SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
RACUN SERANGGA


__ADS_3

" Bos! Kenapa lagi-lagi mengganggu saya. Saya mengalah jika Bos yang melawan Rendra. Asalkan mereka menjadi bagian saya." Bono mengeluh, menyesalkan ulah Wijaya yang kembali mencampuri pertarungannya dengan musuh.


" Aku lapar Bon. Ayo kita makan dulu." Ajak Wijaya.


" Iya Bos." Bono melangkah menghampiri Wijaya, yang sudah menunggunya, di depan pintu gerbang.


Keduanya melangkah pergi meninggalkan tempat kediaman Rendra tanpa rasa takut. Ini kesempatan anak buah Rendra satu-satunya, yang masih lolos dari maut untuk melarikan diri.


" Kenapa Rendra dan anak buahnya tidak mengejar kita Bos?"


" Apa kamu tidak tahu akal liciknya? Tidak mungkin baginya mengejar kita. Apalagi kita telah menghabisi sebelas anak buahnya."


" Apa Rendra takut pada kita, Bos? Sehingga dia panik dan tak berani keluar mengejar kita."


" Itu tidak mungkin Bon. Kita itu tidak ada apa-apanya dengan Rendra. Dia sangat kuat. Mungkin dia sedang mengatur strategi untuk membunuh kita. Hati-hati Bon,meskipun kita jauh dari markas Rendra, dia bisa saja menyewa orang untuk mengikuti kita, dan membunuh kita dimanapun kita berada."


" Apa mungkin di tempat keramaian, dia bisa mencelakai kita Bos?"


" Bisa saja Bon, pokoknya kita harus berhati-hati. Jaga jarak dengan orang-orang. Siapapun itu, kemungkinan suruhan Rendra."


" Baik Bos, saya mengerti."


Tiba di rumah makan, Bono dan Wijaya memesan makanan kesukaan mereka.


" Pak, saya pesan nasi rames dua, lauknya ayam goreng ya. Minumnya, Teh manis sama jeruk manis."


" Baik Pak. Tunggu sebentar ya." Jawab pelayan, lalu bergegas menuju dapur untuk menyampaikan pesanan pada Koki.


" Bon, ini jam berapa?"


" Jam sembilan kurang Bos, kenapa?"


" Biasanya jam segini masih ramai. Kenapa sekarang sepi?"


" Apa mungkin ada yang tidak beres disini, Bos?"


" Bisa jadi Bon, perhatikan sekitar. Apa ada seseorang yang mengawasi kita."


" Saya sudah mengamati dari tadi Bos, tapi tak ada tanda-tanda orang mengawasi kita."


" Ya sudah, kita tenangkan dulu pikiran kita. Jangan sampai kita terlalu was-was berlebihan."


" Hem.. Jika Bos sudah bilang begitu, ya sudah. Sekarang kita minum dulu lalu makan."


" Benar Bon, perutku sudah melilit. Kenapa pelayan tadi lama sekali."


" Biar saya tanyakan dulu Bos, ke pelayannya." Bono bergegas menghampiri pelayan yang sedang duduk menunggu masakan matang.


" Maaf Pak, apakah sudah selesai pesanan saya? Kami sudah lapar."


" Tunggu sebentar Pak, lauknya sedang digoreng."


" Oh, begitu. Berapa lam lagi akan selesai?"


" Sepuluh menit lagi, akan saya antarkan pak."


" Baiklah, jangan lama-lama ya Pak." Ucap Bono lalu kembali ke meja tempat Wijaya menunggu.


" Bagaimana Bon? Sudah belum?" Tanya Wijaya.


" Belum Bos, masih sepuluh menit lagi."


" Wah, lama sekali. Biasanya cepat, kenapa lama."


" Saya juga tidak tahu Bos, tunggu saja. Cuma sepuluh menit, tidak lama Bos."


" Hemhh, baiklah. Sepuluh menit belum diantar kemari, kita tinggalkan tempat ini."


" Saya setuju Bos. Kita cari tempat lain saja."


" Iya, tapi kita akan rusak tempat ini sebelum kita pergi." Ucap Wijaya sambil menyeringai.


" Itu harus Bos. Mereka yang mencari masalah dengan kita."

__ADS_1


Tak lam kemudian, sebelum waktu sepuluh menit, pelayan datang membawakan minuman dan makanan pesanan mereka.


" Maaf Pak, sudah menunggu lama. Ini pesanannya." Pelayan menyajikan makanan dan minuman pesanan Wijaya dan Bono, lalu kemudian mundur ke belakang kembali ke tempat ia duduk.


" Ahh, saya sudah sangat haus. Lebih baik minum dulu." Bono mengambil jeruk manis hangatnya.


