SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
DIHADANG PASUKAN POLISI


__ADS_3

Seusai menyantap makanan di restoran mahal, Wijaya dan Bono kembali mengamati ke markas. Setelah dirasa cukup aman, Mereka pergi memasuki halaman luas tempat Rendra dan anak buahnya berada.


" Bos, sebenarnya kita ini siapa? Kenapa kita bisa keluar masuk markas Rendra tanpa pencegahan. Ini rasanya tidak seru. Saya ingin seperti di film luar negeri, membalaskan dendam orang tuanya, namun saat memasuki markas besar musuh, banyak sekali rintangan yang dihadapi. Tetapi kita tidak. Padahal saya sudah berlatih keras dan menguasai berbagai macam jurus, namun musuh yang saya hadapi hanyalah manusia-manusia payah yang lemah. Membosankan sekali." Keluh Bono.


" Bon, kamu itu terlalu banyak menonton film, jadinya seperti ini. Harusnya kita bersyukur, jika lawan kita tidak berat. Kenapa kamu malah susah."


" Saya sudah sejauh ini berlatih ilmu beladiri tingkat tinggi, namun tak ada musuh kuat yang saya hadapi, untuk apa saya berlatih."


" Kamu menyesal mempunyai kekuatan Bon? Jika menyesal, cukuplah kamu berlatih ilmu bela diri. Tapi, saat kamu menemukan musuh yang lebih kuat, dan kamu kalah menghadapinya, jangan menyesal."


" Hemhh, baiklah Bos. Saya tak akan berhenti berlatih. Lagipula masih banyak masalah yang harus saya hadapi selama masih hidup."


" Ya sudah, ayo kita masuk. Buka gerbangnya Bon."


" Baik Bos."


Ketika Wijaya dan Bono memasuki halaman markas Rendra, puluhan polisi bersenjata lengkap telah lebih dulu menghadang mereka.


" Wah, Bon.. apa ini yang kamu mau? Musuhmu semuanya anggota Polisi."


" Bos, apa kita akan melawannya. Mereka bersenjata lengkap. Dan jika kita melawan Polisi, apakah kita akan dipidana lalu dipenjara?"


" Kenapa, kamu takut Bon? Ini sama di film luar negeri." Wijaya tersenyum meledek Bono.


" Bono pantang takut Bos, masalahnya jika kita melawan Polisi, apakah kita tidak dituduh sebagai pemberontak negara?"


" Bon, mereka hanyalah Polisi bayaran, jadi menurutku, mereka halal untuk dihabisi. Tak perlu takut."


" Tapi Bos, bagaimana kita melawan, sementara kita dikepung."


" Bon, jangan sampai tertembak. Jika kamu tertembak, maka kamu tidak layak menjadi pengikutku."


" Kenapa begitu Bos? Saya tidak terima kalau ditolak menjadi pengikut Bos."


" Makanya kubilang, jangan sampai tertembak. Kalau tertembak dan kamu mati, maka yang kamu ikuti bukan aku lagi. Tak mungkin aku mempunyai pengikut yang mati."


" Iya, saya paham Bos. Akan saya usahakan jangan sampai tertembak."


" Wijaya dan Bono, kalian masuk rumah orang tanpa permisi. Apa kalian tidak punya sopan santun?" Ucap Kapten Polisi yang memimpin pasukannya untuk melawan Bono dan Wijaya.


" Apa kalian merasa ini rumah kalian? Siapa yang menyuruh kalian kemari?" Ucap Bono sambil menggemgam tangannya dan bersiap untuk melawan.


" Itu tidak penting, yang jelas saya datang kesini untuk menangkap kalian." Ujar Kapten Polisi suruhan Rendra.


" Menangkap kami? Apa salah kami?"


" Kalian mencuri mobil milik Rendra, lalu kalian dikejar oleh anggota polisi. Namun saat polisi mengejar kalian, mobil polisi yang mereka tumpangi, kalian tendang dan masuk ke jurang. Lalu mobil mereka, kalian bakar."


" Kami tidak mencuri, dan kami tidak membunuh mereka." Wijaya berkelit.


" Omong kosong! Kalian harus mempertanggungjawabkan perbuatan kalian. Tangkap mereka!" Kapten Polisi mulai memberikan komando, agar menangkap Wijaya dan Bono.


Para anggota Polisi mengambil tempat untuk membidik dan menembak Wijaya dan Bono. Mereka menunggu aba-aba dari kaptennya.


" Tembak!!!" Puluhan Polisi menembak serentak ke arah Wijaya dan Bono.


Namun Wijaya dan Bono, bukan orang sembarangan. Mereka mampu menghindari puluhan tembakkan yang para Polisi lancarkan ke arah Bono dan Wijaya.

__ADS_1


Peluru berdesing ketika para Polisi menembak dan meleset, mengenai pagar besi.


" Hati-hati Bon, Kalau tidak kuat, tak usah dilanjutkan. Kamu pulang saja."


