
Di rumah Punto, warga masih memadati halaman rumah Rika. Mereka menyaksikan Harjo yang sedang berdebat dengan Reza.
" Reza, Kakek sudah tidak kuat lagi melihat kelakuan burukmu. Kamu sungguh membuat malu keluarga kita. Sekarang aku sudah tua, aku sudah tak ingin terlibat dalam masalahmu. Cukup ini yang terakhir. Jangan membuat masalah lagi." Ucap Harjo pada Reza.
" Kek, siapa yang suruh kamu kemari. Aku juga tidak ingin melibatkan orang tua lemah sepertimu! Aku kemari bersama teman-temanku, karena ada yang harus aku selesaikan dengan Rika."
" Berani kamu sama Kakekmu sendiri! Pergi dari sini! Jangan pernah injakkan kakimu ke desa ini lagi!" Bentak Harjo pada Reza karena tak terima dengan perlakuan cucunya.
" Baik! Aku akan pergi, Aku takkan pernah kembali ke desa yang tak pernah berkembang ini! Hahaha.. desa yang malang! Ayo kawan-kawan kita tinggalkan desa payah ini!"
Reza mengajak teman-temannya pergi dari desanya. Namun sebelum dia pergi, Ketua pemuda menghalanginya.
" Reza! Kau boleh berkata kasar kepada siapapun, kau boleh melakukan apa yang kau suka dimanapun, tapi jangan di tempat ini, dan jangan kepada warga sini. Disini, warga sini, dibawah naunganku. Kau tak bisa semena-mena begitu saja! Aku tak terima!"
" Ketua! Apa kau mau sok jadi jagoan di kampung ini? Sudah sehebat apa dirimu? Kau mau melawanku?"
" Kurang ajar! Akan ku bungkam mulut busukmu! Hyaaatt!!" Ketua Pemuda melayangkan serangan ke arah Reza.
Reza mampu menghindari serangan ketua pemuda dengan mudah. Berkali-kali ia mematahkan serangan Ketua pemuda dengan hanya menggunakan tangan kirinya.
" Sialan! Aku tak menyangka kau akan berubah sesombong ini Reza! Pak Wira telah salah memilih orang kepercayaan. Aku kecewa padamu Reza! Kau yang dulu aku jagokan menjadi orang terhebat di desa ini untuk melindungi warga, tapi aku salah memilihmu! Aku kecewa padamu Za! Hyaaatt.." Usai bicara Ketua pemuda menyerang Reza dengan bertubi-tubi.
" Hahaha... Kau takkan bisa mengalahkanku, Bara! Kau tak memiliki latar belakang ilmu bela diri. Dan kau tak memiliki kehebatan apapun untuk bisa mengalahkanku."
" Kurang ajar! Hyaaatt!!!" Bara, si Ketua Pemuda tersulut emosinya. Dia melompat ke arah Reza dan memukulnya ke bagian dada kirinya.
" Hahaha! Bara, Kau bahkan tak mampu menahan seranganku. Bagaimana kau bisa menyerangku? Sudahlah, biarkan aku pergi dan jangan halangi aku jika kau masih ingin hidup."
" Aku takkan pernah mau menyerah, Baiklah aku akan bertarung dengan sekuat tenagaku! Aku akan bertarung atas nama desa ini!" Ucap bara dengan menggebu-gebu.
" Bersiaplah Bara! Kau akan merasakan kehebatan ilmuku! Hyaaatt!!" Reza menyerang Bara dengan bertubi-tubi.
Walaupun Bara seorang atlet bela diri, namun dirinya tidak dibekali dengan tenaga dalam tinggi seperti Reza. Dia berulangkali terkena pukulan Reza yang dengan cepat mengarah kepadanya.
" Akkkhh.." Tubuh Bara terbanting ke tanah. Darah keluar dari mulutnya.
" Hahaha! Jadi cuma segitu kemampuan pelindung desa ini? Payah sekali. Padahal aku belum menggunakan separuh kekuatanku, kau sudah tak sanggup berdiri, Bara! Hahaha.."
" Brengsek! Pak Wira takkan tinggal diam, muridnya berkelakuan sok jagoan dan sombong!"
" Hahaha! Walaupun dia tahu aku sombong, dia takkan bisa berbuat apa-apa kepadaku! Hahaha..."
Warga hanya terdiam melihat tingkah Reza yang menyebalkan. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Kekuatan Reza yang sekarang terlalu jauh untuk mereka. Bertindak gegabah, bisa jadi nyawa mereka yang menjadi taruhannya.
