SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
WARGA MENYERANG BONO


__ADS_3

Betapa putus asanya Bono, sejauh ia bertanya pada penduduk kampung, namun tak seorang pun yang tahu, siapa pemilik lahan di sebelah barat puncak bukit milik Rani.


Bono memukul pohon besar di sampingnya.


" Kraak.." seketika pohon itu retak,dan akhirnya tumbang secara perlahan.


" Sial! Kenapa tak ada satupun penduduk desa yang tahu, siapa yang memiliki lahan itu. Kemana lagi aku harus mencari tahu."


Mendengar suara pohon roboh, sebagian penduduk berhamburan keluar rumah, mencari tahu apa yang sedang terjadi.


Wanita yang pertama kali bertemu dengan Bono, dia lah yang pertama kali keluar rumah. Kebetulan sekali rumahnya dekat dengan pohon besar yang roboh oleh Bono. Setelah mengetahui penyebab pohon roboh itu Bono, wanita itu berlari menjauh dari tempat itu.


" Apes sekali hidupku, kenapa bertemu dia lagi." Ucap wanita yang bernama Rika, lirih. Lalu ia berlari melewati jalan, di belakang rumahnya.


" Hei, Rika. Jangan lari. Tunggu dulu." Bono mengejar Rika.


Para penduduk ketakutan melihat Bono, Tubuhnya yang kekar, seperti menyimpan tenaga yang sangat besar.


Mereka tak bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Rika. Namun seorang kakek-kakek keluar dari rumah Rika. Mengetahui cucunya di kejar seorang laki-laki, dia bergegas menyalakan motornya. Sekuat tenaga dia menarik gas hingga kecepatan penuh, untuk menghampiri cucunya yang sedang dikejar oleh Bono.


" Hei orang jahat, berhenti mengejar cucuku. Apa yang kamu inginkan darinya?" Berada tepat di belakang Bono, Kakek Rika berteriak memanggil Bono.


Bono yang sadar namanya dipanggil, menghentikan pengejarannya. Namun Bono melihat Rika terus melarikan diri darinya, hingga berjarak lima puluhan meter. Dia lalu mengeluarkan tenaga dalamnya untuk menghentikan Rika.


" Busss.." sebuah lesatan angin keluar dari tangan Bono dan mengenai tubuh Rika.


" Aduh, aww.." Rika terjatuh, kakinya terkilir dan susah untuk berjalan.


" Rika!" Kakek Rika turun dari motornya lalu menghampiri Rika.


" Kamu terluka Nak. Sebentar, Kakek betulkan dulu kakimu yang kesleo.


" Kakek, sakit sekali rasanya." Tak terasa Rika meneteskan air matanya.


" Rika." Bono menghampiri Rika dan kakeknya.


" Mau apa kamu orang jahat! Pergi dan jangan ganggu kami." Kakek Rika membentak Bono.


Mendapat gertakan dari orang tua yang mungkin tenaganya sudah berkurang, bagi Bono hanyalah seperti menggelitik telinganya. Dia sama sekali tak bergeming. Namun, karena dia kakek Rika, Bono mencoba menghormatinya.


" Kakek, Rika, maafkan Aku. Tidak sepantasnya aku melakukan hal ini. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku hanya tak ingin kamu terus berlari karena aku." Ucap Bono dengan wajah tertunduk.


" Kakek, sudah belum memijit kaki Rika. Ayo buruan kita tinggalkan dia Kek." Rika tak sabar ingin berlari dari Bono.


" Aku tanya sekali lagi, apa yang kamu inginkan dari cucuku? Apa kamu mengenalnya? Kenapa kamu terus -terusan mengejarnya, hingga sampai melukainya?"


" Kek, awalnya aku hanya ingin tahu siapa pemilik lahan di atas bukit itu. Aku bertanya pada cucu kakek ini. Namun saat aku memandangnya dalam waktu lama, aku tertarik padanya. Dan ingin menikahinya."


