SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
TIPU DAYA BONO


__ADS_3

" Ayo Jay, jangan bisanya hanya menghindar? Lawan aku!"


" Seranganmu bagiku tidak ada apa-apanya Jaka. Jia dibanding dengan anak buahmu, kemampuanmu jauh dibawah mereka."


" Kamu meremehkanku? Rasakan ini! Hiyyaaatt.." Jaka memukul dan menendang ke arah Wijaya dengan sekuat tenaga, namun tak satupun pukulannya yang mengenai Wijaya.


Nafas Jaka mulai terengah-engah, usahanya sia-sia, menyerang dengan kekuatan penuh, namun tak satupun serangannya yang mengenai sasaran.


" Kenapa kamu Jaka? Kelelahan? Kalau begitu, aku akan beri kamu waktu untuk istirahat sebentar, sebelum kamu menemui ajalmu. Hahaha..."


" Diam kamu Jay! Ku bunuh kamu! Hiyaaaatt!!!" Dalam keadaan nafas terengah-engah, Jaka kembali menyerang Wijaya. Namun usahanya percuma. Lalu dia mengambil senapan untuk menembak Wijaya.


" Dooorr..dooorr.. dooorr." Peluru Jaka berhasil mengenai perut sebelah kanan Wijaya, namun hanya mampu menggores kulitnya.


" Hampir saja, sialan! Apa yang harus ku katakan pada Bono, kalau aku seperti ini. Apa aku harus bilang, memang sengaja tidak menghindarinya. Ahh, memalukan sekali kalau aku bilang begitu. Pasti dia akan berpikir aku hanya berbohong padanya. Sial.. kenapa aku harus memikirkan hal, yang tak berguna seperti ini. Gara-gara si Jaka semprul mengenaiku, aku tak terima ini. Lihat saja Jaka, kamu akan membayarnya." Ucap Wijaya dalam hati.


Masih dengan nafas terengah-engah, Jaka tertawa melihat keresahan dalam wajah Wijaya. Dia tahu apa yang saat ini dirasakan oleh Wijaya.


" Hahaha.. Kenapa kamu Jay? Apa yang membuatmu mlempem? Hanya karena tergores peluru sedikit saja, harga dirimu berkurang?" Jaka meledek Wijaya, yang masih berdiri terdiam, melihat dan memegangi perut sebelah kanannya yang terluka.


" Ba*****n kamu Jaka, aku tak terima penghinaanmu. Akan kubuat kamu menyesal telah melawanku!"


" Silahkan kamu berkata sesuka hatimu Jay, aku takkan terpengaruh. Ayo serang aku!"


" Kejar aku Kapten!" Wijaya berlari dan melompat menjauhi pertarungan Bono.


" Kemana Bos akan pergi? Apa di akan meninggalkanku sendirian disini, dan dibantai beramai-ramai? Ah, biarlah.. Bos kita akan tentukan jalan hidup kita masing-masing. Jika kita menang dan kita masih diberikan umur panjang, kita akan bisa bwrgabung lagi. Tapi jika salah satu diantara kita mati, aku tak tahu lagi harus berbuat apa." Gumam Bono dalam hati.


" Kenapa kamu menjauh dari temanmu Jay? Apa kamu takut kalau kamu kalah dariku, temanmu akan meninggalkanmu?"


" Bukan itu maksudku kapten. Aku hanya tak ingin pertarungan kita berakhir dengan sangat menyedihkan."


" Hahaha.. Kita lihat saja siapa yang akan berakhir Jay! Ayo kita tentukan nasib kita." Sambil tertawa keras, Jaka maju menyerang ke arah Wijaya.


" Aku terima tantanganmu Kapten!"


" Aku akan membalaskan kematian anak buahku, bersiaplah! Hiiiyyatt.." Jaka kembali menyerang dengan sepenuh tenaga. Walaupun kemampuannya jauh dari Wijaya, namun kecerdikannya membuatnya berhasil menorehkan luka di tubuh Wijaya.


Puluhan bahkan ratusan pukulan dan tendangan saling beradu dalam pertarungan Wijaya dan Kapten Polisi. Keduanya memiliki kelebihannya masing-masing. Hingga satu jam pertarungan mereka, belum ada yang mati ataupun terluka sedikitpun.


Hingga kelelahan menghampiri mereka. Wijaya dan Jaka saling menjauh untuk memulihkan tenaga dan mengatur strategi.


" Ku akui kamu memang hebat Kapten. Tak kusangka aku bisa bersamamu disini sebagai musuh." Ucap Wijaya dengan nafas terengah-engah.


