SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
HARI SPESIAL KELUARGA TANU


__ADS_3

Tepat pada hari kamis, adalah hari spesial bagi Tanu dan Rani. Hari kamis besok adalah ulang tahun pernikahan mereka yang ke dua puluh tujuh tahun. Rani dan Tanu sepakat untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka di rumahnya.


Mereka akan mengundang beberapa warga desa Lereng Bukit Barat untuk menghadiri acara yang akan diadakan nanti malam.


Kebetulan hari ini semua anggota keluarga Tanu berada dirumah. Mereka saling bekerjasama untuk menyiapkan apa yang dibutuhkan untuk acara malam nanti.


Riko dan Raka mendapat bagian menata dan merapikan perabotan rumah. Bulan dan Ibunya bersiap di dapur, menyiapkan menu hidangan.


Sementara Tanu, mencatat siapa-siapa saja yang akan diundang untuk acara nanti malam.


Di teras rumah, Tama sedang bermain dengan adiknya. Dia sangat menyayangi adiknya. Berkali-kali ia mencium pipi dan kening Rama.


Ketika mereka sedang mengerjakan tugas mereka, Bono dan Rika datang ke rumah.


" Assalamualaikum adik-adik yang manis.." Sapa Bono sembari mengusap rambut Tama dan Rama.


" Waalaikumsalam..." jawab Tama sembari menatap wajah Bono dengan tatapan tajam.


" Kenapa kalian disini? Orang tua kalian dimana?" tanya Bono.


" Mereka semua di dalam." jawab Tama dengan cadel.


" Oh, baiklah..bolehkah kami masuk?" tanya Rika.


Tama menganggukkan kepalanya. Lalu kemudian kembali bermain dengan adiknya lagi.


" Bono, untungnya kau datang. Ada yang ingin ku bicarakan kepadamu. Apa kau akan lama disini?"


" Oh, tidak... kami hanya ingin bermain sebentar saja. Rika ingin jalan-jalan. Lalu dia ku bawa kemari."


" Oh, baiklah... silahkan duduk dulu. Aku ambilkan minum dulu, ya."


" Tak usah repot-repot Pak Tanu. Kemungkinan saya hanya sebentar saja."


" Tidak apa-apa, kalian pasti haus. Biar kuambilkan minum."


" Ya sudah kalau begitu, Pak Tanu. Oh iya, disini mau ada acara apa Pak? Kenapa rumahnya bersih sekali dan tertata rapi." Tanya Bono sembari melihat di sekeliling ruangan.


"Nah, itu yang akan aku bicarakan nanti. Tapi sebelumnya, biar ku ambilkan minum dulu untuk kalian."


" Baik Pak Tanu, terimakasih.


" Bu, Bulan... Bono dan istrinya datang. Kalian temui mereka dulu, Ayah mau buatkan mereka minum."


" Oh biar Ibu saja, Ayah. Ayah temani mereka. ini, kan tugas Ibu."


" Tidak Bu, Ibu sama Bulan temui mereka. Ayah yang akan membuatkan minum."


" Baiklah, Ayah.." Ucap Rani lalu pergi ke ruang tamu bersama Bulan.

__ADS_1


Rani dan Bulan berjalan ke ruang tamu, mereka menyapa dengan hangat pada Bono dan Rika.


" Bono, Rika... kebetulan sekali kalian datang. Tadinya, kami malah ingin ke rumah kalian."


" Iya Bu Rani... istriku minta ditemani jalan-jalan. Ya sudah aku bawa kemari sekalian saja."


" Oh begitu, kapan bayinya akan lahir? Sepertinya perut Rika sudah semakin besar."


" Eh, mungkin bulan ini, Bu... kalau tidak mundur. Tapi, saya masih belum merasakan ingin melahirkan." Ucap Rika sembari memegang perut besarnya.


" Wah, kakak sebentar lagi punya bayi kecil ya. Pasti kalau sudah besar dia akan menjadi anak yang kuat seperti Ayahnya." ucap Bulan, memuji.


" Hehe, iya Bulan...tapi, besok kalau anakku sudah besar, aku akan jadikan dia dokter saja. Biar bisa mengobati orang sakit. Jangan seperti Ayahnya, sukanya berkelahi."