" Bara! Ayo bangun! Hadapi aku! Jangan hanya jadi laki-laki pengecut! Ayo kita bertarung lagi, tunukkan bahwa kamu pelindung desa ini!"
" Sial! Kenapa aku susah untuk bergerak. Rasanya tulang-tulangku remuk semua." Ucap Bara dalam hati.
Bara tak mampu lagi untuk terus melakukan penyerangan pada Reza, Seluruh tubuhnya terasa lemas, seakan kekuatannya menghilang. Tak ada jawaban dari Bara, Reza mendekatinya lalu menginjak perut Bara dengan keras.
" Akkkh... Kurang ajar kau Reza! Ku bunuh kamu!" Teriak Bara mengerang kesakitan.
" Hahaha.. Ayo marahlah Bara, tunjukkan padaku kekuatanmu yang sebenarnya! Jika tidak, kau akan mati sekarang juga!"
" Reza! Hentikan! Dia sudah tak berdaya, jangan kau siksa dia! Singkirkan kakimu darinya! Jiwa kesatria tidak seperti itu! Pergilah dan tinggalkan kami!" Ucap Harjo pada Reza.
" Oh, ternyata masih ada kakek tua yang merasa sok jagoan yang membela pemuda lemah seperti dia!"
" Aku hanya tak ingin ada korban jiwa di desa ini gara-gara ulahmu. Pergilah! Tinggalkan desa ini!"
" Hei! Orang tua sudah bau tanah! Punya kehebatan apa kamu berani mengusirku! Aku bisa saja menguasai desa ini, tapi tak ada untungnya bagiku. Desa ini sungguh membosankan!"
__ADS_1
" Reza! Bocah durhaka kamu! Kau bilang kakekmu sendiri sudah bau tanah! Suatu saat kau akan memetik apa yang telah kau perbuat saat ini Reza!" Ucap Harjo lalu mungusap air mata yang perlahan jatuh menetes dipipi keriputnya.
" Orang tua bisanya hanya cerewet! Tapi cengeng! Aku tak mau memiliki keluarga cengeng sepertimu Harjo!"
" Reza! Dia Kakek kandungmu sendiri! Kenapa kau berani berucap kata kasar padanya!" Teriak Bara namun terdengar lirih karena menahan rasa sakitnya.
Reza pun menginjak kembali dada Bara. Dia tidak suka Bara ikut campur masalahnya dengan Kakeknya.
" Akkhh..."Teriak Bara sekali lagi.
" Reza! Hentikan! Aku mohon lepaskan dia!" Pinta Harjo pada Reza.
" Reza, sudah cukup. Kasihan dia. Lihatlah dia sudah tidak berdaya. Teriak beberapa warga kepadanya.
" Diam kalian! Kalau tidak, aku akan
membunuhnya dan menghabisi seluruh keturunan kalian!"
" Kamu memang biadab Reza! Kau bahkan lebih biadab dari Pemuda asing itu!"
"Diam! Jangan bandingkan aku dengan siapapun! Aku lebih unggul darinya!" Reza berteriak lalu menginjakkan kakinya ke dada Bara lebih keras lagi.
Bara menjerit kesakitan, sakit yang dia rasakan menjadi berkali lipat dari sebelumnya. Siapapun tak ada yang berani menghalangi Reza. Termasuk Harjo sendiri. Ia tak punya nyali lagi untuk menghentikan perbuatan Reza.
Beberapa detik kemudian sosok bayangan putih melesat ke arah Reza. Lalu tubuh Reza terpental jauh hingga sepuluh meter.
Warga merasa lega, Bara terselamatkan dari ulah Reza. Namun mereka tak tahu siaa yang menyerang Reza secara tiba-tiba.
" Kurang ajar! Siapa yang berani menyerangku! Keluar kamu! Jangan jadi pengecut!"
Reza melihat di sekelilingnya, tak ada siapapun kecuali warga desa. Dia menyuruh teman-temannya membentuk lingkaran agar bisa melindunginya.
" Baik Za, aku juga penasaran siapa yang memukulmu!" Ucap salah satu teman Reza.
" Prok..prok.. prok.." Terdengar suara tepuk tangan dari atas pohon.
Awalnya tak ada yang tahu siapa yang bertepuk tangan. Namun seorang warga menemukan darimana suara tepuk tangan itu berasal.
" Itu tepuk tangan Pak Wira, dia di atas pohon di sebelah sana."
