
Tama bersiap menghadang serangan dari Satria. Kali ini ia berjanji pada dirinya, tak akan lengah lagi ketika melawan Satria. Meskipun usia Satria lebih muda dari Tama, namun kemampuan Satria tak bisa dianggap remeh.
Tanpa menunggu lama, Satria maju dan menyerang ke arah Tama. Serangan membabi buta dari Satria berkali-kali bisa ditepis oleh Tama. Sesekali Tama membalas menyerang hingga Satria semakin marah karena terkena pukulan dari Tama beberapa kali.
Perkelahian berjalan hingga sepuluh menit dan satupun belum ada yang kalah. Nafas Satria terengah-engah, dia merasa kewalahan menghadapi Tama seorang diri. Disaat itu Tama menggunakan kesempatan untuk menanyakan lagi siapa remaja itu dan berharap Satria bisa diajak bicara baik-baik dengannya.
" Apa kamu kelelahan? Kamu sudah merasa kalah?" tanya Tama.
" Aku belum kalah! Aku tak akan terkalahkan!" ucap Satria dengan garang.
" Oh, begitu.. Aku punya saran untukmu."
" Aku tidak butuh apapun darimu! Ayo kita lanjutkan pertarungan kita!"
" Kamu itu memang bandel. Aku yakin usiamu tiga tahun lebih muda dariku, tapi kamu terlihat sombong. Kalau mau aku beri saran, hilangkan kesombongan dirimu itu. Kesombonganmu akan membuatmu lemah."
" Jangan sok tahu! Aku adalah anak yang tak terkalahkan! Ayo..serang aku! Kita tentukan siapa yang akan menjadi Pemenang!"
" Aku tidak tahu setan mana yang merasuki pikiranmu. Baiklah..kalau kamu masih ingin bertarung denganku. Ayo.. Aku tak akan pernah mundur dan tak akan pernah kalah darimu."
" Kurang ajar! Hyatttttt....."
Satria kembali maju dan menyerang Tama. Ia menggunakan kedua tangan dan kakinya untuk mengahajar Tama dengan sekuat tenaga.
Namun semakin kuat Satria menyerang Tama, Tama semakin mampu menghadapi serangan Satria dan berhasil mematahkan semua jurusnya.
Satria pun mulai putus asa. Tenaganya juga sudah mulai terkuras habis. Ia takut jika tak segera menghindari pertarungan, ia malah tak bisa pulang dan malah akan mati di tempat itu. Ia juga khawatir Ibunya mencarinya, karena pergi dan tak segera kembali.
" Kau sudah semakin kewalahan menghadapiku.. Kau mengaku kalah?" ucap Tama.
" Cihhhh!!! Aku belum kalah! Aku akan menjadikan hutan ini kuburan bagimu!"
" Oh, begitu..ternyata kamu masih punya mulut untuk mempertahankan gengsimu. Baiklah.. Sekarang, aku akan membalikkan ucapanmu itu. Kau yang akan ku kubur hidup-hidup di sini."
" Hahaha..coba saja kalau kau bisa!"
Tak berapa lama kemudian, Tama melompat ke atas pohon setinggi sepuluh meter. Ia lalu mengeluarkan tenaga dalamnya dan memusatkannya pada telapak tangannya. Ia lalu menghentakkan tangannya.
Sebuah kilatan cahaya putih melesat dan mengenai tanah di samping Satria yang sedang terduduk lemas. Seketika tanah di sekitar serangannya berlubang setinggi sepuluh meter.
Satria merasa bulu kuduknya berdiri. Ia membayangkan jika ia terkena serangan dari remaja yang sedang ia hadapi. Dan belum selesai ia membayangkan, Tama menggunakan tenaga dalamnya untuk mengangkat tubuh Satria dan berniat ingin melemparkannya ke dalam lubang.
__ADS_1
Satria menangis dan akhirnya memohon, agar ia diampuni dan berjanji memberitahukan siapa namanya.
" Tunggu...jangan bunuh aku. Aku tidak ingin mati. Aku tidak mau Ibuku mengkhawatirkanku dan mencariku kemana-mana. Tolong maafkan aku, aku berjanji akan memberi tahumu . Aku mohon.."
Tama pun menurunkan Satria. Dan mengurungkan niatnya untuk mengubur Satria hidup-hidup.
Khalid pun tercengang melihat kehebatan Tama. Selama ini dia tak pernah melihat kemampuan Tama. Dia tersenyum lalu menghampiri Tama.
" Nah..sekarang, katakan siapa namamu?"