" Tunggu Bon, aku curiga ada apa-apa di makanan kita. Bisa juga ada racun di minuman kita."


" Ah, yang benar saja Bos. Ini warung makan langganan kita. Pastinya mereka hafal dengan kita. Dan lagipula siapa yang mau meracuni kita."


" Bon, coba kamu hirup dulu aroma minumannya."


" Baik Bos, ah.. Seperti bau tidak enak. Jeruk apa ini?" Bisik Bono pada Wijaya.


" Itu seperti bau racun serangga." Ucap Wijaya lirih.


" Lalu apakah ini disengaja atau tidak disengaja Bos?"


" Sepertinya memang disengaja. Lihat pelayan itu, dari tadi melihat ke arah kita. Kemungkinan dia suruhan Rendra."


" Kalau begitu kita habisi saja dia Bos."


" Tunggu dulu, aku punya ide bagus. Kita pura-pura saja minum, lalu kita pura-pura seolah, racunnya bekerja dalam tubuh kita. Aku yakin, mungkin masih ada banyak orang luar suruhan Rendra."


" Kalau begitu, saya ikuti saran Bos saja. Mari kita minum Bos."


" Ayo Bon. Ingat jangan diminum beneran."


" Saya tahu Bos."


Wijaya dan Bono pura-pura meminum minuman yang telah mereka pesan, beberapa menit kemudian, mereka mendadak kejang-kejang dan jatuh ke lantai tertimpa meja.


Pelayan warung makan dan yang lainnya mendekat dan melihat Wijaya dan Bono lebih dekat, untuk memastikan kematian Wijaya dan Bono.


" Lapor Bos, sepertinya kedua pengkhianat Anda telah tewas ditangan kami." Ucap anak buah Rendra dengan wajah gembira.


" Hahaha.. Jay, Jay.. Kupikir kamu cukup pintar akan datang membunuhku? Buktinya kamu yang datang menghantarkan nyawa kepadaku."


" Beres, akan aku transfer ke rekening kalian." Jawab Rendra sembari menghisap rokoknya.


" Terima kasih Bos." Ucap salah satu anak buah Rendra.


" Ayo kawan-kawan, bantu bereskan mayat mereka. Buang ke sungai, atau mau di kubur ditempat yang jauh, terserah kalian."


" Baik Bang." ucap anak buah Redra yang lain.


Tiba-tiba Wijaya dan Bono bangun ketika anak buah Rendra mencoba mengangkat tubuh Wijaya dan Bono. Sontak saja membuat anak buah Rendra terkejut lalu menjatuhkan Wijaya dan Bono.


" Haha..sudah ku duga, pasti ada apa-apa disini. Kalian berhasil ku kelabuhi." Ucap Bono sambil tertawa


" Kurang ajar, beraninya kamu menipu kami! serang dia!" Pinta pemimpin anak buah Rendra yang lain.


" Kalian belum tahu siapa kami, jadi jangan bertindak bodoh. Jika kalian masih sayang nyawa kalian, menyerahlah."


" Ciih.. Menyerah pada pengkhianat? Kami tak sudi. Serang!"


Baskara, adik Joni yang menyamar menjadi pelayan melayangkan serangan ke arah Bono. Sementara yang lain menyerang Wijaya.


" Bon, jangan berlama-lama, kita perlu makan. Segera bereskan mereka. "


" Aduh lagi-lagi Si Bos, berisik sekali. Mengganggu orang yang lagi senang saja." Gumam Bono dalam hati.


Hanya dalam hitungan tidak lebih dari satu menit, anak buah Rendra terjatuh dan terluka terkena serangan Bono dan Wijaya.


" Hahaha.. Jadi ini kemampuan kalian? Bisanya cuma minta uang yang besar untuk imbalan, namun kerja saja tidak becus." Bono berdiri diatas meja, dan menyilangkan tangannya di atas dadanya lalu tertawa lebar."


" A, ampuni kami Bon, Jay. Kami bukan petarung hebat. Kami anak buah Rendra yang hanya bertugas membuka warung untuk tambahan penghasilan kami." Dengan rasa takut, Pimpinan anak buah Rendra meminta ampun pada Bono dan Wijaya.


" Baiklah, aku tahu kalian bukan seorang petarung. Aku tahu keahlian kalian hanya memasak. Aku akan mengampuni kalian. Tapi dengan satu syarat. Kalian makan makanan yang tersedia di meja makan itu. Aku sudah tidak mau makan ataupun minum. Itu buat kalian saja."


" Eh, maafkan kami Jay, kami berjanji akan mengikuti jalanmu mengkhianati Rendra. Tapi lepaskan kami."


" Aku akan memaafkan dan mengampuni kalian, tapi kalian harus makan makanan yang telah kalian siapkan untuk kami."