" Apa yang Bos katakan? Saya sudah disini dari awal pertarungan, untuk apa saya mundur. Peluru-peluru itu bagi saya hanyalah seperti butiran pasir yang mengenai tubuh saya."


" Jangan sombong, nanti kamu akan terkena batunya." Wijaya mengingatkan Bono.


" Saya tidak sombong, tapi saya memang sanggup menghadapi peluru-peluru yang mengarah ke arah saya."


" Ya sudah, aku sudah katakan berulang kali. Kalau kamu celaka, salahkan dirimu yang tak mau mendengar kata-kataku."


" Iya, siap Pak Guru. Saya akan laksanakan perintah Anda." Bono sedikit jengkel dengan Wijaya.


" Berhenti! Hentikan tembakkan kalian. Peluru kalian tidak mengenai sasaran, serang mereka dengan ilmu yang kalian miliki." Kapten Polisi mengubah serangan dari senjata, dengan menggunakan ilmu mereka.


" Bon, Polisi-polisi itu orang-orang pilihan, mereka lebih kuat dari anak buah Rendra yang sebelumnya. Jangan sampai lengah."


" Saya tahu Bos, Kita bisa hadapi mereka sama-sama."


" Ayo, kita serang mereka Bon. Maju!!"


Bono tersenyum mendengar perintah Wijaya layaknya seorang komandan perang. Lalu dia menurutinya dan bergegas maju menyerang polisi-polisi yang membela Rendra.


" Kalian polisi-polisi bayaran, sadarlah. Kalian penegak hukum, jangan mau membela kejahatan." Ucap Bono sambil menyerang ke arah tujuh polisi yang mengepungnya.


" Aku sudah tahu kejahatanmu Bon, kamu tak perlu menasehati kami. Menyerahlah dan sayangi nyawamu. Atau kamu akan jadi bangkai di tempat ini."


" Sombong sekali kamu pak polisi. Aku mau lihat seberapa kemampuan kalian. Ayo maju!!"


" Lumayan, gabungan kekuatan kalian memang luar biasa. Tapi aku belum kalah. Aku belum sepenuhnya serius menggunakan ilmuku."


" Kami sudah tahu kemampuanmu Bon, apa yang akan kamu lakukan untuk melawan kami?" Ucap salah satu Polisi pemimpin penyerangan melawan Bono.


" Hahaha, tentu saja pasti ada yang akan aku lakukan. Jika kalian sudah tahu kemampuanku, lalu apa yang akan kalian lakukan. Kalian tidak akan bisa menghindarinya."


Usai berkata, Bono mengerahkan tenaga dalamnya dan mengumpulkannya di bagian kakinya. Lalu dia menghentakkan kakinya ke tanah. Angin tipis tak kasat mata bergulung ke arah tujuh polisi.


" Kalian! cermati angin yang mengarah ke arah kalian, lompatlah setinggi-tingginya sebelum angin itu mengenai kalian." Perintah Kwarsa, pemimpin Polisi penyerang Bono.


Mendengar perintah Pemimpinnya, mereka segera menurutinya, lalu saat mereka melihat angin tipis bergulung ke arah mereka, tujuh Polisi segera mengerahkan tenaga dalam mereka dan mengalirkanya ke telapak kaki mereka. Tujuh Polisi melompat tinggi hingga ke atap bangunan, alhasil serangan Bono gagal mengenai sasaran.


" Sial, mereka tahu kelemahan ilmu itu. Apa yang harus aku lakukan?" Gumam Bono dalam hati.


" Menyerahlah Bon, tak ada yang bisa kamu lakukan. Ilmu kebangganmu itu tak ada artinya bagi kami." Ucap Kwarsa sambil memperingatkan Bono.


"Hahaha.. Tak ada kata menyerah dalam kamus hidupku. Jangan merasa kamu sudah diatas angin Pak Polisi. Itu memang ilmu kebanggannku, namun aku belum kalah. Aku masih punya cara lain untuk mengalahkan kalian." Ucap Bono penuh percaya diri.


" Kalau begitu, tunjukkan kemampuanmu, Bon. Apa kamu bisa mengalahkan kami?" Tantang Kwarsa, lalu turun ke bawah untuk menerima serangan Bono kembali.


" Br****ek.. Beraninya mereka meremehkanku. Bagaimana caranya aku bisa menghabisi mereka?" Gumam Bono, sambil menggaruk kepalanya untuk memikirkan cara mengalahkan musuhnya.


Sementara itu, Wijaya yang menghadapi Kapten Polisi dan anak buahnya yang terpilih dan terkuat, sedang dalam proses negoisasi.


" Wijaya, dulu aku menghargaimu sebagai kaki tangan Rendra yang bisa diandalkan. Aku menghargaimu, karena kamu macan yang kemampuannya, sangat luar biasa. Tapi sekarang, kamu bukan lagi anggota kami. Bukan lagi orang yang bisa kuanggap sebagai saudara. Sekarang, menyerahlah dan kami akan membawamu, mengadilimu dengan hukum yang berlaku. Tapi jika kamu menolak, maka kami akan menghabisimu dan membakarmu hingga menjadi debu."


