SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
KERESAHAN YANG MENDALAM


__ADS_3

Esok pagi, udara terasa sangat dingin. Wira terbangun dari tidurnya. Kepalanya masih terasa berat. Pandangannya masih terasa seperti berputar-putar. Dia meraih meja di depannya dan berusaha merayap untuk berjalan ke dapur mengambil air minum.


"Akhh... kenapa sakit sekali kepalaku! Rasanya tak ingin membuka mata ini. Tapi saat kupejamkan, tetap saja dunia ini seperti berputar."


Wira memaksakan dirinya merangkak ke dapur, dia meraih gelas dan menuangkan air minum dari galon. Lalu dia mencoba menghubungi Bara. Ia sudah tak tahan dengan penderitaannya.


" Halo, Bara... cepat datang ke rumahku. Aku butuh batuanmu..." Pinta Wira sembari menahan sakitnya yang tak terkira.


" Halo juga Pak Wira. Baik Pak, saya akan segera ke sana. Tunggu saya lima belas menit lagi."


" Baik Bara, cepatlah datang. Kepalaku terasa sakit sekali..."


" Tahan dulu Pak, iya ini saya sedang dalam perjalanan. Saya mau minta izin Santi dulu."


Wira menutup telponnya. Ia tak bisa banyak bicara karena membuatnya semakin terasa sakit. Ia hanya bisa mengeluh dan mengaduh.


Di desa Lereng Bukit, Bara yang baru saja selesai mandi, segera ke kamar ganti baju lalu berpamitan dengan istrinya.


" Sayang, aku mau ke rumah Pak Wira dulu. Katanya dia sakit. Aku harus segera kesana. Dia sangat memerlukan bantuanku."


" Tapi Mas Bara belum sarapan, kan. Mas Bara lebih baik sarapan dulu sebelum ke rumah Pak Wira."


" Tidak, Santi... aku harus segera kesana. Sepertinya sakitnya sangat parah. Aku tak bisa menunda-nunda lagi."


" Sebenarnya, saya sudah masak makanan kesukaan Mas Bara. Katanya, kemarin ingin sekali makan sop iga sapi. saya sudah buatkan dari sebelum subuh tadi, sampai sekarang baru matang. Malah mas Bara mau pergi." ucap Santi dengan wajah sedih.


" Sayang, nanti aku bakal makan masakan kamu. Jangan khawatir. Nanti setelah pulang dari rumah Pak Wira, aku akan memakannya. Jangan bersedih."


" Tapi, lama atau tidak Mas Bara ke rumah Pak Wira, kita belum tahu. Kalau masakannya sudah dingin, rasanya sudah berkurang."


" Sayang, dengarkan aku... ini sedang darurat. Aku takut Pak Wira kenapa-kenapa. Padahal, dia sudah menelponku untuk kesana sedari tadi. Aku takut terlambat."


" Baiklah, kalau begitu... pergilah Mas. Hati-hati dijalan dan jangan ngebut-ngebut."


" Iya, baiklah sayang. Doakan aku dan Pak Wira agar tidak sampai kenapa-kenapa. Aku pergi dulu." ucap Bara lalu mencium kening lalu mencium perut istrinya.


Bara pun mulai melajukan motornya ke tempat Wira. Jalan terjal menuju rumah Wira ia lalui. Terkadang dia harus berjalan berkelok-kelok menghindari jalan yang berlubang.


Setelah lima belas menit berlalu, Bara tiba di rumah Wira. Ia mengetok pintu rumah Wira.


" Tok tok tok... Pak Wira, saya datang. Anda dimana?"


" Akhh... itu Bara, Bara... masuklah... aku ada di dalam." ucap Wira setengah lirih.


Karena telinga Bara terlatih dengan baik, ia bisa mendengarkan suara sekecil apapun. Ia pun mendengar suara Wira yang menjawab panggilannya. Ia kemudian membuka pintu rumah Wira lalu berjalan memasuki ruang tamu dan menuju ke arah suara Wira berkata.


" Ya Tuhan... Pak Wira... Anda kenapa? Mari saya bantu berdiri."


" Eh, tidak usah Bara... lebih baik kau ambilkan obatku saja. Cari di sekitar kamarku. Kalau tidak ada, cari diruang tamu atau dimana. Yang penting ketemu. Aku tak bisa membuka mataku. Pandanganku berputar-putar."


" Eh, baik Pak Wira..."


Bara bergegas menuju kamar tidur Wira, ia tak menemukan apapun. Ia sangat panik, lalu berlari keluar menuju ruang tamu. Namun tak ada obat apapun di ruang tamu. Bara mulai berkeringat, rasa paniknya membuat dirinya tak bisa tenang. Apalagi dia sering mendengar teriakkan Wira yang mengerikan. Dia pun kembali mendatangi Wira yang terkapar di dapur.

