
" Vina aku balik dulu ya. Nanti tolong sampaikan izinku pada Papamu kalau aku pulang."
" Lho kok jadi buru - buru Sya.. Tunggu dulu." Vina menahan tangan Tasya agar tidak pergi.
" Biasanya kamu main lama sampai malam di sini." ucap Vina penasaran dengan Tasya.
" E.. nggak ada apa - apa kok Vin. Aku ingat, tadi mamaku pesan makanan. Aku malah lupa membelikannya. " Tasya berusaha melepas pegangan tangan Vina.
" Owh ya sudah kalau begitu Sya. Maaf ya tadi merepotkanmu. Hati hati di jalan." Vina melepaskan tangan Tasya dan membiarkannya pergi.
" Iya Vin. Daaaa..." ucap Tasya lalu pergi meninggalkan Vina.
Tasya melajukan motornya dengan kencang. Bulu kuduknya berdiri saat mengingat sosok dan juga suara Papa Vina. Ada aura jahat yang bersemayam di tubuhnya. Namun dia sedang tertidur. Ada kemungkinan jika dia merasakan sakit hati, Dia akan benar - benar membunuh orang yang membuatnya sakit hati. Dia pun khawatir kalau Wijaya akan membunuh anaknya sendiri suatu saat jika teringat bahwa mama Vina meninggal gara - gara Vina.
Sungguh Tasya tak bisa membayangkan, jika apa yang ada di pikirannya terjadi. Di sepanjang perjalanan, Tasya terus memikirkan Vina. Ingin menasehati Vina pun percuma. Walaupun Wijaya Orang tua kandung Vina, namun Ia terkenal dengan kebengisannya .
" ciiiiiittttt... " Tiba - tiba Tasya menghentikan motornya.
" Aaakkhhh... Aduuh... Ini rumahku sudah lewat. Ya ampun, kok aku jadi ngeblank begini ya. Ini terlewatnya sudah kebangetan. Harus muter lewat empat persimpangan lagi deh." Ucap Tasya lalu segera memutar balik motornya menuju rumahnya.
......................
Di rumah Vina, Vina yang masih duduk santai di ruang tengah sedang bermain game di HPnya.Tak berapa lama dia beranjak dari duduknya menuju kamarnya. Saat akan menaiki tangga, Vina melihat baju seragam sekolahnya berserak di bawah tangga menuju lantai atas.
"Kok seragam Vina bisa ada di sini. Apa papa membuangnya? " Pikir Vina dalam hati.
" Tapi kenapa di buang di sini? Papa sebenarnya kenapa. Kirain pulang - pulang sudah tidak membenci Vina." Ucap Vina lirih dan serak.
Vina neneteskan air matanya. Dia memeluk seragam sekolahnya yang belum di cuci sambil duduk di anak tangga ketiga dari bawah. Dia memangku baju dan rok seragam sekolahnya lalu menutup wajahnya dengan itu.
Vina tak bisa menahan tangis yang dia rasakan. Hingga tangisnya terdengar dari Kamar wijaya.
Wijaya yang sedang enak tiduran di kamarnya, terusik mendengar suara tangisan.
" Ahh.. siapa yang sedang menangis? Mungkinkah Vina yang menangis. Kenapa dengan dia? " Gumam Wijaya dalam hati.
__ADS_1
Wijaya belum beranjak dari tempat tidurnya. Dia masih memastikan suara siapa yang menangis. Namun lama kelamaan suara tangisannya terdengar jelas.
" Itu suara tangis Vina. Iya benar Vina yang menangis." Wijaya segera beranjak dari tempat tidurnya dan mencari kemana suara tangis itu berasal.
Dengan masih berjalan senggoyoran, Wijaya keluar dari kamarnya. Dia mendapati Vina duduk di anak tangga dan sedang menangis menutup wajahnya.
" Astaga... Vina kamu kenapa? " teriak Wijaya dan kemudian turun menghampiri Vina.
Dia mengangkat bahu Vina ke atas dan memeluknya.
" Vina kenapa kamu menangis? Katakan pada Papa. Siapa yang membuatmu menangis? Apa teman kamu tadi yang membuatmu menangis? Dimana dia?" Tanya Wijaya sambil melihat lihat di luar apakah di sana masih ada Tasya.
" Papa.. Vina memanggil Wijaya, kemudian dia terdiam sejenak lalu meneruskan kata - katanya.
" Ku pikir Papa bisa memaafkan kesalahanku di waktu lalu. Tapi ternyata dugaanku salah. Papa masih membenciku kan? Ucap Vina bersamaan dengan isak tangisnya.
" Siapa yang bilang Vin? Papa sudah tak membencimu. Papa sayang sama kamu. Dulu Papa khilaf. Setelah merenung saat di luar kota, Papa bisa menyadari semua. Hidup itu kuasa Tuhan. Begitupun dengan Mamamu. Jika pun dia meninggal, Itu karena kehendak Tuhan. Seandainya mama mu nggak kemana - mana pun kalau memang sudah takdirnya meninggal, ya tetap akan meninggal. Papa menyadari itu Vin. Papa sudah tak menyalahkanmu. Papa sudah Ikhlas meskipun Papa masih menginginkan Mamamu kembali."
