SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
Berjuanglah Dengan Penuh Keyakinan


__ADS_3

Setelah lima jam jatuh pingsan, Wira mulai tersadar. Dia mencoba bangkit lalu duduk dan bersandar di sofa. Dia seperti orang kebingungan, memandang sekeliling. Penglihatannya masih belum pulih. Berkali-kali ia mengucek matanya agar bisa melihat dengan jelas. Lalu ia mencoba berdiri dan membuka jendela.


" Ah, rupanya hujan. Tadi, aku tidur atau pingsan." ucapnya, lalu kembali menutup jendelanya karena hari sudah mulai petang.


" Tak ada Novi disini, aku merasakan kesepian lagi. Rasanya seperti dulu saat aku baru saja kehilangan istriku. Ah.. Aku tak ingin kehilangan istriku untuk kedua kalinya. Semoga saja, aku bisa hidup lebih lama bersamanya." Ucap Wira lirih.


Hujan semakin deras, diikuti suara petir yang menggelegar. Membuat suasana didalam rumah Wira menjadi mencekam. Wira mengunci pintu rumahnya lalu masuk ke kamarnya. Dia berbaring dan merenung.


" Sepi... Kenapa perasaanku tak enak? Aku merasakan tubuhku sangat lemah. Apa aku lapar, atau karena aku berfikir terlalu berat. Lebih baik aku makan dulu saja untuk memulihkan tenagaku." gumam Wira.


Wira kemudian pergi ke dapur dan segera mengambil nasi dan lauk yang masih tersisa. Dia makan dengan lahapnya seperti orang yang sudah dua hari tidak makan.


Sembari makan, Wira kemudian menelpon Bara yang selama ini ia beri kepercayaan untuk mengelola restorannya.


" Halo, Bara apa kau masih di Restoran?" tanya Wira.


" Halo juga Pak Wira... masih pak, saya sedang membantu mencuci piring-piring kotor yang sudah menumpuk banyak. Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Bara melihat jam di dinding lalu membasuh tangannya yang masih berbusa.


" Apa banyak pelanggan yang datang ke Restoran kita? Kenapa kamu sampai ikut membantu mencuci piring?"


" Alhamdulillah, dua pekan ini pelanggan membludak, Pak. Mereka memadati seluruh bangku Restoran. Sebagian meminta untuk di bungkus karena sudah tidak kebagian tempat duduk."


" Syukurlah kalau begitu. Bagaimana menurutmu, Bar.. apa kita perlu menambah karyawan? Jika kau kewalahan begitu, kau akan semakin sangat sibuk."


" Hehe, tidak apa-apa Pak Wira. Saya masih bisa menangani semua. Kalau menurut saya, belum perlu menambah karyawan. Kami masih bisa memaksimalkan kerja kami, Pak."


" Tapi bagaimana kalau Santi melahirkan? Kau akan sangat sibuk. Kau harus menunggu Santi dan bayimu lahir. Saat ini dia sangat membutuhkanmu. Kau harus siaga, Bara."


" Iya, Pak.. tapi saya sudah berjaga-jaga dengan menyewa dokter khusus, agar jika istri saya sudah mau melahirkan, dia akan datang dan membantu persalinan Santi dengan segera."


" Apa kau yakin, Bara? sudah tak apa-apa, usia kandungan istrimu sudah semakin tua, lebih baik Kau berjaga-jaga dirumah saja. Kita tidak tahu anakmu akan lahir tepat pada HPLnya atau malah lebih awal dari HPLnya. Kamu tak perlu merasa tidak enak karena ku beri tanggung jawab mengelola Restoranku."


" Iya, Pak Wira.. saya memang merasa khawatir kalau istri saya melahirkan lebih awal dari HPLnya. Tapi bagaimana dengan Restoran Anda Pak? Apa saya harus cuti? lalu siapa yang akan mengelola Restoran Anda?"


" Tetap kamu yang mengelola, Bara. Tapi kau membutuhkan wakil. Agar saat kau tinggalkan, masih ada orang yang menggantikanmu menghandle Restoranku. Carilah orang yang bisa kamu percaya untuk sementara menggantikanmu."


" Baiklah kalau begitu, Pak. Besok saya akan mencoba mencari orang untuk menggantikan saya untuk sementara."