" Wira? Kenapa dia kemari, siapa yang mengundang dia kemari? Brengsek! Apa jangan-jangan Rika dan si tua bangka sialan itu yang mengundangnya!" Gumam Reza dalam hati.
" Reza! Jadi begitu kelakuanmu setelah kau mendapatkan ilmu dariku. Aku tak menyangka, kau seperti sangkuni. Baik di depanku, dan buruk di belakangku. Reza! Apa yang sebenarnya ada dipikiranmu?Apa gunanya kau mempelajari ilmu bela diri, jika hanya untuk kau sombongkan?"
" Pak Wira, maafkan aku. Aku khilaf, aku terbawa emosi. Rika mengkhianatiku Pak Wira!" Ucap Reza dengan wajah iba, berharap Wira mengasihinya.
" Apa yang kau katakan Reza? Aku tak mengerti."
" Rika telah menjalin hubungan terlarang bersama pemuda asing itu! Aku hanya menanyakan hubungan mereka, namun mereka tak mau mengaku. Walaupun aku mempunyai bukti kedekatan mereka!"
" Reza, sebentar lagi kalian akan menikah, kenapa Rika salah jalan? Apa kau menyakiti hatinya?"
" Tidaaak.. Sebelumnya, aku tak tahu kenapa, lalu teman-temanku datang ke rumahku menyerahkan foto mesra Rika dan Ba****an busuk itu di tepi hutan, dekat jalan pintas menuju kota. Laki-laki mana yang tidak marah melihat kekasihnya bersama dengan pria lain?"
" Pasti ada sebab, Rika seperti itu dengan pria lain. Apa kamu berbuat kesalahan yang membuatnya berpaling darimu?"
" Aku tidak tahu, Guru. Aku tidak menyangka Rika setega itu mengkhianatiku! Aku benci padanya! Lihat saja Rika, kau akan menyesal membuatku seperti ini!"
" Reza! Apa kau mau membalas kelakuan Rika kepadamu?"
" Tentu saja Guru, apa Guru tidak marah muridmu mendapat perlakuan kurang ajar dari wanita yang ku cintai?"
__ADS_1
" Reza, aku tetap tak suka kamu berbuat nekad di desa ini. Bahkan kamu melukai seorang pemuda pelindung desa ini. Tindakanmu sungguh tidak bisa dibenarkan! Aku akan mencabut kembali ilmu yang kuberikan kepadamu."
" Jangan Guru! Aku mohon, ampuni aku! Aku tak ingin menjadi manusia lemah! Tolong jangan kau ambil ilmu tenaga dalamku Guru!" Aku berjanji akan menjadi orang yang baik! Aku mohon jangan Guru!" Teriakan Reza keras sekali, hingga membuat bumi seakan bergoyang.
Wira tak mempedulikan teriakkan Reza, dia pun memegang pundak Reza. Aliran tenaga dalam dari Reza tersedot masuk ke tubuh Wira. Reza berteriak sekerasnya dan memohon ampun pada Wira yang seakan mencoba membunuhnya.
" Akkhh!!! Ampun Guru! Jangan kau ambil lagi ilmuku! Hentikan Guru!" Reza terus berteriak, namun Wira tetap melakukan tugasnya menyedot kekuatan Reza.
Semenit kemudian, Reza tertunduk lemas. Dia jatuh terduduk di tanah. Nafasnya terengah-engah, keringat bercucuran hingga membasahi sekujur tubuhnya.
" Guru, kenapa kau tega melakukan ini padaku! Bahkan kau tak berpihak kepadaku meskipun aku telah memberikan bukti yang benar."
" Reza, aku tahu yang sebenarnya. Kamu tak perlu berkata apapun. Itu takkan merubah keputusanku. Sekarang, kau hanyalah pemuda biasa yang tak punya lagi kekuatan. Aku hanya mengingatkanmu agar kau tak sombong setelah ini."
" Brengsek! Wira, aku akan membalaskan dendam kelakuanmu padaku! Tunggu pembalasanku, aku akan mencari Guru lain yang lebih hebat darimu! Aku akan melampauimu dan membunuhmu secepatnya! Tunggu pembalasanku Wira!" Ucap Reza dalam hati.
" Reza, sebaiknya hilangkan perasaan dendammu itu. Jika kau terus menyimpannya, dia akan terus berkembang didalam jiwamu. Kau akan selalu diliputi dengan perasaan ingin balas dendam."
