merasa malu dan berusaha memperbaiki diriku. Tetapi kenapa Engkau mengambilnya! Tuhan, dimana letak kasih sayangmu? Aku sangat menyayanginya. Mengapa Kau ambil dia saat aku berusaha untuk dekat dengannya. Dan berusaha menjadi Papa yang baik untuknya. Kenapa dia meninggal secepat itu? Bahkan aku berharap besar padanya, dia tumbuh menjadi Wanita yang baik yang mampu memberikanku rasa bangga. Aku menunggu waktu itu Tuhan. Tapi sekarang harapanku sudah sirna!"


" Jay, sudahlah. Kamu tak perlu menangisi kepergian Putrimu. Ikhlaskan saja. Dan kembalilah bergabung bersamaku, kita kuasai bersama dunia hitam ini."


" Tutup mulutmu brengsek! Aku tak mau dengar lagi ocehanmu!" Dalam tangisnya, Wijaya masih sempat memaki Rendra.


" Hahaha.. Jay, Jay.. Sudah ku bilang, sesuatu yang telah pergi, tak perlu ditangisi. Apalagi sudah mati, dia takkan bisa kembali hanya dengan tebusan tangisanmu. Putrimu sudah ditakdirkan mati pada umur segitu Jay. Dan aku, mungkin aku yang ditakdirkan Tuhan sebagai penyebab Putrimu meninggal. Hahaha.. Jangan salahkan aku Jay, aku hanya seorang pesuruh Tuhan. Salahka Tuhanmu yang membuatku sanggup untuk membuatnya mati. Hahaha..!


Mendengar kata-kata Rendra, sekujur tubuh Wijaya menjadi begetar. Dia sudah tak sanggup menahan amarahnya yang meluap-luap. Lalu dengan sekeras hati, Wijaya bangkit, dan berdiri tegap. Menatap Rendra dengan tatapan bengis.


" Rendra! Aku takkan membiarkanmu mati dalam keadaan tenang. Nyawa putriku diganti dengan nyawamu. Bersiaplah menjemput ajalmu Ndra! Hiiyaattt..."


Wijaya menyerang Rendra dengan membabi buta. Berkali-kali Rendra terjatuh dan terhempas, terkena tendangan dan pukulan Wijaya yang penuh dengan tenaga dalam.


Sementara itu Bono yang sedang merasakan hangatnya tubuh kedua gadis simpanan Rendra, masih menikmati gairah seksualnya yang selama ini dia pendam. Dini terus meronta akibat permainan liar Bono. Dia terus menangis karena tak rela, barang berharganya dipakai pria lain. Seumur hidup dia hanya ingin berhubungan dengan satu orang pria yang kaya dan mapan. Dia tak ingin memberikannya pada siapapun, kecuali pada orang yang dia pilih. Dengan Rendra, dia memberikan segala yang di miliki, dan berharap mendapat sesuatu yang jauh lebih besar, dari pengorbanannya. Namun yang dia alami saat ini, hanyalah sakit dan sesal, karena dia ternoda oleh pria lain dan tak mendapat apapun, dari pria itu.


Dini terkulai lemas, seluruh tenaganya terkuras habis setelah sebelumnya berhubungan badan dengan Rendra hingga satu jam penuh. Sementara Karin, dia cemburu karena hanya bisa melihat Kakaknya berhubungan intim disampingnya, dengan laki-laki bertubuh kekar, seperti Bono.


" Ahh.. aku tak pernah merasa bergairah seperti ini. Dini, kamu sangat membuatku puas. Terima kasih ya." Ucap Bono lalu berdiri dari tidurnya yang menindih tubuh Dini.


Dini tak bisa berkata apa-apa, pikirannya terganggu. Seperti ingin pingsan, namun sakit yang dia rasakan tak kunjung hilang, sehingga membuatnya merintih dan terbaring, mendekap tubuhnya yang basah, karena keringat yang mengalir deras dari seluruh tubuh Bono.


" Mas, apa kamu sudah selesai?" Tanya Karin pada Bono yang sedang memakai bajunya.


