
Pertarungan yang terjadi di halaman rumah Tanu terus berlanjut. Pimpinan rampok terus menggempur pertahanan Tanu. Setelah Riko datang membantu Tanu, keadaan menjadi terbalik. Kini Pimpinan rampok itu menjadi terdesak.
Serangan yang ia lakukan berhasil ditepis oleh Riko dan Tanu. Pertarungan menjadi tidak seimbang. Wijaya mengetahui hal itu, namun ia tak ingin ikut campur karena Pimpinan rampok sudah berkata kepadanya, tak ingin lagi bergabung dengannya.
" Ah.. aku memang yang mengajaknya kemari. Sebenarnya, aku kasihan jika dia sampai kalah dan kemudian mati. Tapi dia sudah menolak bergabung denganku. Dia selama ini berbohong setia kepadaku, ternyata sifat aslinya terbongkar setelah teman-temannya mati. Hahah.. dasar bodoh!" ucap Wijaya lirih.
" Riko, ayo serang lebih kuat lagi. Orang ini sudah tak mampu menghadapi serangan kita. Ayo serang terus.."
" Baik, Ayah. Aku akan terus berusaha menjatuhkannya." Jawab Riko lalu menyerang Pimpinan rampok dengan sangat cepat.
Dengan pukulan dan tendangan yang diarahkan ke Pimpinan rampok oleh Tanu dan Riko secara bertubi-tubi, membuat Pimpinan rampok semakin kewalahan. Ia tak mampu lagi membalas serangan-serangan yang telah melukainya.
Pada pukulan tangan kanan yang dilayangkan olehTanu dan Riko secara bersamaan, menyebabkan Pimpinan rampok terdorong ke belakang hingga tujuh meter. Seketika badannya terbentur pagar rumah yang masih tersisa. Tak lama kemudian ia jatuh tersungkur lalu tak sadarkan diri.
" Ayah.. Kita bisa mengalahkannya.. ucap Riko penuh kesenangan.
" Kau benar Riko.. kau semakin hebat sekarang. Tanpa bantuanmu, Ayah tidak ada apa-apanya "
" Ini hasil kerjasama kita Ayah, bukan karena diriku sendiri atau karena Ayah sendiri. Kita lah yang melakukannya."
" Hahaha.. apa kalian sudah cukup puas dengan membunuh anak buah kepercayaanku?" Tiba-tiba Wijaya menyela lalu berdiri dengan lantangnya di atas bongkahan pagar yang roboh.
" Wijaya.. kini tinggal kita bertiga. Sekarang apa lagi yang ingin kau lakukan?" ucap Tanu.
" Apa lagi yang ingin kau lakukan katamu? Hahaha.. Tanu, kau tahu apa sebenarnya tujuanku kemari?"
" Aku tidak tahu, Wijaya. Orang sepertimu, tak bisa ku tebak. Kau mempunyai seribu macam alasan untuk membuat orang lain menderita. Kau sangat kejam, Wijaya."
" Hahaha.. Tanu! Kenapa kau mengatakan itu kepadaku? Aku.. aku lah orang yang pada masa lalu, menderita karena kau dan teman-temanmu. Aku menyimpan semua kenangan buruk itu sampai sekarang, Tanu!"
" Wijaya, kenakalan anak-anak pada waktu itu hanya kenakalan biasa. Kaupun boleh membalasnya jika kau mau. Mereka tak bermaksud membuatmu menderita, Wijaya. Mereka hanya bercanda. Kenapa kau memasukkannya ke dalam hati, sehingga timbul rasa dendam dihatimu."
" Kau bilang itu bercanda? Kau tak mengerti perasaanku pada waktu itu, Tanu! Aku yang pendiam, miskin, jelek, hitam dan orang-orang menjauhiku. Kau tahu bagaimana rasanya dijauhi, Tanu!
Sakit.. hatiku terasa di cabik-cabik! Aku sudah memantapkan niatku untuk membunuh diriku sendiri. Tapi aku tak sanggup! Aku takut mati.. Dan saat aku sudah diambang kesabaranku, teman-temanmu semakin menindasku.
__ADS_1
Apa kau tahu? Aku selalu jadi bahan olokan, selalu jadi bahan sindiran, dan selalu jadi bahan tertawaan. Bagaimana perasaanmu, Tanu! Apa kau bisa terima jika orang lain melakukannya kepadamu?"
" Wijaya, kalau masalah itu aku tak tahu. Aku tak pernah ikut melakukan itu kepadamu, Wijaya.."
" Bohong! Aku ingat dengan jelas, pada saat itu kau tahu diriku direndahkan, kau tahu diriku ditindas, kau tahu diriku di tertawakan. Dan kau ikut menertawakanku, Tanu!"
" Aku tertawa bukan bermaksud menertawakanmu, Wijaya. Tapi aku hanya mengimbangi teman-teman saja. Aku juga tak mau di tindas seperti kamu. Aku juga takut pada mereka, Wijaya. Mengertilah, dan coba pikirkan dengan baik. Ingat-ingat dengan baik, terkadang aku membantumu mengerjakan tugas sekolah, aku memberitahumu kunci jawabanku. Lalu apa yang kau dendamkan kepadaku?"
" Ada satu hal yang membuatku dendam padamu, Tanu. Kau merebut Rani dariku. Sebelumnya Rani sudah menyukaiku dan sudah dekat denganku. Tapi kau dan Wira bersekongkol lalu menyingkirkanku!"
" Aku tidak menyingkirkanmu, Wijaya. Aku tidak pernah melakukan itu."
" Teruslah berbicara semaumu, Tanu. Kau memang sulit untuk dipercaya. Pergilah kau ke neraka bersama anak ingusanmu itu, Tanu!"
