
Usai sarapan, Khalid segera membereskan semua piring dan gelas yang ada di meja makan. Tama membantunya dan membawanya ke dapur. Mereka berdua terlihat mampu bekerjasama. Dalam hati Harjo merasa sangat puas dengan apa yang dilihatnya. Meskipun Tama dan Khalid bukan saudara kandung, tapi mereka mudah rukun. Itulah yang diharapkan Harjo. Ia berharap persahabatan mereka akan terjalin lebih erat hingga suatu saat nanti.
Pukul sepuluh pagi, Harjo dan Tama tiba di sekolah. Sementara Khalid telah lebih dulu berangkat dari pukul setengah tujuh.
Harjo menghadap kepada Kepala Sekolah. Ia bermaksud mendaftarkan Tama agar bisa bersekolah. Di ruang kepala Sekolah, saat itu ada Guru bahasa Indonesia yang sedang berbicara dan berniat keluar dari Ruang Kepala sekolah. Namun ia mengurungkan niatnya setelah melihat kedatangan Harjo.
" Pak Harjo..ada keperluan Apa Anda mencari saya?" tanya Kepala sekolah dengan angkuhnya.
" Maaf, Pak Zam.. Sebelumnya saya meminta maaf kalau kedatangan saya ini, mendadak. Saya kemari bermaksud untuk mendaftarkan cucu saya agar bisa bersekolah di sekolah ini." jawab Harjo dengan tubuh gemetar. Ia takut Zamani, Sang Kepala sekolah menolak untuk menerima Tama.
" Apa?! Cucu yang mana lagi yang Anda bawa, Pak Harjo. Dari dulu Anda menyekolahkan cucu-cucu Anda disini, dan akhirnya hanya menimbulkan masalah disekolah ini. Apa Anda ingat, Cucu pertama yang pertama kali Anda daftarkan kemari, dan yang sekarang, dan Anda masih mau mendaftarkan cucu Anda ke sekolah ini lagi?" sentil Wirya guru Bahasa Indonesia yang sudah lama mengajar di Sekolah SD Bangun Jaya.
Harjo gelagepan mendengar ucapan Wirya. Ia seakan tak bisa berkata apa-apa. Ia tahu, saat menyekolahkan Reza. Reza dikenal sebagai anak yang bandel. Suka ribut di kelas dan hampir saja melukai Gurunya pada waktu itu. Nama Harjo sebagai Wali murid dan Penanggung jawab atas Reza menjadi tercoreng. Dan saat mendaftarkan Khalid, Ia hampir di tentang oleh sebagian Guru senior dengan alasan tidak ingin kejadian di masa lalu terulang kembali.
Beruntung Zamani, Sang Kepala Sekolah yang baru menduduki jabatannya sekitar dua tahun, mau menerima Khalid karena ia melihat Khalid anak yang sopan dan baik.
Namun seiring berjalannya waktu, masalah terjadi karena Harjo tak bisa membayar beaya sumbangan gedung Sekolah. Dia lalu meminta keringanan pada Kepala Sekolah, akhirnya Kepala sekolah mengabulkan permohonan Harjo. Khalid pun bebas membayar sumbangan Gedung. Beberapa Guru menjadi semakin tak suka dengan Harjo. Mereka lalu mencoba mempengaruhi Kepala Sekolah agar mengeluarkan Khalid dari Sekolah.
Wirya adalah salah satu Guru yang paling berniat untuk mengeluarkan Khalid. Karena ia sangat dendam dengan Harjo. Akibat ulah Reza cucu Harjo, ia hampir cacat karena Reza melempar batu seukuran bola pingpong ke kepalanya. Dendamnya kembali terbangun ketika Ia bertemu Harjo ketika mendaftarkan Khalid Sekolah dua tahun lalu.
Ia sudah berusaha untuk tidak menerima Khalid, namun Ia tak kuasa Karena Sang Kepala Sekolah tetap ingin menerima khalid untuk bisa tetap sekolah. Namun keinginannya untuk mengeluarkan Khalid dari sekolah, masih ada di dalam benaknya. Ia berkali-kali memarahi Khalid dan selalu mencari-cari kesalahannya, namun Khalid tetap bertahan. Keinginannya untuk sekolah tak menciutkan mentalnya meskipun ia selalu menghadapi masalah di sekolahnya.
" Pak Wirya..sudah, jangan berbicara seperti itu. Kasihan Pak Harjo. Dia sudah sangat tua, apa pantas Anda berbicara seperti itu kepadanya?" ucap Zamani menengahi.
__ADS_1
Harjo menjadi sedikit lega, Ia sangat berharap Zamani membelanya dan menerima Tama untuk bisa sekolah di sekolahnya.
" Pak Zam.. Anda tidak tahu apa yang cucunya lakukan kepada Saya.. Saya yang lebih tahu kejadian di masa lalu. Makanya saya tidak suka dengan orang ini." ucap Wirya dengan sedikit tegas.
" Pak Wirya, sudahlah..masa lalu Anda dengan anak itu sudah berlalu. Jangan ungkit-ungkit lagi. Bagaimana jika ia tidak terima dan datang kemari dan mencelakai Anda? Bisa saja dia sekarang jadi preman atau malah jadi orang hebat. Biarkan saya yang menangani ini. Silahkan Pak Wirya keluar dan biarkan saya yang berbicara dengan Pak Harjo. Lagipula dia kemari untuk bertemu saya, bukan Pak Wirya."