" Haha, kamu terlalu memujiku Jay. Tapi aku tak butuh pujianmu. Sehebat apapun kamu, aku akan tetap mengalahkanmu."


" Boleh dicoba Kapten, ayo kita lanjutkan sekali lagi." Ucap Wijaya bersemangat.

__ADS_1


" Akan kubuat kamu menyesal bertarung denganku Jay, rasakan ini!" Jaka melayangkan serangan ke arah Wijaya.


Namun Wijaya juga secara bersamaan menyerang ke arah Jaka. Dua kekuatan manusia yang luar biasa, saling beradu.


Suara bunyi aduan tangan dan kaki terdengar jelas sekali. Jaka tak henti-hentinya menyerang Wijaya. Dengan sekuat tenaganya, ia berusaha mendesak Wijaya. Namun Wijaya bukan orang yang berfikiran sempit. Melawan Jaka saat ini hanya akan membuang-buang energi yang tak ada gunanya. Meskipun kekuatan Jaka tidak sebanding dengan Wijaya, namun stamina Jaka tidak mudah untuk ditandingi. Ia dengan mudahnya mengembalikan tenaganya hanya dalam waktu beberapa detik saja.


" Ayo, Jay.. Serang aku. Kenapa kamu hanya menangkis seranganku saja dan tidak membalas menyerang? Apa kamu sudah tidak memiliki jurus lain? Hahaha.."


" Aku memberimu kesempatan untuk menyerangku, bukan karena itu Kapten. Jadi jangan sembarangan menilaiku"


" Terserah kamu saja. Aku takkan memberimu kesempatan untuk bernafas lega lagi. Matilah kamu Jay!"


" Tak semudah itu Kapten, kita lihat saja siapa yang akan mati lebih dulu." Ucap Wijaya dengan percaya diri.


Wijaya dan Jaka kembali bertarung, dari keduanya terlihat sama kuatnya. Hingga pertarungan berlangsung tiga jam, tak ada salah satu dari mereka yang kalah ataupun menyerah.


Di tempat lain, Bono yang kewalahan menghadapi Pasukan Polisi di bawah komando Kwarsa, berpindah tempat ke belakang markas Rendra. Di area kebun yang luas seperti hutan, Bono mempersiapkan strategi bertempurnya.


" Mau kemana kamu Bon? Mau kabur dari kami? Kami akan tetap mengejarmu sebelum bisa membunuh pengkhianat sepertimu. Hahaha.." Ucap Kawarsa sambil tertawa melihat wajah Bono yang seolah ketakutan.


" Hemm, jadi kalian tak mau melepaskanku jika aku pergi? Bagaimana jika aku menyerah saja?" Tanya Bono pada Kwarsa.


" Aku sarankan kamu menyerah Bon. Jika kamu menyerah, akan ada banyak hadiah untuk kamu."


" Hadiah? Apa hadiahnya? Jika menguntungkan bagiku, aku akan menyerah dan menuruti semua keinginan kalian, termasuk Rendra."


" Baiklah, kalau begitu aku menyerah." Bono mengangkat tangannya dan berjalan menghampiri Kwarsa yang di kawal anak buahnya.


" Baiklah, tapi maaf tanganmu harus kami borgol terlebih dahulu."


" Apa kamu takut aku berbohong? Tak perlu pakai borgol, aku tak akan bertindak culas."


" Baiklah kalau begitu mari kita masuk menemui Rendra. Pasti dia akan sangat senang sekali kamu bergabung bersama kami." Tanpa rasa curiga, Kwarsa membawa Bono masuk ke markas Rendra.


" Ayo Bon, kamu jalan lebih dulu." Ucap Kwarsa pada Bono yang berjalan di belakangnya dan anak buahnya.


" Tidak, saya lebih suka dibelakang. Saya hanya seorang Ba*****n. Sementara kalian Polisi pilihan. Aku tak mau terlihat sombong berada didepan."


" Baiklah kalau begitu, kami tidak bisa memaksa. Tapi jangan mencoba untuk kabur." Kata Kwarsa penuh dengan kehati-hatian.


" Percayalah padaku, aku tak mungkin berkhianat untuk kedua kalinya."


" Baiklah aku percaya padamu. Ayo kita bergegas."


Kwarsa berjalan diiringi anak buahnya, memasuki gedung yang luas, sebelum masuk ke markas Rendra. Bono berada di belakang mereka. Ketika sekitar dua puluh langkah mereka berjalan, Bono mendapat bisikan jarak jauh dari Wijaya.