" Omong kosong! Aku tahu hatimu busuk. Hatimu sangat licik. Kamu berusaha mendekatinya, dan saat yang kamu inginkan sudah kamu dapatkan, kamu akan meninggalkannya bukan?"


Bono terkejut mendengar perkataan Kakek Rika, dia mulai berhati- hati kepadanya. Dia mampu tahu, tujuan dirinya mendekati Rika.

__ADS_1


" Kakek ini luar biasa, Aku harus berhati-hati kepadanya. Apa dia mampu membaca isi hatiku? Gawat, kalau dia bisa tahu rencanaku." Ucap Bono dalam hati.


" Bagaimana kakimu sekarang cucuku? Apakah kamu sanggup berjalan?" Tanya kakek pada Rika.


" Masih terasa sakit kek." Jawab Rika lirih lalu menangis lagi.


" Kek, biarkan saya yang mengobatinya." Bono menawarkan dirinya.


" Diam kamu! Aku tak izinkan kamu menyentuh cucuku."


" Tetapi ini salah saya kek, saya mau bertanggung jawab. Izinkan saya mengobatinya." Bono terus memohon agar di izinkan mengobati Rika.


" Aku tak butuh pertolonganmu. Pergi sana dan tinggalkan kami." Ucap Rika sambil menangis.


" Rika, saya pusing. Kalian diamlah atau Saya akan membuat desa kalian rata dengan tanah? Saya hanya ingin membayar kesalahan saya.


Mendengar kata-kata Bono, Rika dan kakeknya terdiam. Mereka seperti seorang tawanan yang tak berani berbicara, setelah di cambuk puluhan kali. Saat itu, kesempatan Bono untuk mengobati luka Rika.


" Kek, kalau Anda keberatan cucumu saya sentuh, tidak apa-apa. Saya bisa lakukan dengan cara terapi jarak jauh. cara ini sangat ampuh selama saya menggunakannya."


Setelah membaca semacam mantra, Bono meniup kedua telapak tangannya dan mengusap-usapnya. Seketika itu, seperti asap tipis keluar dari sela-sela jari Bono. Lalu dia meniup asap tipis itu hingga mengenai kaki Rika yang sakit. Tak berapa lama, rasa sakit yang Rika rasakan, berangsur-angsur hilang.


Rika senang kakinya kembali seperti semula. Dia tak percaya, Bono mampu menyembuhkan sakitnya. Dia berpikir, "siapakah Bono itu?"


" Kek, sekarang kaki Rika sudah sembuh. Ayo kita pulang."


" Apa kamu yakin sudah sembuh?"


" Yakin kek. Lihatlah, aku bisa berdiri dan melompat." Ucap Rika mencoba meyakinkan kakeknya.


" Tunggu dulu, kalian mau kabur dariku? Ucap Bono keras.


" Kabur katamu? Kami hanya ingin pulang ke rumah kami." Jawab kakek dengan tegas.


" Aku tak izinkan kalian pulang seenaknya. Kalau kalian sampai membuatku marah aku tak akan segan mencelakai kalian. Apa kalian mengerti?"


Mendengar ancaman Bono, Rika dan kakeknya ketakutan. Mereka terpaksa menuruti kemauan Bono.


" Nak, sebenarnya apa yang kamu inginkan dari kami. Kami akan berikan yang kamu mau. Tapi jangan ganggu kami." Ujar Kakek Rika.


" Memangnya kalian punya apa? Saya tidak tertarik. Saya hanya ingin tahu, siapa pemilik lahan di puncak bukit sebelah barat. Apa kalian tahu?"


Rika dan kakeknya terdiam sejenak, mereka saling memandang dan ketakutan. Lalu mereka menunduk bersamaan.


" Kenapa kalian diam, apa kalian tahu siapa pemiliknya? Jangan mengujiku, atau kalian akan tahu sendiri akibatnya."


" Baiklah kami akan memberitahu kamu. Lahan di atas sana milik dua orang kakak beradik. Yang sebelah timur, Bu rani yang memiliki. Sementara yang sebelah barat, adalah milik Pak Wira." Kakek Rika menjawab dengan terbata-bata.


