
" Bos, jangan hiraukan orang bodoh itu. Tahan emosi Bos. Jangan menampakkan siapa Bos di tempat ramai begini. Jika sampai tersebar ke seluruh tempat, kita akan menjadi buron." Bisik Bono di telinga Wijaya.
" Iya, aku tahu Bon. Terimakasih sudah mengingatkanku." Wijaya menganggukkan kepalanya.
" Sama-sama Bos. Demi keamanan kita." Bono menepuk pundak Bosnya.
" Tak ada ruginya kamu ikut bersamaku Bon, kalau tidak, pasti orang ini sudah jadi abu. Cari masalah saja denganku."
" Bos, dia tidak salah. Dia bertanya benar. Memang karena Bos teriak tadi, membuat minuman dalam gelas yang dibawa pelayan itu, tumpah karena gelasnya pecah. Sebenarnya apa yang terjadi?"
" Aku tak tahu Bon, Sepertinya aku melihat Vina dengan jelas tersenyum kepadaku didalam pikiranku." Ucap Wijaya lalu memegang kepalanya sambil memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.
" Mungkin Bos terlalu rindu pada Vina. Jadi wajah Vina menampakkan dirinya."
" Tidak juga, Aku belum pernah mengalami hal yang seperti ini. Baru kali ini saja, Bon."
" Tenangkan pikiranmu Bos, nah itu makanan dan minumannya sudah datang. Ayo diminumi dulu Bos, mungkin Bos terlalu lelah."
" Aku tak pernah merasa lelah Bon, tapi kemungkinan saja kali ini aku benar-benar merasakan lelah."
" Saya yakin begitu bos, sudahlah sekarang Bos minum dulu."
" Baiklah, ayo kamu juga minum Bon. Jangan cuma melihatku."
" Haha, baiklah Bos. Saya akan temani Anda minum.
Hingga pukul 21.00 malam Wijaya dan Bono menghabiskan waktu di warung makan itu, mereka mengobrolkan banyak tentang pekerjaan mereka. Karena hampir tutup dan masih ada dua orang yang belum juga pergi dari warung makan mereka, seoarng pelayan menegur Bono dan Wijaya.
" Mohon maaf Pak, warung kami sudah hampir tutup, kalau sudah selesai silahkan ke kasir dan menyelesaikan pembayaran. Jika masih ingin mengobrol, kami menyediakan tempat duduk di luar Pak untuk mengobrol." Ucap pelayan warung dengan nada gemetar.
" Kalau kami masih disini sampai besok pagi, apa kamu tetap mau mengusir kami!" Teriak Wijaya dengan lantang.
" Eh maaf Pak, kami hanya karyawan. Kami mempunyai aturan jam kerja. Dan ini sudah waktunya kami pulang. Untuk itu kami harus menutup warung ini." Jawab pelayan dengan wajah menunduk.
" Bisa juga kamu ngejawab!" Wijaya hendak melayangkan tinju ke arah muka si pelayan. Namun sebelum itu, Bono mencegahnya dan menyuruh pelayan untuk mundur.
" Bos, jangan kasar begitu. Hargai dia, kasihan dia hanya orang kecil. Jika dia kenapa-kenapa, gajinya takkan cukup untuk mengobatinya."
Wijaya menuruti kata Bono, hampir saja dia mencari keributan di kota orang. Beruntung, Bono berhasil mencegahnya.
" Mas, Maafkan Bos saya. Habis berapa semuanya?"
" Tidak apa-apa Pak. Semuanya tiga puluh lima ribu saja, Pak."
" Makanan sebanyak ini hanya segitu Bos. Ini murah banget. Jika Bos menghajarnya tadi, saya tidak bisa membayangkan kasihannya dia. Ini hanya warung makan kecil. Untungnya tidak seberapa."
" Iya aku tahu, sudah jangan bahas itu lagi. Membuat telingaku jadi panas."
" Sekali lagi maafkan Bos saya ya mas. Ini uangnya." Bono menyerahkan uang lima puluh ribu kepada pelayan.
" Sebentar Pak, saya ambilkan dulu kembaliannya."
" Tidak perlu mas. Kembaliannya buat mas saja."
" Bon, berapa uangmu yang ada di dompetmu?"
" Eh, saya hanya membawa lima juta Bos. Selebihnya ada di ATM."
" Kamu mau sok-sokan baik pada pelayan ini?"
" Bos, uang kembaliannya itu tidak seberapa. Apa saya salah memberikannya pada Mas ini?"
" Bon, kalau mau berbuat baik jangan tanggung-tanggung. Sebaliknya, jika mau berbuat jahat juga jangan tanggung-tanggung. Itu yang dulu pernah aku ajarkan kepadamu."
__ADS_1
" Terus saya harus bagaimana Bos?" Bono tidak mengerti dengan ucapan Wijaya.
" Mas, maafkan atas kesalahanku yang tadi. Aku khilaf." Ucap Wijaya kepada pelayan warung makan.
" Tidak apa-apa Pak, saya bisa memaklumi." Ucap si pelayan berusaha ikhlas meskipun sempat akan dipukul Wijaya.