Usai berkata, Wijaya mengumpulkan Tenaganya lalu memusatkanya ke telapak kaki kanannya. Ia lalu mencoba menghentakkan kakinya ke tanah.
Keringat dingin mengucur di kening Tanu dan Riko. Wijaya bermaksud menggunakan jurus andalannya, namun Tanu mencegahnya.
" Hentikan..." teriak Tanu.
Wijaya pun menghentikan gerakannya. Ia lalu bertanya pada Tanu.
" Wijaya.. apa kau bersungguh-sungguh akan membunuhku dan keluargaku?"
" Kau sudah tahu, kenapa kau masih bertanya?"
" Baiklah, bunuh kami sekarang juga Wijaya. Seperti kau membunuh Wira. Ayo! Tapi kau takkan pernah mendapatkan sertifikat tanah ini." Ucap Tanu lalu ia mengeluarkan sertifikat tanah yang ia selipkan di dalam bajunya.
Wijaya terkejut, ia hampir saja melupakan sesuatu yang sangat penting. Puncak Bukit adalah prioritas utamanya. Jika ia membunuh Tanu, maka dia takkan pernah mendapatkan sertifikat tanah seperti pada tanah milik Wira.
" Baiklah Tanu, aku takkan membunuh kalian. Sekarang berikan sertifikat itu kepadaku. Dan aku akan membiarkanmu hidup bebas bersama keluargamu. Aku tak ingin mengganggumu lagi. Aku bersumpah, Tanu."
" Wijaya, aku tahu kau bukanlah orang baik. Kau licik dan kejam. Kau bisa saja menipuku dan mengingkari janjimu."
" Tanu.. aku bukanlah orang yang suka ingkar janji. Aku akan menepati janjiku. Berikan dokumen itu kepadaku."
__ADS_1
" Aku takkan memberikan kepadamu, Wijaya. Ini adalah warisan leluhur istriku. Kami tidak bisa memberikannya pada orang lain. Apalagi ada orang yang mau mencoba merebutnya dari kami. Pergilah, Wijaya. Percuma kau kemari jika kau takkan pernah mendapatkan tanah ini."
" Kurang ajar! kau sungguh pintar, Tanu! Andai saja kau tak memegang dokumen berharga itu, aku sudah dari tadi membunuhmu!"
" Hahaha.. hei orang jahat! pergilah dan jangan ganggu keluarga kami! Lebih baik kami mati daripada menyerahkan berkas itu kepadamu."
" Bocah ingusan! Aku robek mulutmu, jika kau tak bisa diam!"
" Wijaya... kami berkata yang sebenarnya. Pulanglah dan jangan kembali lagi. Cukup kali ini, kau mengganggu keluargaku."
" Kurang ajar! apa yang harus aku lakukan untuk membujuknya. Aku tak bisa berpikir jernih! Tanu.. aku bersumpah akan membunuhmu! Kau yang telah membuat Putriku meninggal."
" Wijaya.. ada apa kau melamun. Cukup sudah kau ditempat ini. Sekarang sudah malam, pulanglah dan biarkan kami hidup tenang."
"Aaaah... Sial! kenapa aku malah menjadi tertekan begini! Aku tak boleh kalah. Aku harus mencari cara agar sertifikat tanah itu jatuh ke tanganku." ucap Wijaya dalam hati.
Ia terdiam untuk beberapa saat. Sekeras apapun dia memikirkan cara agar sertifikat itu jatuh ke tangannya, tetap saja ia takkan mendapatkan tanah itu. Butuh waktu panjang untuk mengurusnya.
" Wijaya.. kenapa kau berdiam diri? Apa yang sedang kau rencanakan?" Tanu merasa heran dengan sikap diam Wijaya.
" Oh, tidak apa-apa Tanu. Aku cuma teringat putriku. Aku sungguh sangat merindukannya."
" Kalau begitu, pulanglah dan temui dia. Kenapa kau masih berada disini?"
" Baiklah.. Aku akan pergi, Tanu. Kita akhiri saja permusuhan ini. Aku sudah tidak ingin melakukannya lagi. Apalagi itu berkaitan denganmu."
" Itu lebih baik, Wijaya. Sekarang pergilah, dan temui Putrimu. Pasti dia sangat merindukan Ayahnya, Wijaya."
" Iya.. kau benar, Tanu. Dia memang sering menanyakan keadaanku. Dia juga sering menelponku. Iya khawatir kepadaku. Di saat hujan turun, dia menelponku. Dia bilang jangan keluar dari rumah. Hujannya sangat deras. Dan petir diluar sana sangat berbahaya. Itulah pesan-pesannya yang selalu ia katakan kepadaku disaat hujan turun." ucap Wijaya dengan lemas. Kali ini ia bersandiwara dan terpaksa harus pulang dengan tangan hampa.
Wijaya dengan berat membalikkan badannya lalu berjalan membelakangi Tanu dan Riko. Ratusan kata umpatan keluar dari dalam hati Wijaya. Baru kali ini, ia mengalami peristiwa yang sangat memalukan. Ke empat anak buahnya tewas akibat pertarungan dengan Tanu. Dan ia pun tak membawa kemenangan. Meskipun ia bisa saja menyuruh orang untuk membantunya, namun dia berpikir, seratus orang membantunya pun, takkan bisa membuat ia mendapatkan sertifikat dari tangan Tanu.
Ketika Wijaya berjalan sepuluh meter dari Tanu dan Riko. Seseorang memanggil Wijaya dari dalam rumah Tanu.
" Bos Wijaya..." teriak seorang laki- laki yang keluar dari dalam rumah Tanu.
__ADS_1
Seketika Tanu dan Riko menjadi terkejut, keringat mereka mulai bercucuran. Sementara Wijaya tersenyum penuh dengan kemenangan.
......................