
" Ha? Pak Wira? Sejak kapan Anda mengikuti saya Pak? Kenapa Anda bisa sudah ada disini? Bukannya tadi, Anda masih bersama Bu Novi." Terkejutnya Fitri membuatnya banyak bertanya pada Wira.
" Aku mengikutimu dari tadi Fit, kenapa kamu terkejut begitu?"
" Eh, maaf Pak. Saya tidak tahu kalau Anda mengikuti saya. Untung saja, tangan itu punya Pak Wira. Jika bukan, mungkin saya akan jatuh pingsan. Soalnya yang saya lihat tadi hanya sepotong tangan."
" Hahaha.. Fitri, fitri.. Mana mungkin tanganku ini bergerak sendiri dan bisa memisah dari tubuhku. Kamu ini bisa saja bercandanya, ya Fit." Wira tertawa terpingkal-pingkal.
" Saya tidak becanda Pak, sumpah. Tadi saya hanya melihat sepotong tangan saja. Kalau tiba-tiba berubah jadi Pak Wira, saya tidak tahu Pak."
" Hahaha.. Apa kamu kurang tidur Fit? Sepertinya, khayalanmu terlalu berlebihan."
" Tapi, saya tidak berkhayal Pak. Saya juga tidak melamun. Mungkin pikiran dan hati saya sedang bermasalah, tapi mata saya tidak bisa dibohongi Pak. Saya melihat tadi itu hanya tangan saja."
" Fitri, pulanglah. Aku dan Pak Wira sudah mengizinkanmu pulang. Daripada disini kamu bicara asal-asalan yang membuat kami jadi pusing." Ucap Novi ketus.
" Bbb..Baik bu Novi, maafkan saya." Ucap Fitri dengan gagap karena takut pada Novi.
Tanpa menoleh kanan kiri, Fitri melajukan motornya dengan kencang. Pikirannya seperti banyak tekanan.
" Haha, Fitri, Fitri.. Semoga saja dia tidak kenapa-kenapa di jalan." Wira tertawa sambil memandangi Novi.
Novi hanya tersenyum biasa. Dia tak suka Wira menyebut nama Fitri dihadapannya. Apalagi Wira hampir terpengaruh oleh godaan wanita gatal, seperti Fitri.
" Novi, kenapa kamu tiba-tiba cemberut begitu?"
" Tidak apa-apa."
" Kenapa? Jangan ada yang disembunyikan dariku."
" Maaf Pak, ini sudah hampir siang. Waktunya untuk bekerja."
" Novi.. ah, ya sudahlah. Silahkan kamu persiapkan pekerjaanmu." Wira bermaksud menanyakan perasaan Novi kepadanya. Namun Wira segan untuk menanyakannya.
" Baik Pak Wira." Ucap Novi, lalu masuk ke ruangan kerjanya.
Hingga pukul 11.00, restoran Wira mengalami banyak kemajuan. Pengunjung semakin memenuhi kursi pengunjung. Bahkan kursi tambahan yang di sediakan di halaman restoran pun penuh. Karena Fitri izin pulang, restoran mengalami kekurangan tenaga. Wira dan Novi bahu membahu membantu melayani tamu.
" Novi, kenapa banyak sekali pengunjung yang datang ke tempat kita? Kita sangat kewalahan. Bahkan aku pun belum sempat memperbesar restoran kita ini. Apakah ini pekerjaan Wijaya? Dia dulu pernah bilang padaku, perbesarlah restoranmu ini, suatu saat aku akan membawa teman-temanku kemari. Apa dia menepati ucapannya?"
" Emh, tentu saja bukan Pak. Wijaya itu hanya basa basi saja. Saya merasa dia bukan orang yang baik. Anda harus berhati-hati berteman dengannya."
__ADS_1
" Nov, apa yang kamu ketahui tentang Wijaya? Kamu tidak boleh berprasangka buruk terhadapnya. Walaupun begitu, dia adalah teman baikku di sekolah dulu."
