SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
Sarapan Pagi


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Tama mengayuh sepedanya menuju rumah Harjo di pinggiran hutan sebelah selatan Puncak Bukit. Ia sangat bersemangat karena dia akan mendaftar sekolah bersama Harjo dan Khalid.


Ketika ia sampai di halaman rumah Harjo, harjo dan Khalid sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi. Tama lalu mengetok pintu rumah Harjo.


" Assalamualaikum, Kakek.. Kak Khalid." sapa Tama dari luar rumah.


" Khalid, siapa itu? Apa dia Tama? Hatiku merasa sangat sejuk. Ada orang mengetuk pintu sambil mengucapkan salam." ucap Harjo sembari mengaduk-aduk bubur yang masih belum matang di dalam kuali.


" Mungkin iya, Kek. Suaranya memang suara Tama. Biar aku bukakan pintunya ya, Kek."


" Ya sudah, suruh dia masuk."


" Baik, kek.."


Khalid meninggalkan dapur dan bergegas berlari kecil untuk membukakan pintu. Dalam hati ia menggumam, " pagi sekali dia datang. Lalu jam berapa dia berangkat kemari. Kamu memang anak Pemberani, Tama."


Tiba di depan pintu, Khalid segera membuka pintu yang terbuat dari anyaman bambu. Ia membukanya dengan sangat hati-hati karena engsel pintunya sudah hampir patah.


" Tama, masuklah.." ucap Khalid lalu menyuruh Tama masuk ke dalam rumah.


" Baik, Kak.." ucap Tama lalu mengikuti Khalid masuk ke dalam rumah.


" Kenapa ruangannya gelap, Kak?" ucap Tama lagi ketika ia tahu rumah yang ia masuki terlihat remang-remang.


" Iya, Tama.. Disini tak ada lampu. Lilin yang ku nyalakan di ruangan depan ini sudah padam, jadi harus hati-hati dalam berjalan agar tidak menabrak sesuatu."


" Kenapa tidak pakai lampu, Kak?"


" Tak ada listrik disini, Tama. Jadi percuma saja kalau punya lampu. Lagi pula kami tak sanggup membeli. Untuk makan saja, kami harus bekerja keras seharian."


" Kak, apa Kakek jadi akan mendaftarkanku untuk masuk sekolah?" tanya Tama.


" Jadi, nanti kita akan berangkat bersama. Kamu sama Kakek. Sedangkan aku akan berangkat sendiri." ucap Khalid.


" Baik, Kak. Lalu kapan kita akan berangkat, Kak?"


" Masih nanti... kamu datang terlalu dini, Tama. Ini saja, masih jam lima. Lalu, kamu berangkat dari rumah jam berapa?"

__ADS_1


" Aku tidak tahu, Kak. Aku terbangun karena mendengar suara kokok ayam dari kejauhan. Aku kira sudah pagi. Aku takut terlambat ke sekolah. Lalu aku mandi dan langsung pergi kemari."


" Hahaha..Tama, Tama.. Ayam berkokok kapanpun dia mau. Jam sepuluh malam pun dia juga bisa berkokok. Lalu kalau masih malam kamu mendengar suara kokok ayam, apa kamu mau pergi kemari?"


" Aku tidak tahu, Kak. Dulu Ibuku selalu membangunkanku saat mendengar suara ayam berkokok. Nah, kalau ayam sudah berkokok, sebentar lagi akan pagi. Jadi sampai sekarang aku terbiasa bangun saat mendengar suara ayam."


" Baiklah.. kamu memang harus sekolah, Tama. Agar kamu tahu waktu. Kamu bisa menghitung, dan masih banyak lagi ilmu yang akan kamu pelajari di sekolah. Sekarang kamu tunggu dulu disini. Aku akan ke dapur untuk membantu Kakek memasak."


" Baik, Kak."


Khalid meninggalkan Tama di ruang tengah sendirian. Ia lalu bergegas menuju ke dapur untuk membantu Harjo menyiapkan sarapan untuk mereka.


" Siapa yang datang, Khalid? Tama, kan?" tanya Harjo ketika Khalid masuk ke dapur.


" Iya, Kek. Aku sudah menyuruhnya masuk dan aku suruh dia menunggu di ruang tengah."


" Anak itu memang tak ada takutnya, perjalanan dia dari rumah kesini itu lumayan jauh. Tapi dia berani datang kemari seorang diri. Padahal jalannya sangat gelap."


" Mungkin dia sudah terbiasa, Kek. Dia juga hidup sendirian. Jika dia penakut, tidak mungkin dia akan tumbuh selama lima tahun ini. Aku juga sangat mengaguminya, Kek. Aku senang mempunyai adik seperti Tama."


" Hahaha..syukurlah, Khalid. Kakek berharap kalian akan saling rukun, saling menjaga dan saling membantu satu sama lain. Kelak kalau Kakek sudah tiada, janganlah kalian saling bermusuhan dan saling iri hati. Ingat, kalian mempunyai kelebihan masing-masing."


