SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
KE RUMAH SAKIT BESAR


__ADS_3

Suasana menjadi hening seketika. Tanu dan Rani yang berdebat kini saling diam. Tanu bersikeras untuk tidak menerima saran Rani. Sementara Rani memilih membela Vina yang saat ini sedang sedih karena teriakan Tanu.


" Ayahh.... " panggil Rani pada Tanu. Rani tak tahan harus diam lama dengan suaminya.


" Iya Bu.. " Jawab Tanu sambil menggeser posisi duduknya. lebih dekat dengan Rani.


" Ibu mohon Yah.. kali ini saja ibu minta pertolongan Ayah. Tolong penuhi kata - kata Ibu. "


" Ayah nggak bisa Bu, Ibu minta tolong apapun ke Ayah tapi jangan yang ini.. "


" Tapi Ibu hanya minta itu saja Ayah. Sekali iniiii saja... Ibu nggak akan temang kalau Ayah nggak mau turuti kata ibu..


" Buuu.. Ibu ini malah kaya semacam menjual nyawa sama orang lain. Ayah nggak mau.. Ini akan merusak hubungan kita."


" Ayaahhh.. setidaknya kejar dia dulu.. beri dia semangat. Tadi itu sangat membuatnya malu lho Yah. Ayah terlalu keras mengeluarkan suaranya. "


" Ayah nggak tahu harus melakukan apa Bu. Kan ibu tahu sendiri dia nggak mau melepaskan pelukannya. Dan bagaimana bisa Ayah diam saja di peluk, sementara ada Ibu juga Tama di sini. Ayah nggak punya pilihan lain Bu."


" Hemhh.. Ya sudah kalau gitu Ayah temuin aja dia dulu. Ini juga Dokternya belum datang. Sebelum dia kenapa kenapa Yah. "


" Baiklah kalau itu mau Ibu. Ayah akan temui Vina. Tama , Titip Ibu ya.. Jagain dia dan adik kamu." sambil membelai rambut Tama , Tanu memintanya menjaga ibu dan adik yang masih dalam kandungan .


" Iya Yah. Ibu akan baik baik saja di sini.. kan ada Tama yang hebat.. Iya kan Tama... " ucap Rani pada Tama yang sejak tadi memperhatikan orang tuanya beradu argumen.


Tanu keluar dari ruangan khusus Ibu hamil, dan menyusuri lorong mencari Vina dan Tasya.


" Kemana mereka pergi? " Hati Tanu bertanya - tanya.


Dia melamun sambil berjalan. Pikirannya mulai kacau kembali. Baru kali ini dia dihadapkan dengan masalah yang runyam. Ini bukan masa lalu dimana Tanu masih bujang. Hal semacam ini tidak akan terjadi. Tinggal dia mau pilih yang mana, semua bisa Tanu lakukan sesuka hatinya.


Tetapi, Dia sudah berkeluarga.


Jika harus meninggalkan Rani untuk Vina , bukankah ini menyakiti dan mengingkari janjinya. Tetapi Vina sangat membutuhkan Tanu. Hanya Tanu lah yang mampu membuat Vina selama ini berubah lebih baik. Dia tiba tiba juga merasakan iba pada Vina. Tak terasa Tanu mengeluarkan setetes air mata dari sudut matanya.


" Iya mungkin istriku benar, tak seharusnya aku berteriak keras kepadanya. Dia anak yang lembut. Kenapa aku nggak bisa berfikir jernih. Ya Tuhan Viiinn.. Maafkan Bapak.. Kemana kamu di periksa. Ayolahhh.. berikan aku petunjuk. Dimana kamu berada? "


Saat Tanu masih mencari Vina dan Tasya, sebuah mobil ambulans keluar dari garasi dan menuju depan klinik. Tanu tak menghiraukan ambulans tersebut, tetapi dalam hatinya bergetar hebat.


" Ada apa iniii? Kenapa Hatiku berdebar - debar. Apa yang terjadi. akan ku coba untuk keluar , mungkin Vina dan Tasya masih menunggu di sana. " Tanu bertanya dalam hatinya.


Tanu menghampiri Ambulans yang sejak tadi sirinenya berbunyi. Dan terparkir di depan pintu klinik. Tanda bahwa ada pasien yang membutuhkan perawatan secepatnya.


