
" Wijaya, bukankah kau sudah mendapatkan seorang wanita yang sangat baik dan cantik. Dia lebih cantik dariku. Apa kau tidak puas?" ucap Rani.
" Maksudmu, Dinda?" tanya Wijaya.
" Benar.. Kenapa kau masih menyimpan dendam pada kami, sementara kau sudah bahagia dengan Istrimu."
" Ran, Dinda memang sangat cantik dan Baik. Tapi cintaku, hanya kepadamu. Aku tidak mencintainya. Aku selalu membuatnya tersiksa. Karena apa? Karena aku tak mencintainya. Kini dia sudah pergi meninggalkanku untuk selamanya. Aku kini hidup seorang diri."
" Maksudmu, apa dia sudah meninggal?" tanya Rani lagi.
" Iya, dia sudah meninggal. Tetapi bukan karena aku. Dia meninggal karena kecelakaan tunggal."
" Bu, apakah Dinda itu teman Ibu saat SMP?" tanya Tanu pada Rani.
" Iya, Ayah. Dia yang dahulu menyukai Ayah."
" Menyukai Ayah... apa itu benar?"
" Itu benar, Tanu! Kau memang Ba****an! Bisa-bisanya laki-laki sepertimu banyak yang tergila-gila kepadamu!"
" Wijaya... aku tak pernah tahu, kalau Dinda menyukaiku. Lagipula, aku hanya menyukai Rani."
" Tanu! Kau memang serakah! Seharusnya kau hidup bersama Dinda. Dan Rani hidup bersamaku. Itu adalah suatu keadilan."
" Tapi tadir berkata lain, Wijaya. Aku sudah ditakdirkan berjodoh dengan Rani. Dan kau berjodoh dengan Dinda. Kita semua sudah sama-sama memiliki anak. Buah dari cinta kita, Wijaya."
" Iya.. aku tahu, itu adalah takdir. Tapi aku membenci takdir itu. Kini, Dinda telah tiada, dan sekarang aku telah menemukan Rani. Tanu.. sebagai teman, apa kau mau memberikan Rani untukku?"
" Wijaya! apa maksudmu?" Teriak Rani.
" Hahaha.. kau pasti sudah paham, Rani. Aku akan membiarkan keluargamu hidup tenang, tapi dengan satu syarat. Kau harus menjadi milikku. Kita jalin hubungan yang belum sempat terlaksana, Rani."
" Laki-laki gila! Wijaya... Apa kau tak puas dengan hidupmu? Kita sudah cukup tua, Wijaya. Jangan bertingkah kurang ajar!"
" Rani, aku tahu dirimu dulu sangat lembut. Kau sangat cantik dan baik. Walaupun kau sudah tak muda lagi seperti diriku, kau masih saja tetap cantik, Rani. Tubuhmu masih indah seperti dulu. Rani, aku ingin bercinta denganmu."
" Kurang ajar! Hei, Penjahat kelas teri! Apa kau tak melihat, disini ada kami. Kami anaknya, berani kau kurang ajar padanya, Kau akan tahu sendiri akibatnya!" teriak Raka, emosinya tersulut ketika Wijaya berkata sesuatu yang tak pantas di depannya dan di depan Ayahnya sendiri.
" Hahaha.. aku memang tak melihatmu, dan aku takkan pernah melihatmu untuk selamanya, karena kau dan saudaramu itu akan lenyap!" ujar Wijaya sembari tertawa keras.
" Biadab! Ayah.. biarkan aku membungkam Laki-laki tua busuk ini. Dia harus diberi pelajaran.." ucap Raka pada Tanu.
" Raka, jangan dulu. Kita harus bersabar. Kita tidak bisa langsung menyelesaikan masalah ini dengan kekerasan."
__ADS_1
" Hahaha... bocah goblok! apa kau dengar, apa yang dikatakan oleh Ayahmu? Apa kau mau melakukan kekerasan denganku? kalau iya, silahkan saja lakukan."
