
" Bos, kenapa Anda lama sekali menghabisinya. Bukannya Anda bilang pada saya untuk segera menghabisi bagian saya? Kenapa malah Anda sendiri yang lama. Payah sekali." Ucap Bono pada Wijaya ketika telah tiba dan berdiri di samping Wijaya.
" Matamu! Dia tak memberiku kesempatan untukku menggunakan jurus. Dan dia menantangku bertarung tanpa menggunakan tenaga dalam. Kamu tahu tidak, meskipun melawanku tanpa henti, namun dia seperti tak merasakan kelelahan. Seperti mata air yang terus mengalir, tenaganya tak pernah habis."
"Jadi begitu. Biar saya saja yang menghadapinya Bos. Jika Bos tidak sanggup."
" Hahaha.. Datang pengkhianat satu lagi. Ternyata kamu berhasil menghabisi semua anak buahku. Selamat atas keberhasilanmu. Tapi, aku masih disini. Aku yang akan membalaskan kematian para anak buahku."
" Kapten Polisi gadungan. Kita lihat siapa yang akan terbunuh. Tetapi kamu harus hidup Kapten, agar kematian anak buahmu tak sia-sia dan tak menjadi arwah penasaran di alam sana, karena kematiannya tak terbalaskan.Tapi jangan bermimpi, hidupmu sebentar lagi akan berakhir. Tak ada lagi yang namanya polisi gadungan. Hahaha.."
" Keparat, majulah kalian berdua! Serang aku secara jantan!" Jaka mulai tersulut emosinya dan langsung menyerang ke arah Wijaya dan Bono.
" Tunggu dulu Kapten, ini adalah pertarungan kita. Jangan bawa-bawa Bono ke dalam pertarungan kita."
" Apa kamu sanggup melawanku sendiri, Jay? Bahkan berdua sama Babon bodoh itu takkan sanggup mengalahkanku. Hahaha.."
" Ba*****n Kau Kapten busuk! Beraninya kamu mengataiku Babon bodoh. Rasakan ini!" Bono hendak melompat ke arah Jaka, namun Wijaya mencegahnya.
" Bon, ini bagianku. Kamu jangan ikut campur. Mundur!"
" Tapi saya tidak terima dia menghina saya Bos. Saya harus memberinya pelajaran!"
" Biar aku yang membalaskannya. Ini bagianku." Ucap Wijaya sambil melototi Bono.
" Hemm, baiklah Bos. Terserah Bos saja." Bono mengalah lalu duduk, menunggu pertarungan Jaka dan Wijaya.
Pertarungan berjalan sengit,Wijaya dan Jaka sepakat untuk bertarung menggunakn tangan kosong, tanpa menggunakan tenaga dalam.
Mudah bagi Jaka untuk mengalahkan Wijaya. Tanpa tenaga dalam, ia mampu berkali-kali merobohkan Wijaya. Bono yang melihat pertarungan Bosnya, merasa tidak sabar lalu menasehati Wijaya.
" Bos! Anda lama sekali. Kita tak bisa santai-santai. Masih ada musuh yang jauh lebih kuat. Jika Bos seperti itu sama saja Bos mengantarkan nyawa kemari."
" Kamu benar, Bon. Baiklah aku akan swgera mengakhiri pertarungan ini. Kapten bersiaplah."
" Apa kamu akan menggunakan tenaga dalammu Jay? Hahaha.. Dasar pengecut!" Ucap Jaka sambil mengusap keringat yang mengalir di dahinya. Ia berpikiran bahwa dia pasti akan mati pada hari ini.
" Kapten, kau tahu aku bukan orang baik. Dan aku tahu kamu bukan orang baik. Aku tak perlu mengikuti peraturanmu."
" Cih.. Jika aku mati, aku akan mati dengan terhormat karena bertarung secara jantan." Ucap Jaka dengan lantang.
" Hahaha.. baguslah jika kamu merasa begitu, aku akan segera mempercepatnya. Matilah kamu Kapten Busuk! Hiyaat.." Wijaya kembali mengalirkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuh. Dan akan menyerang ke arah Jaka. Namun bukan dengan ajian kebangganya. melainkan dengan pukulan tangan biasa.
Setelah tubuhnya terasa teraliri tenaga dalam, tubuh Wijaya menjadi ringan. Dia berlari dan berpindah tempat dengan cepat ke berbagai arah untuk mengelabuhi Jaka.