" Baiklah.. Aku akan beritahu siapa namaku. Aku adalah Satria. Aku tinggal di Puncak Bukit Barat. Kalian siapa, kenapa kalian mengikutiku dan apa tujuan kalian?"
" Puncak Bukit Barat? Sejak kapan kamu tinggal disana?" tanya Khalid.
" Baru beberapa minggu disini. Awalnya aku tinggal di Pulau Seberang. Maaf, kalian belum jawab siapa kalian sebenarnya."
" Oh..aku Khalid dan ini adikku, namanya Tama. Kami berniat mancing di sungai. Kami tak sengaja melihatmu berlari. Kami pun penasaran lalu mengejarmu. Tak kusangka kamu punya ilmu yang sangat hebat."
" Aku hanya sedang bermain-main saja. Aku merasa suntuk dirumah. Setelah beberapa minggu terkurung. Aku meminta Ibuku untuk pergi bermain."
" Siapa nama Ibumu? Dan bagaimana kamu bisa tinggal di Puncak Bukit Barat? Bukankah tanah itu sudah di rebut oleh penjahat."
" Novi? Apakah Ayahmu bernama Wira?" tanya Khalid.
" Kenapa kau tahu nama Ayahku? Siapa kamu sebenarnya?" Satria terkejut mengetahui Khalid tahu tentang Ayahnya.
" Yang jelas aku hanya tahu namanya saja. Aku belum pernah bertemu dengannya. Berarti kamu adalah anak pemilik Puncak Bukit Barat."
" Iya..aku memang anaknya."
" Berarti kamu adalah saudaraku.." ucap Tama yang sedari tadi hanya diam dan kini ia ingin bicara pada Satria.
" Saudara? Apa maksudnya?"
" Jika Ayahmu pemilik Puncak Bukit Barat, berarti ia memiliki seorang adik yang memiliki Puncak Bukit Timur. Dan aku adalah anaknya. Jadi kita adalah kakak beradik."
" Apa benar? Apa kamu saudaraku?" tanya Satria. Dia bingung dan setengah tak percaya dengan apa yang Tama katakan.
" Tama benar, Satria. Dia kakakmu. Dia adalah Putra dari adik Pak Wira, namanya Rani." Ucap Khalid.
" Apa itu benar?" tanya Satria pada Tama.
__ADS_1
" Benar.. Ayahmu dan Ibuku itu kakak beradik." ucap Tama.
" Apa kalian ingin membohongiku?"
" Tidak..kami berkata jujur. Kalau kau tak percaya, ayo kita tanyakan ini pada Ibumu."
" Kalian mau ikut ke rumahku?"
" Tentu saja kami akan ikut. Kami memang harus bertemu dengan Ibumu."
" Baiklah, aku akan membawa kalian ke rumahku. Ayo kita lewat jalan setapak di situ."
" Ayo.. Kamu berjalan duluan. Kami akan mengikuti di belakangmu."
" Baik."
" Kak.. Kita akan jalan kaki?" tanya Tama.
" Iya.. Tapi sebelumnya kita ambil pancing kita terlebih dahulu."
" Motornya bagaimana?"
" Oh, iya. Kita pakai motor kita untuk mengikuti Satria. Biarkan dia jalan sendiri. Dia, kan memiliki tubuh yang kuat dan lincah."
" Tapi, bagaimana kalau Kakak saja yang pakai motornya. Aku dan Satria akan jalan kaki saja."
" Baiklah kalau itu maumu. Satria..kamu jalan sama Tama saja. Aku akan mengambil motor. Dan pasti jalannya lewat jalan yang nyaman. Aku sudah tahu jalan menuju Puncak Bukit Barat. Nanti aku akan menyusul kalian."
" Oh.. Kamu sudah tahu jalan menuju Rumahku?"
" Iya..aku dulu pernah tinggal di desa Lereng Bukit Barat."
" Apa? Sekarang desa itu sudah tak ada. "
" Iya..Desa itu sudah dihancurkan oleh Penjahat. Baiklah, aku akan mengambil motor dulu."
" Baik, Kak. "
Khalid pun bergegas mengambil motornya yang terparkir cukup jauh di seberang sungai. Sementara itu Tama dan Satria lebih dulu berjalan menuju rumah Satria. Sembari merangkul Satria Tama bercerita banyak tentang hidupnya. Satria juga bercerita banyak pada Tama selama dia tinggal di pulau seberang. Menelusuri jalanan setapak di tengah hutan, dua remaja itu terlihat semakin akrab. Tak jarang mereka bercanda hingga membuat mereka tertawa. terpingkal-pingkal.
......................
__ADS_1