
" Hai.. siapa namamu? Ayo berdiri dan tinggalkan tempat ini. Aku akan membawamu pulang. Dimana rumahmu?" tanya Bagus lalu berusaha mendekati Bulan dan mengulurkan tangannya.
Bulan membuka matanya. Ia lalu melihat ke arah Bagus, namun ia kembali membenamkan kepalanya diantara kedua lututnya sambil menangis. Ia takut jika orang yang ada di hadapannya akan berbuat jahat juga.
" Aku bukan orang jahat, aku kemari karena kebetulan saja saat motorku mogok di tepi jalan sana, aku mendengar suara perempuan minta tolong. Aku lalu mencari sumber suara itu. Dan aku menemukan kalian di gubuk ini."
" Apa kau akan melakukan hal yang sama seperti yang ingin dia lakukan? Jika iya, lakukanlah sepuasmu. Aku sudah lelah, aku tak kuat lagi untuk hidup." ucap Bulan penuh dengan keputusasaan.
" Kenapa kau bicara seperti itu? sungguh aku tak berniat jahat padamu. Aku benar-benar ingin menolongmu. Berdiri dan ikuti aku."
Bulan pun berdiri lalu mengikuti Bagus di belakangnya.
" Itu Hp siapa?" tanya Bagus ketika dia sampai di luar gubuk, dan Bulan tak membawa serta Hp yang tergeletak di atas ranjang dalam keadaan senternya menyala.
" Itu milik orang itu. Aku tak membawa apa-apa untuk sampai ditempat ini."
" Baiklah, aku akan membawanya. Siapa tahu ada orang yang menghubungi laki-laki bejat itu."
Bagus berjalan meninggalkan gubuk menuju tempat dimana ia memarkirkan motornya. Bulan mengikutinya sembari memegang jaket kulit bagian belakang yang di pakai Bagus.
" Bulan, bantu aku.. motorku mogok. Kemungkinan businya aus. Tapi, mudah-mudahan masih bisa di perbaiki."
" Apa yang bisa ku lakukan, Kak?" ucap Bulan.
Suara Bulan kali ini lebih lembut, dia menaruh hati pada Bagus. Walaupun ia tak tahu sebenarnya Bagus itu jahat atau baik. Namun ia tak peduli. Ia berusaha lebih dekat dengan Bagus.
" Eh, kau cukup menyalakan senter di Hp itu saja. Tak perlu membantuku. Bantu aku menerangi. Aku tak bisa membuka businya kalau tak di beri penerangan."
" Baik, Kak." ucap Bulan, lalu ia ikut jongkok mendekati Bagus hingga lengannya menempel ke lengan Bagus.
Hal itu membuat Bagus merasa risih. Ia menjadi tak bisa konsentrasi. Lalu ia menegur Bulan agar jangan terlalu dekat dengannya.
" Bulan, kenapa kau begitu dekat denganku? Aku rasa orang itu sudah mati di jurang sana. Kau tak perlu takut."
" Eh, apa Kakak keberatan? Maafkan aku, Kak."
" Tak apa, Bulan. Tapi jika kau terlalu dekat, aku menjadi kesusahan membukanya."
" Apa Kakak nggak suka aku dekati?" ucap Bulan namun ia semakin dekatdengan Bagus.
" Bulan, aku bilang jangan dekat-dekat. Kau dengan pakaian seperti itu membuat orang tergoda. Aku tak ingin melakukan hal buruk. Aku mohon jaga sikapmu."
" Kak, aku sudah pasrah. Hidupku sudah hampa. Keluargaku sudah meninggal. Kini aku hidup seorang diri. Jika Kakak mau melakukan apa yang seperti orang itu akan lakukan kepadaku, aku takkan menolaknya. Setelah itu, bunuhlah aku Kak, agar penderitaan hidupku tidak berkepanjangan."
" Kamu itu bicara apa? Sudah.. jangan bicara macam-macam. Aku akan segera membuka busi ini."
Setelah busi motor Bagus dibuka, ternyata sudah hangus. Ia mencoba mengamplas busi itu lalu setelah membersihkannya, ia memasangnya kembali.
__ADS_1
Ia mencoba meyalakan motornya. Hanya sekali starter, motornya bisa menyala.
" Syukurlah bisa.." ucap Bagus sambil tersenyum
Bulan pun ikut tersenyum. Ia terus memandang ke arah Bagus. Meskipun dia belum tahu namanya, namun dirinya merasa lebih nyaman berada di dekat Bagus.
" Bulan, aku akan mengantarmu pulang. Dimana rumahmu? Oh, iya aku belum memperkenalkan namaku. Apa kau perlu mengetahui namaku?"
" Iya, aku ingin tahu siapa namamu. Tapi aku sudah tak punya tempat tinggal lagi. Rumahku akan diambil alih oleh Penjahat."
" Namaku, Bagus. Ha? Siapa penjahat itu? Kenapa tak melapor Polisi?"
" Kak Bagus, melapor Polisi pun percuma. Penjahat itu punya pengaruh besar di negara ini. Walaupun sudah melapor, tapi tak ada Polisi yang mau datang ke tempat kami."
" Siapa Penjahat itu? Dan rumah kamu itu dimana?"
" Aku tak tahu pasti siapa penjahat itu, namun Ibu dan Ayah bilang namanya Wijaya."
" Apa? Wijaya?" Bagus terkejut setengah mati. Keringatnya mulai bercucuran. Pikirannya kembali tak tenang.
" Apa Kakak mengenalnya?" tanya Bulan.
" Iya, aku mengenalnya. Jadi Kau ini anaknya Pak Tanu?"
" Apa kau juga mengenali Ayahku?" tanya Bulan lagi.