__ADS_1


" Maaf, Pak Wira... saya sudah mencari di kamar Anda, dan ruang tamu. Namun tak ada. Apa biar saya belikan obat saja, di apotek? Atau biar saya antar Anda ke rumah sakit?"


" Tidak perlu, Bara. Obat itu sangat ampuh. Aku tak perlu pergi ke dokter. Lebih baik kau coba cari lagi yang teliti. Siapa tahu obatnya nyelip di kasur atau coba kau cari di bawah."


" Oh, baik Pak Wira." Ucap Bara lalu dengan cepat menuju ke kamar tidur Wira. Dia mencoba menarik selimut dan bantal yang menumpuk di tempat tidur.


Usahanya tak membuahkan hasil, seluruh kamar Wira, dia cari namun tak ada. Bara mencoba mengatur nafasnya, ia lalu mengusap keringatnya yang mengalir deras di sekujur tubuh. Beberapa menit kemudian, ia mulai menyusuri ruang tamu. Akhirnya dia berhasil menemukan obat Wira di pojokan belakang bawah sofa.


" Nah, ini dia... syukurlah ketemu. Aku harus segera memberikannya pada Pak Wira." Ucap Bara lalu berlari ke dapur mendatangi Wira.


" Pak Wira... sudah ketemu obatnya. Ternyata ada di bawah sofa, di bagian pojok belakang."


" Mana Bara, berikan padaku. Aku akan langsung meminumnya."


" Silahkan, Pak Wira. Sekalian saya ambilkan air minum."


Bara menyerahkan kapsul untuk obat sakit kepala Wira lalu menyodorkan gelas berisi minuman sebagai teman minum obatnya.


" Ahh.. terimakasih Bara. Aku berhutang nyawa padamu. Sedikit demi sedikit, sakit kepalaku mulai berkurang."


" Sama-sama, Pak Wira. Sudah seharusnya saya menbantu Anda. Apakah Anda sudah sanggup untuk berdiri? kalau sudah, saya akan membantu Anda. Lebih baik Anda beristirahat di kamar saja."


" Baiklah, Bara... ayo bantu aku berdiri. Tenagaku belum sepenuhnya pulih, setelah beberapa jam merasakan sakit yang sangat dalam. Aku hampir saja kehilangan nyawaku jika kau terlambat datang kemari, Bara."


" Eh, maaf kalau boleh tahu, dimana istri Anda Pak? kenapa Anda sendirian di rumah."


" Istriku ikut paman dan bibinya, Bara... Sudah lama mereka mencari keluarga Novi. Namun yang tersisa hanyalah Novi saja. Beruntung mereka menemukan Novi. Sekarang mereka sangat senang karena bertemu dengan saudaranya."


" Aku pasrahkan semua pada Tuhan, Bara. Aku hanya bisa mendoakan saja. Selebihnya keselamatan dia dan bayi kami, biar Tuhan yang mengaturnya."


" Apa istri Anda tidak tahu, kalau Anda sedang sakit?"


" Tidak, Bara... saya sengaja menyembunyikannya agar dia tidak khawatir kepadaku. Aku tak mau menambah beban pikirannya, lalu berpengaruh pada kesehatannya dan bayi kami."


" Baiklah Pak Wira, kalau begitu beristirahatlah... Saya mau pulang dahulu. Kalau ada apa-apa, hubungi saya segera, Pak Wira."


" Pulanglah Bara, hati-hati dijalan. Jalan yang kamu lewati sangat buruk. Terjal dan penuh lubang yang dalam."


" Saya akan berhati-hati Pak. Jangan khawatirkan saya. lebih baik Anda pikirkan kesehatan Anda sendiri."


" Aku sudah lumayan sehat, Bara. Nanti siang aku akan ke Resto, jika kesehatanku sudah benar-benar pulih."


" Ada perlu apa Pak Wira? Jika ada yang Anda butuhkan, biar saya antarkan kemari. Saat ini, Pak Wira saya larang bepergian jauh dulu. Ini demi keselamatan Anda."


" Aku sangat lapar, Bara. tubuhku tiba-tiba tak bertenaga lagi. Aku ingin makan di Resto. Sudah lama tidak mencicipi masakan koki-kokiku."


" Restoran Anda cukup jauh dari rumah Anda, sedangkan saya, mau kembali ke rumah karena tadi, izinnya cuma sebentar. Bagaimana kalau saya bawakan sop iga sapi masakan istri saya? Kebetulan, tadi saat saya mau kemari, sopnya sudah matang."


" Eh, kalau begitu aku akan mencicipi masakan istrimu, Bara. Pulanglah dan bawa kemari masakan istrimu. Jangan banyak-banyak. Aku hanya ingin mencicipinya. Jika enak, aku akan membelinya."