" Jaka, aku tak peduli kamu menganggapku apa. Sejak dulupun, aku sama sekali tidak tertarik kepadamu. Lihatlah dirimu, kamu hanyalah seorang munafik. Berseragam Polisi namun membela penjahat besar seperti Rendra."

__ADS_1


" Hidup itu pilihan, Jay. Kemana aku melangkah, itulah tujuanku. Jika aku seperti ini, sama sekali bukan urusanmu. Aku menikmatinya."


" Baiklah, aku memang tak mau ikut campur dengan tujuan hidupmu. Tapi tolong, minggirlah. Jangan halangi aku. Kita tidak mempunyai masalah sebelumnya."


" Kemanapun kamu pergi, aku akan mencarimu Jay. Apalagi kamu akan berusaha menemui Rendra, langkahi dulu mayatku."


" Jadi kamu menantangku, Kapten?"


" Lalu, apa guna diriku disini jika bukan karena menantangmu bertarung?" Ucap Kapten Polisi.


" Kamu pintar berbicara Kapten, ayo kita mulai pertarungannya."


" Serang! Kapten Polisi memerintahkan anak buahnya menyerang Wijaya. Sementara dia duduk dan melihat, pertarungan mereka.


" Kurang ajar, ku kira kamu akan bertarung denganku Kapten. Dasar pengecut!"


" Hahaha.. Aku bukan orang bodoh sepertimu Jay, Aku menunggumu lengah. Dan saat itu, aku akan memenggal kepalamu dan melemparkannya pada Rendra. Hahaha.."


" Kita lihat saja, siapa yang akan terakhir tertawa Kapten."


Wijaya mulai menyerang anggota polisi yang datang menyerangnya terlebih dahulu. Sepuluh orang berseragam Polisi, anak buah Rendra yang tak bisa disamakan dengan yang lainnya. Mereka mampu mengimbangi kekuatan Wijaya, meskipun Wijaya memyerang dengan kekuatan penuh.


" Matilah kalian semua! Hiyyaaatt..." Wijaya menyerang dengan meningkatkan kekuatannya.


Sepuluh anggota Polisi masih bisa menghalau serangannnya. Kemudian dia mengerahkan tenaga dalamnya, lalu memusatkan tenaga dalamnya ke tangan kanan dan kirinya. Dia bersiap untuk menggunakan jurusnya. Namun sebelum Wijaya mengeluarakan jurusnya, Bono berteriak memberikannya informasi.


" Bos!" Teriak Bono.


" Jurus itu takkan mampu mengalahkan mereka. Sebaiknya simpan dulu energi Bos, untuk mengalahkan Rendra."


" Apa? Jadi kamu tak bisa mengalahkannya dengan jurus itu Bon?"


" Benar Bos, saya kewalahan menghadapi mereka."


Mendengar percakapan Bono dan Wijaya, membuat pasukan Polisi itu tertawa terpingkal-pingkal. Mereka yakin, Bono dan Wijaya takkan bisa keluar markas Rendra dalam keadaan hidup.


" Hahaha.. Cukup sampai disini saja Jay, kaliam bukan tandingan kami."


" Jangan senang dulu Kapten, aku akan tunjukkan kekuatanku padamu."


" Hahaha.. Terserah kamu saja Jay. Bualanmu hanya membuatku mengantuk. Ayo anak-anak, serang dia."


Ketika Pasukkan penyerang Wijaya dan Penyerang Bono bersiap menyerang mereka berdua, Wijaya terlebih dulu mengeluarkan jurus andalannya.


" Hiyaaatt.." Angin tak kasat mata bergulung datang ke arah anggota Pasukan Polisi Penyerang Wijaya. Mereka mengamati angin yang datang, namun Wijaya bukan orang yang bodoh. Dia menipu mereka dengan angin kosong. Dan saat mereka melompat ke yang lebih tinggi, Wijaya menarik kembali ilmunya, lalu melemparkannya dengan cepat ke arah anggota Polisi.


" Duaarr..duarrr...duaaar.. " Terdengar tiga kali ledakkan diudara mengenai sepuluh anggota pasukan Polisi.


Sepuluh anggota polisi jatuh ke tanah dengan tubuh hangus terbakar, bahkan diantaranya ada yang terpotong menjadi beberapa bagian.


" Kurang ajar kamu Jay! Beraninya kamu membunuh sepuluh anak buah terbaikku!"


" Jaka, apa yang bisa kamu banggakan dari anak buah terbaikkmu? Mereka cukup kuat, namun mereka bodoh! Rasakan! itulah akibatnya melawanku."


Jaka si Kapten Polisi menjadi terbakar amarahnya. Dia menyerang membabi buta dengan kedua kaki dan tanganya. Serangan demi serangan ia lancarkan untuk membunuh wijaya. Tak terasa, hari semakin siang. Namun pertarungan mereka belum selesai.


......................

__ADS_1


__ADS_2