" Iya.. aku ingat.. Adik-adikku. Aku rasa jika mereka meninggalkan rumahku, Mereka takkan melihat adik-adikku. Ayo Kak, kita selamatkan mereka."
" Baik, Bulan. Kita akan segera kesana."
Bagus segera melajukan motornya dengan kencang. Ia khawatir, Tanu sudah tak bernyawa dan ia tak bisa lagi meminta maaf kepadanya.
Tiba tak jauh dari rumah Tanu, Bagus menghentikan motornya. Hal ini membuat Bulan bertanya-tanya dalam hati. Ia lalu bertanya pada Bagus karena tak bisa menahan pertanyaan yang ada dalam pikirannya.
" Kak, kenapa kita berhenti disini? Rumahku tidak jauh lagi, Kok. Nggak sampai dua menit, jika pakai motor akan cepat sampai."
" Aku tahu, Bulan. Aku memang sengaja. Kita harus berjalan dari sini untuk sampai ke rumahmu. Kita tak bisa terang-terangan datang kesana. Siapa tahu, ada jebakan atau Wijaya dan yang lainnya masih di rumah kamu."
" Baiklah, aku mengerti maksud Kakak. Kalau begitu kapan kita akan jalan?"
" Sekarang, namun kita harus berhati-hati. Jangan sampai menimbulkan suara yang mencurigakan."
" Baik, Kak.. ayo." ucap Bulan lalu segera berjalan lebih dulu ke depan menuju rumahnya.
Tiba seratus meter di dekat rumah Tanu, Bagus menghentikan langkah Bulan. Ia menyuruhnya merunduk, setelah tahu ada Wijaya yang masih menelpon dengan Putrinya.
" Bulan.. merunduk dan kita sembunyi dulu. Wijaya masih ada dirumahmu. Aku melihat disana ada beberapa mayat yang tergeletak di halaman rumahmu. Apa itu salah satu anggota keluargamu? Atau malah semua keluargamu?"
__ADS_1
Dengan menenteskan air mata, Bulan mulai berbicara. Ia menyebutkan siapa saja yang tergeletak dihalaman rumahnya.
" Yang tergeletak disana, ada Ibu. Dia yang berada di luar pagar rumah. Dan yang di halaman rumah ada Kak Riko yang telah lebih dulu mati. Sementara yang lainnya adalah teman penjahat itu."
"Oh, begitu. Sepertinya aku sudah terlambat. Seharusnya aku tak membiarkan ini terjadi. Lalu siapa yang disana? Sepertinya dia masih hidup meskipun terluka. Dan, apakah itu Pak Tanu? Orang yang berbaring dan bersandar di bawah pohon itu."
" Itu Kak, Raka. Matanya buta karena serangan penjahat yang sudah mati. Dan yang disebelah sana, adalah Ayahku. Kasihan mereka, apa yang harus kita lakukan, Kak?"
" Tenanglah, Bulan. Aku akan mencari cara." ucap Bagus, lalu terdiam dan mulai memikirkan satu rencana.
Namun saat dia terdiam, Hp milik Teman Reza yang dibawanya berdering. Bagus terkejut setengah mati, lalu mematikan Hpnya.
Tetapi, teman Reza mengetahui bahwa temannya tak jauh dari tempat mereka. Dia pun mulai mencari temannya di sekitar halaman depan rumah Tanu.
"Hei.. kau kenapa malah mondar mandir seperti Bos?! Kau tahu aku sedang mencari temanmu. Kenapa sampai sekarang dia belum kembali?"
" Maaf, Ketua.. Sepertinya saya tadi mendengar suara dering Hp milik temanku disekitar sini. Apa Hpnya terjatuh?"
" Jangan mengada-ada. Aku saja tak mendengarnya."
" Saya mendengar dengan jelas, suara dering Hpnya berada dekat sini."
" Ada apa, Za?" tanya Wijaya yang sudah selesai menelpon anaknya.
" Anak buahku, yang ku suruh mengejar gadis itu sampai sekarang malah belum kembali. Aku mencoba menghubunginya tapi tak bisa. Tetapi kata dia, Hp temannya terdengar di sekitar tempat ini."
" Baiklah, Aku yakin Hpnya memang masih berada disekitar tempat ini. Namun disini sangat gelap. Pohonnya juga sangat lebat. Aku akan mencoba menyusuri disekitar semak belukar di depan sana."
Wijaya maju ke depan. Ia kemudian menyusuri semak belukar di depan rumah Tanu. Sontak saja membuat Bulan menjadi takut.
Bagus mencoba menenangkannya, namun Bulan yang tak biasa mengalami situasi itu malah menangis. Walaupun tak bersuara, namun isak tangisnya terdengar oleh Wijaya.
" Reza.. cari disemak-semak sebelah sana, sepertinya aku mendengar sesuatu." perintah Wijaya sembari menunjuk kemana sumber suara berasal.
" Baik, Bos. Saya akan melihatnya."
Tak butuh waktu lama, Reza dan temannya berhasil menemukan sumber suara itu. Namun yang ia temukan bukanlah temannya. Namun orang lain yang membawa anak Tanu.
" Siapa kamu?! Kenapa gadis ini bisa ada padamu?" tanya Reza pada Bagus setelah ia menemukannya.
" Tanyakan pada Bosmu, ia pasti tahu namaku." jawab Bagus.
" Kurang ajar! beraninya kau menyuruhku!"
Mendengar ucapan Bagus yang seolah meremehkannya, Reza marah besar. Ia melayangkan tinjunya ke arah Bagus. Namun Bagus bisa menghindarinya. Ia lalu keluar dari semak-semak dan membawa Bulan ikut dengannya, menuju halaman rumah Tanu.
......................
__ADS_1