SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
CERITA DI DALAM PERJALANAN


__ADS_3

" Satya.. Ada yang ingin ku tanyakan kepadamu. Apa kau mempunyai keluarga?"


" Maksudmu?" tanya Satya.


" Maksudku apa kau sudah menikah? Ku lihat kau sudah tampak tua, seharusnya kau sudah berkeluarga."


" Menurutmu, apa aku sudah berkeluarga? Tebak saja Reza. Aku ingin menjajal kemampuanmu dalam menebak."


" Menurutku kau sudah berkeluarga. Hanya saja aku tak tahu, apa kamu masih bertahan dengan keluargamu atau sudah berpisah."


" Iya, aku memang sudah berkeluarga.


Dan aku juga sudah memiliki dua orang anak. Mereka tinggal jauh di seberang pulau. Tempat kelahiranku. Aku menikah dan hidup bahagia di tempat asalku. Istriku penduduk asli sana. Namun, aku keturunan orang sini. Orang tuaku dulu seorang transmigran. Setelah sukses, mereka membeli rumah disana. Dua tahun menjalani hidup disana, Ibuku mengandungku. Dan akupun lahir disana."


" Jadi kau asli orang sini. Maafkan aku Satya. Aku bukan warga sini tapi, aku berlaku kurang ajar terhadapmu. Seharusnya aku menghormatimu sebagai orang yang lebih tua dariku."


" Hahaha.. Reza, sehari bersamaku kau sudah tampak berbeda. Kau berubah. Aku sangat senang, Reza. Akhirnya aku bisa memberikan sedikit pengaruh positif pada orang lain."


" Satya, aku tak tahu kenapa diriku bisa begitu. Tapi kau memang membuatku berbeda. Aku yakin kau masih mempunyai banyak sisi positif, Satya. Aku ingin belajar banyak tentangmu."


" Aku bukan orang baik Reza, aku sama sepertimu. Pembunuh, perampas, aku juga tega menyakiti orang tuaku. Aku seorang pendosa, Za."


" Tapi itu dulu kan, Satya. Kini kulihat kau tak pernah membunuh orang lagi. Aku cukup tahu tentang dirimu dari Bos. Kau pernah menjadi seperti diriku yang sekarang, menjadi orang kepercayaan Bos. Tapi kau sering mengecewakannya. Kau diperintah untuk membunuh, namun malah membiarkan targetmu kabur. Lalu melukai dirimu sendiri dan membuat cerita palsu bahwa kau terluka parah dan tak sanggup mengejar targetmu."


" Apa? Jadi itu keputusan Bos menarik fasilitas yang telah ku miliki sebelumnya. Kini kau telah terpilih menggantikanku. Aku pikir trik yang aku pilih, takkan tercium oleh Bos. Ternyata dia mengetahuinya. Reza.. lalu apa lagi yang Bos katakan kepadamu, tentang diriku?"


" Dia hanya bercerita itu. Dia tak mengatakan apapun. Hanya saja jika ingin mempertahankan apa yang kumiliki sekarang, aku harus menurutinya. Sedangkan kamu, kamu telah kehilangan semua fasilitas yang telah kau terima. Namun, Bos tak membencimu. Dia tetap menganggapmu sebagai anak buahnya. Hanya saja yang berbeda, kau tak mendapatkan fasilitas yang mewah lagi seperti diriku sekarang ini. Kau boleh meninggalkan pekerjaanmu setelah semua beres tanpa tindakan membunuh target."


" Reza, aku sangat malu mendengar ini. Aku tak kuasa bertemu dan berhadapan langsung dengan Bos lagi. Sebenarnya sebelum bergabung dengan Bos, aku sudah membulatkan tekadku untuk meninggalkan kehidupanku yang hitam ini.


Aku ingin hidup bebas tanpa tekanan. Namun saat aku mencoba, hidupku terus dilanda masalah. Istriku ingin menceraikanku karena aku sudah beberapa bulan tak memberinya nafkah.

