SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
KEDATANGAN DUA PENJAHAT


__ADS_3

Kala itu suasana pagi di desa Lereng Bukit sangat sejuk. Aktifitas warga sudah mulai ramai. Mereka berhamburan keluar rumah untuk mekakukan aktifitas mereka.


Rata-rata, warga desa Lereng Bukit berprofesi sebagai petani, yang lahannya berada di sebelah desa. Tak jauh dari rumah mereka.


Salah satu warga desa yang mempunyai sawah di tepi jalan, tiba-tiba berlari ke desa melewati area persawahan untuk sampai ke desanya. Ia melihat Reza yang berjalan menuju ke desanya. Tanpa berpikir panjang, ia segera memberitahu Kakek Reza.


Dengan nafas terengah-engah, ia mengetuk rumah Harjo yang saat itu sedang menikmati kopi paginya di ruang tamu.


"Tok tok tok.."


" Siapa?" tanya Harjo dari dalam rumah.


" Saya Pak. Paijo.."


Harjo menaruh minumannya lalu bergegas membuka pintu untuk tamunya.


" Oh, Paijo.. ada apa Jo?"


" Maaf, kedatangan saya hanya ingin memberitahu, kalau cucu Pak Harjo sedang berjalan menuju kemari. Dia membawa temanya."


" Oh, rupanya dia ingat jalan menuju pulang. Kupikir dia akan menghilang selamanya. Aku tak tahu, ini kabar bahagia atau bukan, Jo. Tapi aku senang dia kembali kemari."


" Eh, bukan begitu maksud saya, Pak Harjo. Saya berpikir kalau dia ingin balas dendam dengan warga sini karena ketidakadilan yang ia dapatkan. Saya takut akan mengganggu Rika lagi lalu membuat onar di desa kita, Pak.


" Kalau dia berani berbuat onar lagi, aku yang akan turun tangan sendiri menghadapinya."


" Pak, bukannya saya meremehkan kemampuan Pak Harjo, tetapi saya merasa Reza bukanlah Reza yang dulu. Saya bisa merasakan aura kejahatan yang sangat besar dalam diri Reza. Sepertinya dia memiliki ilmu tenaga dalam yang sangat besar. Kemungkinan ilmunya melampaui Pak Wira.


" Apa? Bagaimana kau bisa tahu, kalau dia memiliki ilmu sebesar itu? Dan bagaimana juga kau bisa membandingkannya dengan milik Pak Wira?"


" Pak Harjo... walaupun saya bukan orang sakti tapi saya bisa merasakan aura orang. Saya tahu dia berniat jahat atau tidak. Sedangkan pada diri Reza, saya melihat aura kejahatan dalam dirinya."


" Apa itu benar, Jo?"


" Tentu saja benar, Kakek tua.."


Tiba-tiba Reza sudah berada di depan rumah Harjo bersama dengan Satya. Lalu menyahut pertanyaan Harjo.


" Reza..." Harjo terkejut setengah mati mendengar suara Reza.


" Mas Reza..." Paijo pun tak kalah terkejutnya dengan Harjo. Ia lalu segera meminta pamit pulang pada Harjo.


" Kakek tua, ku dengar kabar kakek Wanita sialan diujung desa sana sudah tewas. Kenapa kau yang sama tua darinya, masih hidup. Seharusnya kau mati saja."


" Jaga mulutmu, Za! Anak durhaka! Pergi dari sini dan jangan kembali lagi! Minggat dari sini!!!"


" Wow... Meskipun telah bau tanah, suaramu masih lantang juga kakek tua."


" Jaga mulutmu anak durhaka! Apa kau tak pernah disekolahkan? Beraninya bicara begitu pada Kakek kandungmu sendiri!"


" Hahaha... Kau tak merasa menyekolahkanku? Pantas saja kalau sikapku begini Kakek Tua bangka!"


" Reza! tutup mulutmu! Aku bersumpah, suatu saat kau akan terima akibatnya karena telah berani pada Kakekmu sendiri."


Reza tertawa terbahak-bahak mendengar kemarahan Harjo. Kemudian Satya mencubit tangan Reza. Ia tak bisa melihat seorang kakek-kakek diperlakukan seperti orang lain.


" Reza... Kau tak bisa berkata seperti itu pada Kakekmu sendiri Hargai dia.. Kau jangan keterlaluan."

__ADS_1


" Satya... Kau jangan ikut campur masalah keluargaku. Aku tak suka orang lain memerintahku!"