" Pengecut! Beraninya kamu main petak umpet denganku Jay." Setelah selesai bicara, Jaka merasakan tubuhnya sangat dingin. Wijaya berhasil mendarat tepat dibelakang Jaka dan memukul ke punggung sebelah kirinya.
__ADS_1
Jaka menjerit keras setelah dia merasakan jantungnya remuk.
" Aaakkhh.."
Darah keluar dari mulut Jaka, lalu jatuh terduduk.
" Bangsat kamu Jay! Kelak kau akan mati terbunuh sepertiku!" Ucap Jaka lirih, lalu tak sadarkan diri.
" Hahaha.. akhirnya kau tahu siapa yang akan terkapar di tempat ini Kapten. Tamatlah riwayatmu! Tak ada lagi Polisi besar , yang menjadi kacung Penjahat seperti Rendra.
" Bos, akhirnya Anda berhasil membunuhnya. Saya pikir Anda akan kalah dengannya."
" Sebenarnya aku bisa membunuhnya dari tadi, tapi aku hanya menuruti keinginannya saja sebelum dia menjemput ajalnya."
" Tapi itu sangat membahayakan Bos sendiri. Saya khawatir, tenaga Bos habis sebelum bertemu Rendra. Dan saat Bos lemah, Rendra bisa menghabisi Anda dengan mudah."
" Aku juga sempat berpikir seperti itu Bon, tapi aku sadar setelah kamu bicara seperti tadi. Kata-katamu ada benarnya juga. Tak salah aku memilihmu menjadi pengikutku."
" Bos terlalu berlebihan. Saya hanya mengingatkan saja. Saya juga merasa jengkel, kenapa Anda bisa kena pukul Jaka berkali-kali hingga terjatuh. Padahal Anda Bos yang hebat yang mempunyai ilmu tingkat tinggi."
" Iya Bon, kenapa aku sekarang menjadi terlalu baik. Awalnya aku orang yang kejam, sadis, tak mengenal kasihan. Kenapa dengan musuhku, aku bisa selembut tadi."
" Apa itu mungkin karena Bos terlalu dekat dengan Vina. Saya merasa, saat Bos dekat dengan Vina kembali, Bos menjadi lunak. Sifat kebapakan Bos terlahir kembali."
" Pantas saja Rendra menjadi tak senang dengan Putri Bos. Selama ini Bos sering izin telponan sama putri Bos, sehingga kerjaan Bos sering Bos abaikan."
" Ahh.. rasanya dadaku sesak saat mengingat Vina. Putriku yang sangat berharga kini tidur bersama Mamanya."
" Sudahlah Bos, masih ada Xena. Dia akan tumbuh menjadi putri cantik yang tak kalah dengan kakaknya. Rawatlah dia Bos, kalau Bos tak sanggup, biar saya yang membesarkannya."
" Apa? Kamu itu penggila wanita Bon. Aku tak ingin putriku hilang keperawanannya karena berada didekatmu."
" Bos, saya tak mungkin menodai putri Bos. Saya sadar diri, putri Bos saya anggap adik saya sendiri yang harus saya lindungi. Jadi, hilangkan pikiran buruk itu."
" Haha.. apa kamu tersinggung Bon? Maaf, aku cuma bercanda. Tapi aku takkan mempercayakan Xena padamu. Kamu takkan sanggup Bon."
" Bos, Anda terlalu meremehka saya. Dulu, saya lah yang merawat adik-adik saya dari bayi hingga saat sebelum dia tiada. Saya tahu cara merawat bocah."
" Aku tak meragukan kemampuanmu Bon. Tapi bukan itu yang aku maksudkan."
" Lalu apa Bos?"
" Bon, kamu adalah satu-satunya orang yang berada disampingku saat aku berada dipuncak. Sedikit lagi kita akan mengambil alih tahta Rendra. Kita akan menguasai bisnisnya, juga akan menguasai mitra-mitra bisnisnya. Untuk itu, aku butuh bantuanmu untuk membantuku membangun kembali kepemimpinan baru yang lebih baik."
" Bos, saya tidak mempunyai cita-cita untuk menguasai dunia hitam. Setelah saya berhasil membalaskan kematian Orang tua dan adik saya, saya akan kembali menjadi orang biasa. Menikah dan mempunyai anak. Merawat dan membesarkannya. Saya ingin suatu saat anak-anak saya menjadi anak yang berhasil, sukses. Mempunyai kepribadian yang baik, yang tak dimiliki bapaknya."
