
Lima kali hP Vina berdering. Namun tak satupun dari mereka yang mau mengangkat telponnya. Mereka terlalu larut dalam kesedihan.
Hingga dering ke sepuluh kalinya, Tasya tersadar lalu meminta Vina untuk tenang.
" Sudah Vin jangan menangis lagi.. aku akan selalu di sini menemanimu. Kamu jangan khawatir ya."
Vina perlahan mampu untuk meredakan tangisannya, lalu melihat ke arah hpnya.
"Sya.. Hpku berbunyi.. tolong lihat siapa yang menelpon." pinta Vina pada Tasya untuk mengambilkan hpnya.
" Sebentar.. siapa ini? Eh dari Pak Tanu. Ternyata kamu diam-diam mendapat nomer telponnya ya." Tasya terkejut, lalu memberikannya pada Vina.
"Iya, aku belum lama mendapat nomer HPnya. Aku pun tak pernah berkirim pesan meskipun mempunyai nomernya. Eh itu dari Pak Tanu, buruan diangkat Sya. Sini HPnya. Cepat, sebelum dia berhenti menghubungiku." Ucap Vina dengan rasa tidak sabar.
" Iya, iya.. Ini HPnya...hemh.." Tasya segera memberikan HP Itu pada Vina.
" Haloo.. Pak Tanu ya?" Ucap Vina lirih.
" Iya, ini Bapak Vin. Semalam Bapak memimpikan kamu. Bapak khawatir kamu kenapa-kenapa, makanya Bapak telpon Vina. Bapak takut mimpi Bapak menjadi kenyataan."
Dalam hati Vina terasa seperti tanaman yang sudah lama layu, tetapi hujan deras menyiraminya. Begitulah yang ia rasakan pagi ini. Raut wajahnya yang pucat, perlahan memudar. Kini berganti menjadi segar kembali walapun dia masih merasakan lemas.
" Emhh.. Vina cuma nggak enak badan saja Pak. Vina kemarin kehujanan. Dan tidak sempat memakai jas hujan. Habis itu pulang, tidur sampai pagi hari ini baru bangun. " Ucap Vina dengan nada manjanya.
" Owh begitu. Terus kamu hari ini enggak bisa masuk sekolah?"
" Untuk hari ini Vina izin libur dulu Pak. Biar Vina memulihkan kesehatan Vina terlebih dahulu."
" Iya Pak, kondisi Vina sekarang lagi kurang fit. Tasya berharap Bapak bisa memberikannya izin libur dulu." Pinta Tasya pada Tanu selaku Guru dan wali kelasnya.
" Eh itu ada Tasya di rumah kamu Vin?" Tanya Tanu ketika Tasya ikut-ikutan bicara dengannya.
__ADS_1
" Benar Pak, Tasya yang membantu Vina di sini. Dia sangat baik pada Vina." Ucap Vina sambil menjulurkan lidahnya keluar karena yang dia katakan tentang Tasya hanya kebohongan saja.
Tasya memukul Vina dengan guling kecil di tangannya. Dia tak terima di rendahkan. Namun tak membuat Vina kesakitan.
" Baiklah , Bapak izinkan Vina libur. Jaga kesehatannya ya. jangan sampai sakit lagi. " ucap Tanu memberi semangat untuk Vina.
" Iya Pak, Vina janji akan jaga kesehatan Vina. Biar besok bisa ketemu Bapak lagi." ucap Vina berharap.
" Hehe... Iya, besok kita pasti akan bertemu lagi. " Ucap Tanu lalu menutup telponnya.
" Yahh... Kok dimatikann sih telponnya. ihhh.. sebell.." Vina menggerutu kesal.
" Cieee... Yang baru saja dapat telpon dari Pak Tanu. Langsung sehat nih anak. Jangan-jangan kemarin yang membuat kamu menjadi seperti ini, Pak Tanu ya? " Tasya meledek Vina dan berusaha mengulik keterangan kenapa Vina jadi seperti itu.
" Apaan sih kamu ini.. Jangan suka berburuk sangka. Dosa lho..." ucap Vina lalu mencoba berdiri untuk ke kamar kecil karena sudah semalaman menahan kencing.
" Enggak kok, ehh kamu mau kemana? Aku bantu ya.."
