SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
PILIHAN UNTUK MENYENDIRI


__ADS_3

Pukul lima sore, acara pemakaman keluarga Tanu telah selesai. Sebagian orang memilih pulang dikarenakan perjalanan yang sangat jauh. Namun seluruh warga Lereng Bukit Barat masih bertahan di rumah Tanu. Mereka sangat menghormati Tanu. Bagaimanapun, Wira dan keluarga Tanu adalah satu keluarga. Dan Wira adalah orang yang berkuasa di Lereng Puncak Bukit Barat. Tak ada alasan bagi mereka untuk pulang lebih awal.


Terlihat lalu lalang orang di sekitar rumah Tanu. Namun Tama masih terlihat menyendiri di tepi Kolam. Tak ada yang berani menyapanya. Semua orang takut jika Tama berteriak-teriak dan menangis. Sementara semua keluarganya tak ada yang masih tersisa.


Begitu pun dengan Arti, ia tampak kebingungan dengan sikap Tama. Meskipun ia pernah menjadi pengasuhnya saat Tama baru saja lahir, namun ia tak mampu membujuknya dalam segala hal.


Pernah ia menawarinya makan dan minum, namun ia menolak dan menampel piring yang berisi makanan. Seketika itu, Arti merasa jengkel. Namun ia bingung bagaimana cara membuat Tama terbujuk oleh kata-katanya.


Rika pun demikian, berkali-kali ia menghampiri Tama sembari menggendong Putranya. Ia bermaksud mengajak Tama bermain, namun Tama tak mempedulikannya. Ia terus saja memperhatikan ikan-ikan di kolamnya.


Semua orang yang berada di rumah Tanu pun merasa tak nyaman. Tama seakan tak menyukai kehadiran mereka. Sebaian orang pun pulang setelah acara doa bersama selesai.


Pada pukul sembilan malam, di rumah Tanu hanya tersisa Bono dan Bara beserta istri dan anak mereka. Sementara Arti masih bingung harus kemana. Ia datang ke rumah Tanu untuk menjadi pengasuh bayinya dan Tama. Namun, majikannya telah tiada. Ia berpikir Siapa yang akan menggajinya.


Di saat kebingungan, Rika dan Santi menghampirinya.


" Ada apa Bi? sepertinya ada yang Bibi pikirkan.


" Eh, begini.. saya disini sebenarnya bertujuan bekerja kembali sebagai pengasuh Rama dan Tama. Saya juga ditugaskan untuk membantu pekerjaan rumah Bu Rani. Tapi mereka sudah tiada. Lalu apa yang harus saya kerjakan disini. Dan siapa yang akan menggaji saya."


" Oh, jadi begitu.. hehe.. tak perlu bingung, Bi. Tinggal saja dirumah kami. Sekalian mengasuh Putra kami. Berapapun gaji yang Bibi minta, akan saya penuhi." ucap Bono dengan senyum lebar.


" Saya tidak keberatan, Pak. Tapi bagaimana dengan anak itu? Apa Pak Bono juga akan ikut membawanya ke rumah Pak Bono?"


" Saya akan mencoba membujuknya. Siapa tahu dia bisa mendengarkan perkataan saya."


" Baik, Pak Bono. Saya sangat berharap Anda bisa melunakkan hati Tama. Saya sangat merasa kasihan jika dia tidak mau diajak."


Bono mencoba mendekati Tama yang belum juga beranjak dari tepi kolam ikan miliknya.


" Tama, ayo ikut paman ke rumah Paman. Disini sudah tak ada siapa-siapa. Di rumah Paman, temannya banyak."

__ADS_1


Tama hanya diam dan terus memandangi ikan di kolamnya. Ia sama sekai tak menghiraukan ucapan Bono.


Bara pun mendekati Tama dan Bono. Ia ikut membujuk Tama agar mau ikut dengan mereka.


" Tama, di rumah Paman juga ada ikan. Malah lebih banyak ikannya daripads di rumahmu ini. Kolamnya juga lebih luas. Ayo ikut ke rumah Paman. Nanti semua ikannya buat kamu."


Tama melirik ke arah Bara. Ia terus memandanginya. Matanya sayu. Ia sebenarnya sangat kelaparan. Dia juga merasakan kesedihan yang sangat dalam. Namun dia tak bisa untuk mengungkapkannya.


" Paman.. walaupun Paman orang baik, tapi aku tidak mau ikut bersama Paman. Aku akan menunggu Ayahku, Ibuku, Kakakku juga adikku kembali. Mereka sayang kepadaku. Aku juga sayang kepada mereka. Meskipun mereka pergi meninggalkanku sendiri, aku tidak akan membenci mereka." ucap Tama lirih.


Dari sudut matanya terlihat titik air mata. Ia tak tahu harus melakukan apa setelah semua orang pergi. Ada banyak hal yang ingin dia tahu. Ada banyak kata yang ingin dia ungkapkan. Namun diusianya yang masih kecil, tak ada yang bisa dia lakukan seperti anak yang sudah berusia diatasnya.


