
Dalam perjalanannya menuju ke rumah Rani yang sangat jauh, hujan pun turun dengan lebatnya. Arti dan Khalid berlari ke sebuah gubuk kecil di tepi jalan yang sudah lama tak digunakan pemiliknya untuk berjualan.
" Khalid, sepertinya kita akan terlambat ke rumah Bu Rani. Hujan ini Ibu rasa akan berhenti lama. Lihatlah, langit sangat hitam pekat. Mudah-mudahan saja tempat ini bisa melindungi kita dari hujan. Dan Ibu berharap, angin besar tak akan datang kemari dan menerbangkan gubuk ini." ucap Arti pada anaknya.
" Baik, Ibu.. lebih baik kita beristirahat disini saja. Khalid juga sudah lelah. Khalid juga sudah lumayan mengantuk."
" Kasihan kamu, Nak.. kemarilah.. biarkan Ibu memijatmu."
" Tidak perlu,Ibu. lebih baik Khalid saja yang memijat Ibu. Ibu lebih lelah dari Khalid, kan."
" Tidak.. Ibu tidak lelah khalid. Ibu sudah terbiasa."
" Kita berjalan sudah cukup jauh, Ibu. Dan Ibu juga membawa beban berat. Khalid tak mau menambah beban Ibu lagi."
" Hehehe.. Khalid.. baiklah, kalau begitu Khalid memijat Ibu dan Ibu akan memijat Khalid. Bagaimana?"
" Hehehe.. baik Ibu."
Kedekatan Arti dan dan anaknya membuat mereka mengerti satu sama lain. Arti lebih mengerti apa keinginan Khalid dan Khalid pun mengerti tentang keadaan Ibunya. Malam yang di sertai hujan lebat yang panjang menemani Ibu dan anak itu bercanda ria di sebuah gubuk di tepi jalan. Terkadang ada lalu lalang orang lewat, lalu menawari mereka tumpangan. Namun Arti menolaknya dan lebih memilih bertahan di gubuk kecil itu.
...----------------...
Sementara itu, digubuk yang berbeda sepuluh kilo meter dari tempat Arti berteduh, Tama masih tampak menggigil kedinginan. Mukanya pucat. Bibirnya menghitam. Ia juga merasa sangat lapar. Sejauh ia berjalan, tak menemukan satu orang pun yang berpapasan dengannya.
" Kenapa? kenapa tak ada siapapun di tempat ini. Apa aku tersesat? Ibu.. Ayah.. kalian dimana?"
Dalam kegelapan malam, didalam gubuk kecil itu hanya tedengar suara Tama yang menangis terisak-isak.
Dia tak pernah membayangkan hidupnya akan seperti itu. Seharusnya dia tidak mungkin akan berpikir seperti itu. Namun, hidupnya kini yang seorang diri membuat pikirannya penuh dengan tanya-tanya.
" Ayah.. aku tak bisa melihat diriku.. Apa aku buta. Kenapa aku tak bisa melihat diriku? Ibu.. Tama takut.. datanglah. Ibu!!!"
Ketakutan yang melanda Tama, membuatnya terus menangis. Tak ada siapapun yang datang. Ia pun mencoba berteriak memanggil Ibunya dengan sisa-sisa tenaganya.
" Tuhan.. Apa engkau ada disini? tolong aku.. Dimana Ibu dan Ayahku. Bawa aku kepadanya. Aku ingin bertemu mereka. Aku ingin melihat dan memeluk mereka." ucap Tama lirih.
Hari sudah semakin malam, namun hujan juga masih terlalu deras. Lemas tubuh dan rasa kantuk berat yang menghampiri Tama membuatnya tertidur pulas. Dan saat ingin tertidur, ada banyak sekali harapan yang Tama katakan.
" Ibu, Ayah.. jika kita bertemu lagi. Aku ingin sekali memeluk kalian. Aku akan bertahan. Aku akan terus berjalan, mencari kalian. Sekarang aku lelah, Aku mau tidur dulu ya."
...----------------...