" Apa Anda bisa menjamin kalau dia tidak akan berubah Pak? Jaman sekarang, teman bisa jadi musuh. Musuh bisa jadi saudara. Jadi, kita harus lebih teliti dalam menilai orang."
" Kamu benar Nov, tapi aku rasa, tidak ada alasan, kita berprasangka buruk padanya. Kita tidak punya barang bukti apapun."
" Itulah yang harus kita selidiki. Sebaiknya berpikiran buruk tentangnya, ditunda dulu. Masih ada waktu untuk mengetahui siapa Wijaya sebenarnya."
" Lalu siapa yang melakukan ini semua Nov? Lihatlah, banyak mobil pengunjung kita yang berplat nomer kendaraan dari luar daerah. Pasti ada yang mempromosikan restoran kita sampai ke berbagai pelosok."
" Pastinya ada orang baik yang selalu ada, membantu Anda Pak."
" Iya, mungkin saja Nov. Tapi siapa dia? Aku jadi penasaran."
" Sudahlah Pak, Anda tak perlu memikirkan hal itu. Suatu saat, kita akan tahu siapa yang membantu kita."
" Nov, aku curiga kamu yang melakukannya."
" Ha? Itu tidak mungkin Pak. Saya tidak tahu soal itu." Novi terkejut saat Wira mencurigainya.
" Jujurlah Nov, aku tak pernah mengajarkan kebohongan kepadamu, meskipun kebohongan tentang kebaikkan. Sekali kamu berbohong, maka akan timbul kebohongan yang lain. Aku harap kamu tak melakukannya, walaupun kamu berbohong, hanya untuk menutupi agar tidak terlihat sombong."
Novi terdiam. Dia merasa bingung, apa yang harus ia katakan. Novi tak ingin usahanya mempromosikan restoran Wira, diketahui oleh Wira. Namun ia takut dengan ucapan Wira tentang kebohongan yang selalu ia dengar sewaktu masih kecil.
" Novi, balas jasa apa lagi yang ingin kamu berikan padaku? Aku dari dulu, sudah mengatakannya kepadamu. Aku tidak meminta balas jasa apapun. Aku hanya ingin kamu tetap bersamaku. Kamu adalah keluargaku Nov. Aku tak menganggap kamu orang lain, anak angkat, atau apapun itu. Kamu lebih dari itu bagiku Nov."
" Apa maksudnya Pak? Apa yang lebih dari itu? Selama ini, Pak Wira menganggap saya apa?"
Hati Wira berdebar, dia ingin mengatakannya terus terang. Namun kata-katanya seolah tertahan di tenggorokan.
" Kenapa diam Pak? Katakan yang sejujurnya. Apapun yang Anda katakan, saya akan menerimanya. Mudah-mudahan mampu meemberikan ketenangan di dalam hidup saya."
" Hemmh.. Baiklah Nov, aku akan mengatakan yang sebenarnya.
Saat dulu aku menemukanmu, aku anggap kamu anak kecil yang malang, yang kehilangan kedua orang tuanya.
Karena aku tak tahu, kamu mempunyai keluarga atau tidak, aku memutuskan untuk membawamu ke rumah.
Disana, aku memperlakukanmu seperti anakku sendiri. Karena kamu seusia dengan mendiang anakku yang pertama.
Saat kamu mulai beranjak dewasa, aku mulai tertarik kepadamu. Sampai-sampai saking inginnya aku melampiaskan nafsuku karena terlalu lama terkekang, aku ingin bercinta denganmu. Aku melihatmu saat kamu tertidur, tubuhmu begitu indah. Apalagi saat kamu hanya mengenakan rok pendek, dan kaos yang saat kamu tidur, bagian belakangnya tertarik ke atas, hingga terlihat punggung putihmu. Untung saja aku masih bisa menahannya.
__ADS_1
Aku tak tahu, kenapa kamu lama kelamaan menyukai rok pendek dan kaos ketat. Padahal kita bukan anak dan orang tua kandung. Jika aku sampai khilaf, mungkin saja dari dulu, aku sudah merusakmu Nov.