__ADS_1
" Bon, keinginanmu mulia sekali. Tapi, kamu adalah pengikutku Bon. Kamu harus setia padaku. Aku mengizinkanmu menikah dan mempunyai anak. Terserah kamu mau punya istri berapapun, yang penting saat apa yang kamu inginkan tercapai, kamu haus kembali kepadaku. Dan kembali mengabdi padaku."
" Bos, saya takkan meninggalkn Bos sendiri. Saya akan tetap bantu Bos. Tapi hanya semampu saya saja. Saya berhentu menjadi pengikut Bos, namun jika Bos meminta bantuan pada saya, saya sanggup untuk melakukannya."
" Berhenti katamu? Bon, meskipun aku jadi Bos, kamu tak bisa seenaknya berhenti menjadi pengikutku. Aturan saat bersama Rendra dan saat bersamaku, akan tetap sama. Tak ada yang berubah."
" Bos, apa jika saya keluar dari keanggotaan, Bos akan membunuh saya?"
" Aku tak bisa memutuskannya sekarang Bon, siapapun yang mencoba keluar dari keanggotaannya di organisasi ini, sama saja dengan pengkhianat. Kamu tahu, rasanya jadi pengkhianat kan? Apa kamu akan menjadi pengkhianat dua kali?"
" Tapi Bos, saya ingin hidup tenang di desa dan menikah dengan gadis pujaan hati saya."
" Sudah ku katakan, aku tidak melarangmu menikah. Tapi kamu tidak bisa keluar dari keanggotaan ini."
Bono tertunduk, keinginannya untuk menjalani hidup seperti orang normal terhambat karena Wijaya tak mengizinkannya. Namun dia tidak kuasa menolak perintah Wijaya.
" Bon, maafkan aku. Aku telah membawamu ke dalam duniaku. Aku tak berharap kamu menjadi malaikat yang menghambat pekerjaanku. Patuh dan taati perintahku, maka kamu akan aman."
" Baiklah Bos. Mungkin sudah jalan takdir saya harus menjadi seperti ini. Saya tidak akan menyesalinya."
" Bagus Bon, Ayo kalau begitu kita cari Rendra sekarang.
" Mari Bos, selama Rendra masih bernyawa, hidup saya belum merasa tenang. Dia adalah alasan terbesar kenapa saya menjadi seperti ini."
Wijaya kembali memasuki markas Rendra diikuti Bono disampingnya. Mereka sudah tak sabar ingin membalaskan dendam mereka.
" Rendra, tunggulah kematianmu. Aku akan membalaskan dendam orang tuaku yang kau perlakukan secara kejam! Aku akan menyiksamu terlebih dahulu sebelum membunuhmu!" Ucap Bono sambil mengepalkan tangan kanannya dengan erat.
" Aku juga ingin membuatnya menyesal sudah pernah hidup didunia ini. Kamu benar Bon, kita harus menyiksanya terlebih dulu sebelum membuatnya sekarat."
" Kalau begitu ayo kita segera temukan ba****n keparat itu Bos, sebelum dia kabur meninggalkan tempat ini."
" Dia tak mungkin kabur Bon, aku yakin saat ini dia sedang lengah. Dan ada banyak wanita yang sedang menemaninya."
" Mungkin saja Bos, kita serang dia secara mendadak saat dia sedang asyik dengan wanita-wanita penghiburnya."
" Tapi jika dia lengah Bon, kalau dia sudah menyadari kedatangan kita, kita yang harus lebih waspada. Kemungkinan, Rendra telah mempersiapkan jebakan-jebakan berbahaya untuk kita."
" Saya tahu Bos, tak mungkin Rendra tidak melewatkan hal itu. Dia selalu memperhitungkan apa yang akan dia lakukan. Termasuk memusuhi kita, dia pasti sudah punya cara untuk bisa mengalahkan kita."
" Kita tak tahu jebakan apa yang telah dia persiapkan Bon. Berhati-hatilah. Aku yakin dia takkan melakukan trik yang sama untuk menjebak kita. Dia pasti sudah menyadari jika dia memilih trik yang sama, kita akan dengan mudah melewatinya."
Wijaya dan Bono mulai memasuki lift untuk naik ke lantai tujuh, dimana Rendra biasa bersantai. Saat lift naik hinga lantai lima, lift tiba-tiba mati. Bono dan Wijaya tidak memperhitungkan hal itu. Sepertinya Rendra telah mempersiapkan itu. Dia berusaha menghentikan langkah Wijaya dan Bono, lalu mengurungnya di dalam lift sampai mereka mati.
......................
__ADS_1