Tak terasa, hari sudah mulai pagi. Setelah shalat subuh, Arti dan Khalid melanjutkan perjalanannya. Mereka tak ingin membuang-buang waktu lagi untuk melanjutkan perjalanannya menuju rumah Rani di Puncak Bukit.
" Khalid.. kita harus segera mempercepat jalan kita. Ibu akan menggendongmu. Ibu merasa ada yang tidak beres dengan Ibu Rani."
" Tidak beres kenapa, Bu? Apa yang terjadi dengan Bu Rani?"
" Ibu juga tidak tahu, Khalid. Ibu merasa tidak enak hatinya. Ibu gelisah, kenapa sampai saat ini Bu Rani belum membalas pesan Ibu. Dan juga Hpnya tidak bisa dihubungi. Ibu sudah mencoba menghubunginya berkali-kali namun masih tetap tak bisa tersambung."
__ADS_1
" Kita berdoa saja supaya Bu Rani tidak kenapa-kenapa, Ibu."
" Iya, Ibu juga selalu berdoa kepada Tuhan agar Bu Rani dan keluarganya selalu dalam lindunganNya. Tapi Ibu tak tahu, kenapa hati Ibu merasa sangat gelisah."
" Kalau begitu kita harus berlari agar segera tahu apa yang terjadi disana, Bu."
" Ibu maunya juga begitu, tapi Ibu tak sanggup kalau berlari. Yang ada malah Ibu nanti pingsan sebelum sampai di tempat Bu Rani."
" Kalau begitu kita percepat saja jalan kita, Khalid masih bisa jalan sendiri."
" Baiklah.. maafkan Ibu, Khalid. Ibu terpaksa membuatmu harus berjalan cepat. Firasat Ibu memang semakin kuat. Bahwa telah terjadi sesuatu dengan Bu Rani dan keluarganya."
" Ibu jangan berpikiran yang negatif dulu. Berdoa saja, semoga firasat Ibu itu salah."
" Tidak, Khalid.. tidak salah lagi. Telah terjadi sesuatu dengan Bu Rani. Dan mungkin juga menimpa keluarganya. Ibu khawatir akan keselamatan mereka. Ibu juga khawatir dengan Tama dan Rama. Bagaimana keadaan mereka. Kasihan sekali anak-anak itu."
" Mudah-mudahan saja kita bisa segera bertemu dengan mereka, Ibu."
" Iya, ayo kita percepat lagi jalan kita." ucap Arti lalu menciun kening anaknya dengan lembut.
...----------------...
Suara burung hutan berkicau bersahutan. Kabut tipis menyelimuti pepohonan di hutan tempat Tama berteduh. Tama perlahan membuka matanya, tubuhnya sangat lemas. Berkali-kali ia bersin.
" Ibu, aku flu.. mau minum obat." ucap Tama lirih lalu mengusap hidungnya yang berlendir.
" Rama.. kenapa kamu masih tertidur? Ayo bangun, ini sudah pagi. Ayo bicara dengan Kakak." ucap Tama.
Ia membelai rambut halus adiknya, wajah dan tubuh adiknya kini telah berubah pucat. Meskipun begitu, Tama tak memandang adiknya sebagai orang lain. Ia merasa meskipun tubuh adiknya berubah, tetap saja dia adiknya. Karena, seharian Rama lah yang menemaninya.
Berbeda dengan Ayah Ibu dan Kakak-kakaknya yang telah ia anggap sebagai orang lain karena tak menghiraukan akan keberadaan dirinya.
" Rama, Kakak lapar.. apa kamu juga lapar? Maaf, Kakak tidak membawa minuman. Kakak pikir, kita akan bertemu Ibu, Ayah dan lainnya jika pergi kemari. Tapi sampai sekarang, Kakak belum menemukan mereka."
Usai berkata, Tama kembali menggendong adiknya. Bau menyengat mulai keluar dari tubuh Rama. Tama tak menyadari hal itu. Ia terus menggendong Rama dan membawanya berjalan menyusuri jalanan.
...----------------...
Hingga lima jam lamanya, Arti dan Khalid telah jauh berjalan. Mereka beristirahat sebentar di bawah pohon besar yang rindang di tepi jalan.
