
Keesokan harinya, Xena mendaftar sekolah di SMA Bangun Jaya. Tempat dimana Kakaknya bersekolah. Ia memilih tempat itu karena ingin sekali mengenang jejak Kakaknya.
Tanpa tes dan tanpa syarat apapun, Xena langsung diterima di sekolah itu. Bagaimana tidak, Sekolah yang berdiri di tempat itu, mendapatkan sokongan yang sangat besar dari Wijaya.
Awalnya, Xena tak mau jika ia langsung diterima tanpa melalui jalur tes. Namun Wijaya memaksanya agar tak membantah apa perintahnya. Xena pun dengan setengah hati menyetujui keputusan Wijaya. Lagi pula, ia sangat ingin bersekolah di sekolah itu.
" Kalau begitu, dik Xena besuk sudah langsung bisa berangkat ke sekolah. Kebetulan, besuk adalah hari pertama masuk ke sekolah. Datang lah, lebih awal jika ingin mendapat kursi yang kamu inginkan." ucap Kepala Sekolah.
" Baik, Pak."ucap Xena.
" Kalau begitu, saya mohon izin dulu. Saya ada rapat antar Kepala sekolah seluruh Kota, Tuan Wijaya."
" Baiklah.. kalau begitu, saya juga mau permisi dulu. Saya ingin mengajak Putri saya berkeliling mengelilingi Kota." ucap Wijaya.
" Silahkan, Tuan Wijaya. Semoga perjalanannya menyenangkan." ucap Kepala sekolah.
...----------------...
Seminggu kemudian, Sekolah kembali dibuka. Tama dan Xena menempati kelas yang sama. Namun mereka belum saling berkenalan. Tama yang pendiam di sekolah, hanya duduk menyendiri di bangkunya ketika pelajaran belum dimulai. Berbeda dengan Xena yang sangat ramah. Xena di kerumuni banyak teman-temannya. Hampir semua teman-teman cewek dan cowok tertuju kepadanya. Memang si Xena yang sangat cantik jelita, menjadi pusat perhatian. Tak hanya para cewek yang menyukainya. Tapi para cowok pun sangat mengagumi dirinya.
Lalu, disaat Xena sedang bercerita. Matanya tertuju pada Tama yang sedang asyik menyendiri membaca buku di bangku belakang sudut kelas. Ia menatapnya tanpa berkedip. Tak sadar, ceritanya terhenti saat ia tak bisa mengalihkan perhatiannya pada Tama.
Semua teman-temannya pun terdiam dan juga melihat ke arah Tama.
" Ehemm.." salah satu teman cewek, berdehem.
" Ehhh.." ucap Xena terkejut.
" Cieee..." ucap semua orang.
" Kalian kenapa?" tanya Xena pura-pura tak tahu.
" Xena, kamu suka padanya?" tanya teman cowok.
" Ahh..mana mungkin.. Aku saja baru pertama kali melihatnya. Aku juga belum berkenalan dengannya."
" Kalau begitu, aku akan menyuruhnya kemari." ucap teman cowok yang lain yang paling sok keren di kelas.
" Eh..jangan.. Nggak perlu." ucap Xena.
Namun tak menghiraukan kata Xena, Ia memanggil Tama dengan nada menghina. Ia juga memanggil Tama dengan sebutan si Monyet.
Namun Tama tak menghiraukan panggilan Jody, anak yang paling sok keren dikelasnya. Sontak saja membuat Jody naik darah. Ia merasa malu pada semua temannya karena Tama tak bergerak sedikitpun ataupun melihat ke arahnya.
Dengan wajah memerah, Jody melompat keatas meja dan berjalan melewati meja-meja temannya lalu menghampiri Tama. Xena terkejut dan berteriak memanggil Jody.
" Jody...jangan..." teriak Xena.
Jody menarik kerah baju Tama dengan cepat. Membuat Tama menjadi terkejut. Namun ia berusaha tetap tenang.
" Ba****an!!! Beraninya kamu mengacuhkanku!!!" teriak Jody.
__ADS_1
Teman-teman yang lain hanya bisa berkerumun tanpa berbuat sesuatu. Mereka hanya bisa melihat Jody menarik-narik kerah baju Tama. Bukan karena takut dengan Jody, namun mereka juga kesal dengan Tama yang kurang bergaul dengan teman-temannya.