Bara memandangi Bono, ia merasa dirinya pun tak bisa membujuk Tama. Ia lalu berdiri dan mendatangi Santi dan anaknya.


Sementara Bono masih terus menemani Tama. Ia sangat tidak nyaman dengan sikap Tama. Jika ia memilih untuk pulang, sama saja membiarkan seorang bocah kecil tinggal sendiri di rumahnya sendirian.


Sejenak ia terpikir bagaimana jika ia tinggal dirumah Tanu dan menemani Tama sampai Tama dewasa. Baru saja dia ingin mengatakan hal itu pada Tama, Tam terlebih dahulu berkata kepadanya.


" Paman.. pulanglah, aku akan tetap tinggal disini. Menunggu semuanya kembali ke rumah ini. Terima kasih sudah menemaniku disini. Tapi aku ingin tetap disini. Biarkan aku sendiri."


" Paman tak perlu khawatir. Aku tidak sendiri. Aku masih punya ikan-ikan yang akan menemaniku."


" Baiklah, Paman tidak memaksa. Jika kamu berani tinggal sendiri, Paman tidak bisa melarangmu. Besok pagi paman akan kemari lagi membawakan makanan untukmu."


" Tidak, Paman. Paman tak usah repot-repot datang kemari. Aku tidak mau merepotkan Paman. Aku bisa hidup sendiri."


Mendengar ucapan Tama, Bono seketika menangis. Bagaimanapun Tama adalah bayi yang masih berusia dua tahun lebih. Dia kini tinggal seorang diri dan ingin menjalani hidupnya sendiri.


Seharusnya anak seusia dia tak pernah memikirkan apa yang saat ini dia pikirkan.


" Tama, bibi Arti sebenarnya kemari karena ingin bekerja di rumahmu. Ia ditugaskan Ibumu untuk membantu Ibumu mengerjakan pekerjaan rumah. Termasuk merawat kamu dan adikmu. Tapi, orang tuamu sudah tak ada. Jadi dia bingung harus melakukan apa. Lalu Paman menawarinya bekerja di rumah paman. Kamu ikut Bibi Arti dirumah Paman. Tapi jika kamu tidak mau ikut, Bibi Arti akan tinggal disini merawatmu dan menemanimu."

__ADS_1


" Tidak, aku tidak mau. Aku mau sendiri. Lagipula sudah tak ada siapa-siapa disini. Bibi tak perlu mengerjakan apapun disini. Biar semua, aku yang mengerjakan."


" Apa kamu yakin, Tama? Paman sangat mengkhawatirkanmu.. Disini tak ada siapa-siapa.. Paman khawatir kamu kenapa-kenapa."


Tama menganggukkan kepalanya. Ia tak mau berbicara lebih panjang lagi. Ia pun meninggalkan Bono dan yang lainnya masuk kedalam rumahnya. Ia lalu mengunci pintu rumahnya rapat-rapat. Dan menutup setiap tirai di jendela.


" Anak itu sudah masuk, dia tak mau ikut dengan kita. Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang." ucap Bono pada Rika dan lainnya.


" Pak Bono, jika boleh biarkan saya tetap tinggal disini. Saya akan mengawasinya. Saya khawatir dia kenapa-kenapa."


" Tapi dia mengunci pintu rumahnya, lalu Bibi mau tidur dimana?" ucap Bono.


" Saya bersedia tidur di luar. Lagipula saya sudah terbiasa tidur di sembarang tempat."


" Baiklah kalau begitu, Bi. Besok pagi saya akan kembali untuk menyuplai makanan. Saya dan yang lainnya akan pulang sekarang."


" Terima kasih Pak Bono. Saya sangat merasa tertolong oleh malaikat. Awalnya saat melihat kondisi keluarga Bu Rani, saya sangat syok. Bagaimana nasib saya setelah ini. Padahal saya dan anak saya sangat berharap pada keluarga Bu Rani. Syukurlah ada Pak Bono dan yang lainnya. Saya sangat beruntung."


" Bibi terlalu berlebihan. Saya hanya manusia biasa, kok. Tapi semua yang terjadi sudah kehendak Tuhan. Kita patut bersyukur kepadaNya."


" Iya, Pak Bono. Saya tak pernah berhenti untuk selalu bersyukur."


" Baiklah kalau begitu, kami mohon izin pulang dahulu, Bi. Hati-hati jaga keselamatan Bibi dan Anak Bibi."


" Baik, Pak Bono.."


Bono pun pergi bersama istri dan anaknya. Bara dan Santi mengikutinya di belakang mereka.


Suasana kembali menjadi hening. Hanya terdengar suara binatang malam dan desiran angin yang berhembus lembut, menggoyangkan ranting dan daun di sekitar rumah Tanu.


Arti menggelar kasurnya di teras rumah Tanu. Lalu memindahkan Khalid yang sejak tadi tidur di kursi samping teras ke atas kasur.

__ADS_1


Ia lalu membaringkan tubuhnya disamping anaknya. Kelelahan yang ia rasakan membuatnya langsung tertidur pulas.


......................


__ADS_2