Tanu bertanya pada sopir pembawa ambulans,


" Maaf Pak, saya cuma mau numpang tanya. siapa yang akan di naikkan ambulans pak..."


sopir itu menggelengkan kepala dan berkata.. " Maaf Saya tidak hafal namanya Pak. Tapi ini anaknya cewek Pak. Masih gadis.."


Tanu sebenarnya belum mendapatkan jawaban apa yang dia inginkan .. tiba tiba saja sopir mendapat panggilan telpon untuk membawa seorang siswi yang hari ini badannya panas di atas 40• celcius.


" Iya Dok, saya sudah siapkan ambulansnya., Baikk saya akan bantuin membawanya Dok. " sopir ambulans menutup telponnya dan bergegas masuk ke dalam klinik.

__ADS_1


Tanu penasaran siapa yang akan di bawa ke ambulans. dan kemana tujuannya. sesaat dia berpikir " Apakah Vina yang akan di bawa ke RSUD pusat? kenapa dia? Tadi pagi kelihatan sehat. Tapi nggak tahu ini Vina atau bukan. Hemhhh.. sebaiknya biar ku tunggu saja di sini.


Tak lama kemudian , sopir dokter dan suster datang membawa seorang pasien perempuan yang masih belia. Dan ternyata benar. Vina di bawa ke ambulans.


Tanu kemudian mendekatinya ....


" Vinnn..... Vinnaa..." panggil Tanu lirih .


" Bapak siapa? Apakah keluarga dekatnya? " tanya seorang Dokter pada Tanu yang menghampirinya.


" Ee.. Saya Gurunya Dok, apa yang terjadi dengan Vina? " tanya Tanu dengan nada gemetar.


" Nanti akan saya jelaskan setelah anak ini mendapatkan perawatan yang bagus ya Pak. Di sini peralatan medis sangat terbatas dan Dokternya pun terbatas, sementara anak ini mengalami sakit yang belum bisa kami tangani. Maka dari itu kami akan membawanya ke Rumah sakit Besar. "


Mendengar penjelasan dari Dokter, Tanu seketika seperti runtuh jiwanya. " Vina sakit apa? Selama ini aku lihat dia tidak pernah mengalami sakit. Dia tidak pernah minta izin tidak masuk sekolah karena sakit. Tuhan... sembuhkan sakit Vina.. kasihani dia Tuhan.. " ucap Tanu dalam hatinya.


" Dok.. anak ini tadi bersama temannya. kemana dia? " tanya Tanu pada Dokter yang sudah masuk ke dalam ambulans.


" Dia sedang mengemasi barang - barangnya Pak. " ucap Dokter pada Tanu yang masih tampak gelisah.


" Oh kalau begitu saya akan menemuinya dulu nanti Dok. "


" Prok prok prokkkk... " suara langkah kaki Tasya berlarian.


" Tasya.." panggil Tanu pada Tasya yang sedang terburu buru.


" Iya Pak Tanu. ... " Tasya menyahut panggilan Tanu.


" Vina sakit apa? kenapa tiba - tiba begini. " Tanya Tanu keheranan bercampur gelisah.


"Saya akan menemaninya Tasya. Tapi saya harus izin Istri saya dulu. Kalian duluan saja nanti saya akan menyusul. "


" Baiklah Pak, Oiya kalau boleh, saya nitip sepeda motor saya Pak. saya tinggal di Parkiran. Ini STNK dan kunci nya. " Tasya menyodorkan STNK dan kunci motor barunya pada Tanu.


" Owh boleh.. Nanti saya yang tanggung jawab. " ucap Tanu sambil melihat lihat keterangan dari STNK Tasya.


" Ya sudah kalau gitu kami berangkat dulu Pak. "


" Ya sudah..Tolong jagain Vina ya Sya.." Pinta Tanu pada Tasya sebeum mobil ambulans melaju dengan kencang.


" Baik Pak, kami minta doanya ya.. "


" Iya mudahan kalian semua selamat, dan Vina segera mendapat pertolongan. "


Setelah mobil ambulans berlalu dari pandangannya, Tanu kembali menemui istri dan anaknya. Bagaimana dia mau bilang sama istrinya. Tanu masih kebingungan dalam menyusun kata yang tepat .