__ADS_1


Sementara hutang kami terus menumpuk. Anakku sakit, aku tak punya beaya untuk membawanya ke rumah sakit. Berkali-kali istriku marah-marah. Dia terus bertanya bagaimana menyembuhkan anak kami jika tak dibawa ke rumah sakit. Tak mungkin kami membiarkan sakitnya.


Lalu pada hari itu, saat aku mencoba menjadi pengamen, aku bertemu Bos. Dia mengenalku karena aku adalah bekas anak buah Rendra. Bos menyuruhku berhenti mengamen lalu mengajakku pergi ke sebuah restoran yang makanannya sangat lezat."


" Oh jadi begitu. Lalu, bagaimana kau bisa bergabung dengannya?"


" Awalnya, aku bercerita tentang hidupku yang susah. Setelah mencoba keluar dari hidupku yang hitam, aku merasa hidupku susah. Banyak sekali masalah. Dia mendengarkan ceritaku dari awal hingga akhir. Dia merasa iba terhadapku. Lalu, menawariku pekerjaan yang sama seperti apa yang pernah Rendra berikan kepadaku.


Dia tahu aku seorang pembunuh. Jadi bergabung dengan Bos Wijaya, aku juga diberi tugas menjadi seorang pembunuh. Aku sebenarnya menolak bergabung dengan Bos. Tapi karena aku butuh uang banyak, aku pun mau bekerja dengannya. Itu semua demi anak dan istriku.


Tak ada yang bisa ku kerjakan, Reza. Aku tak punya Ijazah. Sekolah SD saja aku tak lulus. Hanya bertahan di kelas empat. Lalu keluar dan tak lagi melanjutkan sekolahku. Sekarang mencari pekerjaan sangat susah. Apalagi aku tak mempunyai Ijazah. Menjadi kuli bangunan pun, jika tak ada yang membawa, susah sekali untuk masuk menjadi pekerjanya."


" Satya, kenapa juga kau tak melanjutkan sekolahmu. Jelas saja ijazah itu sangat penting. Sekarang kamu menyesal, kan?"


" Reza, apa kau tahu? Orang tuaku itu sangat miskin. Setelah merantau dan kemudian sukses, tak menunggu lama setelah kelahiranku, Ayahkku tiba-tiba saja menderita sakit yang dokter pun tak tahu apa penyebabnya. Kami sudah menghabiskan uang kami untuk beaya obat Ayahku. Tapi hingga menghabiskan semua yang kami punya pun, tak mampu menyembuhkan Ayahku.


Pada akhirnya, nyawa Ayahku pun tak tertolong. Ia koma selama satu minggu. Dia sempat sadar dan membuka matanya. Dia seperti orang kebingungan, tak berapa lama dia sekarat. Dan akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya. Saat itu aku sedang sekolah. Aku tak sempat melihat Ayahku sadar. Tapi Ibuku bicara kepadaku sehingga aku tahu semuanya.


Setelah kepergian Ayahku, kami sudah tak mempunyai apa-apa lagi. Rumah kami dijual. Hewan peliharaan, perhiasan emas satu peti, dijual semua. Itu semua untuk beaya Ayah di rumah sakit.


Seminggu menjadi seorang pengemis, kesehatan Ibu menjadi buruk. Kami tak terbiasa hidup di luar rumah. Apalagi tinggal di tempat terbuka, dibawah kolong jembatan. Saat hujan lebat kami tak bisa tidur. Kami takut air akan naik ke atas dan menghanyutkan kami.


Dan lagi, saat hujan surut, banyak sekali sampah-sampah yang berhenti karena tersumbat. Itu membuat kami sesak nafas karena bau yang menjijikkan. Tapi mau bagaimana lagi, kami tak mempunyai tempat tinggal lain. Disitulah rumah kami."


" Kenapa kamu tak menghubungi saudara kamu disini? Pasti ada saudaramu yang akan menolongmu, Satya."


" Menghubungi pakai apa? uang pun kami tak punya. Minta tolong sama siapa lagi. Apalagi sebagai pengemis, kami dipandang sebelah mata. Tak ada satupun yang melihat kami ketika kami datang kepada mereka. Mereka berpura-pura sibuk melakukan akivitas mereka. Suara kami pun tak mereka dengar. Kami ini dulu bagaikan kerikil yang berserak dijalanan. Tak dilihat, tetapi kalau mengganggu, kami di singkirkan. Begitulah nasibku dan Ibuku, dalam menjalani hidup sebagai pengemis."