" Kembalikan uang temanku tadi." Wijaya mengulurkan tangannya untuk meminta uang Bono.
" Tapi Pak, uang tadi untuk membayar yang kalian makan. Kenapa diminta lagi?" Dengan perasaan was-was, Si pelayan memberanikan diri, menolak permintaan Wijaya.
" Mas, jangan takut. Turuti saja permintaannya." Ucap Bono pada pelayan.
" Ba, baik Pak. Ini uangnya." Dengan gugup Pelayan memberikan uang Bono pada Wijaya.
" Sini uangnya! Lama!" Bentak Wijaya karena Si pelayan ragu memberikan uangnya. Dia takut di marahi Bosnya karena ada yang tidak membayar di warung makannya.
" Ma, maaf, apa kalian tidak ingin membayar makan kalian? Kalau begitu tidak apa-apa. Saya yang akan menanggung untuk kalian." Pelayan berkata dengan berat hati. Dalam hatinya menjerit mengapa hidupnya merasakan kesialan.
Melihat temannya di bentak-bentak, seorang pelayan wanita mendatangi Wijaya dan Bono.
" Maaf Pak, Pergilah. Dan jangan pernah kembali lagi kesini jika hanya untuk mengemis. Kami menghargai pengemis yang rendah hati dan tidak suka memaksa. Silahkan pergi kalian! Mas, mundurlah, tinggalkan saja pengemis-pengemis ini. Mereka tidak punya sopan santun sama sekali. Jika kita meladeninya, kita akan jadi gila."
" Apa kamu bilang! Kamu bilang kami ini pengemis? Belum pernah lihat neraka kamu, Nak?" Ucap Wijaya sambil mengepalkan tangannya ke muka pelayan wanita.
" Bos! Apa bos tak melihat? Dia seorang Wanita. Apa Bos ingin kembali ke masa lalu? Kasar pada siapapun termasuk kepada istri sendiri?" Bono membentak Wijaya karena hampir saja dia memukul si pelayan Wanita.
" Kamu dengar tidak? Dia menyebut kita pengemis? Aku tidak terima, Bon."
" Dia tidak salah, Terus maksud Bos mengambil uang, untuk membayar beaya makan kita, itu untuk apa? Kita bergelimang harta, mengapa uang sekecil begitu kita tidak mau mengeluarkannya."
" Haaah.. Sudahlah! Kamu tidak tahu maksudku. Sudah, lebih baik kamu keluar dulu."
" Bos, jangan macam-macam dengan orang kecil yang tidak bersalah. Saya takkan terima, jika Bos melakukan kejahatan pada mereka."
Bono menuruti permintaan Wijaya. Dengan kesal, dia berjalan keluar sembari melihat ke belakang Sosok Wijaya dengan sorot mata yang tajam.
Saat Bono sudah keluar dari gerbang warung makan, Wijaya mengeluarkan dompet besarnya. Lalu memberikan uang satu bendel pecahan seratus ribuan dan memberikannya pada si pelayan.
" Ini untukkmu. Maaf atas kata-kataku yang kasar. Aku memang tidak suka dibantah. Jika kamu tadi menuruti permintaanku tanpa banyak bertanya, pasti aku takkan memarahimu."
" Ini, uang sebanyak ini untuk saya Pak?"
" Iya, pakailah untukmu. Jangan bilang sama Bosmu, cukup untukmu saja."
" Terima kasih banyak Pak." Si pelayan merasa terharu, dia menangis sambil mengucapkan terima kasih pada Wijaya.
" Kamu, siap nam kamu? " Tanya Wijaya pada pelayan Wanita.
" Saya widya Pak. Bapak ini siapa? Saya pikir bapak orang jahat."
" Tergantung orang yang menilaiku. Aku mau dibilang jahat atau baik, aku tidak peduli. Yang terpenting, aku menuruti semua keinginanku"
Dua pelayan warung makan itu hanya diam. Mereka tidak ingin menanggapi terus Ucapan-ucapan Wijaya. Agar tidak berlama-lama di warung makannya.
" Oiya, apa kamu bisa beladiri?" Wijaya kembali bertanya pada pelayan Wanita.
" Em, bisa sedikit Pak. Hanya dasar-dasarnya saja."
" Suatu saat aku akan membuka perguruan bela diri. Aku akan mengajakmu bergabung."
" Iya Pak, terima kasih banyak Pak." Ucap pelayan Wanita sambil berharap Wijaya segera pulang.
" Sama-sama. Oh iya, masihkah ada lagi stok makanan yang tersisa? Aku akan membelikannya untuk putriku."
__ADS_1
" Masih Pak. Tapi kami sudah mau tutup Pak. Kami digaji hanya sampai jam sepuluh. Jika lebih dari itu, kami tidak dihitung lembur." Ucap Pelayan wanita.
" Baiklah kalau begitu, aku akan pergi sekarang. Terima kasih, makanan di warung kalian enak sekali."
" Terimakasih juga Pak, atas pujiannya. Jangan lupa kapan-kapan mampir kesini lagi Pak."