" Rika, tak apa kalau anakmu kelak jadi anak yang kuat. Dia berhak mendapatkan itu. Demi untuk melindungi dirinya sendiri. Dan siapa tahu, bisa melindungi orang banyak juga."


" Iya Bu, tapi kalau berkelahi begitu, pasti akan ada yang terluka. Saya tak mau anak saya kelak, kenapa-kenapa."


" Ya sudah, tunggu dia lahir dan besar. Jangan memaksakan kehendakmu padanya Rika. Biarkan dia memilih jalan yang ia kehendaki, selama itu baik untuknya. Kamu sebagai Ibu bertugas mengawasi dan membimbingnya, agar jangan sampai salah jalan."


" Iya Bu, saya mengerti. Saya akan coba menuruti nasehat Bu Rani." Ucap Rika.


Tanu keluar dari dapur dan membawakan minum untuk Rika dan Bono.


" Rika, Bono... silahkan diminum dulu. Setelah itu kita akan bahas yang tadi ingin kukatakan pada kalian."


" Nah, begini Bono, Rika... kami sebenarnya mau mengadakan pesta kecil-kecilan untuk merayakan hari bahagia kami. Untuk itu, kami ingin mengundang beberapa orang warga desa lereng bukit yang kurang mampu, untuk ikut bergabung memeriahkan hari bahagia kami nanti malam. Menurut kalian siapa saja yang harus kami undang?"


" Eh, warga yang kurang mampu, ya. Kalau menurut perhitungan saya, ada sekitar empat puluh warga yang kurang mampu Pak. Mereka semua rata-rata menjadi pekerja bangunan yang tidak menentu hari kerjanya."


" Kalau begitu kalian bisa tuliskan disini nama-nama mereka. Aku sudah menyiapkan lembar undangannya. Tinggal memberi nama saja." Ucap Tanu sembari menyodorkan kertas dan pena pada Bono.


Di teras rumah, Tama masih asyik menemani Rama bermain. Ia senang seringkali bisa membuat Rama tertawa. Tapi terkadang, dia jengkel saat Rama menangis, ia tak dapat membuat Rama berhenti menangis. Hingga Ibunya yang turun tangan untuk menenangkan adiknya.


" Rama, kalau besar besok mau jadi apa? Tanya Tama dengan bicaranya yang masih cadel.


Rama hanya mengatakan sesuatu yang tidak jelas, membuat Tama menjadi bingung.


" Apa kamu mau jadi pilot? Apa kamu mau jadi Tentara? Apa kamu mau jadi Guru seperti Ayah? Ayo jawab Rama.."


Rama hanya tersenyum melihat kakaknya, ia terus berceloteh tidak jelas. Tama pun bisa memakluminya. Lalu ia memberikan jawaban untuk pertanyaannya sendiri.


" Baiklah, Rama ingin menjadi pilot, ya. Kakak juga ingin jadi Pilot. Kita bisa terbang keliling dunia. Naik pesawat... ngenngg...ngenngg... ngeenggg..." Ucap Tama sembari memainkan pesawat mainannya di atas Rama yang sedang berbaring.


" Tapi kalau jadi Pilot, kita harus banyak berdoa. Agar kita tidak jatuh saat terbang. Kalau jatuh, pesawatnya akan meledak dan terbakar. Duaaaarrr... Pasti kita akan mati ikut terbakar." Ucap Tama lalu sembari mempraktekkan saat pesawatnya jatuh dan meledak.


Tak sengaja ia menjatuhkan pesawatnya di wajah adiknya. Rama pun terkejut lalu menangis dengan keras. Tama mencoba menenangkannya. Namun saat ia mencoba, Rama tambah menangis keras. Ini membuat Rani dan semua yang ada di dalam rumah menjadi terkejut. Rani pun segera keluar mendatangi Rama dan Tama.


" Tama... Rama kenapa kok nangis?" Tanya Rani lalu mengangkat tubuh mungil Rama dan menggendongnya.