" Ihh..siapa juga yang mau ikut, kan aku hanya ingin membantu kamu berjalan saja. Kalau kuat berjalan sendiri ya silahkan, kalau tidak kuat, aku akan membantu." Ucap Tasya kesal.
Sementara Vina pergi ke kamar kecil, Tasya mengomel dalam hati. Namun akhirnya dia mengeluarka suaranya.
" Haduhh... Aku heran, ada apa dengan Vina ya. Kok dia aneh begitu. Seharusnya dia itu masih lemas. Masih harus banyak istirahat.Tapi dia bisa langsung sehat seperti itu hanya karena dapat telpon dari Pak Tanu. Hemhh... Sepertinya Vina juga menaruh hati pada Pak Tanu ya. Aduhh... bagaimana ini, masa teman baikku menyukai orang yang selama ini aku sukai. Kupikir dia enggak serius." Sambil memandangi Vina yang keluar dari kamarnya Tasya bicara dengan dirinya sendiri.
Di dalam toilet , Vina kencing sambil senyum-senyum sendiri. Pikirannya melambung tinggi. Tak sadar meskipun sebenarnya dia sudah selesai kencing, Vina masih jongkok di atas closet.
" Vina ke kamar mandi kok lama baget sih. Ngapain saja coba.."
Tasya mencoba menyusul Vina ke kamar mandi dan mencoba memanggilnya. " Viin.. Vinna.. Vinn. Kamu ngapain? katanya pipis tapi kok lama. Viiinn..."
Vina terkejut mendengar panggilan Tasya. Dia tak sadar sudah berapa lama dia jongkok di atas kloset.
__ADS_1
" Iya Sya.. bentar... " jawab Vina lalu bergegas memakai ****** ***** dan rok seragam sekolahnya.
" Ada apa Sya? Pak Tanu telpon lagi?" ucap Vina sambil senyum - senyum sendiri.
" Tona Tanu Tona Tanu.. cuma Pak Tanu aja yang ada di pikiran kamu tu?" ujar Tasya kesal karena Vina menyebut nama Tanu terus.
" Aku kan cuma tanya Sya, kenapa kamu marah? "
Tasya yang melihat Vina tahu kalau dia kesal padanya lalu menenangkan dirinya. Hampir saja emosinya meluap karena panas mendengar Vina terus menyebut Guru idamanya .
" Eh.. maaf Vin, aku cuma nggak mau kamu sampai kaya gini . Pak Tanu kan Guru kita. Dia sudah berkeluarga. jika kita menyukai, cukup menyukai saja . Jangan sampai punya niat untuk memilikinya. " Tasya berusaha mempengaruhi Vina agar dia tidak mempunyai pesaing lagi. Di sisi lain dia tak ingin Vina menjadi perusak hubungan keluarga Pak Tanu. Kalaupun dia mempunyai rasa yang sama dengan Vina, namun Tasya lebih bisa mengendalikan perasaannya.
" Syaa... Pliss.. ku mohon jangan halangi aku untuk memiliki Pak Tanu. Aku rela mati demi mendapatkannya.
Meskipun dia menolak, keluarganya menolak, aku akan tetap ingin memilikinya. Sya.. kamu tahu hidupku menderita.
Aku kehilangan Mamaku. Papaku lebih mementingkan dirinya sendiri daripada anaknya.
Aku terbiasa hidup seorang diri. Aku butuh kasih sayang seorang kekasih juga orag tua Sya..
Itu bisa ku dapat dari seorang Pak Tanu. Jadi ku mohon... jangan halangi aku.." Usai berkata Vina meneteskan air matanya.
" Viinn.. Jangan egois, pikirkan perasaan keluarganya juga dong. Masih banyak cowok di dunia ini. Di sekolah kita juga banyak cowok kan. Kenapa kamu nyari yang susah? "
" Tasya... aku juga nggak ingin seperti ini.. tapi aku ngga bisa hapuskan perasaanku pada Pak Tanu. Aku nggak bisa , dan aku nggak mau Sya.
" Haduh ni anak... susah sekali di bilangnya.." Tasya mulai menyerah untuk menasehati Vina.
" Maafkan aku Sya..." ucap Vina lirih. Air matanya semakin membanjiri pipinya.
Tasya memeluk Vina erat. Dia berusaha membuat Vina tenang. Namun dia tidak juga bisa menahan air matanya.
__ADS_1