" Wira? Apa kakek yakin? Siapa dia? Dan dimana ia tinggal?" Bono memberikan pertanyaan beruntun kepada kakek Rika.


" Saya bicara yang sebenarnya. Yang mempunyai tempat itu adalah Pak Wira. Tetapi saya tidak tahu dimana dia tinggal. Saya belum pernah sekalipun bertemu dengannya selama ini. Saya hanya mendengar namanya saja."

__ADS_1


" Baiklah kek, terimakasih telah memberitahuku."


" Kalau begitu apakah kami boleh pergi?"


" Kakek boleh pergi, tapi saya butuh cucu kakek."


Rika menjadi semakin ketakutan, ketika Bono hanya memperbolehkan kakeknya pergi. Dia menangis dipelukan kakeknya.


" Apa yang ingin kamu lakukan pada cucu saya?"


" Saya menyukainya kek, saya akan membawanya."


" Maksud kamu apa?" Tanya kakek cemas.


" Jangan banyak tanya! saya akan membawanya pergi dari sini. Dan saya akan memperkerjakan dia di rumah saya."


" Kakek, Rika tidak mau." Bisik Rika sambil memeluk kakeknya.


" Tenang cucuku, Mudah-mudahan ada yang mau menolong kita."


Tak berapa lama, warga dan pemuda di dusun bawah bukit, berdatangan. Mereka bermaksud menolong Rika meskipun diliputi ketakutan.


" Hei orang asing! Apa yang kamu lakukan di desa kami? Pergi! atau kami akan membuatmu cacat seumur hidup?" Bentak seorang pemuda, tetangga dekat Rika.


" Benar! Cepat pergi! atau pedangku akan menembus jantungmu? Teriak pemuda di sebelahnya.


" Wah, wah, wah. Kalian mau keroyokan? Baiklah, kalian semua, serang aku kalau sanggup." Ucap Bono dengan sombong.


" Dasar, orang mau cari mati! Serang dia!" Perintah seorang pemuda kepada teman-temannya.


Puluhan warga dengan berbagai senjatanya berlari menyerang ke arah Bono. Namun Bono tidak menghiraukan hal itu. Dia melompat mundur beberapa langkah. Dan sebelum Warga mengenai dirinya, Bono menghentakkan kakinya ke tanah.


" Dukkk.." suara hentakan kaki Bono.


Seiring hentakan Kaki Bono ke tanah, muncul gulungan angin besar dari tanah


"Akhh.." Puluhan warga terhempas ke udara hingga terjatuh beberapa langkah dari Bono.


Belum sempat menyentuh Bono, namun Warga sudah merasakan kesakitan akibat hentakan kaki Bono. Sebagian yang tidak mempunyai ilmu bela diri sama sekali, mengalami cedera, dan tak sanggup berdiri untuk menyerang lagi.


" Bagaimana? Masih mau mencoba lagi? Maju, kalian semua!" Teriak Bono dengan lantang.


" Jangan sombong kamu orang asing! Ayo lawan aku!" Seorang pemuda, atlet bela diri yang masih sanggup melawan, menantang Bono seorang diri.


" Hahaha, baru punya ilmu secuil kuku saja, kamu mau pamerkan kepadaku. Ayo, kemari. Serang aku dengan kemampuanmu!"


" Banyak bicara kamu ya. Terimalah seranganku!"


Serangan demi serangan, dilancarkan oleh Pemuda itu. Namun tak satupun serangan yang mampu menyentuh kulit Bono. Malah sebaliknya, pemuda itu terluka parah oleh jentikan jari Bono yang mengenai keningnya.


" Bruukk.." Satu orang pemuda terhempas dan jatuh ke tanah dan bersimbah darah.

__ADS_1


Melihat teman mereka terkapar, sebagian warga segera menolongnya. Sementara warga yang lain hanya terdiam, menyaksikan kejadian yang tak pernah mereka alami sebelumnya.


......................


__ADS_2