" Kurang ajar! Penjahat kelas banci! ku hajar kamu sampai babak belur!"
" Hahaha.. coba saja, bocah ingusan."
" Raka.. hentikan, kita jangan membuat perkara terlebih dahulu. Tahan amarahmu. Jangan terbawa emosi. Masalah ini takkan selesai dengan kekerasan." ucap Tanu.
" Tapi kita tak bisa membiarkan dia bertindak lebih jauh lagi, Ayah. Dia sudah keterlaluan."
" Hei, bocah! kau memang banyak mulut. Kamu.. serang bocah sialan itu!" Perintah Wijaya pada Pimpinan rampok.
Pimpinan rampok pun menyuruh ketiga anak buahnya melawan Raka.
Pertempuran tak bisa dielakkan, meskipun Tanu mencoba mencegah Raka dan Pimpinan Rampok untuk tidak saling menyerang.
" Ibu, sebaiknya kamu masuk ke dalam rumah saja. Suasana mulai memanas, disini biar kami yang urus. Doakan kami bisa mengalahkan mereka." Perintah Tanu pada Rani.
" Baik, Ayah.. hati-hati. Jangan sampai terluka." ucap Rani lalu bergegas masuk ke dalam rumah lalu mengunci rumahnya rapat-rapat.
" Riko, bantu Raka.. biar Ayah yang menghadapi orang yang paling kuat diantara mereka."
" Baik, Ayah." ucap Riko lalu meghampiri Raka lalu menyerang musuh secara bersama-sama.
Pertarungan tangan kosong terjadi di halaman rumah Tanu. Berbagai serangan dilakukan oleh kedua pihak. Sementara, Wijaya memilih melihat pertarungan anak buah mereka sambil menikmati sebatang rokok yang masih tersisa.
" Ibu, coba Ibu hubungi Paman Bono. Siapa tahu bisa dihubungi lagi. Orang-oranh itu licik dan kuat. Apalagi orang yang bernama Wijay itu. Kita kalah jumlah orang, Ibu."
" Tadi Ibu sempat memanggil ke nomernya, tapi tak bisa menyambung. Ibu malah khawatir, Bono sudah mati lebih dulu seperti kakak Ibu."
" Ibu... jangan menakut-nakuti Bulan. Ibu nggak boleh berprasangka yang tidak-tidak. Tak mungkin dia sudah mati. Ia kan, berada di tempat yang di awasi ketat oleh pemerintah."
" Iya, kamu benar Bulan. Kalau begitu, kita coba hubungi saja kantor tempat Paman Bono bekerja. Siapa tahu Paman Bono tak bisa dihubungi karena Hpnya rusak."
" Iya, Bulan juga sependapat dengan Ibu. Kalau begitu coba saja, Bu."
" Sebentar, akan Ibu coba. Bismillah.." Sembari berdoa, Rani mencoba menghubungi rumah dinas Bupati Kota Apel.
" Halo.. selamat malam, ada yang bisa saya bantu?" ucap seseorang yang mengangkat telpon di rumah dinas Bupati Kota Apel.
" Maaf, Pak. Apa saya bisa bicara dengan Pak Bono?"
" Maaf ini dengan siapa? Ada perlu apa, mencarinya?"
__ADS_1
" Saya mau bicara dengannya, Pak. Saya sudah menghubunginya melalui nomer Hp miliknya, tapi susah untuk dihubungi."
" Maaf, saat ini Bono sedang beristirahat di rumahnya. Saya tidak bisa membantu Anda. Jika berkenan, besok bisa menghubungi ke nomer ini lagi."
" Tapi ini sangat penting, Pak. Saya butuh bantuannya. Izinkan saya bicara dengannya, Pak."
" Maaf, Bu. Disini ada aturan untuk bertemu atau berbicara dengan pekerja yang bekerja disini. Jika sudah malam tidak diizinkan untuk bertemu. Semua Hp harus non aktif pada malam hari. Itu sudah aturan di tempat ini." Ucap Penerima telpon pada Rani.