" Diam kau Wira! Kau sekarang bukan lagi Guruku. Aku bersumpah akan membuat perhitungan denganmu!"
" Reza,baiklah kalau kau mempunyai pikiran yang seperti itu. Teruslah gaungkan kemarahanmu."
" Baik! Aku akan ingat perlakuanmu padaku Wira! Ayo teman-teman kita pergi dari sini!"
" Mau kemana kamu Reza! Aku tak mengizinkanmu pergi dari desa ini! Kau sudah banyak membuat keonaran semenjak kau sering pergi keluar. Aku tak tahu apa saja yang kau lakukan diluar sana. Kali ini aku takkan mengizinkanmu keluar. Tinggallah disini dan belajarlah agama dengan baik. Aga kau bisa mengontrol sifat kasarmu."
" Ciiiihh! Aku tidak sudi tinggal disini lagi! Aku tak mau lihat orang-orang bodoh seperti kalian! Ayo teman-teman kita segera tinggalkan tempat busuk ini!"
Tujuh teman Reza berkumpul menjadi satu lalu berdiri di samping Reza, kemudian mereka pergi ke utara untuk menuju kota."
Harjo, Wira dan warga yang lain hanya bisa menggelegkan kepalanya mendengarkan ucapan Reza. Mereka pun hanya bisa melihat kepergian Reza tanpa bersuara.
" Reza! Tunggu! Aku sudah tak memiliki siapa- siapa lagi disini! Tolong, kumohon jangan pergi." Teriak Harjo lalu dengan tertatih-tatih berlari mengejar Reza yang berjalan terlalu cepat.
" Pak Harjo, sudahlah. Biarkan saja dia. Pak Harjo istirahat saja. Jangan terlalu mengurusi hidupnya. Mudah-mudahan dia menjadi orang yang baik setelah kepergiannya."
" Pak Wira, aku sangsi dia mau berubah. Beribu-ribu nasehat untuknya tetap saja seperti tak didengarkan sama sekali olehnya. Saya takut dia akan semakin brutal. Aku mohon cegah dia Pak Wira, saya sudah tak sanggup untuk mengejarnya."
Wira hanya menggelengkan kepalanya sembari menatap kepergian Reza. Dia pun tak sanggup mencegah Reza bertahan dan menuruti ajakannya agar jangan meninggalkan desa seperti yang dikatakan kakeknya.
" Pak Harjo, kita takkan mampu meluluhkan jiwa kerasnya. Semakin kita mencoba, dia akan semakin memberontak dan menjadi manusia yang lebih brutal lagi." Ucap Ketua Pemuda menyela pembicaraan Harjo dan Wira.
Harjo hanya tertunduk lesu, dia menangis karena telah gagal mendidik Reza. Dia tak sanggup menjaga amanat anaknya agar merawat Reza dengan baik. Kini dia sudah Renta, dan Reza telah tumbuh menjadi pemuda yang sangat berbahaya. Harjo sangat menyesali itu semua.
" Pak Harjo, sudahlah. Mudah-mudahan dia akan mendapat petunjuk yang baik dan mau kembali kepada Reza yang dahulu." Ucap ketua pemuda untuk menenangkan Harjo.
" Bara, tapi aku takut suatu saat dia akan membalas dendam dan mengobrak abrik desa ini dan kemungkinan bisa membunuhku."
" Pak Harjo ini terlalu berpikiran jauh. Jika itu terjadi, kita masih mempunyai Pemuda asing itu. Kita gunakan dia untuk melindungi desa."
" Pemuda? Siapa itu Bara?" Tanya Wira penasaran.
" Dia yang dulu pernah mengobrak abrik desa ini Pak Wira, sekarang dia bertolak belakang dengan Reza. Bono panggilannya, dia sangat baik dan sopanpada warga. Bahkan dia yang menyelamatkan Rika dari cengkraman Reza yang hendak memperkosanya."
" Oh iya, aku baru ingat. Dahulu ada pemuda yang mengobrak abrik desa ini. Aku penasaran siapa sebenarnya dia. Aku belum pernah bertemu dengannya."
" Saat ini dia sedang dirumah sakit mengantar kakek Rika. Tunggulah mereka pulang jika Pak Wira ingin bertemu dengannya."
" Baiklah aku akan menunggunya. Ibu-ibu dan para bapak semuanya, kalian pulanglah ke rumah. Sudah tak ada apa-apa disini." Wira membubarkan warga yang berkerumun memadati halaman rumah Rika.
......................
__ADS_1