Xena merasa kasihan pada Tama, Ia pun berlari dan mencoba menghentikan Jody.
" Xena.. Biar aku beri dia pelajaran. Bisa-bisanya dia mengacuhkanmu dan mengacuhkanku. Aku tidak terima. Memangnya dia siapa berani begitu pada kita.."
" Jody..sudahlah. Kasihan dia, dia nggak salah. Mungkin saja dia lagi nggak ingin di ganggu. Sudah lepaskan dia." pinta Xena.
" Setidaknya aku ingin membuat dia jera. Xena kalau kamu nggak berani melihatku memukulnya, kamu lebih baik keluar dulu."
" Jangan, Jody. Lepaskan dia." pinta Xena lagi.
" Aku nggak bisa. Aku harus beri dia pelajaran." ucap Jody lalu dengan segera, ia menggenggam tangan kanannya dan bermaksud melancarkan pukulan ke arah wajah Tama.
Jody bersiap memukul Tama, namun Xena menangkis pukulan Jody.
" Aduuhh..." rintih Xena.
" Xena...ah, maafkan aku." ucap Jody merasa bersalah.
" Jody, sudah kubilang jangan. Tapi kamu melakukannya. Dia itu nggak salah apa-apa. Biarkan saja kalau dia tak menanggapi kamu. Tak semua orang itu sama. Jadi jangan samakan dia dengan yang lainnya."
" Baiklah, Xena. Tapi kamu nggak apa-apa, kan?"
" Enggak, cuma sakit sebentar. Nanti juga sembuh kok." ucap Xena sambil memegangi tangannya.
" Ini semua gara-gara kamu!" ucap Jody pada Tama, sembari mengacungkan jari telunjuk tangannya di depan mata Tama.
Namun Tama tak bergeming sedikitpun. Ia sama sekali tak menghiraukan apa yang terjadi di depannya. Seolah tak ada apa-apa. Pikirannya tetap tenang dan tetap fokus pada buku yang ia baca.
" Haaaahh!" ucap Jody lalu kembali ke tempat duduknya.
Xena duduk di sebelah Tama. Dia mencoba mendekati Tama dan mengajaknya berkenalan.
" Nama kamu Tama, kan?" tanya Xena.
Tama melihat ke arah Xena dengan dingin. Ia hanya memandangi wajah Xena. Namun tak menjawab apa yang Xena tanyakan. Ini membuat jantung Xena berdegup kencang. Seketika wajahnya memerah. Bukan karena marah, dan bukan karena jengkel. Ia tak tahu apa yang ia rasakan. Seakan dia bertemu dengan sosok yang akan sangat berarti di dalam hidupnya kelak.
Sementara itu, Jody yang melihat Xena dan Tama saling bertatapan, langsung mengambil sikap. Ia melepas sepatunya lalu melemparkannya ke arah Tama.
" Plaaakkk.." sepatu Jody melayang ke arah Tama. Namun tak mengenai sasaran.
Jody merasa kesal dan kembali mendatangi Tama dan Xena.
" Xena..kenapa kamu dekat-dekat dengannya?! Kamu tahu dia sombong. Ada apa denganmu?" ucap Jody.
" Jody.. Sebaiknya kamu kembali ke tempat dudukmu! Kamu tahu nggak, apa yang telah kamu lakukan? Kamu bisa melukai Tama juga aku! Apa kamu mau aku adukan sama Papa aku?" ucap Xena.
Mendengar ucapan Xena, Jody menjadi takut. Ia tahu orang tua Xena sangat kuat dan jahat. Ia tak mau menjadi korban keganasan Wijaya. Ia pun menganggukkan kepala lalu kembali ke tempat duduknya.
Tama tersenyum melihat Jody yang seperti harimau yang kehilangan taringnya. Tak sadar, Xena terus mengamatinya.
__ADS_1
" Kenapa kamu tersenyum? Lucu?" tanya Xena.
" Ahh..tidak. Tak ada apa-apa. Sudah, lupakan saja." ucap Tama lalu menutup buku yang ia baca dan memasukkannya ke dalam tas.
