
Sore hari Tama berpamitan untuk pulang ke rumahnya. Ia sebenarnya ingin mengajak Harjo dan Khalid untuk tinggal dirumahnya, namun Harjo menolak. Harjo beralasan, jika tanah yang ditempati Tama adalah tanah yang masih dalam sengketa. Ia takut kalau sewaktu-waktu penjahat itu datang dan mengambil alih tanah itu.
Harjo sempat melarang Tama untuk kembali ke rumahnya, namun Tama juga tak menghiraukan larangan Harjo. Tama tak ingin tanahnya direbut oleh siapapun. Dia berteriak dan menangis di dalam rumah Harjo.
Beruntung Khalid bisa menenangkannya. Harjo pun membiarkan Tama pulang setelah tangisnya reda.
" Maafkan Kakek, Tama. Kamu benar, tanah yang kamu tempati sekarang adalah tanahmu. Kamu berhak mempertahankannya. Tapi aku sarankan, kamu berhati-hati pada penjahat-penjahat itu. Karena Penjahat itu bisa datang kapan saja tanpa sepengetahuanmu." pinta Harjo sebelum Tama meninggalkan rumah Harjo.
" Iya, Kek. Kakek tenang saja. Aku bisa menjaga diriku." ucap Tama lalu berjalan menuntun sepedanya diikuti Khalid dibelakangnya.
" Tama, kamu yakin berani pulang sendiri?" tanya Khalid ketika sampai di batas halaman rumahnya.
" Aku sudah terbiasa sendiri, Kak. Kakak tenang saja. Aku akan baik-baik saja."
" Tama, sebenarnya aku ingin bicara berdua denganmu. Tapi mungkin akan butuh waktu lama. Kapan-kapan aku boleh tidak main ke rumahmu?"
" Mau bicara apa, Kak? Aku kan sudah bilang, kakak bolrh tinggal dirumahku. Kalau mau main, pasti aku senang sekali."
" Tapi untuk tinggal dirumahmu itu sangat berbahaya, Tama. Sewaktu-waktu Penjahat itu datang lagi dan menempati rumahmu. Tapi jika kamu masih ingin tinggal disana, tak apa. Tapi kamu harus berhati-hati. Maafkan aku tidak bisa menemanimu tinggal dirumahmu, Tama. Aku hanya bisa berharap kamu akan tetap aman tinggal dirumahmu."
" Aku tak akan pernah meninggalkan rumahku, Kak. Disanalah rumahku satu-satunya. Aku akan menjaga warisan peninggalan keluargaku!" ucap Tama dengan tegas.
" Kamu memang hebat, Tama. Ayo kita tumbuh bersama, kita akan menjadi sahabat dalam segala hal." ucap Khalid sambil menggemgam kedua tangan Tama.
__ADS_1
" Iya, Kak. Terima kasih sudah mau menjadi temanku. Aku pulang dulu, Kak."
" Sama-sama, Tama. Baiklah, hati-hati. Jangan lupa berdoa."
" Iya, Kak."
Tama bergegas mengayuh sepedanya menuju rumahnya. Hari yang sudah semakin sore membuat hatinya gelisah. Bukan karena ia takut dengan kegelapan ataupun hantu yang berkeliaran, tapi ia khawatir ikan-ikannya mati karena telat memberi makan. Ia lalu mengayuh sepedanya dengan sangat cepat melewati jalanan setapak menuju Lereng Bukit.
Sebelum matahari terbenam, Tama telah tiba di halaman rumahnya. Ia masuk ke dalam rumah lalu mengambil pakan ikan dan memberikannya pada ikan-ikan di kolam.
Ia lega karena tak ada satu ikan pun yang mati karena kelaparan. Ia lalu masuk kembali ke dalam rumahnya.
" Badanku sudah bau, aku harus segera mandi. Agar tubuhku tak bau lagi. Kalau tubuhku bau, Ibu tak suka kepadaku lagi. Aku tak mau Ibu membenciku dan memarahiku." gumam Tama ketika ia sampai di dalam kamarnya.
" Maafkan aku, Kak. Aku memakai baju kalian, habisnya aku tidak memiliki baju lagi. Bajuku sudah tidak bisa aku pakai. Besok kalau aku bisa mencari uang, aku janji akan membeli baju sendiri dan baju Kakak, akan ku kembalikan." gumam Tama di depan foto keluarga yang terpajang di atas meja dirumah rahasianya. Lalu i bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
...----------------...
Di hutan sebelah selatan Puncak Bukit, Harjo dan Khalid sedang membicarakan tentang Tama. Mereka juga membicarakan masalah beaya sekolah untuk Khalid dan Tama.