" Baik Pak Wira, dengan senang hati. Pasti istri saya juga senang, Pak Wira ingin memakan masakan istri saya.


" Wah, aku tidak sabar lagi, Bara.. membayangkannya saja aku sudah ngiler. Apalagi kalau memakannya. Pasti masakan istrimu sangat lezat."

__ADS_1


" Anda boleh berkomentar saat Anda sudah memakannya. Kalau begitu saya mohon izin untuk pulang terlebih dahulu, Pak Wira."


" Silahkan, Bara. Aku akan menunggumu. Tak usah buru-buru. Aku masih cukup kuat menahan rasa laparku."


" Baik Pak Wira...


Bara keluar dari rumah Wira, lalu melajukan motornya menuju rumahnya di desa Lereng Bukit. Ia begitu senang bisa menolong Guru sekaligus Bos tempatnya bekerja. Ia juga senang Wira mau mencicipi masakan istrinya. Dalam perjalanan, ia senyum-senyum sendiri membayangkan pujian apa yang akan diberikan Wira untuk masakan istrinya.


Sementara itu Wira yang masih berbaring di kamarnya, mencoba menghubungi Novi. Walaupun kepalanya sudah berkurang rasa sakitnya, ia masih merasakan resah yang begitu dalam sehingga menimbulkan ketakutan dalam dirinya.


" Halo, istriku... apa kamu sudah bangun?" Sapa Wira sembari tersenyum karena Istrinya akhir-akhir ini mudah dihubungi.


" Sudah Pak Wira, bagi saya ini sudah siang. Saya sudah bangun dari tadi sebelum subuh."


" Syukurlah, bagaimana keadaanmu? apa sudah ada tanda-tanda kamu mau melahirkan?"


" Alhamdulillah baik... belum Pak Wira. Saya masih belum merasakan kontraksi sampai sekarang. Eh, itu kenapa suara Pak Wira serak-serak begitu, Pak Wira sakit?"


" Eh, tidak... aku baru saja bangun tidur. Jadi, wajar saja kalau suaraku serak."


" Jangan bohong, Pak Wira itu tidak bisa berakting. Jadi kalau bohong, saya bisa tahu. Katakan saja kalau Pak Wira sedang sakit."


" Aku memang bukan pemain film Novi, seharusnya aku memang tidak bisa berakting. Lho, bagaimana aku akan mengatakan diriku sakit, sementara aku saat ini sedang baik-baik saja."


" Pak Wira, saya hafal betul dengan Anda. Dalam kondisi sehat atau sakit, saya tahu. Dan saat ini Pak Wira itu sedag sakit. Betul atau tidak?"


" Baiklah, aku akan jujur. Tapi ku mohon kamu jangan terlalu khawatir padaku. Semalam, Vertigoku kambuh. Aku kesulitan untuk tidur. Semalaman aku merasakan dunia ini seperti berputar."


" Ya Tuhan, kenapa nggak menghubungi saya? Pantas saja saya terbayang-bayang dengan wajah Pak Wira. Maafkan Novi, Pak Wira. Disaat Anda sakit, saya malah tak ada disamping Pak Wira. Saya merasa sangat bersalah."


" Tidak apa-apa, Nov. Aku sudah baik-baik saja. Jangan khawatir..."


" Sungguh? terus sudah minum obat belum? Sudah makan belum?"


" Sungguh... sudah, tadi aku menelpon Bara untuk mencarikan obatku. Aku lupa meletakkannya dimana. Sementara aku tak bisa membuka mataku karena rasanya membuatku ingin muntah. Beruntung Bara segera datang dan mencarikan obatnya. Alhamdulillah ketemu."


" Alhamdulilah, beruntung ada Bara. Kalau tidak, kalau Pak Wira kenapa-kenapa saya bakal sedih dan akan menyesal seumur hidup saya."


" Alhamdulillah, Nov... kalau begitu aku mau istirahat dulu sebentar. Sembari menunggu Bara datang membawa makanan."


" Istirahatlah Pak Wira. Wah... pasti makanannya itu, masakan istrinya. Dia pintar kalau soal memasak. Novi saja kalah jauh dari dia."


" Hahaha... Nov, seenak apapun masakan orang, bagiku masakanmu adalah yang teristimewa."


" Hehe... Pak Wira ini membuat saya malu. Terimakasih atas pujiannya."


" Iya sayang.. kalau begitu sambung nanti lagi, ya. Jaga dirimu baik-baik. Jangan lupa sarapan."


" Baik Sayangku...hehe..."


Wira menutup telponnya dan kembali berbaring. Ia memegangi perutnya yang terasa perih. Namun ia tahan sembari menunggu Bara datang membawakan makanan.


......................

__ADS_1


__ADS_2