" Bon, apa kamu sudah mengalahkan bagianmu? Kalau sudah, cepat kemari. Kita tidak punya banyak waktu lagi. Semakin cepat kita menghabisi mereka, semakin cepat pula kita menemukan dan membunuh Rendra."

__ADS_1


" Belum Bos, saya sedang berpura-pura menyerah. Saat mereka lengah, saya akan menyerang mereka secara mendadak."


" Kenapa tak kamu lakukan sekarang? Cepat Bon, Setelah ini kita takkan punya kesempatan lagi untuk membalaskan dendam. Jika kamu tertangkap, aku takkan sanggup membebaskan kamu hari ini. Bahkan jika kamu tertangkap, sama saja aku akan mati karena mereka akan menjadikan kamu sandera, agar aku menyerahkan diri."


" Bos jangan khawatir. Saya masih mampu mengalahkan mereka dengan otak saya. Walaupun mereka susah untuk dikalahkan dengan tenaga, namun sekarang yang bermain adalah otak kita. Saya mencoba mengelabuhi mereka kemudian membunuhnya."


" Bagus Bon, lakukan secepatnya. Lalu kemari, bergabung bersamaku."


" Apa Bos belum mengalahkan Kapten Polisi itu?"


" Belum, dia sangat kuat. setingkat dibawahku. Namun dia sangat cerdas. Aku sampai kewalahan menghadapinya."


" Baiklah Bos, jika saya sudah mengalahkan Kwarsa dan anak buahnya, saya akan bergabung dengan Bos melawan Kapten keparat itu."


" Baiklah, jangan sampai gagal Bon. Aku juga akan segera mengakhiri pertarungan ini."


" Baik Bos."


Setelah hampir memasuki lift, Bono tiba-tiba mengalirkan tenaga dalamnya ke kaki kanannya. Dengan cepat dia menghentakkan kakinya ke lantai. Gulungan angin besar bergulung ke arah Kwarsa dan anak buahnya.


" Blaaaarrr..." Kemudia terdengar suara ledakan yang sangat keras dan menyakitkan telinga hingga menggetarkan dan menghancurkan sebagian bangunan.


" Ku, kurang ajar kamu Bon, beraninya menyerang kami dari belakang. Kamu memang binatang! Tunggulah, sampai Rendra membalaskan dendamku. Hidupmu takkan tenang!" Usai berkata pada Bono, Kwarsa tewas.


" Hahaha.. Aku memang binatang Kwarsa. Tapi aku bukan budak Raja binatang! Matilah kamu dengan tenang Kwarsa. Sampaikan salamku pada Malaikat penjaga neraka. Katakan padanya, aku takkan pernah mau menemuinya! Hahaha.." Puas dengan kemenangannya, Bono tertawa lepas. Dia kemudian meninggalkan gedung menuju tempat Wijaya bertarung dengan Jaka.


" Bagus Bon, kamu berhasil menghabisi mereka. Kemarilah, sebelum Rendra terlebih dulu menemukanmu." Wijaya kembali menghubungi Bono dan menyuruhnya segera pergi.


" Baik Bos." Bono bergegas melompat keluar gedung menemui Wijaya di belakang gedung.


" Kapten, anak buahmu dan teman-temannya saat ini sudah menghadap pada malaikat penjaga neraka. Karena kejahatannya, mereka harus memprtanggungjawabkan semua perbuatannya dihadapan Sang Pencipta. Hahaha.."


" Biadab kalian! Ku bunuh kalian! Hiyaaattt.."


Dengan amarah yang meluap-luap, Jaka menyerang Wijaya dengan berbagai macam pukulan dan tendangan. Seperti singa yang merobek-robek mangsanya dengan kuku dan taringnya yang tajam. Dia bahkan tidak memberikan kesempatan untuk Wijaya mengeluarkan tenaga dalamnya.


" Kurang ajar, dia menyerangku secara bertubi-tubi. Aku tak bisa mengeluarkan tenaga dalamku." Gumam Wijaya dalam hatinya.


" Jay, aku takkan membiarkanmu mengeluarkan ajianmu. Kita bertarung sampai mati tanpa menggunakan tenaga dalam. Tunjukkan kejantananmu Jay."


" Hahaha.. Memangnya kenapa kalau aku memakai ilmuku Kapten. Kamu takut kalah?" Wijaya tertawa mendengar kata-kata Jaka.


" Aku takkan kalah darimu Jay!" Ucap Jaka lalu berlari ke arah wijaya untuk menyerangnya.


" Kita lihat siapa nanti yang akan duluan terkapar di tempat ini Kapten."


......................

__ADS_1


__ADS_2