" Baik..saya akan keluar. Permisi!" ucap Wirya lalu pergi meninggalkan ruang Kepala Sekolah.
Harjo semakin lega. Ia sangat berterima kasih pada Kepala Sekolah karena mau membelanya. Namun, ada hal yang membuat hati Harjo sesak. Setelah Wirya keluar dari ruangan, Kepala sekolah berkata kepadanya.
" Pak Hajo.. Benar apa yang dikatakan Pak Wirya. Cucu-cucu Pak Harjo hanya membuat beban di sekolah ini. Saya tidak akan membahas Cucu Anda yang dulu. Tapi yang sekarang. Tak ada masalah dengan anak itu. Saya menyukainya. Dia anak yang sopan dan rajin. Dia juga pandai. Dia bisa saja mengharumkan nama sekolah ini dengan prestasi yang dia hasilkan. Tapi, sekolah disini itu tidak grastis. Sementara Pak Harjo sudah menunggak beberapa bulan untuk beaya bulanan sekolah Khalid. Dan bisa-bisanya Pak Harjo mendaftarkan sekolah cucu Anda. Lalu dengan apa Anda akan membayar semua beaya sekolah cucu-cucu Pak Harjo?"
" Eh..saya tahu saya belum membayar beaya bulanan sekolah Khalid, Pak Zam. Tapi saya janji akan melunasi tunggakan SPP Khalid."
" Akan saya usahakan, Pak Zamani. Saya berjanji akan lebih giat bekerja agar mendapat uang untuk beaya sekolah Khalid dan Tama, cucu saya."
" Apa jaminannya, Pak Harjo?"
" Maaf, Pak. Saya tidak punya jaminan apa-apa. Saya sudah tua dan tidak memiliki apa-apa lagi yang bisa digunakan untuk jaminan."
" Hemhh..jadi begitu. Baiklah, Pak Harjo. Mungkin tak ada yang bisa kami harapkan dari Bapak. Begini saja, Pak. Saya akan beri pilihan pada Anda. Jika Pak Harjo menyetujui, pasti akan membuat ringan beban Anda."
" Pilihan? Apa itu pilihannya, Pak Zamani?"
__ADS_1
" Cucu anda yang akan Anda daftarkan, saya terima. Tapi ada syaratnya."
" Apa syaratnya, Pak? Saya harap Saya mampu memenuhi syarat itu."
" Syaratnya, Pak Harjo harus melunasi tunggakan sekolah Khalid bulan ini juga. Saya kasih waktu tiga minggu dari sekarang. Dan untuk pendaftaran Anda cukup membayar uang pendaftaran saja dan seragam sekolah sebesar Satu setengah juta. Karena tiap tahun beaya bulanan sekolah itu naik, SPP untuk cucu Anda yang akan daftar juga beda. Selisih lima ribu tiap bulannya. Bagaimana, Pak Harjo?"
" Eh.. Tiga minggu adalah waktu yang sempit bagi saya, Pak Zam. Saya mohon beri saya waktu setengah semester untuk melunasinya."
" Apa?! Setengah semester?! Hebat sekali Anda ingin bernegoisasi dengan Saya. Saya tidak mau. Pokoknya saya hanya beri waktu Anda tiga minggu. Lebih dari itu, terpaksa Khalid saya keluarkan dan cucu Anda tak bisa mendaftar di sekolah ini!"
" Ba..baik, Pak Zam. Saya janji akan melunasinya dalam tiga minggu. Tapi saya mohon, agar Tama bisa sekolah di sekolah ini."
" Baiklah, Anda bawa uang pendaftaran dan uang seragam seperti yang saya sampaikan tadi?"
" Maaf, saat ini saya belum punya. Bolehkah saya berhutang dulu? Cucu saya sudah ingin sekali bersekolah. Dia juga sudah cukup umur. Saya mohon, terima dia di sekolah ini, Pak."
" Baiklah, Pak Harjo. Saya terima Tama sekolah disini. Tapi Anda harus berjanji untuk membayar semua tagihannya. Catat ya, Pak Harjo. Berapa nominal yang harus Anda cari, untuk beaya sekolah kedua cucu Anda."
Hati Harjo bagaikan ditusuk duri tajam. Pikirannya juga seakan penuh dengan sampah. Ia berjalan keluar dengan tubuh lemas. Langkah kakinya yang sudah tak sempurna lagi seperti dulu membuatnya semakin sesak. Tama yang sejak tadi berdiri di samping pintu luar, mendengar pembicaraan Harjo dan Wira. Ia menjadi sedih mendengar semuanya. Ia lalu menyambut Kakeknya sembari menggandeng tangan Harjo yang sudah keriput untuk pulang kerumah Harjo.
......................
Selamat malam Kakak-kakak pembaca. Semoga kalian sehat-sehat saja dimanapun kalian berada. Maaf numpang promo novel Baru, novel selingan saja. Mudah-mudahan ada yang suka. Jangan lupa ikuti terus novel ini dan novel Baru saya, jangan lupa tinggalkan like atau komentar agar aku lebih bersemangat menulis untuk kalian. Terima kasih..
__ADS_1