" Kamu mau kemana? Aku belum selesai bicara." tanya Xena.
" Lain kali saja. Aku mau pulang. Oh iya, sebaiknya kamu juga pulang." ucap Tama lalu pergi begitu saja meninggalkan tempat duduknya.
" Tama!! Ihh.. Kamu kenapa, tiba-tiba pulang?" teriak Xena.
Sontak saja semua teman-temannya mengarah pada Tama yang berjalan keluar meninggalkan kelas. Tak lama kemudian, Xena mendapatkan banyak pertanyaan dari teman-temannya.
" Xena..sepertinya kamu mulai ada rasa pada pertemuan pertama, ya? Hahaha.. Ucap salah satu teman cewek.
" Xena, kenapa si sok cool itu langsung pergi? Padahal ada bidadari cantik yang menghampirinya. Cowok go**ok!" ucap teman cewek yang lain.
Namun Xena hanya diam. Ia tak mau Tama menjadi bahan ejekan. Ia tahu Tama orang yang baik. Ia juga bukan orang yang sombong. Xena pun kembali ke tempat duduknya lalu mengambil tas dan keluar meninggalkan kelas.
" Kamu mau kemana, Xena?" tanya seorang laki-laki paruh baya di belakang Xena.
Xena terkejut lalu membalikkan badannya. Laki-laki itu adalah Papa Xena. Ia pun berjalan menghampiri Papanya.
" Papa..kenapa ada disini?" tanya Xena.
" Papa tanya, kamu mau kemana?"
" Mau pulang, Pa."
" Bukankah ini baru jam pertama masuk kelas. Lalu kenapa kamu mau pulang?"
" Eh Xena nggak tahu, Pa. Tapi dari tadi nggak ada Guru yang datang. Kelas sebelah juga sepertinya belum ada Guru yang bertugas. Kegaduhannya sampai kesini, kan."
" Hemm.. Memangnya ada apa. Papa jadi penasaran. Ya sudah, Papa mau tanya pada Kepala Sekolah."
" Baik, Pa."
Xena kembali meneruskan langkahnya. Ia berjalan setengah berlari sambil mencari Tama. Namun sampai di pintu keluar sekolah Ia tak menemukan keberadaan Tama.
" Kemana anak itu. Apa dia naik bis? Kalau naik motor, seharusnya dia ada di tempat parkir. Tapi dia tadi nggak menuju tempat parkir. Dia pergi kemana, cepat sekali." gumam Xena.
Disaat Xena termenung, satpam sekolah yang berjaga menyapa Xena.
" Dik..ada apa, kenapa melamun?"
" Eh..Pak Satpam. Nggak ada apa-apa, Pak. Oh iya, apa benar hari ini nggak ada jam pelajaran?"
" Hemm..sepertinya tidak ada, Dik. suami salah satu Guru disini meninggal. Jadi sepertinya Para Guru akan pergi takziyah pagi ini. Kemungkinan Para Guru juga akan mengikuti upacara pemberangkatan jenazah sampai selesai. Tapi Bapak tidak tahu. Saya hanya mendengar dari pembicaraan dua Guru saat di depan pintu gerbang pagi tadi."
"Oh..jadi begitu, Pak. Kalau begitu terimakasih. Saya akan menunggu keputusan Kepala sekolah." ucap Xena.
Lalu Xena pergi meninggalkan Pos jaga dan menemui Wijaya di Ruang Kepala Sekolah. Saat tiba di depan Ruangan, Ia melihat Wijaya sedang berbicara dengan Kepala sekolah. Ia tak ingin mengganggu mereka. Ia pun memutuskan untuk menunggu diluar.
__ADS_1
Tak berapa lama, pikirannya kembali menuju Tama. Ia sangat penasaran dengan Tama. Sifat pendiam dan sangat dingin itu seharusnya tak ada dalam diri Tama. Namun kenyataannya, saat Jody hampir memukulnya, Tama hanya bisa diam. Hemm..seandainya kamu nggak pendiam dan berani, mungkin aku akan sangat menyukaimu Tama. Sepertinya kamu orang yang menarik." gumam Xena dalam hati.
......................