__ADS_1


" Kami tidak bisa memakannya. Tolong ampuni kami." Tubuh pemimpin anak buah Rendra gemetaran.


" Baiklah Bon, kita akhiri saja sampai disini." Wijaya memberi isyarat pada Bono.


" Eh, jangan! Baiklah, kami akan memakannya. Tapi jika kami kenapa-kenapa, tolong sampaikan pesanku pada keluargaku."


" Akan aku kabulkan permintaanmu." Jawab Wijaya dengan lantang.


Dengan wajah ketakutan dan badan gemetaran, pelayan dan anak buah Rendra yang lainnya, memakan makanan yang telah mereka beri racun, untuk membunuh Wijaya dan bono.


Tak berapa lama, pelayan dan anak buah Rendra yang membantu rencana pembununuhan Bono dan Wijaya, mendadak kejang lalu mengeluarkan busa. Tak sampai lima menit berlalu mereka tak bergerak sedikitpun. Akhirnya mereka tewas menggenaskan dengan mata melotot dan lidah menjulur keluar.


" Ayo Bon, kita tinggalkan tempat ini. Wijaya melangkah pergi meninggalkan warung makan milik anak buah Rendra, setelah membakarnya.


Malam semakin larut, Bono dan Wijaya terpaksa berburu hewan hutan untuk menghindari lagi jebakan.


" Bon, aku kira disini tempat yang aman bagi kita untuk beristirahat. Takkan ada lagi yang bisa mencoba mencelakai kita."


" Iya Bos, walaupun harus jadi makanan nyamuk. Tapi tak apa-apa daripada kita yang celaka karena lengah, berbaur dengan orang tak dikenal, seperti anak buah Rendra yang menyamar."


" Aku yakin Bon, kalau kamu sendiri, pasti akan meminum dan memakan yang telah di beri racun tanpa rasa curiga."


" Iya Bos, saya memang kurang hati-hati. Lain kali saya takkan kecolongan lagi."


" Coba saja Bon, buktikan kata-katamu."


" Saya takkan ingkar janji. Saya bukan pembual, Bos."


" Baiklah, kupegang kata-katamu Bon."


Karena kelelahan, setelah menyantap daging rusa panggang, Wijaya dan Bono tertidur pulas. Mereka tak berpikiran bahaya akan datang mengancam saat mereka tertidur, karena di tempat itulah, tempat teraman mereka beristirahat.


Pagi hari, burung-burung hutan mulai berkicauan. Cahaya matahari tampak seperti jari-jari yang berkilauan, menembus pepohonan.


" Bon, bangun. Ini sudah pagi. Ayo kita lanjutkan misi kita." Wijaya bersemangat.


" Apa? Ini masih terlalu pagi Bos. Kita sarapan dulu. Saya lapar, lagipula bertarung dalam perut kosong, sangat mempengaruhi kekuatan saya."


" Kamu itu, pikirannya makan saja.. Bukannya semalam, kamu yang menghabiskan daging rusa itu. Padahal aku hanya makan pahanya saja."


" Hehe, kenapa Bos bisa ingat? Tapi, itu sudah semalam Bos. Sekarang sudah beda hari. Saya tetap lapar. "


" Bisa-bisanya ya, kamu itu ngejawab terus Bon. Lama-lama aku bisa darah tinggi." Ucap Wijaya sambil memegangi kepalanya.


" Maaf Bos, saya memang tidak tahan lapar. Lagipula ini untuk kebutuhan kita."


" Iya, baiklah. Kita akan cari makan, lalu kembali ke markas. Kita tuntaskan dendam kita hari ini juga Bon."


" Saya setuju Bos, tapi kita mau makan dimana?"


" Sebaiknya kita menyamar saja, agar lebih aman."


" Bos yakin? Dua orang bertubuh kekar berjalan bersamaan, apa tetap tak mencolok Bos?"


" Apa kamu bisa berubah wujud?"


" Tidak Bos, ilmu darimana? Bos saja tidak punya."


" Siapa tahu kamu memilikinya Bon. Aku ingin kamu menjadi wanita cantik yang memakai rok mini dan baju mungil yang warnanya menggoda."


" Oweekkk..Bos! Saya ini laki-laki, bukan perempuan. Seandainya saya jadi perempuan, apa Bos akan bernafsu?"


"Pllaakk.." Wijaya memukul punggung Bono.


" Aku membayangkannya saja, sudah jijik Bon. Sudahlah, jangan bicara aneh-aneh."


" Ya siapa tahu begitu."


" Sudah jangan menilaiku seperti itu. Diam! Kalau masih banyak omong ku bungkus mulutmu." Gertak Wijaya karena jengkel dengan Bono.


" Iya, maafkan saya Bos. Saya tidak akan mengulangi lagi."


......................

__ADS_1


__ADS_2