" Papa beneran sudah nggak membenci Vina? Papa yakin? " Vina memastikan kesungguhan Wijaya.
" Terus kenapa Papa membuang seragam Vina sampai bawah tangga. Apa alasannya Pa?"
" Owh itu tadi Papa... " belum berhenti bicara Vina memotong perkataan Papanya..
"Apa Papa menginginkan Vina untuk berhenti sekolah? " ucap Vina lantang.
" Apa - apaan kamu ini. Jangan salah paham dulu.Tunggu dulu. Tenangkan diri kamu, berhenti menangis. Dan dengarkan Papa bicara. "
Vina pun mencoba menenangkan hati dan pikirannya, dia mulai bisa mengendalikan emosinya. Tak lama kemudian , Vina berhenti menangis.
Wijaya pun mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya.
" Begini ceritanya, Papa itu tadi ketika pulang mau masuk rumah, gerbang nggak di gembok. Pintu rumah nggak di kunci. Papa awalnya marah sama kamu. Soalnya kamu teledor. Papa panggil kamu, namun tak ada jawaban. Ya sudah akhirnya Papa masuk. Papa melihat suasana di lantai ini beberapa menit. Terus Papa Naik ke atas. Ke kamar Mamamu. Papa sempat istirahat sebentar di Kamar. Namun Papa kebelet Pipis, Ya sudah Papa langsung ke toilet.
Terus Papa melihat seragam sekolahmu tergantung di dinding toilet. Aku marah lagi tadi, lalu aku berniat membawanya ke tempat cucian. Kebetulan bertemu kamu di sini. Saat melihatmu aku menjatuhkan baju seragammu di bawah tangga. Papa nggak ingat kalau Papa menaruh seragammu di bawah lantai. Makanya papa nggak mengambilnya lagi saat Papa naik.
__ADS_1
" Oh jadi begitu kejadiannya, maafkan Vina sudah salah paham sama Papa."
" Iya, tidak apa-apa Vina. Papa bisa memaklumi kamu."
" Papa masih minum - minum ya?" Tanya Vina ketika dia mencium bau mulut wijaya.
" E.. Maafkan Papa Vin. Papa belum bisa meninggalkan kebiasaan buruk Papa." jawab Wijaya dan gugup ketika Vina menanyakan Kebiasan buruk dirinya.
" Sampai kapan Papa akan berhenti minum minuman yang akan merusak tubuh Papa? " Tanya Vina sambil menatap mata Wijaya.
" Mulai detik ini Papa akan berhenti Vin. Papa berjanji." Ucap Wijaya yang sebenarnya dia tidak serius menepati ucapannya.
" Papa, Vina tahu dari sorot mata Papa. Vina tahu kalau Papa tidak akan menepati janji. Sama seperti dulu saat Mama masih ada, Papa selalu mengingkari janji. Tidak hanya kepada Mama, Papa juga sering melakukannya sama Vina."
Mendengar perkataan Vina, Wijaya tidak bisa berkata apa - apa. Dia menyadari kesalahannya. Sebagai seorang suami dia sering membohongi istrinya. Berselingkuh dengan banyak wanita. Namun istrinya tidak pernah melarangnya.
Bahkan saat Mama Vina tidak di rumah, Wijaya berani membawa seorang wanita lain datang ke rumah.
Hal ini sudah di ketahui banyak orang. Banyak dari tetangga sebelah yang mengadukan Wijaya kepada Dinda,mama Vina. Namun Dinda tidak pernah terprovokasi. Dia tidak mau tahu dengan urusan suaminya.
Kalaupun tahu, Wijaya yang kejam akan menamparnya jika Dinda ikut campur urusan Wijaya. Betapa malangnya Dinda, Wanita baik - baik yang cantik jelita, mendapatkan suami tak tampan tetapi kejam. Namun semasa hidupnya bersama Wijaya, Dinda tidak pernah menyesali menikah dengannya. Karena Dinda lah yang menginginkan Wijaya menjadi suaminya.
" Papa mengapa diam? Kapan Papa akan berhenti menjadi seorang pemabok? " Tanya Vina lagi ketika tak ada jawaban dari Papanya.
" Hemmm.. Baiklah Vina mulai sekarang Papa berjanji akan berhenti minum minunan keras lagi. Papa tak ingin suatu saat nanti generasi penerus keluarga kita akan melakukan hal yang sama seperti yang Papa lakukan."
" Benar apa yang Papa katakan, Papa berjanji?"
" Iya, Papa berjanji demi anak - anak Papa."
" Terima kasih Papa. Vina jadi senang mendengarnya."
" Iya, kamu harus selalu senang. Anak - anak Papa tidak boleh ada yang tidak senang. Harus bahagia, sejahtera,aman, tentram, damai, nyaman dan... apalagi ya?"
Wijaya berkata sambil membuat canda. Hal ini membuat Vina yang tadinya menangis, menjadi tertawa bahagia.
__ADS_1
Sudah sekian lama Vina merindukan kasih sayang orang tua. Namun baru kali ini dia bisa merasakan kehangatan karena kedekatan dengan Papanya yang selama ini meninggalkannya seorang diri.