__ADS_1


Tama ketakutan, ia menangis karena Rama menangis karena kesalahannya. Dia tak berani menjawab pertanyaan Ibunya. Dia takut Ibunya memarahinya.


Bulanpun ikut keluar karena mendengar tangisan Tama. Lalu ia bertanya pada Ibunya.


" Kenapa Rama menangis Bu? Ini, Tama juga malah ikut menangis." Tanya Bulan lalu menggendong Tama dan membelai rambutnya.


" Ibu nggak tahu Bulan, Tama nggak menjawab pertanyaan Ibu. Eh, dia malah ikut menangis ketika Ibu tanya kenapa Rama menangis."


" Mungkin ia takut pada Ibu kalau Ibu marah. Tama... Kakak mau tanya, kenapa Rama menangis? jawab saja, kakak tidak akan memarahimu."


" Tama tadi menjatuhkan pesawat Tama di wajahnya Rama Kak. Maafkan Tama... mungkin Rama kesakitan." ucap Tama sambil menangis sesenggukan.


" Pesawatnya kan kecil, ringan juga, jadi nggak mungkin Rama bakal menangis." ujar Bulan.


" Ya sudah, Tama... ibu nggak marah sama Tama. Ibu cuma kaget saja. Ibu pikir ada orang jahat datang kemari. Sekarang, berhentilah menangis. Kalau kamu masih menangis, Rama juga nggak akan berhenti menangis."


" Baik Ibu... maafkan Tama. Tama janji nggak akan membuat Rama menangis lagi."


" Iya, tidak apa-apa. Ibu tidak menyalahkanmu, kok. Lain kali hati-hati kalau main apapun. Jangan sampai mengenai adikmu. Walaupun pesawatnya kecil, kalau kena mata juga sakit."


" Iya, Ibu... Tama akan berhati-hati." ucap Tama lalu berhenti menangis.


" Ya sudah, Ibu bawa masuk Rama ke dalam saja. Sepertinya dia butuh minum. Tama biar sama Bulan."


" Baiklah, Tama... kamu sama Kak Bulan, ya. Rama mau Ibu susui dulu."


Tama mengangguk. Lalu meminta turun dari gendongan Bulan. Tiba-tiba dia mengambil pesawatnya dan membuang pesawat mainannya ke kolam.


" Tama... kenapa pesawatnya kamu buang? Nanti kamu nggak punya mainan lagi."


" Pesawatnya jahat, membuat adik menangis. Aku benci padanya, lebih baik aku buang saja biar dimakan ikan."


" Hahaha... Tama, ikannya nggak doyan pesawat. Coba lihat, apa ikannya mau memakannya?"


Tama menggelengkan kepalanya lalu dia mengambil tongkat kecil untuk menepikan pesawatnya lalu mengambilnya.


" Hahaha.. Lho, kok pesawatnya diambil lagi? Nggak apa-apa kalau kamu nggak suka. Besok kakak akan belikan yang lebih bagus."


" Tama mau ini saja. Simpan saja uang kakak untuk sekolah."


" Tama, uang kakak banyak. Kamu jangan khawatir."


Tama menggelengkan kepalanya. Ia tetap tak mau, Bulan membelikan mainan untuknya lagi. Dia pun memainkan pesawat yang baru saja ia ambil dari kolam. Ia tak ingin membuat Kakaknya kecewa padanya, karena tak menghargai pemberian kakaknya dan malah membuangnya.


Tak berapa lama, Bono dan Rika keluar dari ruang tamu di ikuti Rani dan Tanu. Mereka telah selesai membahas tentang acara nanti malam. Bono dan Rika pun berpamitan dan segera pulang dengan membawa lembaran undangan, untuk empat puluh warga desanya.


Ini pertama kalinya Tanu dan Rani mengadakan acara, setelah lebih dari dua puluh tahun membina rumah tangganya. Mereka berniat mengadakan pesta untuk mencairkan suasana. Teror yang mengancam keselamatan mereka membuat hidup mereka tidak nyaman. Tanu pun juga berencana menghadirikan pemuka agama untuk mengadakan doa bersama bagi keselamatan Tanu dan keluarganya.


......................

__ADS_1


__ADS_2