" Kenapa aneh begitu, aturannya Pak?" Siang hari juga Paman Bono tidak bisa dihubungi, apa juga karena di nonaktikan Hpnya?"
" Maaf, Bu. Kalau itu saya tidak tahu. Yang jelas, Hp harus non aktif pada malam hari. Jika masih menyalakan, dan terbukti melanggar aturan, Pimpinan kami akan memecatnya."
" Itu peraturan darimana, Pak? Kok saya agak bingung. Di negeri ini, baru kali ini saya mendengar ada aturan seperti itu."
" Mohon maaf, Bu. Itu sudah peraturan disini. Jika Anda tidak percaya, silahkan besok tanyakan langsung pada Bono."
" Tapi, saya sangat membutuhkannya, Pak. Keluarga saya sedang dalam bahaya. Tolong saya, Pak." Rani memohon pada si Penerima telpon sembari menangis.
" Sekali lagi saya memohon maaf yang sebesar-besarnya, Bu. Saya tidak bisa membantu Anda. Dan jika memang benar keluarga Anda sedang dalam bahaya, silahkan menghubungi polisi. Bukan meminta bantuan kemari. Bono sedang bekerja disini. Dia mendapatkan tugas menjaga Rumah Dinas Bupati kami, jadi dia tidak bisa seenaknya meninggalkan tempat ini."
" Ya Tuhan.. ini peraturan darimana, kalau begitu biar saya bicara sama Pak Bupati langsung. Izinkan saya berbicara dengannya."
" Saya sudah bilang berkali-kali. Saya tidak bisa membantu. Ibu jangan memaksa!" ucap si penerima telpon dengan sembari menggebrak meja.
Rani terkejut, dia merasa bersalah karena telah mengganggu ketenangan orang lain. Ia pun meminta maaf lalu menutup telponnya.
" Bagaimana, Bu? Paman Bono bisa datang kemari, kan?" tanya Bulan sembari memegang lengan kiri Ibunya.
Rani menggelengkan kepalanya. Sembari menangis ia berkata pada Putri satu-satunya itu.
" Paman Bono tidak bisa dihubungi, Bulan. Kata orang yang menerima telpon tadi, setiap malam hari, Hp tidak boleh diaktifkan. Jika ketahuan siapa yang melanggarnya. Mereka yang bekerja disana akan dipecat secara tidak hormat."
" Apa? kenapa aneh begitu.. Siapa yang membuat aturan semacam itu, Bu? Ibu.. Bulan takut.. Apa Ayah dan kedua kakakku sanggup menghadapi mereka?"
" Iya, Ibu juga heran. Kenapa bisa ada peraturan yang seperti itu di negeri ini. Bulan.. jangan takut. Lebih baik kita berdoa, semoga saja Tuhan menyelamatkan kita dari bahaya.
" Tapi Bulan masih nggak bisa tenang, Ibu. Bulan sangat takut. Apa yang akan terjadi jika sampai mereka kalah?"
" Kita tidak tahu, Bulan. Lebih baik sekarang kita segera berdoa. Kita memohon keselamatan untuk keluarga kita. Dan jika memang kita kalah dan mati, berdoa saja kita akan ditempatkan ditempat yang sama di SurgaNya."
" Iya, Bu.. Bulan akan berdoa dengan khusyu'. Mudah-mudahan doa Bulan segera dikabulkan."
" Kalau begitu ayo kita berdoa bersama-sama. Doa kita berdua akan lebih mudah dikabulkan daripada jika berdoa sendirian."
__ADS_1
Dengan duduk di depan jendela sembari melihat pertarungan Tanu, Riko dan Raka. Rani dan Bulan menyempatkan diri untuk berdoa. Mereka memohon keselamatan untuk keluarganya. Malam pun semakin mencekam. Namun pertarungan di halaman rumah Tanu masih terus berjalan. Tak ada yang tahu, siapa yang akan menang dalam pertarungan tersebut.
......................