" Jadi, kau anggap aku ini orang lain? Reza, pantas saja kau mudah masuk ke dalam pengaruh Bos. Kelakuanmu saja sudah tak baik dari awal."


" Diam kau, Satya! Aku tak menyuruhmu berbicara..."


" Baik... kau urus sendiri saja, kakekmu. Sekarang, aku bukan siapa-siapa kamu lagi. Aku akan pergi, Za. Masalah ini tak ada hubungannya dengan pekerjaanku."


Satya meninggalkan Reza lalu berpamitan pada Harjo. Walaupun Satya seorang penjahat, namun ia masih mempunyai rasa hormat pada orang tua. Dalam hatinya, ia tak terima dengan perlakuan Reza pada kakeknya. Tetapi ia sadar, urusannya ia pergi adalah untuk menuju Puncak Bukit, bukan tempat lain.


" Satya... tunggu. Kau mau kemana?"


" Kau tak perlu tahu urusanku. Urus saja dirimu sendiri." Satya kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Reza.


'" Satya... dasar keras kepala." Teriak Reza lalu berpaling pada Harjo dan membentaknya.


" Harjo! sampai disini dulu perjumpaan kita. Kuharap saat kita bertemu lagi, kau sudah menjadi mayat. Aku ingin mengunjungimu setiap malam jumat dan menaburi kuburanmu dengan air emas. Bagaimana menurutmu Kakek Tua Bangka..."


" Cucu kurang ajar! Minggat dari sini! Jangan pernah tampakkan mukamu di depanku lagi! Cepat minggat!"


" Hahaha... aku memang akan pergi, Harjo goblok. Hahahaha..."


" Bocah durhaka! Pergi!" Bentak Harjo pada Reza sembari melepas sandal usangnya hendak melemparnya ke arah Reza.


Reza pun pergi meninggalkan Harjo, lalu pergi mencari kemana Satya pergi.


" Kemana Satya brengsek tadi... Cepat sekali menghilangnya. Satya.. Satya.." teriak Reza sembari melihat ke kanan dan ke kiri.


Satya sudah tak ada di sekitar Reza berdiri. Ia melihat ke atas, namun Satyajuga tak ada.


" Kemana dia pergi? apa dia tersinggung dengan ucapanku.. Satya, maafkan aku. Aku terlalu terbawa emosi."


" Mudah-mudahan saja Satya ada disana. Aku harus meminta maaf padanya. Tak sadar aku telah keluar dari tujuanku semula. Aku tahu Satya bermaksud mengingatkanku, tapi aku malah membentaknya. Aku sungguh bodoh!"


" Satya... Satya... Satya..." Teriak Reza lagi.


" Ada apa kau mencariku?" ucap Satya yang tiba-tiba sudah berada tepat satu meter di belakang Reza.


Reza terkejut setegah mati. Ia melompat ke depan untuk menjauhi Satya.


" Bocah setan! kau selalu muncul tiba-tiba saat ku cari. Sebenarnya kau Satya atau hantu? Membuatku takut saja..."


" Hahaha.. hantu atau bukan, itu bukan urusanmu. Aku akan melakukan sesuatu sesuka hatiku."


" Tapi kau membuatku kaget, Satya! Dasar brengsek!"


" Teruslah kau memakiku, Za. Aku sudah kebal di maki orang. Makianmu tak kan berpengaruh padaku."


" Satya.. aku minta maaf atas ucapanku. Aku memang bersalah. Kau tetap saudaraku. Maafkan aku, yang tadi salah ucap. Kau bukan orang lain bagiku. Kau adalah saudaraku."


" Itu tidak penting bagiku, Za. Sekarang ini lebih baik fokus sama tujuan kita."


" Satya... apa kau marah padaku?"


" Sudah ku bilang, itu tidak penting. Kau tak perlu menanyakan hal yang tidak penting padaku. Aku takkan menjawabnya."


" Keras kepala!" teriak Reza dalam hatinya.

__ADS_1


" Kita harus menemukan siapa pemilik Puncak Bukit itu, lalu kita tawar menawar kepadanya."


" Baiklah, aku sudah tahu siapa pemilik tanah itu. Rumahnya ada di atas sana. Sebaiknya kita langsung menuju ke rumahnya saja."


" Silahkan, kau berjalan lebih dulu."


" Apa kau tak ingin berjalan bersamaku, Satya? Kau ini aneh. Aku sampai pusing memikirkan tingkahmu."


" Aku tak ingin menjawabnya. Cepat... jalan dulu."