" Baiklah, Bara. Mulai hari ini sebaiknya kau jangan pulang terlalu malam. Kasihan istrimu sendiri di rumah. Pasti dia berharap-harap kamu cepat pulang. Dia pasti butuh teman untuk bercerita. Mendekati kelahiran bayimu, pasti dia ketakutan. Makanya kau harus bisa menguatkan mentalnya. Jangan sampai dia berpikiran yang tidak-tidak."


" Iya, Pak... nanti jam delapan saya akan pulang. Tapi saya harus menyelesaikan mencuci piring ini terlebih dahulu."

__ADS_1


"Tidak perlu, Bar.. kau berikan tugas itu pada yang biasa mencuci piringnya. Berikan ia lembur kalau hingga Restoran tutup, pekerjaan kalian masih belum selesai."


" Oh begitu, Pak. Baik.. nanti saya akan minta Fitri dan Nabila untuk lembur Pak. Mereka sangat senang kalau di berikan lemburan."


" Iya terserah kamu, sebaiknya kau sisakan satu orang laki-laki untuk menemani mereka. Agar lebih aman."


" Mereka berdua pemberani, Pak. Anda tak perlu khawatir. Apalagi saat ini kita sudah punya Satpam dan juru parkir. Apa Anda lupa?"


" Hahaha.. aku hampir saja lupa, Bara. Seingatku, Restoranku masih seperti yang dulu. Sudah lama aku tak datang ke Restoranku. Buku laporan yang kau berikan selama satu bulan lebih juga belum kubaca. Maafkan aku Bara."


" Eh... tidak apa-apa, Pak Wira. Di buku laporan pada awal bulan, tertulis laba Restoran kita, lalu dari laba itu sebagian digunakan untuk perluasan Restoran dan tempat parkir. Di tengah bulan tertulis, pengambilan dana dari laba untuk pembuatan Pos penjaga dan perekrutan satpam. Itu poin penting yang perlu saya sampaikan lagi Pak."


" Oh begitu, oke Bar.. oh iya, aku ingin meminta bantuanmu Bar."


" Apa itu Pak? saya siap membantu Anda."


" Mulai hari ini, Restoranku aku ingin balik namakan atas nama istriku. Apa kau bisa membantuku mengurusnya?"


" Eh, kenapa tiba-tiba Pak Wira? Lalu kapan saya bisa mengurusnya?"


" Selagi kamu tak sibuk saja. Aku hanya ingin memberikan semua yang ku punya untuk Istri dan anakku kelak, Bar. Aku tak mungkin hidup sampai berpuluh tahun lagi. Aku tak tahu sampai kapan aku akan hidup. Untuk itu, aku ingin segera mengurus kepemilikan Restoranku, Bar."


" Baik Pak Wira, besok saya akan mengurusnya. Anda jangan khawatir, serahkan saja semuanya pada saya."


" Baik Pak Wira, terimakasih atas kebijakan Anda. Selamat malam, Pak."


" Sama-sama Bara."


Wira menutup telponnya lalu meneruskan menghabiskan makan malamnya. Entah sadar atau tidak, sudah menghabiskan dua piring nasi, ia masih mengambil sepiring nasi lagi lalu memakannya.


" Nasi ini sangat enak, kenapa aku ketagihan makan. Padahal tak ada tambahan apa-apa. Istriku memang pintar kalau memasak. Apalagi lauknya... ayam bakarnya sungguh sangat menggoda. Novi.. aku merindukanmu. Besok, aku sudah tak lagi makan masakanmu. Padahal aku sangat menyukai masakanmu. Aku tak tahu besok mau makan apa. Rasanya tak ada masakan lain yang ingin ku makan, selain masakanmu."


Ketika sedang menikmati enaknya masakan Novi, Hp Wira berdering. Ia lalu mengangkat telponnya yang ternyata dari Novi.


" Halo istriku, wah panjang umur ya.. baru saja aku memuji masakanmu. Malah kamu menelponku." sapa Wira sembari melahap sisa ayam bakar yang terakhir.


" Hehe, alhamdulillah.. Pak Wira suka masakan saya? Padahal baru sekali saya memasak ayam bakar. Kok Pak Wira sudah suka. Kalau begitu, habiskan saja, Pak."


" Tak perlu diminta, sudah kuhabiskan Nov. Aku tak tahu, sudah berapa piring nasi yang kuhabiskan untuk menghabiskan ayam bakarmu."


" Hehe... kalau Pak Wira suka, besok saya masakkan lagi. Tadi pagi itu, terlintas dipikiran saya untuk masak ayam bakar. Terus saya tanya sama bibi apa resepnya. Ya sudah, Bibi memberikan resepnya. Tapi, takaran bumbunya dan yang memasak saya sendiri."