" Kamu lihat sendiri kan, aku sudah selesai. Aku sudah lega sekarang." Jawab Bono sambil tersenyum

__ADS_1


" Aku bisa membuatmu lebih puas dari Kakakku Mas. Ayo bermain denganku." Ajak Karin, sambil memeluk lengan Bono yang kekar.


" Maaf, aku tak tertarik denganmu. Aku bukan maniak. Jadi kalau sudah keluar sekali, aku tak mau melakukannya lagi." Ucap Bono sambil mengancingkan bajunya.


" Ayo lah Mas, aku akan membuatmu lebih bergairah lagi. Aku jamin, kamu takkan menyesal. Lalu akan ketagihan bermain denganku." Bujuk Karin sembari meraba-raba lengan Bono.


" Sudah ku bilang, aku tidak mau. Pergi sana!" Ucap Bono lalu mendorong Karin ke samping hingga jatuh ke tempat tidur di samping Dini.


" Mas, kamu belum mencobanya. Aku bisa memberikanmu kepuasan. Percayaah. Berikan aku kesempatan." Karin terus membujuk Bono.


Namun Bono tak mempedulikan ucapan Karin. Setelah ia selesai memakai celananya, Bono meninggalkan Dini dan Karin keluar, dan hendak turun ke bawah.


Tiba-tiba Karin mencegahnya, dia menarik lengan Bono lalu memeluk tubuhnya.


" Mas, aku mohon. Kita tidak punya dendam apapun. Izinkan aku memberikanmu kepuasan. Dan berikan aku kebahagiaan yang selama ini belum aku temukan pada pria lain."


" Hei! Aku bilang aku tidak mau. Kamu bukan seleraku. Singkirkan tanganmu dariku."


" Aku tidak mau Mas. Aku akan terus memegangmu. Aku tak mau kamu pergi."


" Kurang ajar! Wanita sialan. Hiyaatt.." Bono meninju Karin dengan tangan kirinya. Tubuh mungilnya terbang ke udara dan terlempar tepat ke jendela yang terbuka. Karin jatuh dari lantai tujuh, dan jatuh tepat di atas pertarungan Rendra dan Wijaya. Rendra yang mengetahui Karin jatuh tepat diatasnya dari lantai atas, segera menolongnya sebelum ia sampai ke tanah.


" Karin!" Teriak Rendra lalu melompat setinggi lima meter untuk menangkap tubuh Karin.


" Bos, terimakasih sudah menyelamatkan saya. Tapi, saya tak bisa lama-lama lagi disini Bos. Saya.."


" Apa? Apa yang ingin kamu katakan rin?" Tanya Rendra.


" Selamat tinggal Bos." Ucap Karin lirih dan akhirnya meninggal karena tulang paru-parunya sebelah kiri remuk akibat pukulan Bono.


" Bonoo!" Rendra berteriak keras. Dia mengecam dan mencaci Bono yang saat itu berdiri di atas jendela di lantai tujuh.


" Karin adikku, maafkan aku. Karena aku, kamu ikut merasakan nasib yang seperti ini. Kemiskinan orang tua kita membuat kita menjadi seperti ini. Ini semua salahku. Aku yang telah mengajakmu masuk ke dunia hitam ini. Ibu, Ayah kami pamit. Maafkan kami tak bisa mengirimkan uang lagi untuk kalian. Selamat tinggal orang tua tersayangku. Jaga diri kalian, jangan mengharapkan kami lagi. Anggap saja kami tak pernah ada di dunia ini. Dini dan Karin sayang kalian." Ucap Dini lirih, lalu nafasnya terhenti. Dia mengalami sesak nafas. Dan akhirnya kejang, tak sadarkan diri.


Bono kembali turun dari jendela dan melihat Dini, dia memeriksanya. Setelah tahu Dini sudah mati, Bono menutup tubuh gadis itu lalu meninggalkannya.

__ADS_1


Sebelum keluar, Bono sempat melihat tubuh Dini yang tertutup selimut, lalu berkata, " Dua gadis yang malang, maafkan atas perlakuanku."


......................


__ADS_2