Pas saat Tanu masuk ke ruangan ibu hamil, ternyata Rani sedang di periksa oleh Dokter.


" Bagaimana Dok? " Apakah istri saya hamil ? "


" Alhamdulillah Pak, istri Anda Hamil lagi sudah 3 bulan. " Jawab Dokter yang menangani istri Tanu.

__ADS_1


" Ahamdulillah... " Kita akan punya anak lagi Bu.. " ucap Tanu penuh kegembiraan.


" Iya Yah.. hemhhh... mudah mudahan anak kita nantinya perempuan lagi ya Yah. Biar nanti Bulan ada temannya. kasihan dia anak perempuan sendiri. " ucap Rani penuh harap.


" Hehe.. kalau Ayah , baik laki - laki atau perempuan sama saja Bu. Kan juga anak kita sendiri. " ucap Tanu sembari menegang kedua pundak Rani.


" Iya Ayah benar, apapun hasilnya kita harus nenerimanya


kan Yah. "


" Iya dong Bu... " jawab Tanu pendek. Dia mulai kepikiran dengan Vina lagi dan bagaimana caranya untuk bicara sama istrinya tentang Vina.


Masih bingung mencari kata, Rani menanyakan tentang Vina. " Eh Yah.. gimana dengan Vina, apa dia baik - baik saja? "


Tanu terkesiap dan gugup menjawab pertanyaan istrinya.


" Ehhmm.. gini Bu.. Vina di pindah ke Rumah sakit Besar karena di sini fasilitasnya kurang memadai. Dokter di sini idak bisa menanganinya. "


" Apaaa... di bawa ke rumah sakit besar? serius Yah? " Rani kaget , dia seakan tidak percaya dengan kata suamiya.


" Iya benar Bu.. Tadi Ayah melihat sendiri. Ambulans membawanya pergi. " Jawab Tanu untuk meyakinkan istrinya.


" Owh... yang suara ambulans tadi Yah? Terus Ayah kenapa nggak ikut? Kasian lho Yah.. "


" Ibu ini lho.. Ayah kan lagi ngantar istri Ayah cek kehamilan. masa mau di tinggal sendirian tu gimana. "


" Kan Ibu bisa jalan sendiri Yah, Ibu masih kuat naik motor sendiri kok walaupun jauh. "


" Enggak Bu, Ibu lagi hamil muda, jadi nggak boleh kenana mana sendiri. "


" Hemhhh.. ya sudah kalau gitu kita susul mereka Yah. ibu juga ingin melihat keadaanya. "


" Ya ayok sekarang saja Bu, Ayah sangat mencemaskannya."


" Cieeee.. sudah mulai ada rasa ya? " ledek Rani sambil menunjukkan jarinya ke arah dada Tanu.


" Ahh Ibu ini.. pikirannya negatif saja. Ayah cemas kalau-kalau Vina sakit parah karena Ayah tadi Bu. Bukan karena mulai sayang padanya. "


" Vina kan murid Ayah, Katanya dulu Ayah menyayangi murid murid Ayah seperti anak sendiri? hehe.. "


" Iya kalau itu beda lagi Bu. Sudah jangan membahas yang aneh aneh. " Tanu menyudahi bicaranya dengan istrinya lalu membawa istrinya dan Tama menuju tempat parkir.


Sampai di parkiran Tanu mengingat ingat seauatu.


" Kenapa Yah.. Kok bingung bingung gitu? " Tanya Rani sambil melihat ke arah wajah Tanu.


" Ada yang Ayah lupakan Bu, Owh iya Ayah di minta Tasya menjaga motornya. Gimana ya Bu? "


" Owh , Kalau gitu Ayah bawa motor Tasya. Biar Ibu bawa motor Ayah sendiri sama Tama. kemungkinan nanti di sana Tasya membutuhkan motornya untuk kesana kemari Yah."


" Iya, mungkin maksud Tasya minta Ayah begitu karena Tasya bakal butuh motornya di sana Bu."

__ADS_1


" Ya sudah kalau gitu Yah. Ayuk sekarang saja kita berangkat. "


......................


__ADS_2