__ADS_1


" Iya, aku kagum padamu. Meskipun baru pertama kali mencoba, masakanmu bernilai seratus. Aku sampai ketagihan."


" Pak Wira bisa saja memujinya. Kalau begitu, cepat susul saya. Nanti saya masakan yang lebih enak lagi dari ayam bakar tadi."


" Hehe.. aku juga inginnya begitu, tapi bagaimana lagi. Aku harus berjaga, Novi. Keselamatan adikku dan keluarganya sedang terancam. Aku tak tahu kapan, akan terjadi insiden itu. Tapi berkali-kali, Rani berkata kalau ia semakin hari semakin ketakutan."


" Iya, saya juga prihatin dengan nasib mereka Pak Wira. Seandainya saya tidak sedang hamil, pasti saya akan ikut membantu mereka."


" Tak apa Novi. Tugasmu sekarang hanya menjaga anak kita. Kau tak perlu memikirkan masalah yang sedang dihadapi saudaraku. Urusan mereka, biar aku dan Bono yang menangani."


" Hemm... baiklah Pak Wira, semoga saja urusan mbak Rani dan mas Tanu segera selesai. Saya ingin sekali berkumpul lagi seperti dulu. Rasanya hadir di tengah-tengah keluarga Pak Wira itu sangat menentramkan."


" Ya, semoga saja Nov. Doakan saja kami bisa mengatasi dan melewati ini semua.


Memang saat ini kami sedang diuji dengan ujian yang sangat berat. Orang yang kami hadapi bukanlah orang sembarangan.


Menang kalah, itu semua tergantung kehendak Tuhan. Yang terpenting satu. Apapun nanti hasilnya, jika kami terpukul mundur, hingga salah satu diantara kami mati, kamu jangan bersedih.


Kamu harus ikhlas, anggap saja semua ini ujian dari Tuhan. Aku tahu kau bisa mengontrol dirimu Nov. Kau adalah wanita yang sangat kuat. Tidak hanya fisik, tapi mentalmu juga sudah teruji. Kau pasti sanggup menerima semua kenyataan yang ada."


" Pak Wira, apa maksud kata-kata Pak Wira? Apa Anda sudah akan menyerah sekarang? Novi mohon jangan berkata-kata yang membuat saya bersedih Pak Wira.


Saya disini sangat menanti kedatangan Anda. Saya menanti kabar baik dari Pak Wira. Saya juga menanti kabar baik dari Tuhan. Setelah kelahiran anak kita, saya menunggu memberikan kejutan tentang kelahiran anak kita suatu hari nanti.


Jika Pak Wira nggak ada, bagaimana saya akan memberi kabar baik kepada Anda. Saya mohon Pak Wira.. berjuanglah dengan penuh keyakinan. Saya yakin, Pak Wira bisa mengatasi semuanya dengan mudah. Saya percaya itu, Pak."


" Novi, baiklah. Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan masalah ini dengan lancar. Maafkan aku Nov, telah membuatmu bersedih. Sekarang tenangkan dirimu, lalu segera beristirahatlah. Aku sudah selesai makan. Tanganku kotor, aku harus segera mencuci tanganku."


" Baiklah, Pak Wira. Ya sudah... saya tutup telponnya ya. Assalamualaikum..."


" Waalaikumsalam..."


Wira meletakkan Hpnya, ia kemudian pergi ke dapur untuk mencuci piring-piringnya yang kotor. Tiba-tiba saja ia dikagetkan dengan suara benda jatuh.


" Brrrrokkk..." Foto keluarga Wira yang terpajang di dinding ruang tamu Wira terjatuh.


Wira segera menuntaskan cuciannya. Dia kemudian mendatangi darimana suara benda jatuh tadi berasal.


" Astaga.. kenapa foto ini bisa jatuh? Aduh.. bingkai kacanya juga pecah. Maafkan aku istriku, aku tak tahu kenapa foto keluarga kita bisa jatuh dan rusak." ucap Wira sembari melihat ke dinding tempat fotonya terpajang.


Wira lalu berdiri dan melihat ke dinding. Ia meraba bagian lubang tempat menancapkan paku. Dia menemukan, paku yang menancap di dinding sudah patah karena sudah berkarat terlalu lama. Dia pun memukul dinding dengan tangannya berkali-kali sambil menangis.

__ADS_1


......................


__ADS_2