" Iya." Ucap Wijaya lalu bergegas keluar menyusul Bono.
" Ada apa Bos? Kenapa lama sekali?" Tanya Bono.
" Tak ada apa-apa. Ayo kita lanjutkan perjalanan lagi. Tambah kecepatanmu Bon. Kamu sudah banyak makan, kan?"
" Hehe, Iya beres Bos. Kita usahakan sampai rumah Bos, sebelum subuh."
" Harusnya begitu. Eh, Bon.. Kita bagi tugas. Kamu pergi ke bukit, aku akan kembali ke rumah. Kamu cari, dan temukan, siapa pemilik Bukit itu. Kamu bicarakan dengannya baik-baik. Sampaikan padanya, aku akan membelinya dengan harga berapapun, yang dia mau."
" Baik Bos. Nanti di persimpangan kita akan berpisah. Bos ke kanan dan saya ke kiri. Biar semua bisa tertangani."
" Iya Bon, Akkhh.." Tiba-tiba jantung Wijaya seperti berhenti berdetak.
" Kenapa Bos? Ada apa?" Bono kebingungan, tak tahu apa yang terjadi dengan Bosnya.
" Perasaanku, semakin dekat dengan rumah, semakin tidak enak. Dadaku sesak. Akkhh.." Wijaya mencoba menenangkan rasa sakitnya. Dia kemudian duduk di trotoar tepi jalan untuk beristirahat.
" Bos mempunyai penyakit parah? Tanya Bono dengan perasaan gelisah.
" Tidak Bon, sepertinya terjadi sesuatu dengan putriku."
" Bos merasakan apa? Atau jangan-jangan itu hanya perasaan Bos saja."
" Bukan Bon, Aku yakin sekali terjadi apa-apa dengan Vina. Sebaiknya aku hubungi saja dia. Dasar, membuat khawatir saja. Sudah tiga hari lebih dia tidak lagi menghubungiku. Tapi aku juga, yang salah. Saat dia menghubungiku, aku selalu mengabaikannya. Sekarang dia tidak menghubungiku, tapi malah membuatku menjadi rindu."
Wijaya mencoba menghubungi Vina. Sebenarnya sebelum pulang, Wijaya berniat untuk merebut hak kepemilikan bukit Wira, namun karena perasaan khawatir tentang Vina, dia terpaksa menghubungi Vina untuk menanyakan keadaanya.
Beberapa kali Wijaya menelpon namun Vina tak mengangkatnya. Wijaya menjadi kesal namun bercampur cemas.
" Hpnya aktif tapi kenapa tak diangkat-angkat juga telponku. Kemana saja kamu Vin. Awas saja kalau kamu mengabaikan Papa, aku akan lempar kamu ke laut. Hahaha.."
" Sama anak sendiri juga bisa-bisanya bos itu kejam. Masak, anaknya sendiri mau dilempar ke laut." Ucap Bono.
" Haha.. Cuma bercanda kok Bon. Baiklah, aku akan coba hubungi dia sekali lagi."
" Hallo.."
" Hallo juga. Kamu siapa?" Tanya Wijaya.
" Ini Tasya Om, temannya Vina.
" Tasya? Kenapa kamu! Mana anakku? Kenapa Hpnya, kamu yang bawa? Aku mau bicara sama dia."
" Om! Berhenti membentak saya. Om pikir, saya ini siapanya Om? Ayah saya saja tidak pernah membentak saya." Tasya menangis.
" Emh, maafkan aku. Aku tidak bermaksud begitu. Dimana anakku Sya? Aku merindukannya."
Mendengar pertanyaan Wijaya berulang-ulang, Tasya semakin menangis keras.
" Om, berapa kali Tasya bilang, Vina sudah meninggal. Dan sekarang dia sudah dua harinya meninggal. Om bisa cek sendiri, kembalilah. Kami sudah menanti kedatangan Om. Saya, dan teman-teman Vina yang lain, sudah dua hari ini di rumah Om. Kami membantu mengirimkan doa untuk Vina sampai tiga harinya besok. Saya mohon, kembalilah. Sebelum saya pergi jauh ke luar negeri. Ada pesan yang harus saya berikan sendiri langsung kepada Om."
Wijaya tiba-tiba terduduk lemas, jiwanya seperti rapuh. Tulang-tulang ditubuhnya seakan tidak bisa lagi menyangga badan kekarnya.
" Sya, katakan dengan sejujurnya. Apa benar Vina sudah meninggal? Aku butuh jawaban yang meyakinkan darimu."
" Om, tak ada lagi yang bisa saya katakan untuk meyakinkan Om. Jika memang Vina masih hidup, tidak mungkin dia tidak menjawab panggilan Om. Walaupun terkadang, saat saya yang memegang Hp Vina, tapi jika Om yang menelpon, dia selalu meminta Hpnya, dan mengangkat telpon Om. Lihatlah, perbedaan dulu dan sekarang. Apa Vina sekarang melakukan itu?" Tasya menangis karena tak henti-hentinya Papa Vina tak mempercayai kata-katanya.
__ADS_1
......................