" Khalid, kita istirahat lagi disini. Ibu haus. Kita minum dulu, Nak. Kamu juga harus minum. Buka bekalnya, dan kita akan lanjutkan perjalanan kita. Jika tidak salah, mungkin kita akan sampai di rumah Bu Rani sebelum shalat Dhuhur."
" Masih lama, Ibu? Khalid ingin segera tiba di rumah Bu Rani."
" Masih sekitar satu jam lagi, Nak. Makanya kita segera makan, lalu kita teruskan lagi perjalanan kita. Ayo, kita makan bersama."
" Baik, Bu."
Disaat mereka menyantap makanan mereka, Khalid terkejut melihat bocah kecil yang membawa bayi. Ia pun memberitahu Ibunya.
__ADS_1
" Ibu.. kasihan adik itu. Lihatlah disana." ucap Khalid sembari mengarahkan jari telunjuknya di jalan menuju ke rumah Rani.
" Ya Tuhan, siapa dia Khalid. Kemana orang tuanya? Ayo kita hampiri dia." ucap Arti lalu bergegas berlari menghampiri Tama.
" Mas Tama!!!" teriak Arti. Ia hapal benar kalau itu adalah Tama. Ia pun memeluk Tama dengan berurai air mata.
" Ibu.. siapa dia?" tanya Khalid keheranan.
" Dia Tama, Nak. Dia anaknya Ibu Rani. Kamu mungkin tak begitu mengingatnya." ucap Arti pada Khalid lalu terkejut dengan bayi yang di gendong Tama.
" Tama... i.. ini Rama??" Tanya Arti dan langsung shock begitu sadar kalau Tama menggendong seorang bayi yang masih berumur beberapa bulan.
" Iya.. ini Rama, bibi." Bibi siapa?"
" Rama??? Tama.. ini Bibi Arti. Dulu yang merawatmu saat masih bayi. Tama, adikmu sudah meninggal. Kenapa kamu bawa kemari? Dimana Ibu, Ayah dan Kakak-kakakmu?"
Tama menggelengkan kepalanya. Ia tak tahu harus berkata apa. Ia pun kebingungan mencari keluarganya.
" Tama.. ayo jawab, Nak. Apa kamu paham, maksud pertanyaan Bibi?"
" Bibi, aku tersesat. Aku kehilangan Ibu dan Ayahku."
" Apa? kamu tersesat? Lalu kenapa orang tuamu tidak mencarimu? Sini, berikan Rama pada Bibi. Biar Bibi yang membawanya."
" Tidak boleh. Rama temanku satu-satunya. Aku tak mau dia berubah seperti mereka."
" Berubah bagaimana maksudmu, Tama?"
" Semua orang dirumahku berubah. Mereka tidur di tanah. Mereka tak mau bicara denganku. Rama menangis, ingin minum susu, tapi mereka tak peduli."
" Apa? jangan-jangan mereka sudah.. Tama katakan pada Bibi, apa yang terjadi."
" Tama tidak tahu, Tama hanya ingat ada orang yang membuat Ibu dan lainnya tidur. Orang itu membuat warna merah di baju Ayah dan Kakak."
" Ya Tuhan.. apa yang terjadi.. Khalid, kekhawatiran Ibu benar."
" Memangnya ada apa, Ibu?" tanya Khalid.
" Pasti ada orang jahat yang mencelakai keluarga Bu Rani." Jawab Arti lalu kembali meminta Tama menyerahkan Rama dari gendongan Tama.
" Tama, berikan adikmu pada Bibi. Dia sudah meninggal. Apa kau bisa mencium bau badannya sudah membusuk?"
Tama menggelengkan kepalanya. Ia tak tahu maksud perkataan Arti.
" Tama, sebentar lagi adikmu akan berubah seperti yang Tama lihat di rumah Tama. Ayo, sekarang berikan Rama pada Bibi. Bibi akan merawatnya. Kamu sekarang ikut Bibi. Kita berteduh dibawah pohon itu. Bibi membawa banyak makanan."
Mendengar ucapan Arti, Tama menurut saja lalu menyerahkan Rama dari gendongannya. Ia pun berjalan mengikuti Arti dan berteduh di bawah pohon.
......................
__ADS_1