Untuk menghindari itu, aku berniat menyekolahkanmu di tempat yang jauh yang tak bisa aku singgahi. Dengan begitu aku tak bisa menemuimu, dan berpikiran macam-macam denganmu.
Namun saat kamu lulus sekolah, kamu pulang ke rumah. Kebiasaan yang tak bisa kamu lupakan, membuat gejolak di jiwaku. Aku hampir gila menahan nafsuku.
Hingga aku berfikiran menguliahkanmu ke tempat yang jauh lagi. Akhirnya setelah lama tak bertemu, aku bisa mengendalikan nafsuku dengan sempurna. Aku bisa menghilangkan kebiasaanku minum minuman keras, berjudi, hingga urusan wanita. Aku berhenti total menghilangkan kebiasaan buruk itu.
Dan saat kamu lulus kuliah, perasaanku sudah berbeda denganmu. Yang dulu ingin merusakmu, aku menjadi ingin selalu melindungimu dan menjagamu. Mengajarkanmu ilmu bela diri, adalah salah satu usahaku melindungimu, saat aku tak ada.
Namun seiring berjalannya waktu, usaha yang ku berikan, tak membuatmu luluh. Padahal aku ingin sekali, perhatian yang kuberikan selama ini mendapatkan balasan yang sangat besar. Yaitu, kamu mengutarakan keinginan hatimu untuk menikah denganku. Tapi aku salah, itu adalah khayalan terkonyol yang pernah ada di pikiranku."
" Jadi begitu, dulu Pak Wira ingin menodaiku?"
Wira mengangguk. Dia sebenarnya sangat malu menceritakannya pada Novi. Namun ia harus sadar diri, dia selalu mengatakan pada Novi untuk selalu berbicara jujur. Oleh karena itu, Wira berkata yang sebenarnya agar tidak hanya sekedar berbicara kosong.
" Syukurlah, Anda tidak melakukannya pada saya. Kalau sampai itu terjadi, aku tak akan pernah memaafkanmu sampai kapanpun."
" Beruntungnya, aku tak melakukan apa-apa denganmu Nov. Kesucianmu masih terjaga."
" Pak Wira, lihat saya. Apa yang menarik dengan diri saya sehingga Anda menginginkan saya?"
" Eh, Nov.. Kamu terlalu cepat memberi pertanyaan itu kepadaku." Wira menjadi gugup.
" Kenapa memangnya Pak? Saya hanya bertanya, dan Anda tinggal menjawab saja." Novi merasa sedikit jengkel.
" Novi, kamu itu cantik. Namun cantikmu berbeda dengan yang lain. Kamu seperti anak Wijaya, tetapi kamu terlihat lebih dewasa dari dirinya."
" Jadi hanya karena cantik saja? Maaf Pak, cantik itu hanya sebuah sifat. Sifat-sifat didunia ini takkan ada yang kekal. Semakin bertambah usia, maka kecantikkan itu akan pudar."
" Tidak Nov, bukan hanya itu saja. Aku menggaris bawahi. Kebaikkan, kesopanan, dan keberanian dirimu yang aku suka.
" Selamat ya Pak, Anda mampu mengendalikan nafsu Anda. Hingga saya benar-benar bisa terlindungi. Sampai sekarang kesucian dalam diri saya masih terlindungi. Sebagai imbalannya, mulai sekarang, apa yang Anda inginkan dari saya, akan saya coba untuk memberikannya pada Anda."
" Benarkah, Nov?" Wira merasa bersemangat.
" Heem.." Novi mengangguk sambil tersenyum.
" Apa jika aku meminta hatimu dan menjadikanmu sebagai istriku, kamu mau?"
Novi tersenyum dan mengangguk. Dan berharap keputusannya menikah dengan Wira adalah keputusan yang tepat. Hingga memberikannya kebahagiaan.
__ADS_1
Wira tersenyum bahagia, dia memeluk Novi dan mencium keningnya. Kini dua orang yang dari dulu tinggal berdua serumah, bukanlah sebagai seorang ayah dan anak lagi, melainkan sebagai calon suami dan calon istri.
......................