" Kalian bisa minta tolong pada Polisi, kan? Polisi juga bisa membantu kalian menemukan saudaramu."


" Melapor polisi? Kami sudah minta tolong padanya. Sudah berulang kali namun tak juga ada pertolongan. Kami malah mendapatkan perlakuan tidak baik dari beberapa polisi. Mereka mengusir kami sebelum kami memasuki pintu kantor mereka. Kami ingin bicara, namun salah satu diantara mereka bilang, agar tak usah mendengar kata-kata kami. Kami di cap sebagai pembohong. Makanya banyak orang yang tak mau mendengarkan kata-kata kami."

__ADS_1


" Satya, ceritamu sangat menarik. Aku turut prihatin atas apa yang menimpamu dahulu. Ternyata kau sangat menderita."


" Terima kasih Reza, kau mau mendengarkan ceritaku. Yah.. itu adalah pengalaman pahit hidupku. Aku tak ingin suatu saat anak-anakku mengalami nasib yang sama denganku."


" Aku takkan membiarkan itu terjadi Satya. Aku akan membantu mereka jika hidup mereka sengsara. Aku akan membantumu. Percayalah kata-kataku, Satya."


" Terima kasih banyak Za. Mungkin suatu saat aku memang membutuhkan bantuanmu."


" Tenanglah.. Kau ini sudah ku anggap sebagai kakakku. Berarti, istrimu juga Kakakku, anak-anakmu adalah ponakkanku. Aku janji akan ikut membantumu dalam menjaga mereka."


" Reza, aku sangat senang kau akan membantu. Tapi aku tak ingin kau memberikan sesuatu kepada mereka dengan hasil kerjamu itu."


" Semprul.. Aku tahu itu, Satya. Kamu tak perlu khawatir. Aku sedang membangun sebuah usaha yang akan mendatangkan uang secara halal. Aku tak mungkin memberi sesuatu pada orang dengan uang haram, Satya. Walaupun aku begini, aku juga masih waras."


" Hahaha.. Ku pikir Kau akan menggunakan uangmu dari Bos, untuk memberi pada orang lain."


" Tidak, Satya. Kau jangan berprasangka buruk dulu kepadaku."


" Baiklah.. aku percaya padamu, Za. Ayo habiskan ikan ini. Masih banyak kan, kalau keburu dingin, sudah tak enak dagingnya."


" Ah, aku sebenarnya tak enak padamu Satya. Tapi terus terang, ikan bakarmu sangat enak. Aku baru pertama kali makan makanan seenak ini."


" Kalau begitu, habiskan saja. Aku makannya tak terlalu banyak, kok. Habiskan saja, kau lebih membutuhkan energi yang banyak daripada aku."


" Tidak Satya, aku tadi sudah makan bekalku. Jadi, tak adil kalau aku menghabiskan sendiri makananmu. Kau sendiri, tak ku tawari makan makananku."


" Sudah tak apa-apa, habiskan saja. Aku sudah merasa kenyang."


" Hemhh.. baiklah, aku akan menghabiskannya. Sayang sekali dapat rejeki melimpah begini malah ditolak. Hahaha.."


Dengan makan ikan bakar bersama dari Satya, Reza menjadi lebih dekat dengan Satya. Bahkan ia menyebut Satya dan keluarganya sebagai saudaranya. Ia berjanji saat Satya kesusahan, Reza akan membantu keluarganya. Jangan sampai hidup mereka mengalami nasib yang sama, dengan apa yang dialami Satya, pada waktu dulu.

__ADS_1


Hari sudah mulai siang, namun suasana di tepi sungai tempat Reza dan Satya berteduh sangatlah sejuk. Sebelum melanjutkan perjalanan, mereka beristirahat dan menyempatkan tidur untuk memulihkan stamina tubuh mereka.


......................


__ADS_2