" Bagus.. Kakek ingin kalian semua sukses. Kakek tak mengharapkan apapun dari Kalian. Yang penting kalian harus menjaga persaudaraan kalian meskipun kalian bukanlah saudara kandung."


" Mohon doanya, Kek. Doa Kakek pasti akan sangat membantuku. Aku yakin doa Orang Tua itu sangat manjur. Seperti doa Ibu. Ketika aku sakit, Ibu mendoakanku dalam Shalatnya. Aku melihatnya dia mebeteskan air mata saat berdoa. Dia bilang, tolong sembuhkan anakku, Tuhan. Ibu selalu berdoa seperti itu. Dan doanya di dengar. Selang dua hari, aku sembuh dari sakitku."


" Hahaha..ceritamu sangat menyentuh hatiku, Khalid. Aku jadi teringat oleh orang tuaku yang sudah lama berada di alam sana."


" Maksud Kakek, orang tua Kakek sudah meninggal? Apa yang Kakek ingat tentang orang tua Kakek?"


" Iya, Mereka semua sudah meninggal. Hahaha..kamu tak perlu tahu. Aku yakin kamu sudah pernah mengalaminya."


" Hemmhh..baiklah kalau Kakek tidak mau bercerita." ucap Khalid lalu terdiam.


Suasana menjadi hening sejenak. Harjo tahu Khalid kecewa dengannya karena tak mau menceritakan masa lalunya bersama orang tuanya. Namun Dia tetap tak mau menceritakan masa silamnya yang kelam.


Ia mencoba membuka pembicaraan lagi dengan menyuruh Khalid untuk menyiapkan piring. Khalid pun mengambil piring dan memberikannya pada Harjo.

__ADS_1


" Buburnya sudah matang. Kamu tunggu saja di ruang tengah. Temani Tama, biar Kakek yang membawa buburnya." pinta Harjo pada Khalid yang masih terlihat dingin.


" Baik, Kek." ucap Khalid lalu meninggalkan dapur dan bergegas menuju ruang tengah untuk menemani Tama.


Harjo menggelengkan kepalanya beberapa kali ketika melihat Khalid berjalan merunduk dan meninggalkannya untuk menuju ruang tengah. Ia merasa bersalah karena tak mau bercerita tentang masa lalunya. Namun ia tetap tak ingin menceritakannya pada siapapun. Membuka cerita dimasa lalu baginya, sama saja dengan mengingatnya kembali. Ia telah berjanji akan mengubur kisahnya dan tak ingin lagi mengingatnya.


" Makanan sudah siap!" seru Harjo sembari membawa satu nampan berisi tiga piring bubur ayam lalu menaruhnya di meja.


" Wah.. bubur ayam ya, Kek." seru Tama sembari berdiri menyambut Harjo yang datang dari dapur.


" Iya, Tama. Ayo dimakan, mumpung masih hangat. Khalid Kakek minta tolong ambilkan gelas dan teko yang ada di dapur. Tolong bawa kemari."


" Baik, Kek." ucap Khalid lalu bergegas menuju ke dapur untuk mengambil teko dan gelas.


" Tama, apa kamu sudah siap untuk bersekolah?" tanya Harjo.


" Aku siap, Kek. Aku sudah siap dari kemarin. Aku tak bisa tidur karena takut terlambat berangkat ke sekolah."


" Hahaha..kalau kamu takut terlambat, lebih baik kamu tinggal di rumah Kakek. Biar ada yang membangunkanmu ketika kamu masih tertidur."


" Maafkan aku, Kek. Tapi aku lebih nyaman tinggal di rumahku."


" Hemhh..baiklah, apa kamu punya jam dirumahmu?"


" Jam itu apa, Kek?" tanya Tama karena bingung dengan ucapan Harjo yang juga sama dikatakan oleh Khalid.


" Jam itu alat untuk mengetahui waktu. Seperti yang ada di rumah Kakek itu." ucap Harjo sembari menunjukkan jam dinding yang terpajang di tiyang bambu rumahnya.


" Aku tidak punya, Kek. Dulu dirumahku ada. Tapi terbakar karena rumahku dibakar. Semua barang-barang dirumahku hilang, Kek."


" Baiklah, besok Kakek akan membelikan untukmu, agar kamu bisa tahu sekarang jam berapa. Kamu juga tidak akan takut terlambat ke sekolah lagi."


" Terima kasih, Kek. Aku sangat senang sekali." ucap Tama lalu dengan cepat memeluk Harjo dan menciumi tangannya.


Khalid kembali dari dapur dengan membawa teko dan tiga gelas kecil. Ia melihat Harjo begitu mesra memeluk Tama. Namun ia tak merasa iri dengan Tama. Ia menjadi lebih kepikiran lagi ketika mendengar Harjo akan membelikan Tama jam dinding.


" Kakek mau cari uang darimana lagi, kenapa mau beli jam dinding segala. Hemmhh..aku tak bisa tinggal diam, nanti setelah pulang sekolah, aku akan pergi untuk mencari uang." gumam Khalid dalam hati lalu meletakkan gelas dan teko ke atas meja.

__ADS_1


......................


__ADS_2