" Akhh... kenapa kau menjadi galak begini. Siapa yang mengajarimu? Aku jadi takut padamu."


Satya hanya diam meskipun dia mendengar kata-kata Reza. Ia terlanjur jengkel pada Reza karena tak menghiraukan nasehatnya. Dan ia juga masih tak terima atas perlakuan Reza pada Harjo. Meskipun Harjo bukan Kakeknya, tapi saat melihat perlakuan Reza pada Harjo, ia teringat dengan orang tuanya dulu yang telah meninggal.


Sebenarnya Satya merindukan sosok seorang Ayah. Saat bertemu dengan Harjo meskipun baru sekali, hatinya terketuk. Ia ingin sekali menjadikannya Ayah.


" Satya, kenapa kau terdiam? Aku sudah meminta maaf kepadamu. Apa lagi yang kau pikirkan tentangku?"


" Za, sebenarnya aku tak terima kau membentak kakek kandungmu sendiri. Hatiku sakit, jiwaku menjerit. Tetapi aku tidak bisa mengatakanya padamu saat kita berada di depannya. Aku merasa dekat sekali dengannya."


" Apa? Kau tak terima denganku? Satya, dia pernah mengecewakanku. Dia membela Rika, kekasihku dan menyetujui hubungan Rika dengan Pemuda asing brengsek itu."


"Tapi aku tak terima kau mengatakan kata-kata yang membuatnya murka, Za. Kau sangat keterlaluan. Za, beruntung kau masih memiliki orang tua yang sebenarnya menyayangimu. Sedangkan aku, aku sangat merindukan seorang Ayah. Seandainya dia adalah Ayahku, aku sangat bersyukur dan akan berbakti kepadanya."


"Hahaha.. Satya, kenapa kau menjadi lemah? jika kau menginginkan si Tua keparat itu menjadi Ayahmu, silahkan ambil. Aku merelakannya untukmu."


" Baik, aku harap kau tak mengganggunya. Jika kau mengganggunya lagi, aku tak segan untuk menghabisimu."


" Ahhh... takut... Hahaha.. Satya, kau sangat seram. Aku sudah tak berani lagi kepadamu."


" Omong kosong! Sudahlah, sebaiknya kita lanjutkan perjalanan kita. Kita sudah terlalu lama berjalan. Aku takut Bos akan memanggil kita sebelum kita menyelesaikan tugas kita."


" Kau benar Satya, kita sudah lebih dari tiga minggu berjalan. Jika kita kembali sebelum mendapatkan hasil, Bos pasti akan memarahi kita."


" Ya sudah, tunggu apalagi... ayo kita jalan."


Reza dan Satya bergegas menaiki Puncak Bukit. Mereka berdua terkagum dengan pemandangan disana. Hamparan pepohonan hijau yang luas membuat mereka seakan terbius dan seperti merasakan kantuk yang sangat berat.


" Za, apa kau belum pernah kemari?" tanya Satya lalu berhenti berjalan dan duduk di sebuah batu besar untuk beristirahat.


" Belum, walaupun rumahku di bawah sana, aku belum pernah sekalipun datang kemari."


" Suasananya sangat meneduhkan. Pantas saja Bos ingin memiliki tempat ini. Akupun jika punya banyak uang, pasti aku akan membeli tempat ini."


" Jangan bermimpi, kau punya uang berapa bisa-bisanya punya pemikiran seperti itu?"


" Apa salahnya? Aku sudah bilang jika punya uang banyak. Kenapa kau selalu membuat perkara denganku, Za..."


" Aku hanya heran padamu, jelas saja kau tak memiliki banyak uang. Kenapa kau bermimpi terlalu jauh, Satya. Hahaha.."


" Itu bukan urusanmu. Jangan ikut campur."


" Ya.. ya.. ya... aku tak kan ikut campur. Bermimpilah sesuka hatimu."


Reza berpaling dari Satya. Ialu duduk di batu yang terletak dua puluh meter dari Satya. Mereka saling membelakangi satu sama lain. Menikmati keindahan di sekitar Puncak Bukit dengan hamparan pohon yang hijau dan luas.


Tak terasa hari sudah semakin siang, namun suasanan di Puncak Bukit tetap sejuk. Reza dan Satya memanjakan matanya menikmati keindahan alam dengan suara-suara binatang liar dan kicauan burung yang indah. Lambat laun mereka tertidur karena hembusan angin yang lembut, terus menerus memanjakan mereka hingga mata mereka tak lagi kuat untuk terbuka.

__ADS_1


......................


__ADS_2