" Lalu apa yang harus kita lakukan, Kek? Untuk makan berdua saja, kita harus mengandalkan dari hasil jualan sayuran yang sekarang harganya turun. Jika Kakek ingin menyekolahkan Tama, kita harus bisa mendapatkan uang lebih banyak lagi."
" Khalid, apa kamu tak senang jika Tama aku sekolahkan? Bagaimanapun dia itu yatim piatu yang nasibnya tak seberuntung dirimu. Bayangkan saja, dari umur berapa dia hidup sendiri sampai sekarang dia masih hidup. Dia pasti mengalami penderitaan yang sangat pahit. Kakek sangat kasihan padanya. Dan jika boleh, Kakek sebenarnya ingin menangis sekeras-kerasnya ketika mendengar cerita sedih Tama."
__ADS_1
" Kek, bukannya aku tak senang. Aku hanya kasihan sama Kakek. Kakek akan bekerja lebih keras lagi dalam mencari uang sementara Kakek semakin tua."
" Tidak apa, mudah-mudahan Kakek diberikan kesehatan dan umur panjang untuk bisa menyekolahkan kalian hingga tamat. Kamu tak perlu mencemaskan Kakek. Pasti akan ada jalan keluar untuk masalah kita."
" Kek, aku akan bantu Kakek mencari uang. Beritahu aku caranya mendapatkan uang, Kek."
" Khalid, kamu itu masih kecil. Sudahlah..pikirkan saja sekolahmu. Kamu tak perlu memikirkan masalah di rumah. Biar Kakek yang akan memikirkannya dan mencari jalan keluarnya. Kamu cukup belajar yang rajin, jadi anak yang pintar dan berprestasi. Jika kamu bisa meraihnya, itu adalah imbalan yang sangat berarti untuk Kakek."
" Kek..maafkan aku. Aku ini bukan cucu kandungmu, tapi kamu malah merawatku dan menyekolahkanku. Seharusnya aku tak merepotkanmu, Kakek. Apa boleh aku berhenti sekolah dan mencari pekerjaan di kota?" ucap Khalid sambil memeluk Harjo. Rasa kasihannya terhadap orang tua dipelukannya membuatnya tak bisa menahan air matanya.
" Khalid... jangan bilang kalau kamu bukan cucu kandungku. Itu sangat menyakitkan hati Kakek. Dan jangan pernah putus sekolah, Kakek tidak akan pernah ridho. Kakek akan merasa sangat menyesal jika kamu harus putus sekolah."
" Maafkan atas ucapanku, Kek. Aku tak akan pernah mengatakan itu lagi. Lalu jika aku harus sekolah dan Tama juga sekolah, bagaimana Kakek akan mendapatkan uang untuk beaya sekolah kami? Iuran bulanan sekolahku saja masih menunggak tiga bulan. Aku tidak tahan dengan kata-kata kepala sekolah yang selalu menagih iuran bulanan sekolahku, Kek."
" Maafkan Kakek, Khalid. Kakek janji akan membayar tunggakan iuara bulanan sekolahmu. Besok Kakek akan datang ke sekolah untuk membicarakan masalah ini sekalian untuk mendaftarkan Tama masuk sekolah."
" Kek, aku tidak tega melihat Kakek terus terbebani. Biarkan aku pergi ke kota untuk mencari uang, Kek. Biar Tama saja yang sekolah, aku yang akan mennggung beaya sekolahnya."
" Tidak, Khalid. Kamu jangan pernah putus sekolah. Kamu jangan pernah memikirkan masalah itu. Biar Kakek yang memikirkannya. Kakek sudah berjanji padamu, Kakek akan merawatmu sampai akhir usia Kakek. Mudah-mudahan saja, Kakek masih bisa mencukupimu hingga kamu besar. Kakek ingin melihat kamu jadi anak yang sukses, Khalid."
" Terima kasih, Kakek. Terima kasih karena Kakek mau menerimaku. Aku tidak tahu lagi harus kemana kalau tak ada Kakek. Pasti aku sudah mati sekarang ini. Aku sangat menyayangimu dan tak ingin berpisah denganmu, Kek."
Khalid menangis di pangkuan Kakeknya. Ia sadar Kakeknya sudah sangat tua. Ia sangat takut kehilangan orang yang selama ini memberikannya tumpangan hidup. Ia ingin sekali membantu Harjo mencari uang untuk kebutuhan sehari-harinya. Namun Harjo melarangnya. Ketika ia melihat seberapa sulitnya Harjo mencari uang demi mencukupi kebutuhannya, membuatnya semakin bersedih. Namun Khalid tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menangis dan berharap ada keajaiban datang menghampirinya.
__ADS_1
......................